Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Lupa kan Dia


__ADS_3

Cahaya rembulan perlahan-lahan menyinari bumi begitu pun dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam yang membentang menambah indahnya kecerahan di malam itu.


Satria sudah bersiap didalam mobil nya, dia mengurungkan niatnya untuk menggunakan sepeda motornya. Dia takut nanti Raina akan kepayahan menaiki sepeda motornya, ditambah dengan perut Raina yang mulai terlihat mrmbuncit.


Mobil Satria sudah memasuki gerbang perumahan Raina, malam ini rencananya Satria ingin mengajak Raina untuk melakukan foto untuk mengisi salah satu persyaratan untuk membuat buku nikah. Selain itu, Satria juga ingin mengajak Raina makan malam dengannya.


Suara deru mobil berhenti tepat didepan rumah Raina. Raina segera bergegas keluar dari kamarnya, dia tidak ingin Satria merasa tidak nyaman menunggu nya terlalu lama. Raina mengenakan dress selutut dengan bagian rok nya yang sedikit mengembang sehingga menutupi perut Raina yang mulai terlihat. Ditambah dengan rambut lurusnya yang sedikit dijepit tetap membuatnya terlihat anggun dan menawan. Tak lupa pula tas selempang kecil dan flat shoes sederhana miliknya.


"Assalamualaikum ...." sapa Satria yang disambut oleh calon mertuanya.


"Walaikumsalam .... Nak Satria, mau ngajak Raina keluar ya?" jawab ibu Riska dan kembali bertanya pada Satria.


"Iya, Bu. Sekalian mau foto untuk mengisi persyaratan di KUA besok." jawab Satria.


"Oh, jadi sudah mau daftar pernikahan? Terus kapan rencana nya pernikahan kalian diselenggarakan?" tanya Ibu Riska lagi.


"Iya, Bu. Rencananya besok saya akan mengajukan pendaftaran pernikahan ke kantor KUA. Sekalian saya mau ijin untuk membawa Raina untuk bertemu dengan mamah dirumah. Kalau untuk tanggal pernikahan, masih dicari tanggal baiknya sama pakde Suseno, yang pasti akan secepatnya." jawab Satria.


"Baguslah kalau begitu." ucap Ibu Riska sembari tersenyum pada Satria. Tak lama kemudian Raina pun keluar menuju ruang tamu yang sudah ada Satria dan ibunya disana.


"Saya pamit jalan dulu ya, Bu." ucap Satria begitu Raina sudah berada didekat nya.

__ADS_1


"Iya, hati-hati dijalan. Dan jangan pulang terlalu larut." jawab Ibu Riska mengizinkan kedua nya pergi.


Raina dan Satria pun mencium tangan ibu Riska penuh takzim dan menganggukan kepala sopan tanda mematuhi ucapan dari ibu Riska.


Mobil sudah keluar dari gerbang perumahan Raina, melesat cepat diatas jalan utama. Malam itu banyak sekali pasangan muda mudi yang juga menikmati malam.


Sesuai dengan tujuan awal, mereka telah tiba disebuah studio foto untuk melakukan pengambilan foto untuk buku nikah mereka. Setelah itu, Satria membawa Raina ke sebuah kedai makanan yang terletak disebuah pinggir jalan dan dibelakang kedai pengunjung akan disuguhkan dengan hamparan laut lepas.


Banyak pemuda pemudi yang sering berkunjung ke kedai itu hanya sekedar untuk nongkrong, berkumpul dengan teman atau pun keluarga.


Satria memilih kursi dipojok kedai agar dapat menikmati langsung suasana malam laut, deburan ombak menghempas bebatuan karang dibawah kedai. Pemandangan seperti ini baru pertama kali nya dilihat oleh Raina bersama dengan seorang pria.


"Apa kamu suka dengan tempat ini?" tanya Satria.


"Dulu waktu sebelum ditugaskan dipertambangan, aku sering kesini bareng Ridho. Ya, hanya sekedar nongkrong aja, sih." jawab Satria. Sedangkan Raina hanya menganggukan kepalanya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Satria.


"Apa aja deh, Mas. Aku bukan pemilih makanan, kok." jawab Raina.


Satria pun memesankan makanan yang sama dengan nya untuk Raina. Sembari menunggu pesanan mereka, Satria mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Rai ... bisa gak, sesudah kita menikah nanti, kamu berhenti bekerja dan fokus menjaga kehamilan mu saja." tanya Satria.


"Ehm ... maaf, Mas. Aku perlu mempertimbangkan nya lagi. Aku terbiasa bekerja." jawab Raina.


"Setelah menikah nanti, kamu gak perlu bekerja keras lagi, kamu akan menjadi istriku otomatis aku yang akan menanggung semua kebutuhan mu. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk mu dan calon anak ku." ucap Satria.


Raina merasa canggung setelah mendengar Satria menekankan kata calon anakku di omongannya.


"Raina .... meskipun aku sebagai ayah sambung dari anak yang kamu kandung, tapi aku juga berhak atas anak itu. Karena dia adalah keponakan ku sendiri dan aku akan menyayangi nya seperti anak kandungku sendiri." ucap Satria seakan mengerti keraguan diwajah Raina.


Satria menarik nafas nya perlahan dan mengehmbuskan nya dengan kasar.


"Rai ... lupakan semua tentang Awan. Meskipun aku tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi antara kamu dan Awan dimasa lalu, yang jelas aku ingin kamu melupakan nya." tambah Satria lagi.


Raina hanya terdiam mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Satria.


"Apa maksud dari semua ucapanmu? Apa kah dirimu akan bersungguh-sungguh dengan pernikahan ini?" Raina hanya mampu bertanya dalam hatinya, kata-kata itu seakan tercekat ditenggorokannya.


Makanan yang mereka pesan pun datang, mereka mulai menikmati makanan itu dalam diam. Raina sama sekali tidak membahas ucapan yang dilontarkan oleh Satria. Semua pertanyaan hanya mampu berlarian dikepalanya tanpa berani mengeluarkan nya.


"Ehm, selepas dari sini persiapkan semua berkas yang diperlukan untuk dibawa ke KUA, besok aku akan menjemputmu dan membawa mu menemui mamah." ucap Satria. Raina hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dia mengerti.

__ADS_1


Satria memperhatikan gadis yang berada didepan nya, yang tengah asik menikmati makanannya dalam diam.


Mohon like, komen dan vote sebanyak-banyak nya ya 😘 Dukungan kalian sangat berharga untuk author πŸ™πŸ™


__ADS_2