Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
POV Sandra 1


__ADS_3

Namaku Sandra, dari awal masuk Sekolah Menengah Kejuruan aku sudah berteman dengan Raina.


Dia anak yang sangat sederhana dan tidak neko-neko seperti anak yang lain. Dari duduk di kelas sepuluh sampai dengan dua belas kami selalu bersama. Bisa dibilang kami sudah seperti amplop dan prangko yang tidak dipisahkan.


Entahlah, aku merasa sangat nyaman berteman dengan dirinya. Meski aku tahu dia dari latar belakang keluarga yang pecah, tapi dia bisa hidup rukun dengan kedua saudaranya.


Cukup banyak hal yang aku ketahui tentang dirinya, kami saling berbagi cerita dan melengkapi satu sama lain. Aku tidak pernah memandang dirinya dari segi apa pun, karena aku niat berteman dengannya tulus tidak ada maksud lain.


Karena saking dekatnya, aku sudah menganggap dirinya seperti saudara sendiri. Dan aku sering sekali menceritakan kehidupan nya dengan bundaku. Sehingga bunda pun sudah menganggap Raina sebagai anak sendiri.


Hingga saat itu, aku mengajak Raina untuk menemui bunda di resto sekedar mengajak nya makan siang. Dan pertemuan ini juga awal mula dirinya bertemu dengan mas Awan, kakak sepupuku yang bekerja sebagai barista di resto milik bunda.


Dari awal mas Awan melihat Raina sudah ku duga bahwa dirinya menyukai Raina dari cara dia menyapa dan menatap Raina. Sehingga aku berinisiatif untuk mendekatkan mereka berdua.


Seiring berjalannya waktu, ku lihat hubungan mereka nampak baik-baik saja. Raina suka bercerita tentang kedekatan nya dengan mas Awan, meski aku tahu Raina bukan lah perempuan yang mudah diajak menjalin hubungan lebih dari sekedar teman.


Tak apalah, pikirku mungkin dengan seperti ini Raina akan bisa merasakan gimana rasanya jatuh cinta.


Hahaha ... konyol memang melihat sikap Raina yang polos. Ya, itu kali pertama nya dia merasakan berdebar bila dekat dengan laki-laki. Bagaimana polos nya dia menceritakan rasa perutnya yang tergelitik oleh kupu-kupu.


Ah, Raina, di usia remaja nya yang tak pernah memikirkan perasaan cinta selain belajar dan berjuang untuk kehidupannya.


Aku rindu dengan sahabat ku itu.


"Ehm, hari ini gak ada kuliah, mending ke resto ketemu Raina, sudah lama banget gak ketemu dia." gumamku.


Aku bersiap, melangkah menuruni anak tangga dan menuju ruang baca bunda untuk meminta izin beliau.


Tok... Tok.. Tok..


"Iya, masuk." ucap Bunda dari dalam ruang baca nya.

__ADS_1


"Asalamualaikum, Bun ...." sapaku


"Walaikumsalam ... eh, sayang ada apa?" tanya Bunda.


"Bun, Sandra izin mau pergi ke resto boleh, ya." pintaku.


"Boleh donk, nanti Bunda juga kesana mau periksa data keuangan dari Raina. Tapi gak sekarang, mungkin agak sorean. Kamu sudah makan siang?" tanya Bunda.


"Sandra makan siang di resto aja, Bun, sekalian makan bareng Raina. Sudah lama banget Sandra gak makan bareng sama dia." ucapku.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu hati-hati nyetirnya, jangan ngebut-ngebut lagi dijalan. Kalau Bunda sampai tahu kamu ugal-ugalan lagi, sudah dipastikan kemana-mana harus diantar sama supir." ucap Bunda menasihati.


"Hehehe ... siap Ibu Bos! Janji deh, gak akan Sandra ulang lagi. Sandra berangkat ya, Bun. Assalamualaikum." ucapku sembari mencium pipi Bunda.


"Walaikumsalam"


********


Mobil memasuki halaman parkir resto, segera ku parkirkan mobilku dan segera turun langsung masuk menuju kantor.


Tok... Tok... Tok...


Aku mengetuk pintu kantor. Tak ada jawaban dari dalam. Segera ku buka pintu kantor dan memasuki nya. Ternyata Raina lagi sibuk dengan pekerjaannya.


"Assalamualaikum ... Ibu admin." sapaku dengan tertawa mendengar ucapanku sendiri.


Raina terkaget melihat kedatangan ku dan ia pun ikut tertawa mendengar julukan yang ku berikan padanya.


"Walaikumsalam, hahaha ... kamu ini, San, ada-ada aja." jawab nya.


Setelah sedikit berbasi-basi, saling menanyakan kabar satu sama lain, aku pun mengajak Raina untuk makan siang bersama.

__ADS_1


Setelah menuruni tangga, Raina langsung menyandarkan tubuhnya di sofa yang terletak di pojok resto. Namun, aku tidak mengikuti dirinya, aku mengajak nya untuk makan di pantry.


Entah kenapa dia menolak ajakan ku, dua kali dia berhenti hendak berbalik.


Aneh nih, anak. Biasanya kalau diajak ke belakang pasti senang banget.


Kecurigaan ku tidak berhenti pada sikap Raina yang terkesan aneh, tapi juga dengan mas Awan yang terlihat mengacuhkan kedatangan Raina.


"Ada apa ya, dengan mereka berdua? Apa mereka lagi berantem? Kok, Raina gak ada cerita sama aku."


Banyak pertanyaan yang muncul diotakku. Tapi mereka yang ditanya menjawab jika tidak ada masalah apa-apa diantara mereka.


"Hmmm, baiklah jika tidak ada yang bicara jujur, aku bakal cari tau sendiri."


Selesai sudah makan siang bareng Raina, cukup banyak cerita yang kami bicarakan yang membuat kami berdua hanyut dalam obrolan yang ngelantur kemana-mana, sedikit mengalihkan pikiran ku dari sikap mas Awan dan Raina yang mencurigakan.


Sanking asiknya tertawa berhaha hihi ria, tanpa sadar Raina menabrak seorang wanita paruh baya yang hendak masuk ke toilet.


Dan betapa kaget nya, ternyata itu adalah ibu nya Raina.


Terjadi perdebatan antara ibu dan anak. Dan ini kali pertama nya aku lihat Raina seberani itu mengeluarkan semua amarah nya. Aku pun turut ikut terbawa suasana melihat apa yang sudah terjadi di depan ku.


Raina sangat terpukul, menangis sejati-jadinya tanpa menghiraukan lagi sekelilingnya. Tanpa ku sadari, sudah ada bunda yang berdiri tidak jauh dari tempat kami berdiri.


Aku hendak mengejar Raina yang sudah berlari menuju kantor meninggalkan semuanya. Namun, bunda menahan ku untuk tidak mengejar nya.


Sedangkan ibu nya Raina sudah tersandar di dinding sembari menangis. Entah apa yang harus aku lakukan dengan situasi seperti ini. Bunda seperti memahami kepanikan ku. Beliau berjalan dengan santai mendekati aku dan ibu nya Raina.


Bunda pun akhirnya mengajak ibu nya Raina memasuki ruang tamu VVIP yang tersedia diresto milik bunda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2