Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Dipisahkan oleh dinding


__ADS_3

Raina sudah melepas gaun pengantin nya dan menggantinya dengan baju santai biasa. Setelah itu, Raina ikut bergabung dengan keluarganya diruang keluarga dan masih ada Sandra serta Satria yang juga bergabung disana.


"Apa kamu sudah mempersiapkan barang-barang keperluan mu untuk dibawa?" tanya Satria pada Raina yang baru saja mendarat kan tubuhnya ditempat duduk.


"Barang? Dibawa kemana?" Raina kembali bertanya sembari menoleh ke ibu nya dan juga Satria.


"Barang-barang yang akan kamu bawa ke rumah barumu, Nak. Satria akan membawa mu kerumahnya malam ini juga." jawab Ibu Riska yang mengerti kebingungan anaknya.


"Secepat itu, kah?" tanya Raina lagi.


"Ehm, besok akan diadakan syukuran dirumah untuk memperkenalkan kamu sebagai istriku pada tetangga dan pada ketua rukun tetangga disana. Agar mereka tahu bahwa sudah ada penambahan anggota keluarga baru di rumahku." jawab Satria menjelaskan.


Raina menatap ibunya, seakan belum siap untuk meninggalkan rumah dan ibunya.


"Kemas lah barang-barang mu, Nak. Seperlunya saja dulu, kamu harus nurut apa kata suami mu. Kita masih berada dikota yang sama, bila kamu rindu dengan ibu, kamu bisa datang kesini sesuka hatimu. Karena pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Dan jika ibu ada kesempatan, ibu yang akan mengunjungi kalian disana." ucap Ibu Riska memberi pengertian kepada anaknya.


Raina pun menuruti apa kata sang ibu, dirinya kembali ke kamarnya untuk mengemas barang yang diperlukan nya untuk dibawa kerumah Satria yang dibantu oleh Sandra.


"Rai ...." panggil Sandra lirih.


"Ehm ... kenapa, San?" tanya Raina sembari menghentikan aktifitas nya.


"Aku berharap pernikahan kalian ini gak hanya sampai anak ini lahir saja, aku sangat berharap kalian dapat bersatu sampai maut yang memisahkan kalian. Semua keluarga ku sangat setuju, jika kamu dengan mas Satria berlanjut." ucap Sandra.


Raina menghela nafas panjang.


"Aku serahkan semuanya pada Tuhan, San. Aku hanya bisa berpasrah atas semua kehendak-Nya." tutur Raina dengan wajah sendunya.


Sandra mendekatkan tubuhnya dan memeluk sahabat karibnya itu.


"Aku yakin, kamu pasti bisa jadi istri sekaligus ibu yang terbaik." ucap Sandra sembari mengelus lembut punggung Raina.


"Terimakasih, San. Kamu selalu memberikan semangat untukku." balas Raina sembari melepaskan pelukan Sandra dan tersenyum kepada sahabatnya itu.


"Kembali kasih, Rai. Ehm, selama kamu disana nanti, kamu harus selalu sabar dan kuat, ya?" pinta Sandra pada Raina.


"Kenapa harus begitu?" tanya Raina.


"Karena semua orang disana sifatnya keras. Termasuk juga mas Satria. Jika, ada ucapan bude ku yang kasar ke kamu, kamu jangan langsung masukin ke hati, beliau memang seperti itu orangnya. Apa pun yang diucapkan, ikuti saja semua kemauan nya. Jangan membantah nya, meski gak sesuai sama apa kata hatimu." ucap Sandra memberi nasihat kepada Raina.


Dia paham sekali tabiat semua keluarganya termasuk sifat bude dan sepupu nya itu. Dia hanya takut, jika Raina tidak bisa menyesuaikan diri dengan keluarganya itu. Karena dia tahu, jika Raina mempunyai hati yang lembut, yang mudah sekali menangis jika mendengar kata-kata kasar dari mulut orang lain.

__ADS_1


Raina menganggukan kepalanya paham, setelah mendengar wejangan dari sahabatnya itu.


Setelah mengemas barang-barang yang akan dia bawa untuk pindah kerumah mertuanya, Raina dan Sandra pun keluar dari kamar menuju ruang keluarga.


"Sudah siap?" tanya Satria.


"Iya, Mas." jawab Raina.


"Bu, semuanya, kami pamit pulang." ucap Satria pada Ibu Riska dan kedua saudara lelaki Raina.


"Iya, Nak. Jaga Raina baik-baik ya, Sat?" pinta ibu Riska.


"Iya, Bu. Itu sudah pasti." jawab Satria sembari mengangkat tas yang berisi keperluan Raina.


Raina pun berpamaitan dengan ibunya dan juga kedua saudara laki-laki nya. Dia memeluk satu per satu anggota keluarga nya itu.


"Kamu yang baik disana. Jaga calon keponakan ku ini." ucap Aldo sembari mengelus perut Raina.


"Iya, Kak pasti."jawab Raina dan tersenyum pada kakak nya itu.


Raina, Satria dan Sandra pun sudah berada didalam mobil yang sama. Sandra memang tidak membawa mobil nya sendiri sehingga, Satria harus mengantar nya pulang terlebih dahulu.


Setelah mengantarkan Sandra, suasana didalam mobil menjadi hening. Karena sepanjang perjalanan dari rumah Raina ke rumah Sandra, hanya Sandra lah yang selalu membuat kedua pasangan suami istri itu tertawa karena mulut cerewet nya Sandra.


Mobil telah berhenti dihalaman rumah Satria.


"Rai, ayo turun." ajak Satria. Namun, yang dipanggil sama sekali tidak menjawab atau melakukan pergerakan apa pun.


Satria yang sudah turun mengeluarkan barang-barang milik Raina, kembali memasukkan badannya kedalam mobil untuk melihat Raina yang tidak keluar juga dari dalam mobil.


Satria menghela nafasnya, setelah mendapati Raina yang begitu pulas nya tertidur.


Satria mencoba mendekatkan dirinya untuk membangunkan Raina.


Deg, ada debaran yang kembali terasa saat dia harus menatap wajah indah Raina yang tertidur.


"Kamu, meski sedang tidur aja secantik ini." puji Satria sembari mengelus lembut pipi Raina.


Raina terbangun, setelah merasa ada yang menyentuh dirinya. Sontak keduanya pun sama-sama terkejut. Satria pun memundurkan badannya, begitu pula dengan Raina.


"Maaf, aku hanya ingin membangunkan mu." ucap Satria yang terlihat gugup.

__ADS_1


"He, aku ketiduran ya? Maaf, Mas. Aku lelah sekali." balas Raina dengan senyum canggung yang dipaksakan.


"Ayo turun, kita sudah sampai." ajak Satria kembali.


"Oh ...." ucap Raina sembari mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya dan dia baru tersadar dari tidurnya jika dirinya benar sudah berada dirumah Satria.


Raina pun keluar dari mobil dan mengikuti langkah Satria memasuki rumah itu.


"Assalamualaikum ... Satria pulang, Mah." sapa Satria pada mamah nya.


Raina pun ikut mengekor Satria hingga ke kamar Santi, ibu mertuanya.


"Assalamualaikum, Mah." sapa Raina sembari mencium tangan mertuanya dengan takzim.


"Walaikumsalam, kamu sudah siap tinggal disini menemani mamah?" tanya Ibu Santi kepada menantunya itu.


"Insya Allah, Raina siap, Mah." balas Raina sembari tersenyum.


"Sat, antar Raina ke kamarnya. Dia sudah terlihat lelah sekali." ucap Ibu Santi.


"Ke kamarnya? Kita gak satu kamar?" tanya Satria.


"Tidak. Selama Raina hamil kalian tidak boleh satu kamar, tunggu kalian sudah kembali melakukan akad nikah ulang barulah kalian boleh sekamar." jawab Ibu Santi.


"Sementara ini, biarkan Raina yang menempati kamarmu, dan kamu menempati kamar Awan. Semua sudah dibersihkan sama Bi Darsih." tambah Ibu Santi lagi.


Satria pun tak membantah lagi dengan ucapan mamah nya. Dia membawa Raina masuk ke dalam kamarnya.


"Istirahat lah, jika kamu perlu sesuatu katakan saja. Aku ada dikamar sebelah." ucap Satria pada Raina.


Raina hanya menganggukan kepalanya mengerti. Satria pun meninggalkan Raina.


Raina mengedarkan pandangan nya pada setiap sudut dikamar itu. Kamar Raina dan Satria bersebelahan dan terpisahkan dengan dinding tembok saja.


Raina menutup dan mengunci pintu kamarnya, kemudian dia merebahkan tubuhnya dikasur yang biasanya ditempati Satria.


Raina menatap langit-langit kamar, merenungi semua yang terjadi padanya. Hingga hari ini, dia telah resmi dimata hukum menyandang status sebagai istri dari keluarga Sanjaya. Tapi, tidak dengan agama yang tidak memperbolehkan keduanya berkumpul selama masih dalam kondisi mengandung.


Raina meneteskan air matanya, mengingat perjalanan yang tak mudah dia lalui hingga dirinya bisa berada dikamar ini. Hingga matanya lelah dan perlahan-lahan menutup dengan sendirinya. Dirinya kembali terlelap dalam buaian malam yang menghanyutkan.


Mohon like, komen, vote dan sertakan rate kalian ya ☺️

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berharga untuk author πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2