Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Unek-Unek Raina


__ADS_3

Setelah merapikan alat sholatnya, Raina bergegas menuju dapur untuk membuatkan sarapan dan bekal untuk suaminya serta membuatkan MPASI untuk Al.


Raina sengaja membuat MPASI untuk Al agar lebih sehat. Dari awal Al mulai belajar makan, Raina sudah membuatkan MPASI sendiri untuk anaknya dan tidak pernah memperkenalkan Al pada bubur instan bayi yang banyak diperjual belikan dipasaran.


Sementara Raina berkutat didapur, Satria membantu membersihkan rumah agar dapat mengurangi beban pekerjaan Raina. Setelah semua bersih, Satria pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena dirinya harus berangkat bekerja pagi itu.


"Ehm ... aromanya menggiurkan. Sepertinya enak, nih." ujar Satria yang sudah rapi mengenakan seragam kerjanya dan duduk dihadapan hidangan yang sudah tertata rapi dimeja makan.


Raina yang mendengar pujian dari Satria pun hanya tersenyum dan mendekat ke arah lelaki itu untuk menyajikan sarapannya.


"Kamu tidak ikut sarapan, Dek?" tanya Satria.


"Mas, duluan aja. Raina selesaikan ini dulu." jawab Raina sembari menunjukkan makanan yang dikemas didalam kotak bekal.


"Itu untuk apa, Dek?" tanya Satria lagi.


"Ya, untuk Mas bawalah. Ini bekal untuk, Mas." jawab Raina.


"Terimakasih, ya." ucap Satria sembari menyunggingkan senyumnya.


Raina pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Satria pun bergegas mempersiapkan dirinya untuk berangkat bekerja.


"Dek, Mas berangkat kerja dulu, ya. Kamu baik-baik dirumah bersama Al. Jika ada sesuatu langsung hubungi Mas." ucap Satria


"Iya, Mas." balas Raina sembari menyerahkan tas yang biasanya dibawa Satria jika bekerja dan tak lupa Raina juga mencium tangan Satria penuh takzim.


"Mas berangkat dulu, assalamualaikum." ucap Satria.


"Walaikumsalam ...." balas Raina.


Sepeda motor Satria sudah menghilang dari pandangan Raina, Raina pun kembali masuk ke dalam rumah untuk melihat Al.


"Wah, anak bunda sudah bangun." ucap Raina yang melihat Al sudah membuka matanya, menghentak-hentakkan kakinya diatas kasur dan juga memberikan tangannya meminta diangkat.


Raina pun mengerti maksud anaknya dan mengangkat tubuh Al ke dalam gendongannya.


"Ayo, kita rebus air dulu buat mandi adek." ucap Raina sembari menciumi pipi Al dan membawanya menuju dapur.


Raina dengan telaten mengurus anaknya, seharian penuh tak kenal lelah dirinya benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan juga ibu. Dengan ikhlas dan senang hati dia melakukannya. Meski sesekali, dirinya harus kembali menghadapi situasi yang membuat emosinya memuncak, namun dengan cepat dirinya berusaha untuk mengendalikan dirinya.


Dan tak lupa pula dia meminum obat yang telah diberikan oleh dokter psikiaternya untuk menenangkan dirinya.


********

__ADS_1


Hari demi pun hari berlalu, seperti hari-hari sebelumnya Raina hanya melakukan rutinitasnya dirumah seperti biasanya. Hingga perasaan jenuh dan bosan pun terkadang sering kali menyergap pikirannya.


Hari ini, tepat sebulan sudah mereka menempati rumah sewaan itu. Sore itu, Raina dan Al bermain diteras rumah sembari menunggu kepulangan Satria.


Setengah jam kemudian, terdengar deru sepeda motor yang dikendarai Satria mendekat ke arah rumah. Dari jauh Al sudah mengenali jika itu adalah Satria, Al pun berpegangan pada tralis yang memagari teras rumahnya itu dan mengintip Satria dari balik celah-celah tralis sembari berloncat-loncat ala bayi.


Betapa senangnya Al saat melihat Satria yang sudah mendekat dan memarkir kan sepeda motornya. Al berteriak-teriak dan mengoceh tidak jelas.


"Assalamualaikum, anak gantengnya ayah ...." ucap Satria yang membuka pagar teras rumahnya.


"Walaikumsalam, ayah ...." balas Raina sembari tersenyum dan mencium punggung tangan Satria.


Satria pun langsung mengambil Al dan menggendong anak laki-laki itu.


"Anak ayah sudah harum, sudah mandi, ya?" ujar Satria sembari mencium pipi Al.


"Iya dong, memangnya ayah yang masih bau." ucap Raina menimpali ucapan Satria.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, Satria menurunkan Al dari gendongannya.


"Al turun dulu, ya. Ayah mau mandi dulu, nanti main lagi." ucap Satria meletakkan Al di ruang tamu.


Satria pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket karena keringat yang sudah mengering. Sementara Raina, membuatkan minuman hangat untuk Satria dan juga menghangatkan makanan, karena biasanya Satria akan makan lebih dulu tanpa menunggu makan malam.


Betul saja, setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian rumah, Satria langsung duduk diruang makan dan mengambil makanan yang sudah disediakan oleh Raina karena rasa lapar yang sudah mendera perutnya.


"Al, ayah hari ini gajian. Nanti ayah akan belikan apa pun yang Al mau." ucap Satria, yang memang hari itu adakah hari gajian Satria.


"Benarkah, itu ayah?" tanya Raina dengan menurunkan suara anak kecil.


"Iya, dong. Kan, ayah cari uang memang untuk Al. Jadi, apa pun yang Al mau akan ayah turuti. Nah, kalau bunda ini aja." jawab Satria sambil mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan menyerahkan nya pada Raina.


Entah kenapa Raina merasa tersinggung dengan perkataan yang diucapkan oleh Satria. Raina masih diam ditempatnya tanpa mengambil uang yang diberikan oleh Satria.


"Kok, bengong aja. Ini gaji untuk mu. Gak mau, nih? Ya, sudah masuk lagi deh, dalam dompet. Besok jangan minta-minta uang belanja, ya?" canda Satria.


Namun, candaannya itu ternyata membuat Raina merasa tersinggung. Raina hanya tersenyum getir saat Satria mengatakan itu.


"Hahaha, iya. Kamu kan, tuan nya. Saya disini hanya numpang dan jadi babu buat kamu. Masih mending jadi pembantu diluar sana yang nyata dapat gaji lebih besar daripada yang kamu kasih." ucap Raina dengan tertawa yang dipaksakan.


"Eh, apa sih, Dek? Kok, gitu ngomongnya?" balas Satria.


Raina segera mengambil Al dan memeluk anaknya itu.


"Nanti bunda kerja juga ya, Nak. Al nanti sama nenek kalau bunda kerja. Biar bunda juga bisa memberikan apa pun yang terbaik untuk Al." sindir Raina.

__ADS_1


Memang selama ini, Raina tidak pernah mengetahui berapa besar jumlah gaji Satria. Bahkan Satria tidak memberikan kepercayaan penuh pada Raina untuk mengelola uang gajinya seperti istri pada umumnya. Satria hanya menjatah uang belanja harian untuk Raina. Dan Raina akan mengadu padanya jika ada sesuatu yang habis dan diperlukan. Bahkan, Satria tidak pernah menanyakan apa pun keinginan Raina. Satria seakan-akan hanya mementingkan Al, itu yang membuat Raina semakin berfikir jika hanya Al yang memang Satria perjuangkan.


"Dek, kamu kenapa, sih?" tanya Satria yang mulai bingung dengan sikap Raina.


"Seharusnya kamu sadar sendiri, Mas. Apa yang sudah buat aku begini. Aku tiap hari mengurus rumah dan mengurus keperluanmu dengan suka rela, tapi kamu sedikitpun sepertinya tidak mengerti apa yang aku rasakan. Apa sih artinya aku buat kamu? Kamu itu menganggap diriku ini sebagai apa, sih?" Raina terus saja mengoceh.


Satria hanya diam mendengar ocehan Raina dan tak menjawab pertanyaan dari Raina yang dilontarkan untuknya.


"Kenapa kamu diam? Kamu gak bisa jawab. Hem, aku cukup sadar diri siapa diriku. Aku hanya kamu jadikan sebagai pengasuh untuk Al dan sekedar pembantu untuk mu. Kalau Al sudah mulai dekat sama kamu, kamu akan ambil Al kan, dari aku?" Raina terus saja mencecar Satria dengan berbagai opininya.


"Gak gitu, Dek. Aku gak pernah menganggap dirimu seperti itu. Kamu itu istriku dan bundanya Al." jawab Satria.


"Hef, istri? Kalau kamu benar-benar menganggap diriku sebagai istrimu, lakukan tugas dan kewajibanmu sebagai suami yang sebenarnya, bukan sekedar status. Berikan hak ku seutuhnya sebagai seorang istri. Penuhi nafkah yang harus kamu penuhi untuk aku, yang kamu sebut sebagai seorang istri ini." ketus Raina dengan nada yang semakin meninggi.


Satria terdiam mencerna semua perkataan Raina.


"Hampir setahun sudah, Mas. Aku nunggu dengan sabar kepastian dari mu. Aku hanya menuntut hak ku sebagai seorang istri, aku tidak menuntut dirimu lebih dari itu. Aku harap kamu mengerti apa yang aku maksud." ucap Raina dengan nada bergetar menahan tangis dan memeluk Al dengan erat.


"Maafin Mas, Dek." balas Satria lirih.


"Maaf untuk apa lagi, Mas? Maaf, jika dirimu masih belum bisa memenuhi permintaanku. Sampai kapan, Mas? Sampai kapan aku harus menunggu kepastian yang tak kunjung pasti ini. Daripada kamu semakin menyakiti hati dan merusak mentalku, lebih baik kita pisah, Mas." ucap Raina dengan air mata yang mulai mengalir.


"Jika alasanmu, kasihan dengan Al yang akan kekurangan kasih sayang orangtua. Terus bagaimana dengan hatiku yang semakin terluka ini? Lebih baik kita pisah, Mas. Kita bisa merawat Al meski tidak hidup serumah." Raina berucap dengan terus terisak.


Tak tahu dari mana semua perkataan itu, semua keluar begitu saja. Raina merasa sudah tidak tahan dengan apa yang sudah membebani hati dan pikirannya. Yang membuat dirinya berani untuk mengatakan apa yang selama ini dia pendam.


Satria masih terdiam, ucapan Raina benar-benar menampar dirinya. Satria tidak mampu berkata-kata, hatinya ikut tersayat saat melihat Raina dan juga Al yang ikut menangis dalam gendongan Raina.


Satria tidak menyangka, jika candaannya akan membuat Raina tersinggung dan membuat perempuan itu sampai marah besar kepadanya.


Merasa tidak mendapatkan jawaban, Raina berdiri dari duduknya dengan masih menggendong Al. Raina masuk ke dalam kamar, meninggalkan Satria yang masih diam diruang tamu.


Raina memasukkan beberapa pakaiannya dan juga pakaian Al kedalam tas perlengkapan bayi yang cukup besar. Raina berfikir untuk meninggalkan Satria saat itu juga dengan membawa anaknya. Tak lupa Raina membawa uang yang selama ini dia tabung dari hasil menyisihkan uang belanjanya.


Hatinya benar-benar merasa kalut, penantian dan kesabarannya selama ini tidak membuahkan hasil. Keputusannya sudah bulat untuk berpisah dengan Satria, jika lelaki itu masih saja tidak memberikan keputusan yang pasti.


Author mewek saat nulis part ini πŸ˜₯ Rainanya sudah gak kuat untuk nunggu kepastian Satria lebih lama lagi.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.

__ADS_1


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2