
"Qeenaaaa ... Mak Nuhaaa .... kangen" ucap Erin begitu melihat Qeena turun dari mobil.
Mereka semua masuk kedalam rumah Erin.
"Aa' Zay belum pulang dari Mesjid?" tanya Qeena basa basi.
"Iya, Mak ... Qeena ... minum dulu, udah disiapin teh hangat sama pisang kukus" jawab Erin.
"Anak-anak belum dibangunin Teh?" tanya Qeena.
"Tadi udah bangun sholat subuh, terus tidur lagi karena kan libur sekolahnya, ada acara para gurunya" jelas Erin.
"Kita langsung aja bikin yuk Teh, biar cepet kelar. Qeena mau tidur cepet, terus besok mau muter-muter daerah sini, terus lanjut ke Klinik" ucap Qeena.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Oke semua, akan ada lima tim ya, tugasnya akan dibagi per tim buat memberikan pengarahan ke propinsi yang akan kita tuju. Tiap tim terdiri dari empat orang, namanya sudah disusun, silahkan di cek. Disana ada tiket beserta bukti bookingan hotel untuk menginap" jelas Kepala Tim.
Dafi melihat daftar namanya akan ditugaskan dimana.
"Bali ... sama Rahma?" kata Dafi rada kaget.
"Kita satu Tim ya, sepuluh hari kirain bakal muter Jawa Bali, ternyata kita malah muter di Bali ya Kak" sapa Rahma.
Dafi menengok kearah Rahma, cuma bisa menyunggingkan senyum yang dipaksa. Udah lama mereka ga ketemu, hanya sesekali mendengar kabar Rahma dari temannya aja yang tau kisah mereka dulu.
Hubungan antara Dafi dan Rahma emang ga banyak yang tau kecuali yang seangkatan sama Rahma. Keduanya pun langsung bubar jalan begitu memutuskan ga bersama. Dafi sibuk ikut yang ke daerah Sumatera, sedangkan Rahma lebih muter ke area Jabodetabek dan Banten.
"Kok kamu ditarik ke pusat juga? bukannya di Serang ya?" tanya Dafi.
"Tau juga ya Kak Dafi, saya ditempatkan disana... hehehe, kepo atau denger dari orang nih?" ledek Rahma.
"Teman kamu kan di Jambi, sering ketemu sama dia terus ngomongin kamu" jawab Dafi. "Oh ... Jangan lupa Kak .. kita sama-sama lulusan terbaik di era kita masing-masing, wajar dong tugas ini ada ditangan kita, ya kalo ada apa-apa seringnya nama kita masuk. Ga nyangka bisa ketemu, udah ada sekitar dua atau tiga tahun ya kita ga ketemu" ucap Rahma santai.
"Ya sekitar itulah .. keliatannya beda ya sekarang" kata Dafi sambil mengamati Rahma dari atas ke bawah.
"Tampilan?" tanya Rahma sadar diri.
"Ya .." jawab Dafi sambil kembali melihat tiketnya.
"Ini casingnya doang Kak, tapi dalamnya masih sama kok" kata Rahma.
Dafi ditunjuk menjadi ketua tim lima, dia bersama Rahma dan dua rekan lainnya. Jadi dalam tim memang diatur agar terdiri dari dua lelaki dan dua perempuan, jadi di kamar hotel bisa lebih irit karena menyewa dua kamar aja dan isinya biar sesama jenis kelamin.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Qeena berjibaku bersama Erin membuat pesanan, anak-anak dijaga sama Mak Nuha dan Aa' Zay. Ga banyak hal pribadi yang Qeena ceritakan, mereka banyak membahas tentang yang terjadi di Ciloto setelah Qeena pindah.
"Gimana manten anyar udah ngapain aja nih?" ledek Erin.
"Apaan sih Teh ... tinggal juga pisah, dia di rumah Ayahnya, Qeena di rumah dia. Main dong Teh kesana, tapi rumahnya masih dalam proses pengisian .. hehehe, Mas Dafi lagi ngebut bikin dapur nih, biar cepet jadi, nanti kan bikin orderan kue disana" kata Qeena.
"Belum kebagian waktunya nih, lagi sibuk aja disini, ya kan ada masalah juga di Klinik" ujar Erin.
"Masalah apa?" tanya Qeena.
"Dokter-dokter yang tugas di Klinik mau pindah semua, dokwan juga masih kuliah spesialis, ya sekitar dua bulan kedepan ada kekosongan dokter di Klinik. Tau sendiri kan kalo Klinik ga bisa bayar dokter dengan standar jasa yang tinggi, bisa dibilang setengah sedekah ilmu kalo praktek disana" papar Erin.
"Iya ya .. kasian warga sini yang emang mengandalkan Klinik buat fasilitas kesehatan" jawab Qeena.
__ADS_1
"Makanya nih semua rekan dokwan juga lagi nyebar info ini, biar sebelum dokter pindah, Klinik udah ada yang pegang" ucap Erin.
"Eh tunggu deh, kayanya Mas Fajar kan sebentar lagi disumpah jadi dokter, dia bisa praktek tapi masih dibawah pengawasan dokter lainnya. Nah dokwan bisa jadi dokter penanggung jawab. Nanti Qeena hubungin dia ya, semoga dia mau" kata Qeena.
"Semoga ya, kan Fajar itu baru lulus, biasanya lebih senang kerja di Rumah Sakit besar atau Klinik dokter bersama di Kota. Ini kan desa, belum tentu mau" ujar Erin.
"Ya namanya juga usaha, mau atau ngga nya ya kita serahkan ke Mas Fajar" jawab Qeena.
Baru malam harinya Qeena bisa istirahat, semua pesanan baru aja diambil selepas Maghrib.
Qeena lagi ngobrol sama Aa' Zay, Saino dan Agung di teras belakang rumah Aa' Zay.
"Undangan ga nyampe-nyampe ke Ciloto nih, abis apa belum dicetak?" ledek Agung.
"Belum Mas Agung" jawab Qeena.
"Nunggu apa lagi sih? Dafi kayanya lelaki yang baik" ujar Aa' Zay.
"Masih belum kebuka aja A' ... masih ada yang mengganjal" kata Qeena.
"Apa lagi sih? keluarga oke kan semua? coba kamu minta petunjuk dari Allah, putuskan dengan bijak Qeena. Ga baik kondisi kaya gini berlarut-larut. Kalian harus ada kepastian. Lanjutkan atau tinggalkan. Semua pilihan pasti ada konsekuensinya, makanya kamu pikir dari semua sisi" nasehat Aa' Zay.
"Ya A' .. mohon do'anya aja" kata Qeena.
Ketika sedang berbincang, telepon Qeena berbunyi.
"Widihhh ... HP baru nih" ledek Aa' Zay.
"Dibeliin A' sama Mas Dafi" jawab Qeena.
"Laen deh yang udah punya laki" sahut Saino.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah berbincang sama Qeena lewat telepon, Dafi tadinya berniat renang malam ini. Sedari sampe di Bali, dia langsung disibukkan sama pembukaan pelatihan petugas lapangan untuk pelaksanaan sensus.
Dafi mengganti bajunya dengan baju renang yang sengaja dia bawa dari Jakarta. Ketika sedang pemanasan, Rahma dan rekannya datang dan berniat renang juga.
"Mau renang juga Kak?" sapa Rahma.
"Iya .. kayanya badan ga dibawa olahraga ga asyik" jawab Dafi.
"Jago renang Kak?" tanya Rahma lagi.
"Ya asal ngambang aja sih, ga jago-jago banget, yang penting badan gerak" ujar Dafi.
Setelah lima belas menit full bolak-balik renang, Dafi naik, dia memesan susu panas di cafetaria hotel sebelah kolam renang.
Temannya Rahma pamit masuk kamar duluan buat mandi dan istirahat. Kini tinggal Dafi dan Rahma duduk di bangku kayu samping kolam renang. Mereka pakai handuk untuk menutupi tubuh basahnya.
"Kakak kayanya udah beda ya, ga sekaku dulu, udah banyak senyum" puji Rahma.
"Kamu juga beda, sekarang lebih bawel dan luwes dalam pergaulan" ucap Dafi.
"Maaf ya Kak tentang yang dulu, cemburu buta sampe ga dengerin penjelasan Kakak" kata Rahma.
"Lupain aja, udah masa lalu ga perlu diungkit kembali" jawab Dafi sambil menikmati hangatnya kopi malam ini.
"Desas desusnya Kak Dafi udah nikah siri ya?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Ya" jawab Dafi mantap.
"Kenapa harus siri? kapan mau resmiinnya?" kepo Rahma pengen tau.
"As soon as possible" jawab Dafi santai.
"Orang tua setuju kan Kak? heran aja seorang Kak Dafi memutuskan untuk nikah siri, udah ga tahan sepertinya .. hehehe" ledek Rahma.
"Semua terjadi tanpa direncanakan, jadi sah secara agama dulu aja, sekarang kami masih dalam tahap perkenalan. Dia juga sedang menyesuaikan. Insyaa Allah sekarang semua persiapan sedang berjalan, abis lebaran lah semua akan diresmikan. Maunya sih lebih cepat, ya tunggu aja undangannya" ungkap Dafi.
"Akhirnya bisa nikah muda juga ya Kak" puji Rahma.
"Muda? kayanya ngga juga ya, udah dua puluh enam jalan dua tujuh, cukuplah" jawab Dafi.
"Dia pasti spesial ya Kak, sampe karena khawatir berpisah jadi buru-buru Kakak nikahi" kata Rahma.
"Sangat spesial malah. Siapa duga justru orang dekat yang jadi jodohnya. Cari sana-sini sampe seberang pulau, jadinya sama yang diseberang mata" ucap Dafi sambil ketawa kecil.
"Tetangga?" tanya Rahma.
"Anak asuh Ayah" jawab Dafi.
"Yang waktu itu Kakak pernah cerita ya? yang pernah ada fotonya bareng sama adik-adik Kakak. Yang Rahma bilang cantik banget itu ya?" duga Rahma.
"Ya ... Qeena namanya" ujar Dafi.
"Selamat ya Kak" ucap Rahma.
"Kamu sendiri gimana? udah nikah?" tanya Dafi.
"Belum Kak, tiga kali kandas" kata Rahma miris.
"Ya belum jodoh" ujar Dafi menyemangati.
"Rahmanya kayanya yang gimana gitu .. setelah kita pisah, makin hati-hati dalam menjalin hubungan, biar ga ada pihak ketiga dan mau mendengarkan cerita dari pasangan secara baik-baik. Dari ketiganya, orang tua mereka merasa gimana gitu memandang wanita dengan jilbab panjang, ga modis katanya. Mereka khawatir kalo Rahma tuh ikut aliran tertentu. Terus Rahma berubah ikutin tren jilbab pendek kaya sekarang, lebih banyak yang mendekat emang, tapi sama aja, semua berakhir dengan cemburu butanya Rahma" papar Rahma.
"Kayanya udah malam, besok kita masih banyak kerjaan kan ya, Kakak mau istirahat dulu" pamit Dafi yang bertujuan untuk memotong pembicaraan mereka.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Qeena meminjam motor milik Erin buat keliling desa, menikmati wilayah yang amat dicintainya melebihi kampung halamannya di Wonogiri.
Ketika sedang menepi di perkebunan mangga dan duduk di saung, Qeena didekati oleh seorang pria.
"Qeena .. " panggil lelaki tersebut.
"Pak Iyus" kata Qeena pelan, Qeena siap-siap mau pergi tapi ditahan sama Iyus.
"Qeena .. dengerin semua penjelasan Papa" pinta Iyus.
Akhirnya Qeena mengalah dan duduk kembali di saung.
"Papa tau apa yang Papa lakukan salah. Tapi Allah aja Maha Pemaaf, masa kamu sama Nuha yang cuma makhlukNya ga mau memaafkan Papa" buka Iyus.
Qeena masih diam mendengarkan ocehan Iyus.
"Kami khilaf Qeena ... Mama kamu tuh cantik banget, wajah kamu hampir delapan puluh persen mirip sama dia, yang dua puluh persennya ya ikut wajah ganteng Papa ini. Makanya kamu cantiknya maksimal" kata Iyus dengan pedenya.
Iyus memang seorang aktor yang pandai bersilat lidah. Dia tau persis tipe Qeena ga mau dengan cara kasar, tapi pake cara lembut yang bikin dia merasa iba. Inilah yang sedang dimainkan sama Iyus.
__ADS_1