
Hanya butuh waktu lima puluh lima menit saja perjalanan dari kota asal Satria hingga tiba dibandara pulau B menggunakan jalan udara. Pakde Suseno memang memilih jalan udara untuk mempersingkat waktu, jika mereka mengambil jalan darat akan butuh waktu berhati-hari hingga sampai ditujuan.
Setibanya dibandara pulau B, mereka telah disambut oleh teman dari Pakde Suseno yang kebetulan bertempat tinggal didaerah itu. Mereka pun mulai melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan mereka menggunakan mobil milik teman Pakde Suseno. Yang sebelumnya sudah dimintai tolong oleh Pakde Suseno untuk menemaninya.
"Apa kita langsung ketempat tujuan Pak Seno?" tanya Pak Sigit yang tak lain adalah teman Pakde Suseno.
"Iya, Pak. Kita mengejar jam kunjungan disana. Saya takut jika kita tidak cepat kesana, jam kunjungannya akan habis. Sementara kita tidak punya banyak waktu disini." jawab Pakde Suseno.
"Ok. Tapi kamu harus menepati janjimu, jika kamu sudah selesai dengan urusanmu, kamu akan berkunjung ke rumahku. Sudah lama sekali kita tidak bertemu." ucap Pak Sigit yang begitu bersemangat bertemu dengan Pakde Suseno.
"Hahahaha, iya tenang saja. Kamu memang tidak pernah berubah, selalu ingat sekecil apa pun janji seseorang." balas Pakde Suseno sembari menepuk-nepuk bahu temannya itu.
Sementara Satria hanya diam mendengar pembicaraan kedua orang yang ada didepannya. Satria menikmati pemandangan kanan - kiri disudut kota itu. Ini kali pertamanya dirinya ke kota indah yang berada dipulau kecil itu. Namun sayangnya, kehadirannya ke pulau itu bukan untuk berwisata melainkan mengunjungi adiknya yang sedang berada dirumah tahanan dipulau itu.
Miris memang, ketika dia mengingat kelakuan adiknya yang begitu jauh terjerumus hingga masuk ke dunia hitam itu. Seketika itu pula, Satria mengingat Raina. Dia segera mengeluarkan handphone dari dalam sakunya dan berniat mengirimkan pesan kepada Raina.
Setelah mengetik dan mengirimkan pesannya pada Raina, Satria menyandarkan kepalanya pada headrest dan mulai memejamkan matanya.
************
Dikediaman Satria.
Setelah Raina membersihkan dirinya dan juga membantu membersihkan ibu mertuanya, Raina mengajak Ibu Santi berjalan-jalan keliling rumah dengan menggunakan kursi roda agar mertuanya itu tidak merasa bosan jika harus berdiam diri didalam kamar saja.
Berhentilah mereka ditaman belakang rumah yang waktu itu Satria membawa Raina untuk pertama kalinya ketaman itu.
Ibu Santi menghirup udara pagi yang masih terasa sejuk dan sinar matahari pagi menghangakan dirinya.
"Sudah lama sekali mamah tidak berada disini, berjemur merasakan hangatnya sinar matahari pagi dan menghirup udara pagi seperti ini. Terimakasih, Nak ... kamu telah membawa mamah kesini lagi." ucap Ibu Santi pada Raina.
"Iya, Mah. Raina juga merasa senang kalau melihat mamah senang. Mamah pasti bosankan, setiap hari hanya berada didalam kamar? Kalau mamah mau, setiap pagi Raina akan bawa mamah kesini." balas Raina.
Ibu Sinta menganggukan kepalanya dan tersenyum tanda dia menyetujui perkataan Raina.
Dret ... Dret ... Dret ...
Terasa getaran handphone Raina yang berada didalam saku dasternya. Raina segera meraih handphone nya itu, yang ternyata ada pesan masuk dari Satria. Raina membuka pesan itu dan membacanya.
[Dek, Mas sudah tiba dipulau B, dan sekarang menuju rumah tahanan.]
Raina tersenyum, karena Satria menepati janjinya untuk memberikan kabar jika dia sudah tiba disana. Raina pun dengan segera membalas pesan dari Satria. Dan bukan karena itu saja yang membuatnya tersenyum, melainkan panggilan sayang itu kini digunakan lagi oleh Satria untuknya.
[Iya, Mas. Kamu hati-hati, ya.]
Raina masih tersenyum-senyum sembari memegang handphonenya.
__ADS_1
"Rai ... apa Satria sudah memberimu kabar?" tanya Ibu Santi, tapi Raina tak bergeming dari lamunannya.
"Raina ... kamu dengar mamah tidak?" Kali ini ibu Santi menoleh ke arah Raina dan melihat sikap menantunya yang tiba-tiba mematung itu. Dia pun tersenyum geli melihat Raina seperti itu.
"Ehm, ehm, jangan senyam-senyum sendiri sambil melamun gitu, nanti kesambet, lho." ujar Ibu Santi sembari cekikikan geli dan menyenggol tangan Raina.
"Ekh, iya. Kenapa, Bu?" tanya Raina yang gelagapan.
"Kamu itu kenapa senyum-senyum sendiri? Sampai mamah panggil-panggil dari tadi gak ada nyahut-nyahut." jawab Ibu Santi.
"Oh, ya? Hehehe ...maaf, Mah." ucap Raina dengan sedikit tertawa malu.
"Mamah tadi bertanya, apa Satria sudah memberimu kabar?" Ibu Santi mengulang pertanyaannya pada Raina.
"I-iya, sudah Mah. Mas Satria sudah tiba disana dan katanya sekarang lagi menuju ke rumah tahanan." jawab Raina gugup.
"Oh, baguslah. Bisa antar mamah kembali ke kamar?" pinta Ibu Santi.
"Iya, tentu bisa, Mah." jawab Raina cepat dan memutar balik kursi roda ibu Santi ke arah masuk rumah.
**********
Satria sudah tiba dirumah tahanan, tempat dimana Awan dipenjarakan. Butuh waktu satu jam dari bandara hingga mereka semua dapat sampai ditempat itu.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria yang berpakaian seragam polisi itu.
"Saya mau bertanya, apa hari ini ada jadwal kunjungan?" tanya Pakde Suseno.
"Jadwal kunjungan hari ini ada dijam dua siang nanti, Pak." jawab Pak Polisi yang bernama Rizal di name tag nya.
"Bisa kah, saya meminta tolong untuk bertemu sekarang, Pak? Saya ada keperluan keluarga yang sangat mendesak. Kami dari pulau D dan waktu kami tidak banyak disini." ucap Pakde Suseno.
"Baik. Saya akan tanyakan terlebih dulu pada pak kepala. Bapak ingin bertemu dengan siapa?" tanya Pak Rizal.
"Saya ingin bertemu dengan keponakan saya yang bernama Awan Mahesa Sanjaya." jawab Pakde Suseno.
"Baik. Silahkan ditunggu." ucap Pak Rizal dan berlalu meninggalkan tempatnya.
Sekitar sepuluh menit Pakde Suseno dan Satria menunggu, hingga akhirnya Pak Rizal datang dan mempersilahkan kedua orang itu untuk bertemu dengan orang yang ingin mereka kunjungi.
Pakde Suseno dan Satria diantar ke ruang kunjungan dan disana sudah ada Awan yang duduk dikursi dan tetap di jaga oleh salah satu sipir.
Saat Awan melihat kedatangan pakde dan juga kakaknya, tanpa berfikir panjang dia langsung berdiri dan memeluk kedua orang itu.
"Maafin Awan, Awan sudah mencoreng nama baik keluarga kita." ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin Pakde dan kakakmu ingin sampaikan." ucap Pakde Suseno dan mulai duduk dikursi pengunjung.
Sementara Satria hanya terdiam tanpa ekspresi.
"Apa kamu menyesal dengan perbuatanmu?" tanya Pakde Suseno pada Awan.
"Awan sangat menyesal, Pakde." jawab Awan.
Dia tak berani menatap Satria yang dia mengerti jika kakaknya itu sedang menahan amarah.
"Bagaimana keadaan mamah?" tanya Awan hati-hati.
"Masih berani kamu menanyakan keadaan mamah. Setelah apa yang sudah kamu lakukan. Mamah sakit jantung setelah kamu keluar dari rumah. Apa kamu tidak ingin menanyakan hal lain?" Satria mulai membuka suaranya.
Terlihat Awan bingung dengan pertanyaan sang kakak.
"Aku hanya ingin mengetahui kabar kalian saja." jawab Awan tanpa berfikir kearah lainnya.
"Apa kamu mengenal Raina?" tanya Satria yang membuat Awan seketika diam mematung.
"Apa yang sudah kau perbuat pada gadis sebaik dia?" tanya Satria lagi.
"Aku tidak melakukan apa pun padanya." jawab Awan dengan santainya tanpa sedikit rasa bersalah. Sedangkan Satria sudah mulai mengepalkan kedua tangannya.
Pakde Suseno pun sebenarnya juga emosi mendengar jawaban dari keponakan nya yang tidak mau mengakui kesalahannya, tapi ia dapat mengontrol amarahnya. Karena dia sadar mereka sekarang berada dimana.
"Sabar, tahan emosimu. Ingat sekarang kita berada dimana." ucap Pakde Suseno mencoba menenangkan Satria.
"Jujurlah, apa kamu terus akan mengelak jika mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Satria lagi.
"I-iya, betul. Aku tak pernah mengenalnya dan tidak pernah melakukan apa pun padanya." jawab Awan dengan percaya dirinya meski dia menjawab dengan gugup menutupi kebohongannya.
"Kami semua sudah tahu kebusukanmu, tapi kamu terus saja masih mengelak. Kamu bukan hanya mencoreng nama baik keluarga Sanjaya, tapi kamu sudah mempermalukan dan merugikan orang lain. Raina sekarang tengah mengandung dan itu hasil perbuatan kotormu. Jangan pernah menyentuh kehidupannya lagi setelah ini, karena aku yang akan membahagiakan dirinya." ucap Satria dengan penuh ketegasan dan menekankan kata bahagia. Dia pun pergi keluar meninggalkan Pakde Suseno dengan Awan yang masih berada disana.
Seketika Awan pucat pasi mendengar penuturan dari kakaknya. Bagaikan tersambar petir mendengar kabar yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"A-apa benar yang diucapkan Mas Satria, Pakde?" tanya nya terbata-bata.
"Iya, dia telah menikahi Raina dan rela bertanggungjawab atas hal yang tak pernah dia lakukan. Hanya ingin menjaga nama baik keluarga Raina dan agar bayi yang dikandung Raina mendapat status yang jelas dikeluarga Sanjaya." ungkap Pakde Suseno.
Awan terdiam mendengarkan penjelasan dari pakdenya. Terlihat sekali penyesalan dimatanya. Kebodohan yang telah ia lakukan berdampak besar pada dua pihak keluarga. Ibarat nasi yang telah menjadi bubur, itulah ungkapan yang pantas tersemat untuk dirinya.
Mohon like, komen, vote dan sertakan rate ya pada karya author π
Dukungan kalian sangat sangat berarti untuk author ππ
__ADS_1