Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Tak disangka


__ADS_3

Empat puluh hari sudah usia si kecil Al, itu berarti masa nifas Raina pun telah berakhir. Satria sudah bekerja dikota nya kembali. Satria selalu menyempatkan dirinya untuk mengunjungi Al dan juga Raina. Begitu pula dengan Ibu Santi yang juga selalu datang setiap hari untuk menemui cucunya itu.


Tapi, entah kenapa beberapa hari belakangan ini, eyang uti dari Al itu tidak pernah datang lagi. Jadi, Raina berinisiatif untuk mendatangi rumah mertuanya itu. Dia khawatir dengan kesehatan wanita paruh baya yang masih berstatus kan sebagai mertuanya itu. Tapi, sebelum pergi kesana, dia menelepon ibu Santi terlebih dahulu.


Panggilan terhubung dan langsung dijawab oleh orang disenerang sana.


[Hallo, assalamualaikum ... Rai.]


[Walaikumsalam, Mah. Mah ... Apa Raina boleh berkunjung ke rumah mamah bersama Al?]


[Tentu saja boleh, sayang. Tapi, maaf ... mamah tidak berada dirumah sekarang.]


[Oh, apa mamah baik-baik saja? Karena beberapa hari ini, mamah tidak pernah datang lagi kesini. Raina mengkhawatirkan mamah.]


[Mamah baik-baik saja, kok. Kamu tak perlu khawatir dengan mamah.]


[Ehm, kalau begitu Raina tutup ya Mah, teleponnya.]


[Iya, sayang.]


Panggilan pun diakhiri. Tapi, entah kenapa setelah menelepon mertuanya, perasaan Raina menjadi semakin tidak enak.


"Semoga hanya perasaanku aja dan bukan apa-apa." gumam Raina.


********


Dikediaman Ibu Santi.


Ibu Santi terdiam disisi kasurnya, dirinya sedang berfikir untuk melakukan sesuatu. Dia sudah berbohong pada Raina. Pada saat Raina meneleponnya, sebenarnya dirinya hanya berdiam diri dirumah dan tidak sedang berada dimana pun seperti yang telah ia bilang pada Raina.


Sebelum hari ke empat puluh Al, dirinya memang rajin datang mengunjungi Al, cucunya itu dikediaman Raina. Namun, bukan hanya sekedar untuk berkunjung melainkan dirinya bermaksud untuk menjauhkan Al dari Raina. Dengan dalih memberikan kesempatan pada Raina untuk melanjutkan pendidikannya lagi atau bekerja kembali dan menyerahkan pengasuhan Al pada baby sitter yang akan dia sewa.


Dua minggu berturut-turut dirinya terus berusaha, namun sayangnya Raina tidak bisa diperdaya. Raina tetap pada pendiriannya untuk mengasuh anaknya sendiri.


"Apa aku harus memulainya sekarang?" gumam Ibu Santi.


********


Satria bekerja dengan penuh semangat. Semenjak statusnya bertambah menjadi seorang ayah untuk Al, dirinya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak itu.

__ADS_1


Dia selalu merasa rindu pada Al dan selalu ingin cepat pulang untuk dapat bertemu dengan Al. Baginya, Al adalah pelipur hati untuknya serta sebagai pelepas penat dikala dirinya merasa jenuh.


"Pak Satria, ada unit urgent yang harus dikerjakan saat ini. Perusahaan ABUM ingin segera unitnya dikirim besok pagi. Jadi, saya harap bapak bisa mengerjakannya segera." ucap Supervisor bagian Maintenance yang datang menghampiri Satria.


Satria adalah mekanik senior yang sangat diandalkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Selain karena dia memang sangat piawai dalam bidangnya, Satria selalu bekerja dengan sangat rapi, detail dan sangat cepat dalam memperbaiki setiap unit alat berat yang datang untuk diperbaiki dari perusahaan lain yang bekerja sama dengan perusahaannya.


"Berapa unit yang masuk, Pak?" tanya Satria.


"Ada tiga unit, Pak." jawab Supervisor itu.


"Siap, Pak." ucap Satria.


Dengan gesit Satria menyelesaikan tugasnya yang pertama dan setelah itu barulah dirinya beranjak ke pekerjaan selanjutnya yang telah menanti dirinya.


Satria meneliti kerusakan-kerusakan pada tiap-tiap unit yang sudah masuk ke dalam workshopnya itu.


"Seperti ini harus dilemburin." gumam Satria.


Dia memanggil kedua helper kepercayaannya untuk membantunya agar dapat selesai dengan cepat.


*********


Tiga puluh menit kemudian, dia sudah tiba ditempat tujuannya. Dia keluar dari mobilnya dan kemudian berdiri tegak menatap lurus rumah yang sudah ada dihadapannya.


Dia kembali meyakinkan dirinya bahwa apa yang akan dia lakukan sekarang adalah benar.


Kakinya mulai melangkah kearah rumah bertingkat yang sederhana didepannya. Kini langkahnya sudah terhenti tepat didepan pintu rumah itu.


Ibu Santi mulai mengetuk pintu itu, menunggu sampai sang tuan rumah membukakan pintu rumah untuknya.


*******


Ibu Riska menyusun makanan yang telah dimasaknya dimeja makan. Sementara Raina menemani Al yang mulai aktif ingin ditemani berbicara. Meskipun berbicara ala bayi tentunya, tapi si kecil Al seolah sudah mengerti dan dia selalu tertawa mau pun tersenyum kala Raina berbicara dengan nada yang lucu dan jika Raina berhenti berbicara, maka Al akan terlihat seperti akan menangis.


Sedangkan Aldo dan Bara sedang asik menonton serial komedi kesukaan mereka ditelevisi. Disaat ibu Riska memanggil anak-anaknya untuk makan malam bersama, disaat itulah mereka mendengar suara pintu rumah mereka diketuk.


"Siapa yang bertamu jam segini?" tanya Aldo pada Raka dan mereka pun saling pandang.


"Do, buka pintu! Liat, siapa yang datang. Mungkin itu Satria." ucap Ibu Riska setengah berteriak.

__ADS_1


Aldo segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu pada tamu yang datang.


"Ibu ... mari silahkan masuk, Bu. Saya pikir Satria, karena biasanya jam segini dia yang kesini." ucap Aldo sembari mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Gak, saya sendiri kesini. Sengaja, sekalian mampir dari jalan." ucap Ibu Santi.


"Eh, Ibu Santi yang datang ... Ibu sendiri kesini?" tanya Ibu Riska yang baru saja keluar dari dapur.


"Iya, saya sendiri." jawab Ibu Santi sembari tersenyum tipis.


"Ayo Bu, masuk. Sekalian makan malam bareng disini." ajak Ibu Riska.


"Gak, Bu. Saya disini aja. Ada yang ingin saya bicarakan. Ini menyangkut hubungan anak-anak kita." jawab Ibu Riska dengan nada tegasnya.


Tak lama kemudian, Raina keluar dari kamarnya meninggalkan Al yang sudah tertidur. Raina melangkahkan kakinya ke ruang tamu untuk mendatangi ibu mertuanya itu, setelah Aldo memberitahukan kedatangan ibu Santi.


Disana sudah ada ibunya dan juga kakaknya dengan wajah bingung.


"Mamah ...." sapa Raina sembari mencium punggung tangan mertuanya dengan penuh takzim dan kemudian ikut duduk disebelah ibunya.


Ibu Santi hanya membalas sapaan Raina dengan senyuman.


"Berhubung ada Raina juga disini, jadi saya akan memberitahukan maksud kedatangan saya kesini." ucap Ibu Santi.


Raina dan ibunya saling pandang dan tak bersuara. Menunggu Ibu Santi melanjutkan omongannya, begitu pula dengan Aldo. Dirinya merasa ada hal besar yang akan disampaikan oleh ibu mertua adiknya ini.


"Maksud kedatangan saya kesini, saya ingin membicarakan hubungan Raina dengan Satria. Jujur, saya berat untuk menerima pernikahan kalian berdua selanjutnya. Bagaimana pun juga Satria bersaudara dengan Awan. Saya tidak mau jika nanti, hubungan kedua kakak beradik ini tambah menjadi jauh karena pernikahan ini. Mengingat Awan juga mencintai Raina dan hubungan Satria dengan Awan selama ini tidak akur. Saya takut, jika akan ada dendam dihati anak saya yang satu itu. Jika Raina berkenan, sebaiknya Raina kembali membuka hati untuk Awan, tapi jika Raina tidak bisa, lebih baik semua hubungan ini diakhiri saja. Agar tidak ada yang saling cemburu dan sebelum perasaan antara Raina dan Satria juga belum terlalu jauh." ucap Ibu Santi dengan tenangnya menyampaikan maksud hatinya.


Tubuh Raina terasa bagaikan tersambar petir, baru saja dia ingin kembali menata hatinya untuk Satria, kini hal yang tak pernah dia sangka mertuanya meminta untuk dirinya untuk kembali dengan Awan, orang yang jelas-jelas sudah sangat menyakiti hatinya.


Maaf kemarin author hanya bisa UP satu eps, karena ada gangguan dari si krucil, author gak bisa fokus berfikir πŸ˜…


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2