
Raina meletakkan beberapa piring diatas nampan yang telah berisi makanan dan juga buah untuk ibu mertuanya. Dia berniat akan mengantar kan makanan itu ke kamar ibu mertuanya.
"Mau kamu bawa kemana makanan itu?" tanya Satria yang melihat Raina sudah mulai melangkah akan meninggalkan meja makan.
"Aku mau membawanya ke kamar mamah." jawab Raina cepat.
Satria pun dengan cepat beranjak dari duduk nya dan mulai mendekati Raina.
"Sini, biar aku saja yang memberikan nya pada mamah. Kamu beristirahat lah." ucap Satria mencoba mengambil alih nampan yang berada ditangan Raina.
"Gak apa-apa, Mas. Raina belum bertemu dengan mamah pagi ini, jadi biarkan Raina yang memberikannya." balas Raina yang tetap kekeh dengan keinginan nya. Sementara Satria hanya dapat mengikuti Raina hingga masuk ke dalam kamar mamah nya.
Satria membantu membukakan pintu kamar untuk Raina. Agar mempermudah Raina masuk ke dalam kamar.
"Pagi, Mah ...." sapa keduanya.
"Hai, kalian ... pagi." balas nya ramah dengan suara yang terdengar parau.
Ibu Santi yang memang sudah terbangun sejak subuh, hanya bisa bergelut dengan selimut diatas kasur. Itu lah keseharian nya hanya dapat menghabiskan waktunya didalam kamar, jika tidak ada anak-anaknya yang menemani nya.
"Mah, ini Raina bawakan sarapan buat Mamah. Mamah makan dulu, ya. Baru setelah itu minum obatnya." ucap Raina.
"Terimakasih, sayang." sahut nya.
Satria mencoba membantu sang mamah untuk duduk menyandar pada kepala kasur, agar dapat mempermudah mamah nya menikmati makanan nya.
"Mah, ini semua Raina yang buat untuk Mamah." ucap Satria.
"Oh ya, Mamah pikir Bi Darsih sudah datang." balas Ibu Santi yang sembari memakan makanan nya dibantu dengan Raina yang menyuapi nya.
Raina hanya tersenyum mendengar penuturan Satria.
__ADS_1
"Bi Darsih belum datang, Mah. Subuh-subuh menantu Mamah ini sudah sibuk didapur sendirian. Dan padahal Satria maupun Bi Darsih belum mengajari nya apa saja yang boleh dan tidak boleh mamah konsumsi, tapi Raina sudah bisa membuatkan makanan kesukaan Mamah." puji Satria lagi.
"Betulkah? Ini rasanya enak sekali, sudah mirip dengan yang biasanya Bi Darsih buatkan untuk Mamah." ucap Ibu Santi.
Wajah Raina sontak menjadi merah merona karena pujian suami beserta mertuanya.
"Apa lagi nasi goreng buatan kakak ipar, Mah. Pokonya juara, Kak Satria aja sampai nambah tiga kali." ucap Bara yang baru saja masuk ke dalam kamar mamah nya.
"Serius kamu? Wah, bisa-bisa Satria jadi gemuk sebulan makan masakan Raina." sahut Ibu Santi yang sontak kaget bercampur senang mendengar perubahan pada anak sulung nya.
"Iya Mah, betul. Kak Satria sendiri yang ngomong." Kali ini bukan lagi Raina yang tersipu malu, melainkan Satria yang tertangkap basah memakan masakan Raina yang paling banyak. Semua yang berada dikamar pun tersenyum melihat tingkah Satria yang mulai salah tingkah didepan Raina.
"Mah, Bara pamit berangkat sekolah dulu, ya." ucap Bara mencium kedua pipi dan mencium tangan mamah nya penuh takzim.
"Iya, Nak. Hati-hati ya." jawab Ibu Santi.
"Belajar yang benar." sahut Satria.
"Rai, apa mamah boleh bertanya?" Ibu Santi mencoba bertanya dengan Raina hati-hati.
"Iya, Mah. Silahkan, tanyakan saja." jawab Raina.
"Mamah dengar kan, kamu dan Awan saat itu bekerja di tempat yang sama, apa kalian ada hubungan spesial sebelumnya?" tanya Ibu Santi.
Raina melirik ke arah Satria dan menarik nafas sebelum dimenjawab pertanyaan dari mertuanya.
"Raina tidak pernah punya hubungan spesial apa pun dengan nya, Raina hanya menganggapnya sebagai kakak untuk Raina. Hingga akhirnya, saat itu dia menyatakan perasaannya pada Raina, tapi Raina menolaknya." jawab Raina sembari tertunduk mengingat masa-masa Awan melontarkan kata-kata yang tidak pantas untuk Raina, namun Raina enggan untuk kembali menceritakan nya pada mamah mertuanya dibagian itu.
Sedangkan Satria, baru kali ini mendengar pernyataan Raina yang sebenarnya mengenai hubungan adiknya dengan Raina sebelumnya.
"Berarti ... Awan menyimpan dendam kepadamu, hingga dia tega berbuat hal keji itu kepadamu." Satria menyimpulkan pendapatnya.
__ADS_1
"Maafkan, Mamah yang terlalu memanjakan nya dan tidak bisa mengajari nya dengan benar. Mamah merasa gagal sebagai orangtua." ucap Ibu Santi lirih.
"Mah, jangan salahkan diri Mamah. Ini juga salah Satria yang gak bisa didik adik Satria dengan benar." sahut Satria.
"Tak usah saling menyalahkan, semua sudah jalan cerita Tuhan. Raina sudah memaafkan semua yang telah berlalu, sekarang Raina hanya ingin merawat dan membesarkan anak ini saja dengan baik." ucap Raina menguatkan.
"Terimakasih ya, sayang. Kamu sudah berbesar hati menerima ini semua. Kamu sudah sangat sabar dan kuat menghadapi nya." balas Ibu Santi sembari memegang tangan Raina.
Raina membalas genggaman tangan sang mertua dengan hangat. Sedangkan Satria yang berada disitu dan mendengar tutur Raina yang begitu tegar juga ikut tersentuh.
"Apa kamu sudah memeriksakan kandungan mu?" tanya Ibu Santi lagi pada Raina.
"Belum. Dari awal hingga sekarang Raina belum sama sekali memeriksakan nya." jawab Raina sembari menggelengkan kepalanya.
"Satria, temani Raina untuk periksakan kandungan nya. Ini sangat penting, untuk melihat perkembangan calon cucu mamah." titah Ibu Santi pada Satria.
"Baik. Satria akan menemaninya." jawab Satria.
Raina melirik sekilas kepada Satria.
"Apakah kamu mau memeriksakan nya hari ini?" tanya Satria pada Raina.
"Eh, ehm ... iya, kalau Mas tidak ada kegiatan hari ini." jawab Raina gugup karena dirinya tertangkap basah oleh Satria telah melirik nya.
"Ok. Bersiaplah, aku akan menemani mu." ucap Satria.
Raina membersihkan sisa-sisa bekas makan mertuanya, lalu beranjak ke kamarnya untuk bersiap memeriksakan kandungan nya.
Mohon like, komen, vote serta berikan rate kalian ya ππ
Dukungan kalian sangat berharga untuk author ππ
__ADS_1