Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Ada Apa Dengan Raina


__ADS_3

Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya pesanan mereka semua tersaji dengan manisnya dihadapan mereka masing-masing.


Raina mendekatkan piring nya yang terisi dengan steak ayam. Baru saja hendak memotong steak itu, tiba-tiba Raina merasakan sangat mual setelah mencium aroma bumbu dari steak tersebut.


Raina segera berlari ke toilet. Sandra dan Gina saling berpandangan, kemudian ikut menyusul Raina ke toilet. Sesampainya ditoilet, Raina langsung memuntahkan semua isi perutnya berkali-kali hingga yang keluar hanyalah cairan. Raina mendadak merasa sekujur tubuhnya sangat lemas hingga ia terduduk bersandar di dinding toilet.


"Raina, kamu sakit?" tanya Sandra dengan wajah cemas nya.


"Gak tahu nih, perut ku mual banget waktu cium aroma bumbu steak itu." jawab Raina lemas.


"Apa kita ke rumah sakit aja, Rai?" tanya Gina sembari melirik ke arah Sandra.


"Iya, kita ke rumah sakit aja ya, periksa kamu." ucap Sandra menimpali perkataan Gina.


"Gak, gak usah. Mungkin ini hanya masuk angin biasa." jawab Raina.


Sandra dan Gina membantu Raina untuk berdiri dan keluar dari toilet. Sandra menuntun Raina ke meja mereka, sedangkan Gina segera memesankan teh hangat untuk Raina.


"Kamu sakit lagi, Rai?" tanya Ridho yang melihat Raina terduduk dengan lemas.


"Sepertinya Raina masuk angin, Mas." jawab Sandra.


Satria memperhatikan wajah Raina yang mulai berkeringat.


"Atau kamu telat makan, kamu kan punya penyakit magh, Rai. Pasti asam lambung kamu lagi naik makanya kamu mual." ucap Sandra dengan semua kesimpulan nya.


Sementara Raina hanya menganggukan kepalanya.


Gina datang dan langsung menyerahkan segelas teh hangat untuk menghangatkan perut Raina.


"Maafin aku ya, Rai. Aku lupa ngajak kamu makan dulu tadi, gara-gara aku ke asikan belanja." ucap Sandra merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa kok, San. Paling nanti reda sendiri." jawab Raina sembari memaksakan untuk tersenyum kepada Sandra.


Mereka kembali menyantap makanan nya, meski Raina masih merasakan mual. Namun, ia tahan dan tetap memaksa kan potongan-potongan steak itu tetap masuk ke dalam perutnya hingga tandas.


Namun, setelah beberapa menit kemudian, Raina merasakan mual yang teramat hebat.


Dia kembali berlari ke toilet dan kembali mengeluarkan semua makanan yang sudah susah payah ia makan.


Keempat orang yang masih berada di meja yang sama itu saling berpandangan. Kemudian, Sandra dan Gina kembali menghampiri Raina.


"Kamu yakin gak apa-apa, Rai?" tanya Sandra yang mulai khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


"Iya, aku baik-baik aja kok, San. Aku pengen pulang aja, San." jawab Raina.


"Ok. Gina aku bisa minta tolong bantu Raina ya, aku ambil mobil dulu." ucap Sandra.


Gina menganggukan kepalanya setuju. Sandra sudah berlari terlebih dulu keluar dari toilet dan mengambil barang-barang milik temannya yang masih ada di meja cafe. Sekalian berpamitan kepada kedua laki-laki dihadapannya.


"Maaf ya, mas-mas ku sayang ... aku gak bisa lama nemenin kalian. Aku mau antar Raina pulang." ucap Sandra sembari memeluk kakak sepupu nya.


"Terimakasih, Mas." ucap Sandra sembari memberikan kunci mobil nya kepada Satria.


Ridho mengeluarkan beberapa lembar uang dan diletakkan di meja untuk membayar semua makanan yang mereka pesan tadi.


Dengan sigap Ridho membantu Gina untuk membopong Raina berjalan ke lantai bawah.


Didepan cafe Sandra dan Satria sudah menunggu.


Sandra segera membukakan pintu mobil untuk sahabatnya itu. Sandra dan Gina kembali berpamitan dengan kedua lelaki yang berdiri dekat mobil.


"Kita duluan ya, Mas. Terimakasih traktiran nya." ucap keduanya.

__ADS_1


"Iya. Kalian hati-hati." jawab Ridho dan Satria juga secara bersamaan.


Di dalam mobil Gina memperhatikan wajah Raina yang terlihat pucat. Tiba-tiba terbesit dipikiran nya, jika Raina sedang hamil.


"Apa jangan-jangan? Ah, gak mungkin!"


Pikiran jelek nya sudah membuat dirinya berasumsi yang negatif kepada Raina.


Sementara itu ditempat lain, Ridho pun mengkhawatirkan keadaan Raina.


"Do, aku lihat temannya Sandra itu sepertinya mual bukan karena sedang masuk angin atau magh nya kambuh." ucap Satria.


"Terus menurut kamu dia sakit apa?" tanya Ridho.


"Dari ciri-ciri nya yang aku lihat, sepertinya dia hamil." jawab Satria dengan santai nya.


Ridho terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu yang menyimpulkan jika Raina sedang hamil.


"Ah, ngaco kamu! Aku tahu Raina gadis baik-baik. Gak mungkin lah itu." ucap Ridho menepis prasangka buruk sahabatnya.


"Ya, aku melihat wajah lugu nya. Tapi kan, kita gak pernah tahu dibalik keluguan nya itu dia seperti apa." ucap Satria lagi.


"Jangan bicara yang aneh-aneh kamu, Sat. Aku sudah menyelidiki semua tentang dia sebelum aku memutuskan untuk suka sama dia. Pergaulan nya dia juga gak bebas, seperti gadis-gadis lain yang seusia dia. Dia sudah bersahabat cukup lama sama adik sepupu mu itu. Dan dia juga disayang banget sama bunda Eva seperti anaknya sendiri." Ridho terus menyangkal apa yang sudah dituduh kan Satria ke Raina.


Satria hanya mengangkat bahu nya dan beranjak pergi dari tempatnya duduk.


Sementara Ridho jadi kepikiran dengan omongan Satria dan menyangkutkan sikap-sikap aneh yang ditunjukkan Raina sebelumnya yang tidak ingin bertemu dengannya saat itu.


**Di chapter berikutnya akan mulai ada konflik-konflik yang akan menguras air mata, yang selalu setia baca tentang kehidupan Raina ini, saya ucap kan terimakasih.


Author akan selalu berusaha membuat cerita ini lebih hidup.

__ADS_1


Selalu dukung dan berikan like serta krisan kalian ya,, karena itu akan membuat author lebih bersemangat lagi.


Terimakasih πŸ˜˜πŸ™**


__ADS_2