Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Berakhir


__ADS_3

Tanggal pernikahan telah ditentukan, persiapan pernikahan pun sudah mulai dilakukan. Pernikahan akan dilaksanakan dikediaman pengantin wanita yang tak lain adalah Raina.


Namun, masih ada hal yang mengganjal dihati Satria. Masalah hubungan nya dengan Erlina yang hingga kini belum berakhir.


"Bagaimana pun juga, aku tidak ingin menyakiti nya. Biar lah dia merasa sakit sekarang daripada dia semakin berharap, aku harus mengakhiri ini sebelum semuanya terlambat." gumam Satria yang menatap langit-langit kamarnya.


Hubungannya dengan Erlina memang tak ada yang mengetahui dari pihak keluarganya, hanya Ridho lah yang tahu tentang hal itu. Satria bukan seseorang yang suka mengumbar masalah pribadinya kepada orang lain. Hingga hubungan nya berjalan dua tahun, Satria belum pernah mengajak Erlina untuk bertemu dengan mamah nya. Lain hal nya dengan Erlina yang telah memperkenalkan Satria pada semua keluarganya sebagai seorang kekasih yang akan menghalalkan nya setelah tugas kerjanya berakhir. Tapi apa mau dikata, takdir telah berkata lain, rencana hanya tinggal rencana, karena Tuhan lah yang mampu merealisasikan semuanya. Sekarang Satria akan bertanggung jawab atas perbuatan adiknya dengan menikahi Raina.


Satria melirik jam tangannya, "Sebaiknya aku harus bertemu dengan keluarga Erlina secepatnya membicarakan semuanya, sebelum masalah ini semakin berlarut-larut."


Satria mengambil kunci sepeda motornya diatas nakas, dan bergegas keluar dari kamarnya. Dia sudah berada diatas sepeda motornya, yang sebelumnya dirinya sudah berpamitan kepada sang mamah.


Satria mulai melajukan sepeda motornya menuju rumah Erlina. Tiga puluh menit waktu tempuh menuju rumah Erlina, sepeda motor Satria sudah memasuki sebuah kawasan perumahan yang cukup elite. Satria menghentikan sepeda motornya didepan gerbang rumah, memencet bel yang terdapat disamping gerbang.


Tak lama kemudian, datanglah seorang penjaga rumah yang membuka gerbang itu.


"Eh, Mas Satria ... tumben kesini? Bukannya mbak Erlina belum pulang dari tugasnya?" tanya penjaga itu yang sudah mengenal Satria.


"He, iya. Saya ada perlu dengan pak Hendrawan. Apa beliau ada dirumah?" Satria balik bertanya kepada penjaga itu.

__ADS_1


"Oh, bapak ada. Silahkan masuk, Mas." ucap penjaga itu.


Satria pun mulai memasuki rumah yang sering ia kunjungi jika ada Erlina dirumah. Dan malam ini, adalah terakhir kalinya dia menginjakkan kakinya dirumah itu.


"Assalamualaikum, Pak ..." sapa Satria pada sang pemilik rumah yang sudah menunggu nya diruang tamu.


"Walaikumsalam, Nak Satria. Silahkan duduk. Ada angin apa ini, yang membawa mu kesini saat Erlina tidak ada?" tanya Pak Hendrawan ayah dari Erlina.


"Maaf jika kedatangan saya kesini mengganggu bapak, ada hal penting yang ingin saya sampaikan ke bapak." ucap Satria dengan hati-hati.


"Hal penting apa ini, Sat? Apa kamu ingin meminta restu untuk hubungan kalian berdua?" tanya Pak Hendrawan dengan sedikit tertawa kecil.


"Maksud kamu apa? Kamu mau mempermainkan anak saya?" tanya Pak Hendrawan yang sudah terlihat gusar.


"Maaf Pak, sebelumnya ...." Satria mulai menceritakan dari awal permasalahan yang menimpa ibunya, adiknya hingga tentang Raina yang telah mengandung.


Pak Hendrawan mendengarkan semua penjelasan dari Satria.


Satria menghembuskan nafas nya secara kasar.

__ADS_1


"Sebenarnya ini keputusan yang sangat berat, baik untuk saya pribadi maupun keluarga. Tapi, kondisi nya yang seperti ini. Mau tidak mau saya sebagai lelaki dan kakak tertua saya harus bisa bertanggungjawab atas apa yang sudah terjadi." ucap Satria.


Pak Hendrawan terlihat mulai melunak dan mengerti setelah mendengar semua penjelasan dari Satria.


"Bapak sangat menghargai keputusanmu, itu adalah keputusan yang tepat sebagai lelaki memang harus bertanggungjawab. Bapak sangat bangga atas pengorbanan dan kerelaan hatimu melakukan ini semua." ucap Pak Hendrawan


"Saya memang sengaja memberitahukan ini terlebih dahulu kepada Bapak, agar Bapak dapat memberi pengertian lebih kepada Erlina. Saya takut, jika saya yang mengatakan nya melalui telepon dia akan salah paham dan mengganggu konsentrasi nya bekerja disana." ucap Satria.


"Hmmm, baiklah. Urusan Erlina biar Bapak yang akan menjelaskan nya. Kita memang tidak bisa memaksakan jika kita memang tidak berjodoh." balas Pak Hendrawan.


"Iya, Pak. Mungkin saya bukan lah yang terbaik buat Erlina. Semoga nanti Erlina bisa mendapatkan jodoh yang baik untuknya." ucap Satria.


"Iya, amin." balas Pak Hendrawan sembari menepuk pundak Satria.


"Saya ijin untuk pamit pulang, Pak. Maaf, jika selama saya berhubungan dengan Erlina saya ada salah kata atau perbuatan yang menyakiti Bapak sekeluarga, saya sangat meminta maaf." ucap Satria sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan rumah Erlina.


Lega, ya itu yang dirasakan Satria. Jika, nanti Erlina mengetahuinya dan marah kepadanya, dia sudah siap untuk menghadapi semuanya. Setidaknya dia sudah berkata jujur dan tak ada lagi yang membebani pikirannya.


Mohon like, komen, vote serta berikan rate kalian untuk karya author ini 😁😁

__ADS_1


Dukungan dari kalian sangat berharga untuk author agar lebih semangat lagi dalam berkarya πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2