
"Oh ya, aku mau kasih tahu kamu. Kalau sekarang kita sudah pindah rumah di jalan anggrek. Kapan-kapan kamu main ya, kerumah." ucap Satria pada Ridho.
"Jalan anggrek! Wah, berarti gak jauh dari apartemen ku, dong. Kamu beli rumah didaerah itu?" tanya Ridho.
"Iya, biar dekat sama tempat kerja. Hahaha, belum cukup uangnya untuk beli rumah. Sementara ini, kami masih menyewa." jawab Satria dengan sedikit tertawa yang dipaksakan.
"Gayamu ... gaji besar, pasti banyak tabungan, dong. Kamu kemanain tuh, duit?" tanya Ridho tanpa menghiraukan ekspresi wajah sahabatnya yang meminta untuk tidak membicarakan masalah finansialnya.
"Kamu pasti tahu, lah ... kemana itu uang?" ucap Satria datar tanpa menjelaskan lebih detail.
Sebenarnya Satria bisa saja bercerita masalahnya tabungannya yang diambil alih oleh mamahnya itu pada sahabatnya. Tapi, Satria tidak mungkin menjelaskannya didepan Raina dan juga Renita.
" Mas, sepertinya Al sudah mulai mengantuk. Sebaiknya kita pulang, hari juga sudah semakin malam." ujar Raina yang menenangkan Al yang mulai rewel karena mengantuk.
"Iya, kasihan si kecil kalau kalian pulang terlalu malam." ucap Renita menimpali ucapan Raina.
"Ok. Kalau gitu, kita pamit pulang duluan, ya. Kalian silahkan lanjut lagi pedekate nya." ucap Satria.
"Hahaha, kami juga mau pulang, kok." balas Ridho dengan sedikit tertawa.
Mereka pun akhirnya saling berpamitan. Setelah membayar makanan yang mereka makan, mereka pun keluar dari angkringan tersebut dan berjalan menuju ke arah parkiran dan saling menuju pada kendaraan masing-masing. Ridho dan Renita masuk ke dalam mobil yang dikendarai Ridho. Sedangkan Raina dan Satria kini sudah berada diatas sepeda motor milik Satria.
Karena arah tujuan mereka sejalan, maka kendaraan mereka pun berjalan dengan beriring-iringan. Namun, beberapa menit kemudian mereka harus berpisah. Satria sudah berbelok masuk ke arah gang rumahnya, sedangkan Ridho masih terus lurus.
Hanya berjarak dua ratus meter dari jalan besar, akhirnya Satria dan Raina pun tiba drumah mereka.
Raina segera turun dari sepeda motor, Satria pun membantu melepaskan helm yang masih bertengger dikepala Raina. Setelah melepaskan helm yang berada dikepala Raina, Satria dengan cepat membukakan pintu rumah untuk Raina. Karena dari sepanjang jalan pulang, Al sudah terlelap dengan sangat pulasnya didalam pelukan Raina, membuat perempuan bertubuh mungil itu kesusahan membuka kunci pintu karena harus menggendong Al yang bertubuh gemuk.
Raina segera masuk ke dalam kamar tidur dan meletakkan Al diatas kasur milik Al sendiri. Kasur bayi yang terbuat dari kayu jati yang mengelilingi kasur tersebut sengaja ibu Riska memesankannya khusus untuk Al, karena tidak ingin jika Al kembali terjatuh lagi saat tertidur.
Raina membuka kaus kaki dan juga jaket yang dikenakan anaknya itu, setelah itu barulah dirinya yang berganti dengan pakaian tidur. Raina yang lupa untuk menutup pintu kamar itu tanpa sadar sudah ada Satria yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Satria melihat dengan jelas punggung Raina yang putih, bersih dan mulus itu saat Raina membuka baju yang ia kenakan saat keluar tadi. Satria hanya diam terpaku menikmati pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, dengan susah payah dia menelan salivanya.
Karena dia adalah lelaki normal, naluri kelelakiannya pun keluar. Ada sesuatu yang menegang saat melihat tubuh molek Raina.
"Shit, kenapa jadi begini, sih?" gumam Satria.
Raina pun menoleh ke arah belakang saat mendengar samar-samar gumaman Satria. Mereka berdua pun sama-sama terkejut.
"E - ehm ... sejak kapan Mas disitu?" tanya Raina gugup dan menahan malu jika Satria melihat dirinya saat berganti baju.
"Ehm ... ehm ... i - itu, da - barusan. Iya, barusan aja aku mau masuk." jawab Satria terbata, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Setelah menjawab pertanyaan Raina, Satria malah langsung beranjak kembali keluar dari kamar. Sementara Raina masih bingung dengan sikap Satria yang gugup seperti maling yang ketahuan akan mencuri.
"Hah! Apa dia berbohong? Kalau dia barusan aja masuk, kenapa dia seperti maling yang tertangkap basah akan mencuri? Itu tandanya ...." Raina menutup wajahnya malu.
"Dia melihat tubuhku! Ah, Raina kenapa kamu ceroboh tidak menutup pintu dan menguncinya?" Raina mengumpat dirinya sendiri.
Raina segera naik ke atas kasur dan membenamkan tubuhnya dalam balutan selimut.
Setelah menghabiskan dua batang rokok dan dirasa sudah lebih tenang, Satria pun memutuskan masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan semua pintu dan jendela tertutup dan terkunci, Satria pun melangkah masuk ke dalam kamar.
Sesampainya didalam kamar, Satria mendapati Raina yang membungkus dirinya dengan selimut tebal. Satria menggelengkan kepalanya melihat tingkah Raina.
Satria pun membaringkan tubuhnya diatas kasur yang sama dengan Raina. Satria kembali menggelengkan kepalanya ketika mendapati sebuah guling yang sengaja diletakkan Raina ditengah-tengah kasur sebagai pembatas. Akhirnya, mereka pun tidur dengan saling memunggungi dan sama-sama berada diujung kasur.
*********
Subuh sekali Raina sudah bangun, tak lupa pula dia membangunkan Satria saat adzan subuh berkumandang.
"Mas, Mas, bangun." ucap Raina yang berdiri didepan Satria.
__ADS_1
Satria hanya menggeliat diatas kasur tanpa membuka mata dan membuat Raina kembali membangunkannya.
"Mas bangun, itu sudah adzan subuh." ucap Raina yang kembali membangunkan Satria.
Satria mengerjapkan kedua matanya, karena kesadarannya belum sepenuhnya kembali dari tidur, Satria kaget saat melihat ada sesosok perempuan berdiri tepat dihadapannya dengan mengenakan gaun tidur berwarna putih dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Sontak Satria terlonjak mundur dan berteriak, membuat Raina juga ikut memundurkan badannya.
"Astagfirullah ...." ucap Raina sembari mengelus dadanya yang terkejut mendengar teriakan Raina.
Saat mendengar Raina beristighfar, barulah Satria sadar bahwa yang berada didepannya adalah manusia bukanlah hantu.
"Rai, itu kamu?" tanya Satria dan mendekatkan tubuhnya pada Raina untuk memastikan.
"Iya lah, ini aku. Memang Mas pikir aku siapa? Kuntilanak!" gerutu Raina.
"Ya, habisnya kamu mengagetkan Mas. Sudah pake gaun putih gini, terus rambut panjang gitu kenapa gak diikat?" Satria kembali mencecar Raina.
"Hush, jangan berisik nanti Al bangun. Ayo, sholat subuh nanti keburu habis waktunya." Raina mengomeli Satria.
Satria pun beranjak dari kasur menuju kamar mandi tanpa bantahan. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Satria kembali masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Raina.
Ini pertama kalinya untuk mereka berdua sholat bersama. Setelah selesai sholat, seperti seorang istri pada umumnya, Raina mencium punggung tangan Satria penuh takzim.
Tak terasa air mata Satria menggenang disudut matanya, kala Raina mencium punggung tangannya untuk kedua kalinya. Saat selesai akad nikah dan saat setelah sholat ini. Ada suatu ketenangan yang tak bisa dijelaskan yang ia rasakan.
Dengan cepat dia menyeka air mata dan juga membalikkan badannya ketika Raina selesai mencium tangannya, agar perempuan yang bergelar sebagai istrinya itu tak melihat dirinya yang sedang meneteskan air mata.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π