Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Setitik Terang


__ADS_3

Tiga puluh menit perjalanan, tibalah Satria dan Pakde Suseno dirumah Raina. Yang sudah disambut oleh Ibu Riska dan juga Aldo, karena sudah mengetahui sebelumnya dari Satria.


"Assalamualaikum ...." ucap Satria dan juga Pakde Suseno secara bersamaan.


"Walaikumsalam ... silahkan masuk, Pak, Satria." balas Ibu Riska selaku tuan rumah yang mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Kini, Pakde Suseno dan juga Satria sudah duduk disofa yang berada diruang tamu.


"Mana Raina nya, Bu?" tanya Pakde Suseno yang tak melihat keberadaan Raina diruang tamu itu.


"Oh, Raina ada dikamarnya, Pak. Mungkin lagi kelonin anaknya, apa mau dipanggilkan?" Ibu Riska menjawab pertanyaan pakde Suseno dan juga kembali bertanya.


"Kalau tidak mengganggu ... ya, bisa saja dipanggilkan dulu." jawab Pakde Suseno.


"Inggih ... saya tinggal dulu kedalam, silahkan diminum minumannya." ucap Ibu Riska dan juga mempersilahkan tamunya untuk meminum minuman yang telah ia sajikan sebelumnya.


Ibu Riska pun berjalan ke arah kamar Raina untuk menemui anak perempuannya itu.


Ibu Riska mengetuk pintu kamar Raina yang tertutup secara perlahan.


"Rai, ini ibu. Apa ibu boleh masuk?" tanya Ibu Riska sembari mendekatkan telinganya pada daun pintu kamar Raina.


"Iya, Bu." sahut Raina dari dalam.


Ibu Riska pun membuka perlahan pintu kamar Raina dan mulai masuk menemui anak perempuannya itu.


"Eh, cucu nenek belum tidur rupanya. Sini, gendong sama nenek, yuk?" ajak Ibu Riska sembari mengambil Al yang menghentak-hentakkan kaki mungilnya saat melihat kedatangan sang nenek.


"Tahu banget sama suara neneknya, padahal tadi lagi anteng banget dikelonin, matanya sudah sayup-sayup sambil *****. Eh, dengar suara neneknya langsung cerah lagi matanya." ujar Raina.


"Iya, dong. Namanya juga cucu kesayangan nenek. Ya, pasti kenal lah ... sama neneknya." ucap Ibu Riska yang masih memainkan cucunya itu dalam gendongannya.


Al merasa tergelitik dan tertawa lepas saat neneknya itu menciumi perut bayi itu. Begitu pun dengan Raina yang merasa bahagia bisa melihat Al yang tertawa lepas. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan sendiri bagi seorang ibu, dapat melihat anaknya tersenyum mau pun tertawa walaupun hanya dengan hal sederhana.


"Oh ya, Rai ... didepan ada Satria dan juga pakdenya. Mereka sekarang lagi menunggumu, sepertinya ada sesuatu yang akan mereka sampaikan. Ayo, kita keluar sayang. Kasian mereka menunggu." titah Ibu Riska mengajak anak perempuannya itu untuk keluar dan menemui Satria serta juga pakdenya.


Raina menganggukan kepalanya patuh dan mengikuti ibunya. Ibu Riska dan Raina pun beranjak meninggalkan kamar menuju ruang tamu dengan Al yang berada dalam gendongan Ibu Riska.


Diruang tamu Pakde Suseno, Satria dan juga Aldo sedang berbicara seputar obrolan lelaki. Ketika ibu Riska, Raina serta Al memasuki ruang tamu.


"Lho, anak ayah belum tidur sayang? Sini, sama ayah. Ayah kangen sama dedek, lama banget gak gendong." ujar Satria sembari membuka lebar tangannya ingin menyambut Al dalam gendongannya.


Raina sudah duduk disebelah kakaknya, sementara Ibu Riska memberikan Al pada Satria.

__ADS_1


"Tambah ganteng anak lanang (laki), sehat-sehat yo, le?" ucap Pakde Suseno sembari memegang tangan mungil milik Al.


"Iya, Mbah Kung." balas Satria menirukan suara anak kecil dan memainkan tangan Al.


Raina ingin tertawa saat mendengar suara Satria yang menirukan suara anak kecil itu. Karena menurut Raina, Satria tidak cocok dengan suara seperti itu.


Pakde Suseno berdehem dan semua yang ada diruangan seketika diam dan suasana menjadi tegang.


"Begini ... Bu, Nak Aldo dan juga Nak Raina, maksud kedatangan saya kesini, saya ingin membicarakan permasalahan yang terjadi karena adik saya yang tak lain adalah mamahnya Satria. Jujur, saya merasa sangat malu dengan keputusan gila yang telah ia buat secara sepihak. Saya selaku kakak dan juga orang yang lebih tua dikeluarga saya, saya ingin mengucapkan maaf yang sedalam-dalamnya atas perbuatan adik saya tersebut." ucap Pakde Suseno.


"Iya, Pak. Kami sudah memaafkan tentang hal itu. Yang ingin kami tanyakan, bagaimana selanjutnya hubungan anak-anak kita ini? Kan, awalnya ... Nak Satria sudah mengutarakan maksudnya untuk tetap melanjutkan pernikahan ini. Dan sekarang ada permasalahan seperti ini, apakah sudah ada titik terang dari Ibu Santi?" tanya Ibu Riska.


"Begini, Bu ... kemarin malam saya sudah mencoba berbicara lagi dengan mamah dan sudah memberitahukan juga keputusan Awan yang sudah mengikhlaskan Raina bersama saya, tapi ... mamah masih tetap kekeh dengan keinginannya." jawab Satria.


Ibu Riska menoleh kepada Raina yang hanya menundukkan kepalanya.


"Maaf, Bu. Adik saya memang seperti itu sifatnya terlalu keras. Tapi, dia lama-lama akan luluh dengan sendirinya. Menurut saya, biarkan saja mamahnya Satria berkeras dengan kemauannya dan Satria tetap melanjutkan lagi pernikahan ini. Karena, kasihan Raina jika terlalu lama menunggu." ucap Pakde Suseno memberi saran.


Satria terdiam mendengar saran dari pakdenya itu. Karena, sebelumnya pakde Suseno tidak memberitahukannya terlebih dahulu.


"Saya mengikuti bagaimana baiknya saja, Pak. Ini semua kan, demi kebahagiaan anak-anak kita juga. Dan yang menjalankan pernikahan ini juga mereka." ujar Ibu Riska.


"Iya, betul itu, Bu. Pernikahan ini kan, ibadah. Seharusnya, kita sebagai orangtua harus mendukung niat baik anak-anak kita. Bukan malah meminta anaknya untuk bercerai yang jelas-jelas sangat dibenci oleh Allah. Semoga adik saya, lekas diberi hidayah dan dibukakan pintu hatinya." ucap Pakde Suseno.


"Raina, kamu yang sabar dulu, ya. Mas akan tetap perjuangkan kalian berdua." ucap Satria yang meyakinkan Raina.


"Iya, Mas. Raina akan selalu bersabar." balas Raina dengan menyunggingkan sedikit senyuman dibibirnya.


"Terimakasih ya, Rai." ucap Satria yang juga tersenyum.


Al yang sedari tadi masih berada digendongan Satria, hanya diam dan mendengar pembicaraan orang dewasa yang ada diruangan itu tanpa sedikit pun merengek.


"Kalau begitu, kami pamit pulang. Karena malam sudah semakin larut. Kasihan si kecil pasti sudah mengantuk." ucap Pakde Suseno.


"Oh, iya Pak." balas Ibu Riska.


"Sayang ... ayah pulang dulu, ya. Al gak boleh nakal dan gak boleh nyusahin bunda dan nenek." pamit Satria pada Al yang masih berada dalam gendongannya.


Setelah puas mencium Al, Satria pun memberikan Al pada Raina. Tak lupa, Satria mengusap lembut kepala Raina.


"Permisi, semua. Wassalamualaikum." pamit Pakde Suseno dan juga Satria.


"Wa'alaikumsalam ...." balas Ibu Riska, Raina dan Aldo bersamaan.

__ADS_1


Selepas kepulangan Pakde Suseno dan Satria, Ibu Riska kembali memberikan semangat pada anak perempuannya itu.


"Betul kan, kata ibu. Satria pasti bertanggungjawab dengan ucapannya. Kamu harus semangat, terus berfikir positif dan jangan lagi memikirkan yang aneh-aneh. Mertua mu itu hanya lagi ditutupi oleh egonya, kamu harus banyak-banyak berdoa agar beliau cepat sadar dan menerima kehadiranmu lagi sebagai menantunya." ucap Ibu Riska memberi semangat pada anak perempuannya itu.


"Iya, Rai. Kakak yakin, Satria gak akan mempermainkan kamu." ucap Aldo lagi.


"Terimakasih, Bu, Kak Aldo ... kalian selalu ada buat Raina." balas Raina.


"Eits ... Raka dilupain, nih?" tanya Raka yang tiba-tiba datang dan ikut berkumpul dengan kedua saudaranya, keponakannya dan juga ibunya.


"Iya, paman Raka juga. Yang sudah mau nemanin Al main." jawab Raina.


"Eh, nimbrung aja nih, bocah." ucap Aldo sembari mengacak-acak rambut Raka.


"Tadi kan, Raka gak bisa ikutan nimbrung diskusi sama mas Satria dan juga pakdenya. Jadi, sekarang Raka muncul. Karena Raka juga ada andil dalam membuat Kak Raina bersemangat." ujar Raka.


"Yey ... ngapain juga kamu ikut-ikutan masalah orang dewasa. Sana noh, kamu sama Al aja." ejek Aldo.


Dan disambut gelak tawa oleh ibu, Raina dan juga Al. Al bahkan tertawa lebih puas seakan mengerti ada hal lucu yang sedang ditertawakan oleh orang besar.


"Tuh, Al aja sampai ketawa lebar lihat bibir manyun mu." tunjuk Aldo pada Al yang membuat Raka semakin merajuk karena terus-terusan digoda oleh kakaknya.


"Sudah, sudah. Ayo, sekarang balik ke kamar masing-masing. Ini sudah malam, Aldo besok kerja dan kamu, Raka besok harus sekolah. Ibu gak mau kalian bangun kesiangan lagi. Sana, sana ...." titah Ibu Riska.


"Ih, ibu ... masa nyuruh anaknya balik ke kamar seperti lagi ngusir anak ayam." gerutu Raka dengan mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha ... kamu memang kayak anak ayam. Tuh, bibirmu sudah sama macam burit ayam." ledek Aldo sembari berlari masuk untuk menghindari amukan Raka.


Raina dan Ibu Riska pun hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua kakak beradik itu.


Raina membawa Al masuk ke dalam kamar untuk menidurkan anaknya itu. Setelah meletakkan Al dan juga menyusui Al, Raina pun membenarkan posisi tubuhnya. Menatap langit-langit kamarnya sembari tersenyum.


"Ya, Allah ... hamba tahu rencana-Mu sungguh indah dibalik semua ujian yang Engkau berikan. Hamba tidak ingin kembali kecewa karena berharap pada manusia, hamba hanya akan pasrah, berserah dan selalu berharap pada-Mu. Karena Engkau-lah sebaik-baiknya sang pemberi keputusan dan tidak pernah mengecewakan hambanya." batin Raina.


#Maaf, untuk hari ini author hanya UP 1 episode saja πŸ™


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2