Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Masa Lalu Ibu 2


__ADS_3

Langkah kaki seseorang terdengar memasuki ruangan dimana Riska berada.


Riska terperangah melihat wanita yang berdiri didepan nya. Matanya meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki orang yang sedang berdiri dihadapannya.


"Masih belum selesai ngeliat nya." ucap Desi dengan angkuh nya, yang mulai merasa risih dengan sikap Riska.


"Ini benar Desi, kan? Ckckck, kamu seratus persen benar-benar berubah sekarang. Padahal baru beberapa bulan yang lalu kita bertemu, kamu sudah seperti ini sekarang." Decak kagum Riska menatap teman lama nya itu.


"Hahaha, sudah bisa kamu lihat kan, buktinya." ucap Desi seraya tertawa angkuh.


Riska hanya mengangguk kan kepala dan menelan salivanya dalam.


"Apa yang membawa mu hingga kesini? Apa kamu sudah menyerah mendampingi mas Fajar?" tanya nya seraya merebahkan tubuhnya disofa.


"Aku sudah capek, Des. Aku gak sanggup hidup dengannya yang hanya memberikan ku sekedar janji manis dan harapan-harapan palsu nya." ungkap Riska yang juga sudah mendaratkan tubuhnya disofa.


"Terus bagaimana dengan ketiga anakmu?" tanya nya lagi.


"Ya, aku tinggalkan mereka semua dengan bapaknya. Gak mungkin kan, aku bawa mereka?" jawab Riska santai tanpa beban.


"Benar-benar ya, kamu." Desi menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari temannya itu.


"Apa yang membuatmu seperti ini sekarang? Apa kamu sudah jadi nyonya utama?" selidik Riska.

__ADS_1


Desi hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Wah, wah, hebat sekali kamu sampai bisa menyingkirkan istri pertamanya." ucap Riska tak menyangka apa yang sudah dilakukan temannya itu.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Sekarang kamu bersihkan diri kamu dulu nanti kita lanjutkan lagi setelah makan malam." ucap Desi.


Riska mengikuti langkah mbok Darsih, wanita tua yang ia temui pertama kali yang merupakan asisten rumah tangga kepercayaan Desi.


" Silahkan, Bu." ucap nya ramah mempersilahkan Riska masuk ke sebuah kamar yang sudah ia persiapkan atas perintah majikannya.


Riska memperhatikan sekeliling kamar yang sangat luas. Dan kasur yang sangat ia impikan bisa tidur diatas nya. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur itu.


"Kamar tamu aja segini besarnya, bagaimana dengan kamar utama, ya?


Dia bangun dari kasur, beranjak ke kamar mandi. Melepas rasa lelah seharian dijalan, menikmati setiap kucuran air yang telah membasahi tubuhnya.


Segera ia menyelesaikan mandi nya, memakai baju ganti yang sudah disiapkan oleh mbok Darsih sebelumnya.


"Cuma mau makan malam aja, disuruh pakai baju sebagus ini. Ah, kapan lagi aku bisa memakai baju secantik ini? Pasti harganya mahal." gumam nya seraya memperhatikan dirinya dicermin.


Tok... Tok..


"Maaf, Bu, sudah ditunggu sama ibu Desi diruang tengah." ucap Mbok Darsih memberitahukan.

__ADS_1


"Oh, Iya, Mbok. Sebentar lagi saya akan kesana." ucap Riska cepat.


Riska keluar dari kamarnya menuju ruang tengah dimana sudah ada Desi dan suaminya menunggu.


"Hey, lama sekali kamu didalam sana. Sayang, ini Riska, dia yang akan kita perkenalkan dengan Roy." ucap Desi memperkenalkan Riska pada suaminya.


Riska hanya terdiam melihat suami Desi yang memperhatikan nya dari ujung kepala hingga kaki.


"Boleh, juga. Ayo, aku takut Roy sudah menunggu kita disana." ucap pria itu.


Didalam mobil, Riska hanya diam tanpa bertanya akan kemana mereka.


"Jangan buat aku malu didepan temannya mas Gunawan. Buat dia tertarik kepadamu." ucap Desi berbisik memperingati Riska.


Riska hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti apa yang harus dia perbuat.


Mobil berhenti disebuah restoran mewah.


Ketiga nya keluar dari mobil, berjalan masuk kedalam restoran. Melangkah ke arah meja yang sudah ditunjukkan oleh pelayan resto, disana sudah berada seorang pria yang menunggu.


Disini lah semua berawal, bagaimana Riska mengenal Roy dan menerima semua tawaran yang telah diberikan kepadanya tanpa memikirkan resiko kedepannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2