
Qeena menelpon Fajar untuk memberitahukan kondisi Bu Fia, akhirnya setelah video call, disarankan buat dibawa ke Klinik yang deket rumah dulu, karena Fajar baru bisa pulang nanti malam.
"Bunda emang gejala maagnya udah kronis, sekarang bawa aja ke Klinik dulu, ikuti aja semua anjuran dokter, kalo emang perlu dirawat ya dirawat aja" saran Fajar.
Qeena, Mas Anto dan Mba Mini menggendong tubuh Bu Fia yang udah sadar tapi masih tampak lemas. Setelah duduk di mobil, Mas Anto langsung mengemudikan mobil kearah Klinik.
Di Klinik dokter umum, kondisi Bu Fia udah bisa diajak komunikasi.
"Saya udah lama punya penyakit yang berhubungan sama asam lambung dok, kalau kumat dada rasanya sesak dan rasa nyeri yang menusuk disekitar perut dan juga mual muntah. Baru sekitar seminggu terakhir ini jadi makin parah bahkan sampai pingsan udah kedua kalinya. Saya juga merasakan sakit di dada sebelah kiri yang menjalar sampai ke lengan dan sakit didaerah pinggang sebelah kanan dan juga kiri. Sudah pernah di USG lambung dan menurut dokter semuanya bagus hanya ada mild fatty liver. Seberapa parahkah maag saya dok? bagaimana cara menghadapi maag yang kalau kambuh kaya sekarang ini?" ucap Bu Fia dengan lancar.
"Nyeri lambung akibat peradangan lambung atau maag yang berat memang bisa sampai mengakibatkan lemas, sesak bahkan pingsan. Gastritis ini karena iritasi oleh asam lambung yang dipicu karena terlambat makan atau iritasi oleh makanan pedas maupun asam. Untuk memastikan keparahan, ga bisa dilakukan tanpa pemeriksaan penunjang Bu.ย Saran saya Ibu bisa ke spesialis gastroenterelogi. Karena kan udah lama ya keluhannya dan sudah sampai pingsan begini. Nanti akan dilakukan pemeriksaan saluran cerna secara mendetail, dengan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, feses bahkan endoskopi malah bisa tegak diagnosanya. Gejala seperti ini memang kalo bulan Ramadhan pasti banyak menyerang Bu, karena tubuh kan masih masa perubahan pola jam makan. Jadi sarannya, Ibu minum air putih sekitar dua liter perhari, silahkan diatur dari berbuka hingga sahur. Hindari makan makanan yang mengiritasi lambung seperti makanan pedas atau asam. Konsumsi buah dan sayur untuk mencukupi kebutuhan serat sehingga sistem pencernaan lancar. Saya beri obat minum, ya sekitar dua hari lagi jangan berpuasa dulu ya, jika sudah nyaman baru mulai berpuasa lagi" jawab dokter umum.
๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
Dalam perjalanan pulang, Qeena duduk disampingnya Bu Fia.
"Mba .. tadi Mas Dafi telpon saya, soalnya nelpon ke HP Mba Qeena ga diangkat-angkat" lapor Mas Anto.
"Ga bawa HP saya, tapi udah dikasih tau kan saya ada dimana?" tanya Qeena.
"Udah .. nanyain kondisi Ibu juga. Katanya nanti mau telpon lagi" jawab Mas Anto.
"Makasih ya .. nanti Mas Dafinya saya telepon deh biar tenang" ujar Qeena.
"Makanya masak tuh jangan pedes-pedes, jadinya sakit kan .. mau bikin saya cepat mati ya?" oceh Bu Fia tanpa memandang Qeena.
"Masak apa ya? kayanya semua dengan sambal terpisah dan ga pedes banget" jawab Qeena bingung.
"Itu yang rendang" kata Bu Fia.
"Itu kan sahur pertama Tante, saya juga bikinnya ga pedas kok.. ya kan Mas Anto?" balas Qeena yang mulai kurang sabar ngadepin Bu Fia.
"Sambel kacang setiap hari emang ga pedes? terus bikin asinan sayur kemarin juga ada asemnya" beber Bu Fia.
"Tante .. saya cuma bikin makanan itu sesuai request, ga ada maksud buat menyediakan khusus buat seseorang, jadi pilihan ke masing-masing orang, mau makan atau ngga. Ya kalo merasa perut ga cocok sama hidangan yang saya sajikan ya ga perlu dimakan .. life is choice right? masih banyak hidangan lain yang ga perlu pakai sambal kacang" tantang Qeena.
"Oh udah berani ngelawan ya sekarang? mentang-mentang Mas Dafi udah dalam genggaman jadinya kamu kaya gini?" balas Bu Fia penuh emosi.
__ADS_1
Mas Anto yang ketar ketir, khawatir terjadi keributan dibangku belakang. Kondisi jalan juga macet, karena ada truk pasir bannya masuk ke selokan. Padahal ga jauh lagi belokan menuju rumah.
"Kenapa sih Tante benci banget sama saya dari dulu? salah saya apa? mungkin saya bisa memperbaiki kalo bisa. Saya dan Mas Dafi sudah sepakat buat melanjutkan pernikahan kami, saya cuma minta satu, do'a restu, apa susah buat seorang Tante Fia kasih itu?" kata Qeena.
"Saya udah melamar Zahwa buat Mas Dafi, dia cocok segala hal buat Mas Dafi. Dia lebih layak jadi pendamping Mas Dafi daripada kamu" jawab Bu Fia tegas.
"Karena saya anak yang hadir sebelum orang tua saya menikah? karena saya dari keluarga berantakan? saya dari keluarga miskin yang ga layak menjadi pendamping keluarga kaya seperti keluarga Tante? saya yang ternyata anak seorang supir di kantor Tante jadi Tante malu karena udah sesumbar dapat anak orang kaya? Apa layak semua saya tanggung padahal itu semua diluar kuasa saya?" tanya Qeena sangat nyelekit.
"Ini nih kalo orang ga berpendidikan, jadi ga tau tatakrama ngomong sama orang tua" hardik Bu Fia kepancing emosi.
"Iya .. saya cuma lulusan SMA terbuka, ikut kejar paket buat dapat ijazah, ga bisa kuliah karena ga punya biaya. Beda sama anak-anak Tante yang bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang bagus, bisa kuliah, punya kerjaan yang bagus dan mapan, ga kaya saya yang kerjanya uprek-uprek dapur aja" kata Qeena blak-blakan.
"Makin jadi ya mulutnya, jangan sampe nih tangan mendarat dibibir kamu. Sana keluar dari mobil, jalan kaki aja ke rumah, jangan sok kaya ratu gayanya" usir Bu Fia.
"Oke fine .. tapi Tante ingat baik-baik .. mulai sekarang, saya ga akan mau ya diinjak-injak lagi sama Tante. Saya sama Mak Nuha mampu berdiri diatas kaki sendiri tanpa bantuan Mas Dafi sekalipun. Saya juga bisa aja pergi menjauh dari keluarga Tante, tapi saya rasa itu bukan penyelesaian yang baik. Saya akan buktikan ke Tante kalo suatu saat nanti, Tante yang akan memohon maaf di kaki saya. Jadi sambil menunggu waktu itu, saya akan jadi mimpi buruk buat Tante" ucap Qeena sambil membuka pintu dan membanting kencang.
Pengendara motor yang ada disebelah mobil kaget pas pintu ditutup. Jangankan orang diluar mobil, Mas Anto dan Bu Fia aja kaget melihat Qeena yang tampak garang, ga seperti biasanya.
"Dasar anak broken home tuh gitu, ga ada sopan santunnya. Masa minta restu ngomel-ngomel, mertua mana yang mau punya mantu kaya gitu, bar bar" omel Bu Fia.
Mas Anto cuma bisa beristighfar dalam hatinya.
"Ga tau saya Bu, saya baru liat dia bisa marah ternyata. Orang kalo ga pernah marah malah serem kalo marah" jawab Mas Anto yang masih shock melihat Qeena semarah tadi.
"Apa dia ngerasa banyak yang dukung jadinya berlagak kaya orang bener?" tanya Bu Fia lagi.
"Beneran Bu saya ga tau, yang saya kenal ya dia orang yang baik, ga pernah marah kaya tadi" kata Mas Anto cari aman.
๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
Rupanya Pak Dzul khawatir sama kondisi istrinya jadi dia ijin pulang cepat, Izma juga langsung pulang setelah selesai ujian, padahal udah janjian mau bukber sama teman kuliahnya. Fajar dan Dafi juga silih berganti menghubungi Bundanya karena khawatir.
๐ต๏ธ
Sudah hampir Maghrib, semua hidangan sudah tersaji, Mba Parti dan Mba Tinah yang nyiapin semuanya.
"Nuha sama Qeena kok ga kesini?" tanya Pak Dzul.
__ADS_1
"Katanya mau berbuka di Mesjid Pak" jawab Mba Parti.
"Kenapa disana?" kata Pak Dzul heran.
"Kata Mak Nuha, pengen ngulang masa lalu, saat ga ada keluarga, katanya mereka berbuka bersama di Mesjid" jelas Mba Parti dengan polosnya.
"Kan sekarang ada keluarga" sahut Pak Dzul.
"Ga tau Pak .. nanti tanya aja sama mereka, saya takut salah jawab" ucap Mba Parti.
Pak Dzul merasakan sesuatu yang aneh, tapi dinikmatinya hidangan berbuka bersama keluarganya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Malam ini ada ceramah dari seorang ustadz sebelum sholat witir. Mak Nuha, Qeena dan jama'ah lainnya mendengarkan dengan khusyu.
"Hadirin hadirat Rahimakumullah, di dunia ini selalu ada sesuatu yang akan selalu singgah dikehidupan kita, yakni ujian. Mau sekuat apapun usaha kita untuk menghindarinya tentu ga akan pernah bisa. Agar ujian ini bisa berbuah jadi pahala dan mengangkat derajat kita bagaimana caranya? dengan jalan bersabar. Ya... sabar. Karena dengan bersabar maka ujian justru akan kita maknai sebagai anugerah. Dan itulah yang menjadi penyebab kebahagiaan kita hidup di dunia dan di akhirat kelak. Disebutkan dalam surah Al-baqarah ayat 155 : dan kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa ketakutan, kekurangan harta, jiwa, buah-buahan, dan kelaparan. Serta sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang telah bersabar. Ujian silih berganti, baik berupa kemiskinan, kesengsaraan dan berupa penyakit. Segala sesuatu yang menimpa pada manusia, sehingga menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan, maka tiada lain kecuali untuk menguji sampai sampai dimana kualitas iman kita. Bila segala cobaan dihadapi dengan penuh kesabaran, maka baginya pahala dari Allah SWT. Bila Allah mencintai kaumnya, maka diujinya lebih dahulu. Jangan salah paham, kita nih ya, kalo ada tetangga diuji, baik kesengsaraan, penyakit dan berbagai macam problem kehidupan, adanya kita bilang dia kena azab. Bisa jadi justru orang tersebut dicintai oleh Allah dan ingin mendengar orang ini melantunkan do'a-do'a disepertiga malamnya" ujar Pak Ustadz.
.
"Ya kali kita ditimpa ujian mulu, kapan senengnya. Orang sekolah aja kalo udah ujian ada naik kelasnya. Lah kita ... diuji kurang uang mulu, jadi utang numpuk dimana-mana, belum bisa kebayar sampe sekarang" keluh seorang Ibu ke tetangganya.
"Iya nih .. punya penyakit juga kaga sembuh-sembuh .. udah berobat dari medis sampe non medis, tetap aja ga sembuh juga" lanjut Ibu sebelahnya lagi.
"Pak Ustadz apa kaga pernah susah kaya kita kali ya, jadi ngomongnya enak banget. Kita juga mau ibadah yang tenang. Lah gimana mau tenang kalo perut lapar dan ga punya uang" ucap lainnya.
"Makanya Bu Ibu... sabarrr" jawab Ibu yang lain.
"Sampe kapan?" tanya Ibu lainnya.
"Ya sabar sampe ada jawaban dari Allah, kalo belum ada jawaban ya sabar lagi aja.. begitu aja terus" jawab lainnya.
"Makanya Bu... kalo ngaji jangan cuma yasinan ama nyari berkat doangan, jadi ga paham tentang arti sabar. Bukannya saya sok belagu, tapi kan rejeki udah Allah atur. Biar kata ngutang kan Ibu masih ketemu makan, toh Ibu ga diuber-uber bayar utang juga itu udah rejeki. Jadi ga nambahin pusing kan?" tengah salah satu Ibu yang gerah sama Ibu-ibu yang malah ngerumpi saat Pak Ustadz kasih tausyiah.
"Mba Qeena mah enak ya .. keluarga Pak Dzul kaya, Mas Dafi juga kariernya bagus, ditambah Mba Qeena cantik dan pinter masak. Rasanya ujian juga males ya deketin Mba Qeena" puji Ibu yang duduk disebelahnya Qeena.
Qeena cuma bisa tersenyum.
__ADS_1
"Andai Allah ga menutupi aibku ke orang-orang, mungkin bisa jadi mereka ga akan bilang hamba seberuntung ini" ucap Qeena dalam hatinya.