
Perjalanan menuju ke rumah peninggalan mendiang almarhum ayah dari Satria itu memakan waktu yang cukup lama. Sekitar satu jam perjalanan waktu yang mereka tempuh, mereka semua berada didalam satu mobil yang sama. Mereka di suguhkan oleh pemandangan yang masih nampak asri sepanjang kanan dan kiri perjalanan.
Pepohonan yang masih rimbun dan menghijaukan mata serta menyejukan membuat yang melihatnya akan terasa tenang. Kicauan burung-burung yang berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain membuat Al begitu antusias melonjak-lonjakan kakinya dan juga turut menirukan suara burung-burung itu.
Banyak hal yang ditanyakan oleh anak lelaki itu, hingga membuat orang disekitarnya tertawa mendengar berbagai ocehannya dan membuat suasana didalam mobil terasa begitu ceria dengan tingkah nya.
Mobil berhenti disebuah rumah yang tidak begitu besar dengan nuansa klasik. Disekililing nya terhampar begitu banyak tanaman bunga yang sangat terawat.
Rumah yang terletak diperbukitan itu benar-benar membuat Raina takjub dan merasa nyaman meski ini baru pertama kalinya dirinya menginjak kan kaki nya ditempat itu. Namun, dirinya sudah jatuh hati dengan rumah peninggalan almarhum bapak mertuanya itu.
"Assalamualaikum ... Bu, semuanya ...." sapa seorang pria paruh baya yang tiba-tiba menghampiri Ibu Santi dan juga anak-anaknya.
"Walaikumsalam ...." jawab semuanya serempak dan menatap ke arah pria paruh baya itu.
"Perkenalkan ini Pak Yusri, beliau tinggal di belakang rumah ini. Dan beliau juga yang sudah merawat dan menjaga rumah ini selama sepeninggalan papah mu." ucap Ibu Santi memperkenalkan pria paruh baya tersebut yang bernama Pak Yusri yang tak lain adalah penjaga rumah yang masih berdiri kokoh dihadapan mereka.
Pak Yusri menganggukan kepalanya tanda memberi hormat pada sang majikan dan juga anak-anak dari majikannya.
Setelah perkenalan singkat itu, Pak Yusri pun membukakan pagar rumah serta pintu rumah tersebut diikuti oleh Ibu Santi, anak, cucu serta menantunya.
Rumah yang sudah lama tidak ditempati itu memang benar-benar terlihat sangat terawat, berbagai furniture masih tertata rapi sesuai posisi nya dan beberapa bingkai foto yang masih terpajang juga tidak ada debu sedikit pun yang menempel disana. Menandakan sang penjaga rumah benar-benar mengemban amanah majikannya dengan baik.
Mata Raina memperhatikan satu per satu foto-foto yang terpajang rapi dibingkai nya. Baru pertama kali nya, dia melihat wajah almarhum papah mertuanya yang tak lain adalah papah kandung Satria. Dan terakhir, mata Raina tertumpu pada sebuah foto balita dengan pose tersenyum dan sedang tengkurap. Sangat mirip sekali dengan senyum yang dimiliki oleh Al.
"Adek ... itu adek, Bun." ucap Al sambil menunjuk ke arah foto balita tersebut.
Raina hanya membalas ucapan Al dengan senyuman, karena dia tahu jika itu adalah foto semasa kecilnya Awan yang sangat mirip sekali dengan Al. Bibir Raina terasa kelu, entah bagaimana dirinya ingin memperkenalkan Awan pada Al.
Semua mata juga tertuju pada Al yang masih berdiri menengadah ke arah bingkai foto diatas nya. Ibu Santi mendekat ke arah Al, cucunya. Wanita paruh baya itu merendahkan badan nya agar setara dengan cucunya.
__ADS_1
"Itu paman Awan, paman nya Al juga." ucap Ibu Santi dengan mata yang berkaca-kaca.
Satria dan Raina saling berpandangan mendengar perkataan ibu Santi yang lebih memilih memperkenalkan Awan pada Al sebagai pamannya.
"Aman? Ini aman Ara, ini aman uga?" tanya Al sambil menunjuk Bara bergantian dengan menunjuk bingkai foto itu dengan nada cadelnya.
"Iya, anak pintar." balas Ibu Santi sambil mengusap lembut rambut hitam milik Al.
"Anyak itul aman adek ini ( banyak betul paman adek ini). Ada aman Ara, aman Aka, aman Wawan ( ada paman Bara, paman Raka dan paman Awan)." ucap Al sambil menyebutkan nama paman-paman nya.
Semua pun tertawa mendengar ocehan si kecil Al.
Setelah puas berkeliling dan melihat-lihat sekitar rumah itu, mereka pun disuguhkan jamuan oleh istri Pak Yusri. Mereka pun beristirahat sambil menikmati jamuan tersebut.
"Bagaimana Satria? Apa kamu menyukai rumah ini?" tanya Ibu Santi membuka percakapan.
"Suka. Suasana nya masih sangat asri, halaman tidak langsung ke arah jalan jadi Al bisa bermain dengan puas disini tanpa takut dengan kendaraan yang lalu lalang." jawab Satria dengan tersenyum puas.
Satria mengalihkan pandangannya ke arah Raina seakan ingin meminta persetujuan dari sang istri.
Raina pun mengerti dengan maksud dari tatapan suaminya itu.
"Raina suka dengan rumah ini dan juga lingkungan disini. Tapi, semua terserah Mas saja lagi maunya gimana. Karena, jarak dari sini ke tempat kerja Mas cukup lebih jauh lagi." ucap Raina.
Satria terdiam sejenak mempertimbangkan ucapan sang istri.
"Gak, masalah. Kalau kamu dan Al merasa nyaman disini kita akan pindah ke rumah ini." balas Satria sambil melihat ke arah Al yang berlarian di halaman rumah.
Ibu Santi pun tersenyum mendengar jawaban dari sang anak yang menyetujui untuk menempati rumah peninggalan mendiang almarhum suami pertamanya itu.
__ADS_1
**************
Setelah kepulangan mereka beberapa hari lalu dari rumah almarhum papahnya Satria, Raina dan suaminya itu pun menyampaikan maksud akan kepindahan mereka ke rumah tersebut pada ibu Riska selaku orangtua dari Raina dan juga saudara-saudaranya.
Kedua saudara laki-laki Raina itu pun sangat antusias ingin membantu kepindahan Raina serta ingin mengetahui dimana rumah baru yang akan ditempati saudari dan juga keponakan mereka.
Tidak butuh mengulur waktu lama, Satria segera mengurus kepindahan mereka. Untuk kedua kalinya mereka berkutat dengan tumpukan-tumpukan barang yang akan mereka bawa meski tidak semua yang mereka bawa karena dirumah yang akan mereka tempati juga sebagian sudah terisi perabotan rumah tangga sebelumnya.
Para tetangga yang sudah sangat dekat dengan Raina pun turut membantu, sehingga mereka pun kebagian sebagian perabotan Raina yang tidak dibawa sebagai kenang-kenangan jika Raina pernah bertetangga dengan mereka.
"Semoga betah ya Mbak, dirumah barunya."
"Iya, Mbak. Jangan lupa main-main kesini lagi, Mbak."
Begitulah percakapan terakhir ibu-ibu muda yang dekat dengan Raina selama bertetangga di kawasan rumah kontrakan tersebut.
Setelah semua barang sudah dinaikkan ke atas mobil bak, Satria pun menyerahkan kembali kunci rumah tersebut pada pemiliknya. Mobil pun mulai berjalan dan menjauh dari pemukiman tersebut.
Sesampainya dirumah yang akan mereka tempati, Satria dan Raina nampak terkejut karena sudah ada kedua ibu mereka disana yang menyambut kedatangan mereka.
"Lho, Mamah dan Ibu kok gak bilang-bilang kalau mau kesini duluan?" tanya Satria.
"Kan, Mamah ingin kasih kejutan ke kalian. Mamah pagi-pagi sekali sudah menjemput Ibu mu ini agar kami berdua bisa memasakkan makanan untuk kalian semua." jawab Ibu Santi.
"Iya Nak, benar. Kalian pasti akan repot dan capek karena harus beres-beres rumah. Jadi, pasti Raina bakal tidak sempat membuatkan makanan untuk kalian. Lagi pula warung makan cukup jauh dari rumah mu ini." balas Ibu Riska.
"Terimakasih Mah, Bu." ucap Satria dan Raina bersamaan.
Raina pun merasa sangat bahagia karena ibu dan juga mamah mertuanya kembali akrab seperti dulu lagi.
__ADS_1
Maaf ya, episode nya terlalu lama di up. Niatnya author sudah 30% saja disini. Author lebih sibuk ngumpulin receh di dunia nyata π€π€£π