Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kemarahan Bunda Eva


__ADS_3

Mobil Ridho sudah berlalu terlebih dahulu meninggalkan area pemakaman.


Masih tertinggal Raina dan kedua saudara lelaki nya yang baru saja keluar dari gapura pemakaman dan mereka pun memasuki mobil yang terparkir didepan gerbang pemakaman.


*****


Sementara diresto tempat Raina bekerja para karyawan terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Keadaan resto cukup ramai hari itu, sehingga membuat para pelayan yang bertugas agak kerepotan melayani para pengunjung.


Sama hal nya dengan Deni, bartender partner Awan yang sangat kerepotan menangani pesanan minuman dalam jumlah banyak dan sementara hanya dirinya yang bekerja. Sedangkan hari itu Awan tidak masuk bekerja dengan alasan yang tidak diketahui oleh teman-teman kerjanya. Sehingga membuat Deni lembur sendirian.


Bunda Eva sengaja berkunjung ke resto untuk memantau perkembangan resto dan mengecek laporan keuangan dari kasir yang biasanya dilakukan oleh Raina. Berhubung Raina sedang sakit, jadi mengharuskan dirinya sendiri yang turun tangan.


Saat bunda Eva akan melangkah kan kakinya menuju kantor ada pengunjung yang terlihat memarahi salah satu waiters nya.


"Maaf, ada apa ya, Mbak?" tanya Bunda Eva ramah kepada pengunjung itu.


"Apa anda penanggung jawab diresto ini?" pengunjung tersebut malah balik bertanya kepada Bunda Eva.


"Iya, betul. Ada apa ya, Mbak? Kenapa waiters saya dimarahi?" tanya Bunda Eva lagi sembari melirik Nara yang berdiri disamping nya.


"Ini nih, minuman nya sudah dua kali ganti masih aja salah. Sudah nunggu nya lama banget, eh ... yang datang tetap aja masih salah!" jawab pengunjung itu dengan penuh emosi.


"Maaf kan untuk ketidaknyamanan nya, Mbak. Saya akan menggratiskan apa yang sudah anda pesan. Dan minuman nya akan kembali kami ganti. Sekali lagi saya mohon maaf." ucap Bunda Eva merendah diri.


Setelah mendapat persetujuan dari pengunjung itu, Bunda Eva pun pergi meninggalkan meja mereka.


Bunda Eva menarik lengan Nara untuk mengikutinya ke belakang.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini, sih? Biasa gak pernah ada keteledoran seperti ini." tanya Bunda Eva kepada Nara.


"Maaf, Bu. Mungkin karena mas Deni ngerjain nya sendiri dan begitu banyak orderan jadi membuat dia kelimpungan, makanya jadi seperti ini." jawab Nara hati-hati.


Bunda Eva memperhatikan jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Bukannya karyawan shift malam sudah datang dari tiga jam yang lalu, ya? Kemana Awan? Kenapa dia tidak membantu Deni lembur?" tanya Bunda Eva lagi.


"Maaf, Bu. Dari tadi mas Awan tidak ada datang. Kami pikir dia sudah mengabari ibu sebelumnya jika dia tidak masuk atau ada kendala lainnya." jawab Nara lagi dengan masih menundukkan wajahnya.


"Dia tidak ada sama sekali mengabari saya sebelumnya. Ya, sudah ... kamu kembali bekerja dan ambilkan pesanan orang tadi, jangan sampai salah lagi." ucap Bunda Eva.


"Baik, Bu." ucap Nara cepat dan bergegas melaksanakan apa yang diperintahkan atasan nya.


Sementara itu, bunda Eva sudah mengatur pembagian tugas agar tidak terjadi kekacauan lagi diresto.


"Baik, Bu." Reza segera mengantarkan orderan pengunjung dan kembali ke belakang untuk membantu Deni.


Bunda Eva kembali berjalan ke arah kasir, dirinya mulai tampak gusar. Terlihat berkali-kali dirinya sedang menghubungi seseorang, namun tidak ada jawaban dari orang yang telah ia hubungi.


"Desi, untuk sementara kamu bantu teman-teman kamu di tim waiters, karena kita kekurangan orang. Biar kasir saya yang ambil alih." ucap Bunda Eva kepada Desi.


"Baik, Bu." Desi langsung melakukan perintah dari atasan nya, tanpa bertanya apa pun.


Bunda Eva terlihat sangat piawai melayani setiap pengunjung yang melakukan transaksi pembayaran.


Hingga berangsur-angsur para pengunjung meninggalkan resto, barulah bunda Eva bisa duduk santai mengistirahatkan kakinya yang sedari tadi berdiri untuk melayani pembayaran dari semua pengunjung.

__ADS_1


********


Sementara di kos Awan.


Awan terlihat sedang menikmati sesuatu bersama ketiga orang temannya. Mereka berempat sama-sama dalam keadaan yang kacau dan berbicara ngelantur kemana-mana.


"Enak, kamu bro ... bisa dapatin yang masih perawan." ucap salah satu dari mereka.


"Lain kali, kalau ada mangga muda gitu ... panggil-panggil kita donk, bro." ucap yang lain lagi.


"Iya, kita kan, juga mau ngerasain yang masih segelan. Hfftt ... hfftt ...." Semua tertawa lepas tanpa merasa ada beban yang menghimpit mereka.


Sementara itu, Awan tak menghiraukan omongan dari ketiga temannya. Dirinya masih asik menikmati sesuatu yang dipegang nya.


*******


Kembali ke resto.


Bunda Eva masih tidak dapat menghubungi Awan. Dirinya terlihat sangat marah dengan keponakan nya itu, yang tidak memberinya kabar. Bunda Eva merasa tidak dihargai oleh Awan.


"Seenaknya aja Awan, mentang-mentang ini resto tante nya, seharusnya dia bisa profesional donk, sama kerjaan nya." gerutu bunda Eva.


Bunda Eva merasa bersalah telah menerima Awan yang sifatnya keras kepala dan semuanya sendiri itu. Karena yang dia pikirkan saat itu tetap ingin menjalin hubungan yang baik dengan kakak perempuannya yang tak lain ibu dari Awan.


Karena sifat kakak perempuan nya yang gampang tersinggung, membuat bunda Eva tetap menerima Awan bekerja diresto miliknya. Meski dia tahu akan menjadi buah simalakama untuk dirinya sendiri.


Mohon like dan krisan nya ya πŸ˜˜πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2