Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Aku akan ikhlas


__ADS_3

Tanpa disengaja pandangan Satria mengarah pada Erlina.


"Lin ...." gumamnya lirih tapi masih terdengar oleh Raina.


"Lin ...." Seketika mata Raina juga mengarah pada pandangan mata Satria yang tertuju pada sesosok wanita yang berdiri didepan sebuah ruangan yang tidak jauh dari mereka.


Mata Raina memandang ke arah Erlina yang masih terpaku ditempatnya dan juga Satria secara bergantian.


"Apa itu wanita yang disebut dalam mimpinya?" batin Raina.


"Arkhan Al Fiqri Sanjaya dan Nyonya Raina Hapsari." Seorang apoteker memanggil nama Al, dan seketika Satria langsung beranjak dari duduknya dan mengambil obat yang telah diracik untuk Al dan juga Raina.


Setelah mengambil obat, Satria langsung membawa Raina dan Al keluar dari gedung rumah sakit itu. Erlina memandangi kepergian orang yang baru saja berada dihadapannya.


"Dari tatapan mu, aku tahu. Jika kamu masih menyimpan rasa yang sama denganku." batin Erlina.


Di dalam mobil Raina mau pun Satria tidak ada yang berbicara, keduanya sama-sama berdiam diri dan hanyut dengan pikiran masing-masing.


Raina menepuk-nepuk bokong Al dengan pelan, hingga membuat bocah itu tertidur dalam pelukannya. Dirinya ingin menanyakan perihal wanita berseragam dokter tadi.


"Salah gak sih, kalau aku menanyakan tentang wanita tadi?" batin Raina.


Raina menoleh sekilas ke arah Satria, lalu kembali menatap ke jalan.


"Mas ...." panggil Raina pelan.


"Ehm, kenapa?" tanya Satria.


"Siapa wanita tadi?" Raina balik bertanya dan langsung menutup rapat mulutnya setelah berhasil melontarkan pertanyaan itu pada Satria.


Satria menatap tajam kearah Raina, seolah berkata, "kamu tidak perlu tahu siapa dia."


Raina merasa tidak puas karena pertanyaannya diacuhkan oleh Satria.


"Apa dia orang spesial yang pernah ada dibagian hidupmu?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dengan lancarnya dari mulut Raina.


Raina langsung menggigit ujung bawah bibirnya, karena merasa takut jika Satria akan marah kepadanya.


"Siapa pun dia, dia hanya masa lalu ku." jawab Satria dengan datar.


"Maaf, jika aku terlalu lancang dalam berbicara." ucap Raina tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


Satria menoleh ke arah Raina, dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi sendu.


"Apa aku menyakitinya? Apa dia bersedih karena jawabanku tadi?" batin Satria.


Satria hanya diam dan tetap fokus mengendarai mobilnya, dirinya bingung harus berbuat apa.


********

__ADS_1


Setelah selesai bertemu dan berbicara dengan Awan, Ibu Santi langsung keluar dari gedung pengadilan. Karena Awan sudah harus kembali ke rumah tahanan.


Dan dirinya pun langsung memutuskan untuk pulang hari itu juga, agar tidak dicurigai anak-anaknya yang lain jika dia telah bepergian jauh.


Dan beruntungnya dirinya, langsung mendapatkan tiket pesawat dengan waktu penerbangan yang tidak terlalu lama.


Yang lama hanyalah perjalanan daratnya dari rumah tahanan tempat Awan berada hingga ke bandara yang membutuhkan waktu satu jam setengah.


Kini, Ibu Santi sudah bernafas lega karena sudah berada didalam pesawat yang akan membawanya kembali ke kota tempat tinggalnya.


Kurang dari enam puluh menit dirinya sudah kembali berada dibandara kota tempat tinggalnya. Dengan cepat dia bergegas keluar mencari taksi yang akan membawanya pulang.


Di dalam taksi, jantungnya kembali berdebar dengan sangat cepat. Ibu Santi mencoba menenangkan dirinya agar jantungnya dapat berdecak dengan normal lagi. Sebenarnya dia juga takut jika kondisinya kembali drop.


**********


Satria baru saja memarkirkan mobil ibu Riska yang dipakainya untuk mengantarkan Raina. Setelah mobil terparkir dengan benar, Raina segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah membawa Al, tanpa berbicara apa pun pada Satria.


Satria merasa bersalah karena sudah tidak jujur pada Raina tentang Erlina.


Satria ikut masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar Raina. Dia mendapati Raina sedang duduk dipinggir kasurnya dengan menatap keluar jendela kamarnya.


"Ehem ...." Satria berdehem seolah memberitahukan jika ada dirinya didalam ruangan itu.


Raina menoleh sekilas sembari tersenyum tipis pada Satria dan kemudian kembali memandang ke arah luar.


Satria mendekat dan ikut duduk dipinggir kasur disebelah Raina.


"Tidak." jawab Raina datar.


"Ehm, apa kau ingin tahu tentang dirinya?" tanya Satria lagi.


"Sudah tidak." jawab Raina lagi dengan datarnya.


"Kenapa?" tanya Satria yang bingung dengan sikap Raina yang berubah seketika tidak ingin tahu apa-apa lagi darinya.


"Dari tatapan mata kalian tadi, aku bisa melihat, jika kalian pernah ada hubungan. Dan mungkin, wanita itu pernah jadi bagian terpenting dari hidupmu. Maka dari itu, aku tidak ingin kembali mengusiknya." jawab Raina.


Satria terbungkam mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Raina. Perkataan Raina seakan bagaikan busur panah untuknya.


"Aku masih melihat ada cinta yang dalam untukmu dari sorot matanya. Selesaikan lah urusan kalian dengan baik. Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini tanpa ada cinta yang tulus diantara kita. Aku tidak mau menjalani pernikahan ini karena kamu hanya simpati dan kasihan kepadaku. Dan aku akan ikhlas, jika pernikahan ini memang harus berakhir." ucap Raina dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya.


Perempuan yang umurnya jauh dibawah dirinya itu, kini sudah lebih dewasa setelah menjadi seorang ibu dan begitu sangat berbesar hati.


"Maaf, Rai .... Mas tidak bermaksud untuk menyakitimu. Tapi yang kamu ucapkan jika Mas ingin melanjutkan pernikahan ini karena Mas hanya bersimpati dan kasihan kepadamu, itu tidak benar. Memang rasa cinta ini kepadamu belum terlalu besar, tapi Mas akan terus berusaha dan belajar untuk mencintaimu setulus hati." ucap Satria.


Raina tak menggubris ucapan Satria, Raina tetap dengan tatapannya yang lurus kedepan menatap keluar jendela kamarnya. Namun dengan air mata yang terus mengalir bebas diantara kedua sudut matanya tanpa suara.


*******

__ADS_1


Ibu Santi sudah kembali ke rumahnya. Dia berjalan pelan masuk kedalam rumah. Rumah masih dalam keadaan sepi seperti pertama kali dia tinggalkan. Karena Bi Darsih telah diperintah untuk tidak bekerja hari itu. Dia sudah merebahkan tubuhnya yang lelah karena harus bepergian jauh dan harus pulang-pergi saat hari itu juga. Bahkan dirinya lupa tidak mengkonsumsi obatnya hari itu.


Karena rasa lelahnya, dirinya sampai tertidur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Suara langkah kaki yang memasuki rumah menyadarkan dirinya dari tidur sesaatnya. Bara sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Memang kebiasaan anak bungsunya itu, jika pulang sekolah akan langsung menemui mamahnya terlebih dahulu.


"Assalamualaikum, Mah." ucap Bara sembari mencium tangan mamahnya penuh takzim.


"Walaikumsalam, sayang." balas Ibu Santi sembari menyunggingkan senyumnya.


Bara menaikkan alisnya, saat menyadari jika mamahnya terlihat sangat lelah dan juga penampilan mamahnya yang seperti habis melakukan perjalanan jauh.


"Mamah baru bangun tidur siang? Sepertinya mamah lelah sekali." tanya Bara.


"Iya, mamah baru saja bangun saat mamah mendengar suara langkah kakimu masuk ke kamar mamah." jawab Ibu Santi.


"Mamah habis dari mana? Tumben pake baju kayak gini dirumah." tanya Bara lagi.


"Oh, mamah hanya jalan-jalan saja ke resto bundamu. Sudah lama sekali mamah tidak kesana semenjak mamah sakit." jawab Ibu Santi berbohong.


"Berarti mamah bawain makanan buat Bara, donk?" tanya Bara lagi yang terlihat senang seperti anak kecil.


Karena memang biasanya, jika Ibu Santi berkunjung ke resto milik adiknya itu tanpa bersama dengan anak-anaknya, ibu Santi selalu pulang membawakan makanan untuk anaknya dirumah. Terkhusus untuk Bara, dia selalu membawakan makanan favorit Bara dari resto itu.


Ibu Santi terlihat gugup, karena memang dia tidak berkunjung ke resto milik adiknya itu dan alasan yang digunakannya ternyata tidak tepat.


"Ehm, maaf sayang, mamah lupa. Tadi mamah buru-buru pulang, karena mamah lupa membawa obat mamah. Kamu tahu sendiri kan, kalau mamah harus tepat waktu mengkonsumsi obat itu." jawab Ibu Santi.


"Ok, deh. Bara ke kamar Bara dulu ya, Mah. Sudah gerah, mau ganti baju." ucap Bara yang diberi anggukan oleh mamahnya sebagai jawaban.


Bara keluar dari kamar mamahnya dengan masih menyimpan rasa curiga terhadap mamahnya.


**********


Setelah Raina tidak menggubris ucapannya, Satria memutuskan untuk pergi dari rumah Raina. Pikirannya menjadi bercabang-cabang.


Belum selesai masalah satu, sudah tumbuh masalah baru lagi yang semakin membuat dirinya dalam keadaan dilema.


Satria melajukan sepeda motornya, kali ini dia memutuskan untuk pulang. Karena dirinya juga tidak ingin membuat mamahnya khawatir pada dirinya, meskipun dia diacuhkan oleh mamahnya. Tetapi, dia harus tetap berbakti pada ibu yang telah melahirkannya itu. Karena dia tidak mau mamahnya terlalu berfikir cukup dalam yang akan menambah masalah lagi, jika mamahnya kembali sakit.


Note : biar gak penasaran, author kasih tahu perbedaan usia Raina dengan Satria itu sekitar 8 tahunan. Raina masih umur 18th dan Satria sudah 26th ☺️


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2