
Perpisahan TK di sekolah Dafi, turut hadir Ayah dan Neneknya Dafi, karena Bu Fia sudah tinggal menunggu waktu perkiraan lahir jadi ga ikut kesana.
Dafi berhasil menjadi lulusan terbaik dengan sederet prestasi selama setahun terakhir. Semua pialanya akan diserahkan ke dia hari ini, yang sebelumnya diserahkan ke sekolah dan sudah dibikin duplikatnya. Piala-piala itu antara lain ialah lomba atletik antar TK se DKI Jakarta, lomba calistung tingkat Jabodetabek serta lomba berbicara bahasa Inggris yang diadakan oleh salah satu bimbingan belajar bahasa Inggris yang terkenal di Kota ini. Atas prestasinya sekolah memberikan piagam, piala serta hadiah perlengkapan tulis buat Dafi.
"Bapak Ibu sekalian, kita berikan tepuk tangan buat lulusan yang bisa menjadi teladan bagi teman-temannya, dengan sederet prestasi, kami berharap dijenjang pendidikan selanjutnya ananda bisa terus berprestasi ... kita sambut kehadirannya ... Danish Ahmad Faishal" ucap Ibu Kepala Sekolah.
Dafi berjalan sendiri ke arah panggung diiringi tepuk tangan dari para orang tua murid, sesampainya di panggung dia menerima hadiah-hadih dan mencium tangan para guru-guru. Orangtuanya Dafi juga dipanggil untuk mendampingi foto bersama. Tampak pak Dzul dan Nenek sangat terharu akan prestasi yang dicapai oleh Dafi.
"Ananda Dafi .. loh kok namanya Danish ... benar ya namanya di piagam?" tanya ibu kepala sekolah meyakinkan.
"Benar Bu .. nama saya Danish Ahmad Faishal, Ayah bilang artinya anak yang harum namanya, terpuji dan putih bersih. Dipanggil Dafi itu singkatan, kata Bunda biar gampang panggilnya daripada dipanggil Danish kaya merek biskuit" jelas Dafi dengan polosnya.
Banyak orang tua murid yang tertawa mendengar jawaban Dafi.
"Pintar ya Dafi .. bisa jelasin arti namanya, semoga apa yang orang tuanya inginkan bisa terwujud. Dafi bisa jadi anak yang sesuai namanya" ucap Bu kepala sekolah.
"Terimakasih Ibu guru. Tapi Dafi ga putih bersih kulitnya Bu, soalnya Dafi main sepeda terus sama Fajar" jawab Dafi.
Pak Dzul dan Nenek hanya tersenyum, orang tua yang hadir malah tambah ketawa mendengar celotehan polos Dafi.
"Ayo Dafi, bicara depan teman-temannya" pinta Bu Guru wali kelasnya. Dafi menghampiri Ayahnya, menitipkan piagam dan hadiah ke Ayahnya. Kemudian berlari ke arah mic, tingkah khas anak-anak membuat semua kembali tertawa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..." ucap Dafi tanpa malu, mungkin karena dia terbiasa ikut lomba jadi ga demam panggung saat bicara pakai mic.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.." ucap semua yang hadir.
"Terima kasih buat Ibu Kepala Sekolah, Ibu dan Bapak Guru, Pak Satpam sama Mamang yang suka bersihin kelas" ujar Dafi yang membuat semua ketawa mendengar segala satpam dibawa-bawa dalam sambutan.
"Semoga sekolah ini tambah banyak muridnya, makin banyak menang lomba lagi. Buat teman-teman, maaf ya kalo kita sering rebutan mainan" tambah Dafi yang mendapat tepuk tangan orang tua murid yang salut ga ada demam panggungnya anak ini, cara bicaranya juga bagus.
"Terima kasih juga buat semua Ayah Bunda yang mau sekolahin anaknya bareng Dafi. Nanti di SD ketemu lagi ya ... wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Dafi sambil berlari ke arah ayahnya.
Riuh tepuk tangan buat Dafi dari yang hadir. Dafi pun ikut tepuk tangan, dia belum paham kalo orang tua memberikan tepuk tangan sebagai tanda salut akan keberanian dia bicara didepan umum.
Selepas acara perpisahan, Dafi merengek ke Ayahnya buat dibelikan roti bakar Mak Leha. Setahun sudah dia hanya bisa menikmati pemandangan orang yang makan roti bakar, tapi hari ini dia udah bertekad harus makan roti itu sebelum pulang ke rumah.
__ADS_1
Pak Dzul dan Neneknya Dafi mengabulkan keinginan Dafi sebagai hadiah atas prestasinya di sekolah.
"Permisi Bu .. masih ada roti bakarnya?" tanya Pak Dzul ke Mak Leha.
"Masih banyak .. mau rasa apa Pak?" tanya Mak Leha menyudahi mengelap gerobak.
"Kamu maunya rasa apa Dafi?" tanya Pak Dzul ke Dafi.
"Dua boleh ya Yah ... 1 coklat .. yang 1 lagi kacang" jawab Dafi yang sangat hapal pesanan yang sering anak-anak nikmati.
Nenek menyusul Dafi sehabis membeli air mineral di minimarket.
"Kak Leha?" tanya Nenek meyakinkan.
"Sri?" tanya Mak Leha balik.
"Ya Kak ... ya Allah ... udah lama ga ketemu..." ucap Nenek sambil berpelukan sama Mak Leha.
Tangis haru dari keduanya mengalir karena lama ga berjumpa.
"Kamu tinggal di daerah sini Sri?" tanya Mak Leha.
"Ya Allah Dzul ... udah besar ya, dulu kecilnya kurus banget" ingat Mak Leha.
Pak Dzul masih belum ingat siapa sosok Mak Leha.
"Abis dari mana Sri?" tanya Mak Leha.
"Ini saya abis perpisahan TK cucu, Dafi sini ... cium tangan sama Mak Leha" kata Nenek lagi.
"Oh ini cucumu Sri ... sering liat dia berdiri di pagar nunggu yang jemput" ucap Mak Leha sambil mengusap kepala Dafi.
"Tinggal disini Kak?" tanya Nenek sambil melihat di pojokan ada bale diisi kasur tipis dan tumpukan bantal.
"Ya Sri ... Inilah sisa yang saya punya sekarang. Rumah sekaligus kios buat menyambung hidup" ucap Mak Leha sambil tersenyum.
__ADS_1
Nenek mengedarkan pandangan ke ruangan 3 x 4 meter, dipojokkan luar ada kamar mandi, meskipun kecil tapi bersih dan apik. Ada juga kompor dan oven manual.
"Bikin rotinya sendiri?" tanya Nenek.
"Ya ... sama kaya dulu. Alhamdulillah di belakang kios masih ada kebon kosong, ga tau punya siapa belum dibangun, jadi buat masak di belakang. Nanem pohon dikit-dikit buat dimakan" jelas Mak Leha sambil membakar roti buat Dafi.
"Kakak sendirian?" selidik Nenek.
Roti sudah jadi dan diserahkan ke Pak Dzul. Dafi duduk di kursi plastik bareng Pak Dzul. Nenek dan Mak Leha duduk di bale tempat tidurnya Mak Leha.
"Nasib Sri .... pabrik roti kebakaran .. semua yang saya punya habis dalam sekejap mata" kenang Mak Leha sambil mengusap air matanya.
"Innalilahi .... kapan Kak? kok saya ga dengar" tanya Nenek kaget.
Mak Leha menarik nafasnya, guratan kesedihan muncul diwajah tuanya.
"Udah lama Sri ... ya sekitar 25 tahun yang lalu. Ga lama dari kamu pindah, kan ketauan kalo Kak Lilik udah nikah lagi sama anak abege. Wanita yang layak jadi anaknya, saya terpaksa nerima madu saya di rumah daripada diceraikan. Kami tinggal di atap yang sama. Saya ikhlas terima karena saya kan ga punya anak padahal udah lama nikah sama Kak Lilik. Bener kata orang, istri pertama yang dampingin sampe sukses, istri kedua yang abisin kesuksesan itu. Banyak harta berpindah ke tangan madu saya. Kak Lilik ga tau. Sampe akhirnya ketauanlah madu saya main serong sama karyawan di pabrik. Kak Lilik ngamuk di pabrik. Saat itu udah hampir mau ngadon bikin selai, ada 1 karyawan lagi nyiapin kayu bakar dan nyulut api. Dia ga tau kalo dipojokan pabrik lagi ada yang indehoy. Taunya pas liat Kak Lilik lagi berantem pukul-pukulan sama karyawan yang cuma pake kolor doang karena abis main sama madu saya. Udah coba dipisahin malah tambah kesetanan Kak Liliknya. Akhirnya tuh adonan selai sewajan gede tumpah, minyak tanah juga ikut tumpah terus langsung deh api menjalar cepat. Ga ada korban jiwa, tapi pabrik ludes, untung ga ngerembet ke rumah orang. Kak Lilik stress, uang tabungan abis buat berobat dan bayar cicilan Bank. Pas mau jual tanah eh semua surat udah atas nama istri keduanya. Cuma yang ada di Bank aja yang akhirnya disita karena kita ga bisa bayar cicilan Bank lagi. Beneran ga disisain apa-apa. Alhamdulillah dulu banyak pelanggan roti yang kasian sama kita, terus dibantu buat beli tempat ini. Dulu masih murah karena masih sepi, baru ada SD doangan. Saya buat roti skala kecil-kecilan, titip di warung sambil jagain Kak Lilik sampe akhir hayatnya. Setelah Kak Lilik ga ada, saya mulai bangun usaha roti bakar ini, Alhamdulillah rejeki saya disini, biar kata masih kecil kaya gini, tapi pelanggannya banyak. Saya udah punya karyawan satu orang, kerjanya pagi bantu manggang roti sama bebenah terus sorenya bantuin dagang. Kalo jam sekolah saya yang jualan, gantian. Iseng-iseng biar anak-anak punya makanan sehat buat jajannya. Biarin untung tipis kalo sama anak sekolah. Miris liat jajanan SD yang isinya mecin doangan" jelas Mak Leha.
"Emang ga ada saudara yang bisa nemenin Kak? kita kan udah tua, banyak penyakitnya, kalo ada apa-apa gimana?" ujar Nenek.
"Ya ... pasrahkan aja sama Allah, ini yang pada ngontrak dikios sebelah kanan kiri udah kaya anak saya, mereka mah baik-baik, sayang sama saya" jawab Mak Leha bersyukur.
"Alhamdulillah kalo gitu Mak. Oh ya Mak, punya nomer HP ga?" tanya Nenek.
"Ada, buat orang pesen roti, tapi jangan di SMS ya, saya cuma bisa terima telpon aja, ga ngerti yang lain. Lagian punyanya juga HP jadul yang kameranya masih burem" ucap Mak Leha.
Mak Leha mengeluarkan HP yang tergeletak di laci gerobaknya. Kemudian menyerahkan ke Nenek.
"Ini saya ga bisa masukin nomernya, masukin aja sendiri" pinta Mak Leha.
Tampak Nenek memasukkan nomer HP nya kemudian di misscall untuk menyimpan nomer Mak Leha.
"Aroma roti dan selainya masih sama seperti dulu Kak. Saya bungkus ya .. minta roti tawarnya dua papan full sama selai sarikaya masih jual kan Kak?" tanya Nenek.
"Masih .. malah banyak yang beli selainya aja. Masih ingat ya sama selai srikaya?" Kata Mak Leha.
__ADS_1
"Masih dong, ga ada yang ngalahin selai srikayanya kak Leha. Saya mau ya Kak selainya, 4 toples" ucap Nenek antusias.
Mak leha merapihkan pesanan Neneknya Dafi. Kemudian Nenek mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dari tasnya dan menyerahkan ke tangan Mak Leha.