
Dafi akan balik sore ini ke Semarang, sekarang dia lagi sarapan bareng dua Ibu mertuanya yang pagi ini membuat lontong sayur.
"Intinya Mak.. do'akan keluarga yang baru Qeena bangun selalu mendapat perlindungan dan ridho Allah. Suami Qeena orang yang sangat baik Mak" ucap Qeena saat berbincang sama Mak Imah.
"Ya Qeena.. Mak tau kalian berdua ini anak baik" kata Mak Imah.
"Mak... diwaktu yang lalu, Qeena berada pada kegamangan yang dalam ketika merasa dipaksa nikah. Takut tersiksa seperti yang Mak Nuha dan Mak Imah alami, khawatir gampang cemburu, merasakan rindu dan cinta yang ga tersampaikan. Takut karena yang dirasa menjadi kabur antara fitrah dan hiasan nafsu semata. Tapi Mas Dafi mampu membuat Qeena tenang. Sekarang kita udah kumpul, ijinkan Qeena berbakti dan memperhatikan Emak juga seperti yang Qeena lakukan ke Mak Nuha, supaya Allah memperhatikan kita semua dengan penuh rahmat. Ijinkan Qeena merengkuh mesra tangan Emak hingga berguguran dosa dari sela jemari kita. Ijinkan Qeena belajar menguntai cinta dengan mengenal Emak lebih dalam lagi. Inilah akhir penantian panjang, kala hati haus mereguk air telaga kasih sayang seorang Ibu kandung. Mak .. betapa Qeena rindu mencium tangan Emak, rindu bersimpuh memohon keikhlasan atas segala keadaan sehingga Allah ridho sama Qeena, rindu menatap teduh wajah seorang Ibu kandung" kata Qeena.
"Sama, Mak juga punya kerinduan yang sama" ucap Mak Imah sambil mengusap tangannya Qeena.
"Alhamdulillah kalo semua pihak bisa lebih cair. Mas seneng liatnya. Inilah kapal yang siap mengarungi lautan lagi, semoga setiap putaran kemudinya adalah kebaikan. Setiap lajunya adalah keberkahan. Setiap angin yang berhembus adalah keridhoan. Semoga bahtera ini berlayar dengan ketaqwaan, kasih sayang, kesetiaan. Semoga ikatan kita berlangsung di dunia dan di akhirat" kata Dafi yang merasa senang kalo Qeena udah bisa berdamai dengan masa lalu.
π€
Agak sulit memang awalnya bagi Qeena menerima kehadiran ada Ibu lain selain Mak Nuha. Ada rasa bahagia bisa bertemu dengan keluarga kandungnya, tapi ada juga rasa amarah yang tersimpan karena merasa sebagai anak yang terbuang.
Dafi setiap hari memberikan wejangan buat Qeena agar lebih legowo menerima semua ini. Kehadiran Mak Imah ditengah hidupnya harus bisa diterima dengan lapang dada tanpa ada dendam. Mak Imah sebenarnya sudah mau mengajak Mak Nuha dan Qeena ke rumah orangtuanya, tapi Qeena masih menolak karena mau mengikhlaskan semua dulu. Dafi menyerahkan keputusan tersebut ke Qeena. Karena Dafi tau bahwa sakit hati yang Qeena rasakan pastinya sangat dalam.
Tipe Qeena yang keras kepala memang menjadi PR bagi Dafi, termasuk belum rukunnya antara Qeena dan Bundanya. Semua harus dibicarakan pelan-pelan agar ga timbul konflik.
πΊ
Siang harinya Dafi yang masih sibuk menerima telepon duduk di tangga.
"Mas mau dibikinin kopi?" tanya Qeena.
"Boleh ... tapi kopi susu aja ya" jawab Dafi.
"Ya" jawab Qeena.
Baru aja mau melangkah, Dafi udah menarik tangannya Qeena sehingga Qeena dipangku sama Dafi dan dia menghujani ciuman kepipi istrinya.
"Mas... malu tau .. nanti Emak liat" protes Qeena.
"Abis kamu sih .. gemesin banget .. Ikut Mas yuk balik ke Semarang" ajak Dafi.
"Kan Selasa mau pemotretan sama Chef Ale" jawab Qeena.
"Kangen deh nih Mas ... Minggu depan ga bisa balik kesini. Kamu yang kesana ya" pinta Dafi.
__ADS_1
"Liat jadwal dulu" kata Qeena.
"Gayane kaya artis .. hehehe" jawab Dafi.
"Ini ngapain pangku-pangkuan di tangga" ucap Mak Nuha bikin kaget.
"Mas Dafi nih Mak" jawab Qeena.
"Gemes Mak kalo liat dia" sahut Dafi.
"Tapi ga di tangga juga kali" ledek Mak Nuha.
"Mak ngiri ya .. hehehe .. kan ada Mbeb Shaka tuh yang siap lahir batin kalo Emak mau pangku-pangkuan kaya gini" goda Dafi.
Langsung Mak Nuha memukul tangannya Dafi.
"Ampun Makkkk" kata Dafi sambil ketawa geli.
"Mas paling demen ngeledekin Emak nih" jawab Mak Nuha.
"Tapi kemarin di pelaminan cocok banget .. serasa Qeena punya dua pasang orang tua. Jadiin aja Mak .. biar kita bisa nginep di Villa gratis .. hehehe" ujar Dafi tambah iseng.
π΅οΈ
Bu Fia menelpon ke Fajar.
"Ya udah Bun... dirawat aja. Besok pagi Fajar pulang praktek langsung kesana. Malam ini abis farewell party sama orang Rumah Sakit. Udah kelar praktek disini deh" jawab Fajar.
"Iya nih.. Bunda kan bingung, mana Mas Dafi ga bisa dihubungin" adu Bu Fia.
"Mas kan lagi dijalan Bun, kayanya tadi sore baru berangkat, mungkin dimatiin HPnya" lanjut Fajar.
"Siapa yang nungguin kalo dirawat?" tanya Bu Fia.
"Bunda sama Ayah kan yang bawa Rian ke Rumah Sakit .. ya jagain aja dulu, besok bisa gantian jaga sama yang lain" usul Fajar.
Malam ini Bu Fia dan Pak Dzul menunggu Rian dikamar perawatan karena Pak Dzul ngotot harus mereka yang jaga. Tangan dan kaki Rian sampe diikat ke tempat tidur karena dia ngamuk saat tadi pasang infus. Anak seperti Rian memang agak sulit kalo disuruh diam buat pasang infus. Tadi aja pas di IGD, sampe sejam buat masukin jarum infus ketangannya Rian.
Pak Dzul udah terlelap dalam tidurnya, Bu Fia memperhatikan wajah anaknya yang terbaring lemah di tempat tidur. Wajahnya semakin lama mirip dirinya. Tiba-tiba tergambar diingatan Bu Fia bagaimana sikapnya terhadap Rian sejak Rian divonis sebagai anak istimewa. Bahkan Rian ga dapat kasih sayang darinya seperti yang beliau berikan untuk ketiga anaknya yang lain. Mengutuk dan menghardik dengan kasar adalah perlakuan Bu Fia kepada Rian. Rasa sesal, kecewa dan marah menerima kenyataan muncul diotak Bu Fia. Dielusnya kening Rian perlahan agar ga mengganggunya tidur.
__ADS_1
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
Disudut lain, Iyus teringat ucapan Dafi, tentang menjadi orangtua yang Islamnya kaffah (sempurna). Kita tidak boleh terperangkap pada tradisi masyarakat yang telah menjadi lumrah bahwa apapun yang dilakukan orang tua kepada anaknya, tidaklah ada yang dapat dianggap sebagai dosa orangtua kepada anaknya, semua menjadi keharusan terhadap apa yang orang tua perintahkan. Selalu terucap kata durhaka untuk sang anak jika melawan. Anggapan semacam ini membuahkan perilaku semena-mena orangtua pada anaknya. Untuk mencegah hal yang tidak baik inilah, semua harus dikembalikan keketentuan dalam hubungan orang tua dengan anak pada sumber peraturan Allah dan Rasulnya supaya hidup menjadi bahagia sentosa di dunia dan akhirat.
Untuk pertama kalinya Iyus menitikkan air mata penyesalannya terhadap Qeena, Nuha serta Imah. Tiga wanita yang disakitinya secara sadar sedari dulu hingga sekarang.
Allah memang Maha membolak-balikkan hati manusia. Karena manusia diciptakan lengkap dengan hati nurani, maka Allah pula yang akan menuntun menuju kebaikan.
"Apa Papa ga layak disebut sebagai seorang Bapak yang baik Qeena? sebagai orang tua, Papa sudah ridho dan ikhlas kalo kamu menikah sama Mas Dafi" kata Iyus sambil memandang HP nya.
Dafi yang mengirimkan foto mereka saat pernikahan, lengkap dengan keluarga Iyus.
"Nuha ... Imah ... apa ga ada kesempatan buat kita bersatu lagi? bukankah indah dunia .. kita bertiga membangun keluarga dengan konsep baru, toh ada anak kita yang bisa jadi perekat diantara kita?" ujar Iyus ngayal sendiri.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Mba Nuha .. kenapa ga menikah lagi sampe sekarang?" tanya Mak Imah ketika akan tidur (kini mereka tidur berdua, sedangkan Qeena tidur di lantai atas pake sofabed).
"Saya udah ga punya sisa cinta buat lelaki lain" jawab Mak Nuha.
"Masih sayang sama Mas Iyus?" tanya Mak Imah hati-hati.
"Dialah lelaki pertama yang saya cintai sekaligus saya benci. Lelaki yang menorehkan cinta dan luka ditempat yang sama. Lelaki yang sudah saya serahkan segalanya termasuk kesabaran saya. Sekarang ... rasa cinta terhadap lelaki itu sudah mati. Semua sudah dikubur dalam-dalam saat dipaksa pergi. Allah memang mempertemukan saya dengan banyak lelaki yang sangat baik, mereka sudah melengkapi hidup saya tanpa ada ikatan apapun. Apa lagi yang saya mau cari kecuali bekal ketika diri kita sudah mati" ucap Mak Nuha dengan nada bergetar.
"Saya sempat dua kali menikah Mba setelah sama Mas Iyus .. ga dikasih anak, ga pernah hamil lagi setelah Qeena lahir. Mungkin itu hukuman buat saya. Tiga kali jatuh dilubang yang sama. Hingga akhirnya saya sempat ikutin kalo Mamah Mimin tausyiah di Jabodetabek. Suatu hari punya kesempatan ngobrol agak lama saat beliau tiba-tiba memanggil saya saat sedang makan siang. Dari perbincangan singkat, saya pun bertekad buat berubah. Alhamdulillah Mba ... hidup saya jauh lebih tenang" jawab Mak Imah.
"Alhamdulillah ... pernah ga selama jauh dari kami kepikiran tentang Qeena?" tanya Mak Nuha.
"Justru ingat Qeena setelah tobat. Sebelum tobat ya inget pas momen lebaran aja. Saya udah ga ngarep bisa ketemu dia. Lima tahun yang lalu, saya ubah do'a saya ... cuma mau Qeena bahagia dimana pun berada. Siapa sangka empat tahun yang lalu kami bersua dan sekarang seperti ini ceritanya. Saya malu sebenarnya sama Qeena .. sama Mba Nuha .. apa saya layak bersama kalian?" ucap Mak Imah.
"Jalani aja Imah ... kita pasti sama-sama ga menduga akan ada hari seperti hari ini kan? pertemuan kita dulu karena kita punya jodoh yang sama. Sekarang kita ketemu karena Allah tau kita sayang sama anak yang sama. Walaupun Qeena bukan lahir dari rahim saya, tapi Qeena udah kaya separuh nyawa saya" ujar Mak Nuha.
"Makasih ya Mba .. mendidik Qeena hingga seperti sekarang ini. Ntah jadi apa dia kalo ada ditangan saya atau Mas Iyus" kata Mak Imah.
"Kamu yang sabar ya .. Qeena masih dalam tahap membalut lukanya. Jangan dipaksa harus sayang sama kamu seperti seorang anak ke Ibunya dulu .. pelan-pelan aja. Toh tiga Minggu ini udah mulai keliatan dia mau ngobrol sama kamu. Apalagi tadi perkataan dia pas ada Mas Dafi, itu murni dari hatinya. Emang sih kayanya ada campur tangan Mas Dafi, tapi ya selama itu kebaikan ya gapapa kan?" ujar Mak Nuha.
"Alhamdulillah ya Mba ... Qeena ga dapat jodoh seperti kita" jawab Mak Imah.
Qeena mendengarkan percakapan karena tadi dia rencanamya mau ambil minum di dapur, malah tergoda buat mendengar pembicaraan. Buru-buru Qeena balik ke lantai atas agar ga ketahuan.
__ADS_1