Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Kecurigaan yang bertambah


__ADS_3

Hari telah berganti, pagi ini cuaca tidak mendukung jika melakukan kegiatan diluar rumah. Langit begitu gelap dan menumpahkan air nya dengan begitu deras nya.


Raina menggeliat diatas kasur nya, matanya enggan untuk terbuka. Dirinya merasa tidak ingin berpisah dengan bantal dan guling. Raina benar-benar merasakan jika suasana hati nya tidak begitu baik. Dan ini pertama kalinya dia tidak bersemangat untuk bekerja.


Raina meraih handphone nya yang tergeletak diatas nakas, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Namun, Raina belum melakukan pergerakan apa pun.


Sementara itu diluar kamar Raina, semua sudah bersiap. Meskipun diluar hujan turun dengan deras nya, tidak menyurutkan sedikit pun semangat Aldo dan Raka.


"Do, apa adik mu sakit lagi? Sudah jam segini dia belum juga keluar dari kamarnya." tanya Ibu Riska kepada anak sulung nya.


Aldo baru tersadar jika adik perempuannya itu belum ada keluar dari kamarnya hingga dirinya sudah hampir selesai menghabiskan sarapan nya.


"Kurang tahu, Bu. Tapi semalam dia baik-baik saja, kok. Sebentar Aldo yang akan memanggil nya." jawab Aldo sembari menyelesaikan sarapan nya.


Aldo sudah didepan pintu kamar Raina dan ingin memanggil adiknya itu. Belum sempat dia memanggil, pintu kamar sudah dibuka oleh Raina.


"Hai, Kak Aldo. Ngapain Kakak didepan kamar Raina?" tanya Raina.


"Eh, tadi kakak mau memanggil kamu, tapi kamu sudah keluar duluan. Kamu gak kerja, Rai?" jawab Aldo dan kembali bertanya kepada Raina.


"Raina kerja, kok. Ini Raina baru mau siap-siap." jawab Raina.


Aldo memperhatikan jam tangannya dan menatap heran kepada Raina. Karena biasanya Raina lah yang selalu bersiap tepat waktu sebelum dirinya dan Raka. Tapi kali ini dia melihat adiknya yang tidak bersemangat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aldo sembari berjalan mengikuti langkah adiknya yang akan menuju kamar mandi.


"Iya, Raina baik-baik aja, Kak. Cuma Raina lagi males aja." jawab Raina dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Raina masuk ke dalam kamar mandi, Aldo berbalik dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Kepala nya masih memikirkan keanehan adiknya yang uring-uringan itu.


"Bu, Aldo berangkat kerja dulu, ya. Raina juga lagi bersiap untuk berangkat kerja." ucap Aldo pada ibunya.


"Iya, Nak. Kamu hati-hati ya, berangkat kerjanya." balas Ibu Riska.


Raina sudah bersiap dan sedang menunggu Sandra menjemput nya. Beberapa menit kemudian terdengar suara klakson mobil diluar rumah Raina. Raina bergegas keluar karena dia tahu bahwa Sandra lah yang sudah membunyikan klakson itu.


"Assalamualaikum ... tante." sapa Sandra pada ibu Riska yang berada ditoko nya.

__ADS_1


"Walaikumsalam ... eh, Nak Sandra. Mau jemput Raina, ya? Sebentar lagi pasti dia keluar" ucap Ibu Riska.


Raina menghampiri ibunya yang sudah bersama Sandra ditoko milik ibunya.


"Ibu, Raina berangkat kerja dulu, ya?" ucap Raina.


"Iya, Nak. Kalian hati-hati, ya." balas ibu Riska.


Keduanya pun meninggalkan rumah Raina setelah berpamitan kepada ibu Riska.


Di perjalanan, diam-diam Sandra memperhatikan Raina yang menurutnya sahabat nya itu bersikap aneh. Dari Raina yang menutup hidung nya karena mencium aroma pengharum mobil miliknya. Padahal, Raina sendiri yang saat itu memilihkan pengharum itu untuk mobil Sandra. Dan yang tiba-tiba ingin sarapan menggunakan nasi pecel dengan lauk ikan lele. Yang Sandra tahu, Raina sangat tidak menyukai ikan itu.


"Rai, sejak kapan kamu doyan sama ikan lele? Bukannya kamu benci banget ya, sama ikan berkumis itu." tanya Sandra yang bingung melihat sahabatnya itu yang dengan lahap nya memakan makanan yang dibenci nya.


"Sejak hari ini. Tiba-tiba aku memikirkan ingin memakan nya." jawab Raina dengan santai nya.


Sedangkan Sandra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan dari sahabatnya itu.


Setelah menyelesaikan sarapan nya, mereka pun melanjutkan perjalanan ke resto yang hampir sampai.


Sesampainya diresto, Raina langsung menuju kantor dan seperti biasa dirinya mulai disibukkan dengan laporan keuangan.


Raina benar-benar merasa lemas dan tak bertenaga, Raina berjalan sembari berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya agar tidak ambruk.


Dengan susah payah, akhirnya dia bisa sampai dikursi kerjanya. Segera dia meraih gagang telepon dan menghubungi kasir resto dibawah.


Tak lama kemudian, panggilan telepon terhubung dan Gina yang menjawab karena dia yang bertugas menjaga kasir hari itu.


["Halo ... dengan resto dan cafe Z disini, ada yang bisa saya bantu?"] ucap Gina ramah kepada orang yang menelepon nya.


Raina yang mengenali jika itu adalah suara Gina, dia hanya tersenyum licik. Ingin sekali dirinya mengerjai Gina, namun karena kondisi nya yang lagi kurang berstamina jadi ia urung kan niat itu.


["Gin, ini aku ... Raina. Apa resto lagi ramai?"]


[ "Eh, Raina ... resto lagi tidak begitu ramai. Ada apa? Ada yang bisa aku bantu?"]


[ "Apa aku bisa minta tolong untuk membawakan aku segelas teh hangat? Aku baru saja mual lagi, dan sekarang badan ku terasa begitu lemas." ]

__ADS_1


["Oh, iya Rai. Aku segera kesana."]


Gina segera menutup telepon nya dan bergegas ke dapur untuk mengambilkan apa yang diminta Raina. Tak lupa dia meminta tolong pada salah satu waiters untuk berjaga dikasir menggantikan nya sementara.


Setelah mengetuk pintu kantor dan mendapat sahutan dari dalam, Gina segera masuk ke dalam kantor. Dirinya mendapati Raina yang terduduk lemas dikursi dengan merebahkan kepalanya dimeja kerjanya.


"Nih, diminum dulu." ucap Gina sembari menyodorkan segelas teh hangat itu pada Raina.


"Terimakasih." ucap Raina dan langsung menegak habis teh hangat itu.


Gina kembali memperhatikan Raina yang terkulai lemas dan mencoba duduk dilantai disamping Raina.


"Apa kamu suka tiba-tiba pusing dan mual seperti ini sebelumnya?" tanya Gina yang mulai penasaran dengan Raina.


"Iya, baru beberapa hari ini sih, aku ngerasa begitu." jawab Raina.


"Hmmm, apa kamu juga suka mual karena mencium aroma-aroma yang menyengat?" tanya Gina lagi.


"Iya, Gin. Aku pikir penciuman ku yang lagi bermasalah. Hmmm, kenapa kamu seperti detektif gini sih?" Raina mulai curiga dengan Gina yang terus mencari informasi tentang nya.


"Eh, ehmm, gak gitu ... Rai? Apa kamu gak berniat untuk konsultasi ke dokter?" tanya Gina yang mulai kikuk.


"Gak lah, paling juga akan sembuh sendiri." jawab Raina yang masih merasa jika dirinya baik-baik saja.


"Tapi, Rai ... keadaan mu itu menandakan seperti ...." Gina menggantungkan kalimat nya, dia ragu untuk mengatakan nya dan takut jika Raina tersinggung dengan ucapannya.


"Seperti apa, Gin? Apa maksud kamu aku terlihat seperti orang yang sedang hamil?" Entah kenapa Raina tiba-tiba berfikir gila seperti itu.


"Ehm ... maaf, Rai." jawab Gina cepat.


Raina menghela nafas nya dengan kasar.


"Bagaimana kamu bisa berfikir seperti itu? Padahal aku belum menikah dan tidak mempunyai kekasih." ucap Raina getir dan mencoba menahan tangisnya. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan nya. Raina seakan kembali mengingat kejadian sebulan lalu yang dilakukan Awan kepada nya.


Matanya mulai berkaca-kaca, wajahnya masih menempel di meja kerja, namun pandangan nya sudah beralih ke tempat lain. Dia tidak mau jika Gina semakin berfikir yang aneh-aneh lagi dengan nya. Meskipun ada ketakutan yang terselubung dihati nya.


Gina menyadari ada sesuatu yang disembunyikan Raina, namun dirinya tidak ingin memaksa untuk Raina berbicara melihat kondisi Raina yang sekarang.

__ADS_1


"Aku balik kerja dulu, kamu beristirahat lah." ucap Gina dan berlalu meninggalkan Raina.


__ADS_2