
Sementara dibalik dinding yang lain, Satria masih dengan pikirannya yang tertuju pada Raina. Sama halnya dengan Raina, Satria juga tersenyum-senyum sendiri mengingat apa yang telah ia lakukan.
"Kenapa aku tidak bisa menahan diriku saat berada didekatnya? Bahkan saat bersama dengan Erlina pun aku tidak merasakan seperti ini. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta yang sesungguhnya?" gumam Satria sembari menarik guling untuk masuk kedalam pelukannya.
Meskipun pernikahan mereka sah secara hukum, tapi tidak untuk agama. Sehingga Satria harus menahannya hingga dia benar-benar telah menghalalkan Raina. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah tidur dengan sebuah guling yang berada dalam pelukannya. Berkhayalkan pelukan hangat yang akan ia terima saat nanti Raina akan benar-benar menjadi istrinya, miliknya seutuhnya bukan hanya status.
**********
Matahari telah manampakkan cahayanya, sinarnya menembus masuk melalui celah-celah ventilasi. Semua orang sudah bangun menyambut hari libur dengan suka cita. Hari dimana setiap orang dapat bebas dari tugas pekerjaan yang menumpuk, dapat berkumpul atau pun berlibur bersama dengan orang-orang terkasih.
Namun, tidak untuk Raina. Biasanya dirinya yang selalu bangun paling awal dibandingkan dengan yang lain, tapi hari ini pintu kamarnya masih tertutup rapat. Raina merasa lemas seluruh badannya, merasakan kram pada perutnya dan kepalanya pun terasa begitu berat, hingga untuk membuka matanya pun dia tidak sanggup, karena sakit yang teramat dikepalanya. Sehingga dia tetap bertahan diatas kasurnya.
"Sat, kenapa Raina tidak keluar juga dari kamarnya? Dia tidak biasa seperti ini, bahkan dia telah melewatkan jadwal sarapannya." ucap Ibu Santi yang terlihat cemas.
"Hemm, Satria akan menengoknya." sahut Satria dan mulai beranjak dari duduknya.
Satria sudah berada didepan pintu kamar Raina, mencoba untuk membuka pintu Raina namun sayang, pintu kamarnya terkunci dari dalam.
"Rai ... buka pintunya, Rai!" teriak Satria dari luar sembari terus menggedor-gedor pintu kamar Raina, namun tak ada sahutan dari dalam.
"Rai, kamu dengar aku, kan?" tanya Satria lagi dengan nada yang semakin tinggi, membuat Bara dan mamahnya pun ikut menghampiri kamar Raina.
"Coba kamu lihat kakak ipar kamu dari jendela kamarnya didepan sana." titah Ibu Santi pada anak bungsunya itu.
Tanpa aba-aba lagi, Bara langsung berlari keluar, mengikuti perintah sang mamah. Dengan badan yang tinggi tidak susah bagi Bara untuk melihat dari jendela kamar yang memang dibuat lebih tinggi. Meskipun jendela kamar Raina masih tertutup gorden, tapi dia bisa melihat siluet Raina yang masih terbaring dikasurnya.
Setelah memastikan Raina masih berada didalam kamarnya, Bara langsung berlari lagi masuk kedalam rumah.
"Kak Raina masih terbaring dikasurnya." ucap nya.
"Coba kamu dobrak aja pintunya, mamah khawatir apa lagi dia sedang hamil." titah Ibu Santi pada Satria.
Satria pun menganggukan kepalanya dan langsung mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Raina. Dengan badannya yang cukup kekar, Satria berhasil mendobrak pintu kamar Raina dengan dua kali dorongan.
Pintu terbuka, semua langsung berhambur masuk ke dalam kamar Raina, Satria mendapati Raina yang terkulai lemah diatas kasurnya dan kesadaran yang mulai menurun.
"Rai, kamu kenapa? Ayo bangun, Rai?" Satria panik melihat kondisi Raina yang seperti itu.
__ADS_1
"Ayo cepat kita bawa Raina ke rumah sakit, Nak." titah Ibu Santi.
"Bara, cepat siapkan mobil. Kakak akan mengangkat Raina." ucap Satria.
Bara langsung mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh Satria. Dan dengan sigap Satria pun mengangkat tubuh Raina. Tapi, disatu sisi dirinya merasa ragu untuk meninggalkan mamahnya sendiri, dia takut jika penyakit jantung mamahnya kumat lagi setelah panik melihat kondisi Raina.
"Apa mamah ikut saja bersama Satria?" tanya Satria.
"Mamah gak apa-apa, Nak. Cepat kamu bawa Raina." jawab Ibu Santi.
Dan tak lama Bi Darsih pun datang dan melihat kepanikan dikeluarga itu.
"Bi, Satria titip mamah." ucap Satria yang melihat kedatangan Bi Darsih dengan terburu-buru membawa Raina masuk ke dalam mobil. Sementara Bu Darsih masih dalam kebingungan dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Kenapa mas Satria buru-buru seperti itu, Bu?" tanya Bi Darsih pada Ibu Santi yang masih terduduk disofa ruang tamu.
"Raina, Bi ... Raina sakit, Bi. Padahal semalam dia ceria-ceria aja, tapi pagi tadi dia gak ada bangun dan gak keluar dari kamarnya. Bahkan dia belum ada sarapan apa pun, Bi. Saya khawatir dengan kondisinya serta anaknya, Bi." jawab Ibu Santi dengan berurai air mata karena kecemasan yang berlebihan pada Raina.
"Ibu, jangan panik. Ibu juga harus ingat dengan kesehatan ibu. Sekarang kita berdoa yang terbaik untuk kesembuhan mbak Raina. Semoga mbak Raina beserta bayinya tidak apa-apa." ucap Bi Darsih mencoba menenangkan majikannya itu.
Mobil pun sudah mulai melaju, Satria memangku kepala Raina yang terbaring disampingnya.
"Kamu yang kuat ya, Rai ... kamu harus bertahan demi anak kita." ucap Satria khawatir sembari mengecup kening Raina.
"Bara, bisa tidak kamu membawa mobil ini lebih cepat?" tanya Satria yang penuh dengan kecemasan.
"Ini sudah sangat cepat, Kak." jawab Bara.
Satria semakin frustasi melihat kondisi Raina yang semakin melemah.
"Aduh, Bagaimana ini, Kak, lampu lalu lintasnya sudah jadi merah?" tanya Bara yang melihat rambu lalu lintas didepannya sudah berganti warna.
"Terobos aja. Ayo, cepat!" jawab Satria.
Bara mengikuti perintah sang kakak, dia memberanikan diri menerobos lampu lalu lintas. Baginya kesehatan kakak ipar dan calon keponakannya lebih penting.
"Shiit, kita diikuti polisi, Kak." ucap Bara.
__ADS_1
"Cepat menepi dan kita berubah posisi." titah Satria karena dia tahu jika adiknya belum memiliki SIM dan akan memberatkan mereka nantinya.
Bara pun menepikan mobilnya dan segera bertukar peran meski dengan susah payah karena dia harus merubah posisinya ke posisi Satria tapi tidak dengan keluar mobil terlebih dahulu. Polantas yang mengejar mereka pun, sudah berhenti tepat didepan mobil Satria.
Satria sudah keluar dari dalam mobilnya dan sementara Bara hanya membuka jendela mobilnya saja dan sudah memangku kepala Raina.
"Maaf, Pak. Saya tahu saya salah, tapi saya lagi buru-buru untuk membawa istri saya yang sedang hamil kerumah sakit dan kondisinya semakin lemah." Dengan cepat Satria menjelaskan sebelum para polisi itu mengeluarkan suaranya.
"Bapak bisa lihat sendiri kakak ipar saya ini." sahut Bara lagi yang berada didalam mobil.
"Iya, mereka tidak bohong. Cepat bawa istrimu ke rumah sakit sebelum kondisinya semakin kritis." ucap salah seorang polisi yang melihat keadaan Raina dan segera memerintahkan Satria untuk kembali melanjutkan perjalanannya.
Satria sudah memasuki mobilnya dan mulai melajukan mobilnya kembali dan kedua polantas itu juga ikut mengawal mobil Satria dari belakang.
Mereka sudah tiba dirumah sakit ibu dan anak. Satria dengan sigap menggendong tubuh Raina dan meletakkannya diatas brankar dan ikut mendorong nya hingga masuk ke UGD.
"Maaf, pasien akan kami tangani dan harap untuk menunggunya diluar. Dan silahkan untuk mengurus pendaftarannya terlebih dahulu." ucap salah satu perawat.
Satria segera menuju ke tempat pendaftaran dan mengurus segala sesuatunya disana. Setelah itu, Satria menghubungi keluarga Raina memberitahukan keadaan Raina yang sekarang sudah berada dirumah sakit.
Polantas yang mengikuti mereka pun masih berada disana.
"Terimakasih Pak, sudah membiarkan saya untuk tetap membawa istri saya ke rumah sakit dan kalian juga telah mengawal kami sampai sini." ucap Satria sembari menyalami kedua polisi yang ada didepannya.
"Iya, sama-sama. Karena ini berhubungan dengan dua nyawa, itu lebih penting." balas salah satu polisi itu.
"Tapi, bisa kah kami melihat kelengkapan surat-surat, Bapak?" tanya salah seorang polisi lagi
"Oh, tentu." Satria mengeluarkan semua surat kelengkapan berkendaranya dari dalam dompet dan memperlihatkan pada kedua polisi itu.
"Baik, karena surat-surat bapak lengkap dan istri bapak juga telah ditangani oleh dokter, maka kami pamit undur diri." ucap Polisi itu.
Setelah kepergian kedua polisi itu, tak lama kemudian keluarga Raina pun datang dan langsung menghampiri Bara dan Satria yang masih menunggu didepan pintu UGD dengan harap-harap cemas.
Mohon like, komen, vote serta berikan rate pada karya author ini ya π
Dukungan kalian sangat berarti bagi author ππ
__ADS_1