
Tiga bulan berlalu, ku lakukan aktifitasku seperti biasa dirumah mau pun di resto tempat aku bekerja. Selama tiga bulan ini, tak ada lagi ku dapati Gina yang suka memperhatikan dengan sorot mata tajamnya jika mas Awan mendekatiku.
Kami pun makin akrab, saling membantu sama lain dalam hal pekerjaan selama aku bisa membantunya dan kami juga suka bertukar cerita. Tak ada lagi perasaan yang mengganjal atas sikapnya yang dulu, semua ku tepiskan dan tetap berfikir positif tentangnya.
******
Setelah dua bulan lalu aku dinyatakan "LULUS", akhirnya ijazah yang di nanti kan semua siswa pun keluar. Tepat hari ini, hari pengambilan ijazah, sehingga aku meminta izin kepada Bunda Eva untuk bertukar shift dengan teman kerja yang bertugas sore untuk menggantikan ku di siang hari.
Aku berangkat ke sekolah bersama Sandra. Setelah aku diizinkan untuk bekerja di resto, kami jarang sekali bertemu. Walaupun, Sandra datang berkunjung ke resto, kami hanya sekedar saling menyapa, tidak berbicara banyak seperti saat masih bersekolah dulu.
Dan hari ini, kita berdua lagi. Diatas sepeda motor, berboncengan, ngobrol dengan teriak-teriak karena berlawanan dengan suara angin serasa jalanan milik kita berdua. Akan terasa sangat dirindukan jika tidak bisa bersama lagi nantinya.
"Rai ... jujur, ya, aku tuh, sekarang suka kangen sama keakraban kita dulu, sebelum kamu kerja" ungkap Sandra yang ternyata merasakan hal yang sama denganku.
"Sama, San. Aku juga gitu, tapi mau gimana lagi? Kita kan, harus jalani keadaan yang sekarang. Kamu harus lanjut kuliah dan aku harus kerja dulu." ucapku.
"Coba aja, waktu itu kamu terima tawaran ayah dan bunda aku, pasti kita barengan lagi kuliahnya." ucap Sandra.
"Hemmm ... mau gimana lagi, San? aku gak bisa terus-terusan bergantung pada kalian, kali ini aku mau mandiri, San." jawabku.
Sandra terdiam, tatapannya fokus kedepan sembari mengendarai sepeda motornya. Teringat kembali dalam pikiranku, saat itu aku menolak tawaran ayah dan bundanya, dapat aku lihat wajah kecewanya kala itu.
"Rai ... kamu kan, baru aja gajian, masih ada donk, sisa uang nya?" tanya Sandra.
Dalam hati aku bingung kenapa Sandra menanyakan masalah keuanganku yang tak pernah dia bahas sebelumnya.
"Rai ... dengar gak, sih?" tanya Sandra kembali sembari menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Eh, iya, San. Kenapa? Kamu minta aku traktir?" Aku balik bertanya kepada Sandra.
"Eh, gak, bukan itu ...." jawabnya.
"Terus kenapa, donk?" tanyaku lagi.
"Kamu beli handphone android, deh, Rai ... biar enak kita komunikasi nya. Gak usah yang mahal, yang penting bisa whatsaap." Ternyata Sandra menyuruhku untuk membeli ponsel baru agar aku bisa chating melalui aplikasi berwarna hijau itu.
"Iya, deh, aku pikirkan dulu ya, idemu itu. Aku mau hitung-hitung dulu uangnya masih cukup apa gak? buat beli ponsel baru." jawabku.
"Ok, deh." ucap Sandra.
Sepanjang perjalanan kami membahas tentang benda pipih itu. Tak terasa, kami pun tiba di sekolah. Aku dan Sandra segera menuju ke ruang tata usaha yang telah ditetapkan sebagai tempat untuk pengurusan pengambilan ijazah.
Sesampainya disana, sudah banyak teman-teman sekelas kami. Kami saling tegur sapa, saling bercerita tentang mereka yang akan melanjutkan kuliah dimana, dan tak sedikit pula dari mereka yang masih mencari pekerjaan atau sudah mendapatkan pekerjaan.
Dan salah satunya aku yang bekerja untuk mengumpulkan biaya kuliah. Nasib kehidupan seseorang tidak ada yang pernah tahu akan seperti apa kedepannya. Tugas kita hanya lah berusaha, berdoa dan berserah kepada Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan.
Ijazah pun akhirnya sudah kami dapatkan, kami saling melihat nilai satu sama lain. Ada kebanggaan tersendiri bagiku karena bisa mendapatkan nilai yang baik dan memuaskan.
Kembali aku dan Sandra membahas masalah handphone. Setelah mempertimbangkan, akhirnya aku pun setuju dengan ide Sandra untuk membeli handphone baru. Kami pun langsung berangkat ke sebuah plaza yang berada tidak jauh dari sekolah.
Kami memasuki plaza, menyusuri setiap toko dan akhirnya kami berhenti di sebuah toko handphone. Melihat, memilih dan menanyakan harga pada setiap handphone yang terpajang rapi di etalase toko itu.
Pilihan ku jatuh pada sebuah handphone berwarna merah bermerk Ever***s, yang kata si penjual itu keluaran terbaru dan harganya pas di kantongku. Aku segera meminta kepada petugas toko untuk mengaplikasikan handphone tersebut, agar aku bisa langsung menggunakannya.
"Rai, habis ini kita cari makan dulu, yuk?" ajak Sandra.
__ADS_1
"Iya, boleh, San. Aku juga udah laper, nih." jawabku menyetujui ajakannya.
Kami berjalan menyusuri pertokoan, melihat-lihat berbagai macam dagangan yang dijajakan. Hingga mataku tertuju pada seorang wanita dan pria paruh baya yang baru saja keluar dari toko perhiasan berjalan bergandengan.
Dan mataku terbelalak, setelah aku menyadari siapa wanita itu. Ya, itu ibu tidak salah lagi.
"Bu ... Ibu! Ibu, tunggu Bu ... ini Raina, Bu!" Aku berteriak sembari mengejar wanita itu.
Wanita itu hanya menoleh sekilas dan kemudian mempercepat langkahnya, hingga aku kehilangan jejaknya.
Tanpa ku sadari, aku meninggalkan Sandra dibelakang. Tampak dia terlihat kelelahan berlari mengejar ku.
"Hufft ... capek, Rai. Kamu kenapa lari-larian, ninggalin aku?" ucapnya dengan nafas yang masih memburu.
"Maaf, San, tadi aku lihat ibu aku, makanya aku lari ngejar beliau." jawabku.
"Terus, sekarang ... mana ibu kamu?" tanya nya.
"Sudah pergi, San. Sepertinya beliau gak mau tau sama aku lagi ...." jawabku dengan nada lemah.
"Seriusan? yang kamu lihat tadi ibu kamu, Rai? Kamu gak salah liat, kan?" tanya Sandra lagi.
"Gak, San, betul banget itu ibu aku. Aku gak mungkin lupa, San, sama ibu aku sendiri. Ibu sekarang benar-benar sudah berubah ...." jawabku sembari menyeka buliran-buliran bening yang sudah lolos dari pertahanan.
"Yang sabar ya, Rai. Sudah jangan nangis, malu di lihatin orang" ucap Sandra setengah berbisik ditelinga ku.
Kembali aku menyeka air mataku dan ku lihat sekeliling banyak sekali orang yang sudah memperhatikan ku.
__ADS_1
Dan kami putuskan tidak jadi mencari makan, kami langsung pulang menuju resto.
Sepanjang perjalanan, pikiranku masih penuh dengan bayang-bayang wajah ibu. Bagaimana dirinya mengacuhkan diriku, seakan pura-pura tidak mengenali ku, anaknya, darah dagingnya. Semakin hancur hatiku, hilang sudah rasa simpatiku terhadap wanita yang aku panggil dengan sebutan ibu.