Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Pertemuan Ibu dengan Aldo dan Raka


__ADS_3

"Tak ada yang berubah dari rumah ini, masih asri seperti dulu saat aku meninggalkan nya. Rumah ini, begitu banyak kenangan di dalam nya. Sudah sekian lamanya, akhirnya aku menginjak kan kaki ku disini lagi. Dan aku akan menghabiskan masa tua ku disini dengan anak-anakku." batin Ibu Riska.


Wanita paruh baya itu masih berdiri dihalaman rumah yang pernah ia tempati bersama keluarga kecilnya. Rumah yang telah lama ia tinggalkan. Mengamati setiap inci keadaan rumah yang tak ada perubahan, meskipun sudah dimakan usia.


" Bu ... ayo masuk." Raina menggandeng lengan ibunya untuk memasuki rumah.


Berjalan pelan menikmati hamparan taman kecil yang berada disisi kiri dan kanan ke arah pintu masuk rumah. Masih tampak ada keraguan dihati ibu Riska. Apakah Aldo dan Raka dapat menerimanya kembali dengan ikhlas? Ibu Riska takut akan penolakan dari kedua anak laki-laki nya tersebut.


"Rai, ini semua bunga-bunga Ibu yang dulu?" tanya nya sembari mengusir kegundahan dihati nya.


"Iya, Bu. Raina selalu merawat nya dengan baik." ucap Raina.


Langkah Ibu Riska kembali terhenti didepan pintu masuk rumah.


"Hmm, Rai ... Ibu masih ragu." ucapnya semakin terlihat keraguan itu dimata nya.


"Ibu tenang ya, kita hadapi sama-sama. Bismillah." ucap Raina menenang kan hati ibunya, sembari menggenggam erat tangan yang tak lagi muda itu.


"Terimakasih ya, Nak." Tersenyum penuh harap.


"Assalamualaikum ...." ucapnya bersamaan.


"Walaikumsalam ...." balas Raka dari dalam rumah.


Kembali mereka melangkah kan kaki memasuki rumah. Mata ibu Riska berkelana menyusuri setiap sudut ruangan.

__ADS_1


"Sedikit ada perubahan di dalamnya." Ia kembali tersenyum sembari kakinya masih terus melangkah masuk ke ruang keluarga.


"Ka Raina sama sia ... pa." Tatapan Raka langsung tertuju pada Ibu Riska saat dia keluar dari kamarnya.


Sedangkan Ibu Riska terdiam memperhatikan anak bungsu nya yang sudah beranjak remaja. Tampak tatapan kerinduan dimata sendu nya.


"Raka, ini Ibu." ucap Raina.


Raka langsung membalikkan badannya kembali masuk ke dalam kamar. Raina yang melihat sikap adiknya seperti itu langsung menyusul Raka ke kamarnya.


"Ka, kenapa kamu begitu? Ibu ingin ketemu sama kamu. Bukannya waktu itu kamu juga sudah sepakat akan nerima ibu lagi?" tanya Raina kepada adiknya.


"Hati Raka masih sakit Kak, kalau ingat apa yang sudah Ibu lakukan ke kita semua." ungkap Raka.


"Ingat Dek, seburuk-buruknya sikap ibu yang dulu, beliau tetap lah ibu kandung kita, beliau yang sudah berjuang melahirkan kita antara hidup dan matinya. Ayo lah, jangan tutup hati mu dengan kebencian. Kita ambil hikmahnya sekarang, dan yakin bahwa ibu benar-benar sudah berubah." ucap Raina menasihati kembali adiknya.


"Baik lah, kamu tenangkan dulu hati mu. Ikuti apa kata hatimu yang terdalam jangan ikuti emosi setan yang membawa mu dalam kesesatan." ucap Raina sembari menepuk lembut bahu adiknya.


"Hahaha, Kak Raina cocok deh, jadi ustazah." kata Raka menggoda Raina.


"Apaan sih, kamu? Ya, sudah kakak keluar dulu menemui ibu. Kasihan beliau sendirian diluar." ucap Raina tak menghiraukan candaan adiknya.


Raina melangkah keluar kamar mendekati ibunya.


"Maaf, Bu. Sudah buat ibu menunggu lama." ucap Raina.

__ADS_1


"Ibu sudah menduga akan seperti ini jadinya. Raka pasti tidak mau bertemu dengan Ibu, kan?" tanya Ibu Riska.


"Ehm, bukan begitu, Bu. Raka mau kok, ketemu sama ibu, tapi saat ini dia belum siap, Bu. Ibu yang sabar, ya." Raina mencoba meyakinkan ibunya.


"Iya, Nak. Mungkin memang belum saatnya ibu bertemu kakak dan adik mu." jawab Ibu.


"Jadi kapan waktu yang tepat untuk bertemu kami, Bu?" tanya Aldo yang tiba-tiba datang.


Seketika ibu Riska menoleh ke asal suara tersebut. Betapa terkejut nya dirinya melihat anak tertua nya yang sudah tumbuh dewasa.


Seketika itu juga Aldo menghampiri dan memeluk ibunya. Begitu terharu nya ibu Riska disambut hangat oleh anak sulung nya.


"Aldo kangen, Bu." ucap Aldo masih memeluk ibunya.


"Iya, Nak. Ibu juga sangat merindukan kalian." balas Ibu Riska.


Tumpah sudah tangis haru keduanya, begitu pula dengan Raina yang ikut memeluk ibu dan kakaknya.


Sementara itu, Raka hanya melihat suasana keharuan tersebut dibalik pintu kamarnya. Seketika ada rasa hangat yang menjalar ke hatinya yang membuat ia menitik kan air matanya.


Bersambung.


**Si Raka masih gengsi mengakui perasaannya.


Ikuti terus ya kisahnya Raina, masih akan ada banyak permasalahan yang harus dia hadapi kedepannya.

__ADS_1


Like, komen dan vote dari kalian semua sangat berarti 😘😘


Terimakasih β˜ΊοΈπŸ™**


__ADS_2