
"Gimana, kamu suka gak?" tanya Kak Aldo
"Raina suka, Kak. Tapi, apa ini gak berlebihan?" Aku balik bertanya pada Kak Aldo.
"Dek, kakak sengaja lembur terus agar bisa membelikan mu ini. Agar kamu lebih mudah kemana-mana, apa lagi kamu bakal kuliah. Jadi gak perlu naik angkot terus, jadi bisa lebih hemat, kan. Memang sih, ini hanya second, tapi semua masih terawat, kok. Dan pastinya kakak belinya cash tidak mencicil." terang Kak Aldo.
" Terimakasih banyak ya, Kak Aldo, Raka," ucapku kembali.
Ku pandangi sepeda motor matic pemberian Kak Aldo, hasil jerih payah nya selama kerja lemburan. Kakak tertua yang selalu memikirkan dan memberikan yang terbaik untuk adik-adiknya.
Sangat bersyukur memiliki saudara yang selalu ada dan mendukung satu sama lain.
******
Keadaan kembali normal, meninggal kan keharuan di pagi ini. Raka sudah bersiap untuk berangkat sekolah, Kak Aldo akan berangkat kerja begitu pula dengan diriku.
Ini hari pertama aku tidak berboncengan lagi dengan Kak Aldo, dan hari pertama mengendarai sendiri sepeda motor pemberian Kak Aldo.
Ya, semasa sekolah menengah pertama aku sudah belajar untuk mengendarai sepeda motor dan saat itu bapak lah yang mengajariku. Berhubung sepeda motor yang kita punya hanya satu, jadi hanya kak Aldo lah yang boleh menggunakannya.
Dan hari ini, aku sudah di beri izin oleh Kak Aldo untuk mengendarai nya sendiri.
"Nih, surat-suratnya di simpan yang betul jangan sampai hilang. Oh, iya, habis makan siang nanti langsung urus SIM mu, ya. Ada teman kakak yang membantu disana." ucap Kak Aldo seraya menyerahkan surat-surat kepemilikan sepeda motor kepada ku.
"Ok, Kak." balasku.
__ADS_1
"Cie, jadi ceritanya serah terima, nih. Boleh donk, Raka nebeng sepeda motor baru sampai terminal." ucap Raka menggodaku.
"Hehehe, tentu saja boleh, donk." ucap ku sembari mengacak rambut Raka.
"Hei, Kak Raina! Berantakan lagi kan, rambut ku." gerutu Raka sembari merapikan rambutnya.
"Kamu boleh ikut dengan Raina, asalkan tetap Raina yang mengendarai nya bukan kamu." ucap Kak Aldo memperingati Raka.
"Aaiiihh, Kak Aldo ... tau aja deh." ucap Raka lemas.
Kami berangkat bersama dengan tujuan yang berbeda. Ku lajukan sepeda motor matic ku menembus jalan yang sudah mulai ramai dengan pengendara lainnya.
Aku berhenti di sebuah terminal angkutan umum, dimana aku dulu pernah menjalani nya seperti Raka.
"Kakak duluan ya, Dek. Kamu yang rajin sekolahnya." ucap ku pada Raka yang masih menunggu angkutan umum.
Ku lajukan sepeda motor ku, menikmati jalanan kota yang sudah mulai ramai, suara klakson kendaraan lain yang ingin mendahului memekakkan telinga.
"Cukup lincah juga ternyata aku ngendarai nya, padahal sama sekali belum pernah berkendara di kota." Aku memuji diriku sendiri.
Di sela-sela mengendarai motor, tanpa sengaja mata ku tertuju pada seorang ibu paruh baya terduduk di lesehan trotoar sembari memangku anak kecil.
"Seperti nya ibu itu sedang berjualan." gumam ku.
Segera ku tepi kan sepeda motorku, mendekati ibu tersebut.
__ADS_1
"Permisi, Ibu sedang jualan, ya?" tanya ku pada Ibu tersebut.
"Iya, Nak. Saya jualan ini." Ibu tersebut menunjukan tumpukan kain serbet yang ia jual.
Aku yang berdiri dihadapannya, bukannya fokus dengan dagangan ibu tersebut melainkan dengan mata beliau. Ternyata beliau mengalami gangguan pada penglihatan nya.
"Serbet nya berapaan, Bu." tanyaku
"Lima ribu rupiah, Nak, perlembar nya." ucap Ibu tersebut.
Aku mengambil beberapa lembar kain serbet tersebut kemudian membayar nya lebih dari harga yang seharusnya ku bayarkan.
"Maaf Nak, Ibu belum ada kembalikan nya." ucap beliau.
"Gak usah di angsul, Bu. Lebih nya ambil saja untuk adik ini." ucapku.
Mungkin dengan seperti ini cara yang lebih baik dengan membeli dagangannya agar ia tidak merasa terhina. Bersedekah dan berbagi dengan sesama itu memang indah. Tapi ingat, bersedekah lah dengan cara yang benar.
Setelah sedikit berbincang dengan ibu tersebut, aku pun pamit untuk berangkat bekerja. Cukup tersentuh mendengar cerita beliau. Tak lupa, beliau memanjatkan begitu banyak doa kebaikan untuk ku.
"Semoga beliau selalu diberi kesehatan agar terus mampu menafkahi anak-anaknya dengan cara yang halal." batinku.
Sepanjang perjalanan aku tersenyum bahagia. Hingga ku sadari bahwa uang yang ku pakai untuk membeli kain serbet itu adalah uang untuk mengurus SIM siang nanti.
Hingga tiba di parkiran resto, aku masih menertawakan diriku, yang pelupa ini.
__ADS_1
"Hahaha, biarlah di tunda sementara urus Sim nya, yang penting aku sudah niat untuk bersedekah tadi." gumamku.
Bersambung...