
Pada akhirnya Rian hanya jadi korban bully di sekolah umum, diusia hampir empat belas tahun, Rian masih duduk di bangku kelas tiga SD.
Pak Dzul berulang kali mengingatkan Bu Fia, tapi Bu Fia tetap memaksakan diri kalo Rian harus sekolah ditempat kakak-kakaknya sekolah. Hal inilah yang kerap menjadi pemicu pertengkaran antara Pak Dzul dengan Bu Fia. Pak Dzul ingin Rian dapat pendidikan yang sesuai dengan kondisinya, tapi Bu Fia ga mau. Nenek pun udah turun tangan, tapi Bu Fia tetap pada pendiriannya.
"Anak kita normal" kata Bu Fia tegas.
"Ya ... anak kita normal, tapi dia punya keistimewaan yang ga dimiliki sama anak-anak kita lainnya" ujar Pak Dzul.
"Kenapa harus dipaksakan sekolah di sekolah luar biasa?" ujar Bu Fia.
"Biar dia bisa mendapatkan pendidikan sesuai sama kebutuhannya. Atau kita bisa masukin dia ke sekolah yang berbasis khusus untuk anak istimewa. Terkadang anak-anak dengan keistimewaan seperti ini harus pas cara mendidiknya biar bisa berkembang sesuai bakat dan minatnya. Banyak kok yang dengan keistimewaannya bisa meraih prestasi. Tapi bagi Ayah sebuah prestasi hanya bonus, yang utama adalah dia bisa hidup tanpa bergantung sama orang lain. Sekarang buat sekedar mandi aja belum bisa sendiri karena pegang sabun batang jatuh terus, kalo sabun cair malah dipencet sampe habis sabunnya. Dia ga bisa fokus dibawah shower pasti lari-larian kalo mandi" papar Pak Dzul.
"Pokoknya Rian harus lulus di sekolah umum" tegas Bu Fia.
"Mau sampe umur berapa masih SD juga?" tantang Pak Dzul.
"Tahun depan kita pindahkan lagi aja, banyak sekolah swasta kok, asal kita bayar uang pangkal juga diterima kok" jawab Bu Fia enteng. Pak Dzul hanya geleng-geleng kepala.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Jam dua malam Qeena dibangunkan Nuha seperti biasa. Mereka ga pernah lupa absen malam pada Sang Maha pemilik dunia (kecuali ada halangan), sudah rutin sejak Qeena paham tentang sholat. Setelah berdo'a Qeena memberanikan diri menanyakan ke Nuha.
"Mak .... kenapa didata diri Qeena, nama ibunya bukan Emak? Qeena bukan anak Emak?" tanya Qeena hati-hati.
"Qeena ... sebenarnya Emak mau cerita saat usia kamu nanti tujuh belas tahun. Tapi kamu emang anak yang kritis. Intinya Qeena anak Emak, dari bayi Qeena udah sama Emak. Siapapun nama yang ada didata diri Qeena, ga usah dibawa pikiran ya" jawab Nuha diplomatis.
"Bapak Qeena dimana Mak?" tanya Qeena makin penasaran.
"Berdo'alah Qeena ... semoga Allah pertemukan kamu sama Bapak. Emak ga akan menghalangi kalo Qeena nanti mau ketemu Bapak, tapi Emak ga tau dimana Bapak sekarang berada" jelas Nuha sedih.
"Maafin Qeena ya Mak ... jangan nangis Mak, maaf kalo pertanyaan Qeena bikin Emak sedih. Emak adalah segalanya buat Qeena. Kalo suatu hari Ibu dan Bapak Qeena yang namanya tertulis didata itu datang, Qeena akan tetap memilih bersama Emak. Kita akan selalu berdua Mak" janji Qeena.
Keduanya menangis dalam kondisi berpelukan, Qeena memang sangat perasa, dia pasti akan merasa bersalah jika membuat orang yang disayanginya sedih apalagi menangis.
Nuha selalu mengingatkan Qeena buat berdo'a disepertiga malam, agar kelak hidupnya bisa lebih baik dari sekarang. Cita-cita Qeena banyak, salah satunya memang jadi perawat, mengingat kondisi ekonomi seperti ini, Qeena kadang udah putus asa duluan. Bahkan dia udah ga berani bermimpi bisa menggapai cita-citanya. Dia hanya ingin bisa berbakti sama Emaknya dan bisa menemani sampai kapanpun. Bagi Dunia mungkin Mak Nuha hanya seorang Ibu, tapi bagi Qeena, Mak Nuha adalah dunianya. Seorang Emak yang melimpahkan kasih sayang dan cintanya buat Qeena. Mereka menangis dan tertawa bersama. Melewati banyak cobaan berdua tanpa terpisahkan.
Nuha kembali tidur karena badannya terasa lelah. Qeena ga bisa tidur selepas tahajud, kebetulan besok juga hari Sabtu, artinya libur sekolah. Qeena duduk didepan jendela ruang tamu. Memandang bulan purnama yang tampak indah sinarnya.
"Ya Allah ... berikanlah kesehatan dan umur panjang untuk Emak, mampukanlah hamba buat membalas semua jasa-jasa Emak. Walaupun Emak bukan Ibu kandung, tapi Emaklah yang selalu hadir disisi hamba. Apapun cerita tentang asal usul hamba, takdirkanlah Emak terus berada disisi hamba" do'a Qeena.
__ADS_1
Qeena memandang fotonya bersama Nuha dan Mak Leha saat masih tinggal di kios roti bakar.
"Nek Leha ... sampai akhir hayat Nenek, kita masih dalam keadaan difitnah curang dalam berdagang. Tapi Nenek ngajarin suatu hal yang luar biasa ... sabar ... kena fitnah manusia ga akan hina dimata Allah selama kita tidak melakukan yang orang lain fitnahkan. Tenanglah bersama belahan jiwamu Nek ... Walaupun kami udah ga di kios lagi, kenangan itu masih terukir manis Nek ... " ucap Qeena.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Dafi diminta tolong sama Ayahnya untuk datang ke kios yang dulu milik Mak Leha untuk melihat hasil renovasi dan membayar sisa biaya renovasi. Penyewa lama sudah tidak memperpanjang sewanya, ada penyewa baru yang sudah tertarik tapi minta dibenerin kamar mandi dan dicat ulang.
Dafi sedang mengawasi tukang yang bekerja di kios tersebut. Sambil menunggu, dia duduk di warung kopi yang menjual bubur kacang ijo. Udara sore hari ini dingin karena selepas hujan dari pagi hingga siang hari. Warungnya lagi sepi, jadi Dafi bisa berbincang ringan sama pemiliknya.
Bubur kacang ijo, makanan murah meriah yang kaya akan gizi buat tubuh kita. Selain sehat, bubur kacang ijo jadi menu paling universal serta lintas genarasi, tua dan muda pasti menyukainya.
"Biasanya rame jam berapa Bang?" tanya Dafi basa basi.
"Biasanya pagi sama malam. Kalo pagi buat sarapan, kalo malam buat makanan iseng pengganjal lapar atau cemilan setelah makan" jelas Abang penjualnya.
"Kios disini makin cakep-cakep ya Bang" ujar Dafi sambil menikmati burjonya.
"Iya ... dulu mah semua disini cuma kios-kios sederhana dari kayu" cerita penjual burjo sambil duduk didekat Dafi.
"Ya ... dulu kan saya TK nya disitu" ucap Dafi sambil menunjuk TK didepan kios.
"Milik Ayah saya" jawab Dafi.
"Dulu kan yang punya Nenek tua yang jualan roti bakar" buka penjual burjo.
"Oh ya ... kok waktu sebelum Ayah beli kios ini, di kios jualan nasi goreng" kata Dafi pura-pura ga tau.
"Yang punya kios roti bakar udah meninggal. Sama anak angkatnya, kios ini dijual terus dibagi-bagi buat yang dulu kerja disitu. Tapi ya udah ga banyak kali yang dibagi. Kasian deh, dulu mah sepuluh tahun yang lalu dagangannya rame, saya aja ambil roti sama Mak Leha. Tapi beliau difitnah sama tuh pedagang roti bakar depan SD" tukas penjual burjo.
"Difitnah gimana maksudnya?" tanya Dafi, jiwa keponya bergejolak.
"Kita juga baru tau nih seminggu yang lalu. keluarga penjual roti bakar datang nyari Mak Leha atau Mak Nuha, tapi kan Mak Leha udah meninggal, Mak Nuha juga udah pulang kampung" lanjut penjual burjo.
"Terus kelanjutannya gimana?" tanya Dafi.
"Dagangan mereka laku banget sejak Mak Leha sepi. Sampe punya lima cabang, rumahnya udah bagus, kontrakannya juga banyak. Tapi setahun terakhir, Bapak penjualnya kena stroke. Kata keluarganya antara mati segan hidup tak mau. Udah berobat setahun ini kemana-mana, dari medis sampe alternatif, tapi nihil. Ya tiduran aja katanya ga bisa ngapa-ngapain. Satu persatu hartanya abis buat berobat. Usahanya juga ditipu sama anak buahnya, uangnya dikorupsi, bilangnya kios roti sepi, jadi dagangan banyak dibuang karena jamuran. Punya lima anak ga ada yang kerja, ngandelin harta bapaknya doangan. Rupanya istrinya inget kalo pernah fitnah dagangan Mak Leha, mereka yang naro buah busuk yang ada belatung dibelakang kios Mak Leha biar orang kira kalo Mak Leha pake bahan busuk buat selainya. Tepungnya juga ditukar sama yang kutuan, jadi pada takut beli rotinya" cerita penjual burjo.
"Ga berkah itu Bang, saingan dagang tuh harus nunjukin kualitas dagangan kita, bukan jatohin dagangan orang" ujar Dafi.
__ADS_1
"Bener Mas, tapi namanya orang gelap mata, ya begitu deh" jawab penjual burjo.
"Sekarang gimana tuh nasib pedagangnya?" tanya Dafi lagi.
"Ya masih gitu, dibilang hidup tapi ga bisa ngapa-ngapain, dibilang mati ya masih bernyawa" ucap pedagang burjo.
"Ya semoga sakitnya membuat dia insyaf ya" harap Dafi.
"Gimana mau insyaf, melek aja ngga, ga ada reaksi, makan aja pake selang katanya, pake susu apa gitu" lanjut pedagang burjo.
Dafi hanya tersenyum, dia yang tau bagaimana kesulitan Mak Leha dulu, bahkan Dafi pernah memberikan modal lima ratus ribu rupiah buat Mak Leha dagang roti lagi. Pernah juga Dafi pas SMA memesan roti isi ke Mak Leha dan menjualnya di sekolah. Ga gengsi dia dagang roti. Saat itu pemikiran Dafi bukan untung buatnya, tapi bagaimana usaha Mak Leha tetap bisa berjalan. Karena rotinya digemari, selama dua tahun di SMA, Dafi dagang roti seminggu tiga kali. Meskipun dia saat itu ga suka sama Mak Nuha yang tercurigai sebagai perusak kebahagiaan keluarganya, tapi Dafi tetap membantu membelikan peralatan sekolah dan buku pelajaran buat Qeena.
"Mas suka burjo ya?" iseng pedagang burjo bertanya.
"Suka Bang" jawab Dafi.
"Percaya ga kalo burjo itu lebih setia dari pasangan?" tanya pedagang burjo.
"Masa sih?" ucap Dafi ga percaya.
"Kalo pasangan belum tentu selalu ada di samping kita. Coba kalo burjo, dalam radius satu kilometer aja pasti bakalan nemuin warung kopi yang menyediakan burjo sebagai menu pelengkap, ga jarang ada yang buka 24 jam non stop, coba kalo pasangan ... belum tentu 24 jam ada mulu disamping kita" jelas pedagang burjo.
"Bisa aja nih si Abang. Saya juga punya nih Bang.ย Seirit-iritnya kalo lagi jalan sama pasangan kan pasti keluar duit lumayan ya, apalagi kalo minta belanja ke mall dan makan di resto, beuhhh pasti dah dompet jadi tipis. Tapi sekritis apapun isi kantong, sekedar satu porsi burjo aja masih bisalah kita nikmati dengan keluar selembar uang kertas Pangeran Diponegoro. Jadi dijamin hemat" lanjut Dafi.
"Iya juga ya Mas ... eh lagi nih Mas, kalo pasangan ada kemungkinan rasanya berubah, yah namanya jugaย perasaan, siapa yang bisa nebak kedepannya gimana. Coba deh kalo burjo, mau di Jawa Barat sampai Jawa Timur rasa bubur kacang ijo selalu konsisten, begitu aja" sahut pedagang burjo.
"Oke deh Bang, ga kelar-kelar nih kita bahas burjo kalo begini terus. Saya mau pulang dulu, kayanya tukang udah mau selesai. Makasih ya atas obrolannya" kata Dafi.
๐๐๐
Cuss yang belum baca karya saya lainnya.
Ada chef Ale yang ganteng di WARUNG.
Atau mau ngereceh ala kakak ganteng? mampir ke SENJA.
Mau kepoin si pilot bucin ga? langsung deh terbang ke AKU, DIRIMU & DIRINYA.
Eittsss tunggu dulu masih ada HARTA, TAHTA & TUTUG ONCOM yang bikin pembaca menikmati kehidupan desa.
__ADS_1