Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Sepeda motor Satria berhenti di sebuah taman yang dikelilingi oleh banyaknya pedagang-pedagang kaki lima yang menjajakan beraneka ragam makanan. Mulai dari snack hingga ke makanan berat pun tersedia disana.


Satria memilih angkringan dengan duduk lesehan yang tidak jauh dari taman itu, Satria sengaja memilih tempat itu karena membawa Al yang butuh kenyamanan.


"Kita disana aja, ya." tunjuk Satria pada angkringan yang berada diseberang parkiran taman.


"Iya, Mas. Lebih nyaman sepertinya untuk Al kalau kita duduk disana." balas Raina.


Satria menggenggam erat tangan Raina saat akan menyebrang jalan. Raina menatap tangannya yang sudah berada didalam genggaman Satria, lalu tersenyum dan mengikuti langkah Satria untuk menyebrang jalan.


Mereka memilih posisi tempat duduk yang berada diujung karena ada sekat yang akan membuat Al lebih leluasa duduk dan bergerak. Dan tentunya agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain.


Tetapi, saat Satria hendak duduk ada seseorang yang memanggil dirinya dan sontak Satria pun menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Satria celingak-celinguk mencari orang yang memanggilnya, hingga dia melihat seseorang yang sudah tak asing lagi baginya.


"Satria ...." panggil orang itu yang tak lain adalah Ridho.


Satria pun membalas lambaian tangan Ridho.


"Dek, Mas datangin Ridho dulu, ya. Tuh, dia ada disana. Kamu duluan pesan aja, sekalian pesankan Mas juga." ucap Satria.


"Mas mau dipesankan apa?" tanya Raina.


"Samain aja Dek, dengan pesananmu." jawab Satria.


"Ok, deh." sahut Raina.


Satria pun berjalan kearah dimana Ridho duduk. Namun, Ridho tidak sendiri. Melainkan dengan seorang perempuan. Satria pun tidak sabar ingin mengetahui bersama siapa sahabatnya itu. Karena perempuan tersebut duduk berhadapan dengan Ridho dan membelakangi Satria.


"Hai, apa kabar, Sob?" sapa Satria berbasa-basi dengan saling berpelukan ala lelaki.


"Kabar baik, dong. Kamu sendiri gimana?" Ridho balik bertanya pada Satria.


"Alhamdulilah, baik juga. Sama siapa, nih?" tanya Satria sembari menunjuk dengan pipi yang digembungkan oleh lidah, tanpa melihat ke orang yang disebut.


"Oh, ini yang aku ceritain ke kamu waktu itu. Kenalin ini Renita." jawab Ridho.


Satria membalikkan badannya dan melihat siapa perempuan yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Dan seketika mereka berdua pun saling terkejut.


"Kamu anaknya om Sigit, kan?"


"Kamu anaknya pakde Suseno?"


Keduanya saling tunjuk dan menebak lalu tertawa bersama.


"Kalian saling kenal?" tanya Ridho yang melihat keakraban diantara sahabat dan juga wanitanya.


"Iya." jawab keduanya bersamaan.


"Astaga! Dunia ini memang selebar daun kelor." ujar Ridho.


"Kalian lanjutkan aja dulu, aku mau balik kesana. Kasian anak dan istriku menunggu." ucap Satria.

__ADS_1


"Ok. Nanti kami yang nyusul kesana." balas Ridho.


Satria pun berlalu meninggalkan sahabat dan juga anak dari teman pakdenya itu. Satria kembali menuju tempat duduk dimana Raina dan juga Al menunggu dirinya.


"Kok, belum dimakan, Dek?" tanya Satria saat melihat makanan yang sudah tersaji belum tersentuh oleh Raina.


"Raina sengaja nunggu Mas, biar makan bareng. Percuma dong, kalau kita rencananya makan malam bareng malah jadi makan malam sendiri-sendiri kalau Raina duluan yang makan." jawab Raina.


"Terimakasih ya, Dek. Kamu mau menunggu Mas. Ayo, kita makan." ucap Satria sembari mengelus lembut kepala Raina.


Raina hanya tersenyum dan mengangguk. Keduanya pun makan dengan saling melempar candaan agar suasana makan malam mereka tidak canggung.


Di detik-detik terakhir makanan mereka tinggal sedikit, datanglah Ridho bersama dengan Renita ke tempat Satria dan Raina duduk.


"Hei, jagoan paman sudah besar." ucap Ridho pada Al yang asik bermain dengan lembaran tisu yang dirobek-robek.


"Iya dong, paman. Masa, Al kecil terus." balas Raina sembari menyuapkan sendokan terakhir kedalam mulutnya.


"Apa kabar denganmu, Rai? Sudah lama kita tidak bertemu." tanya Ridho.


"Seperti yang Mas lihat sendiri, kami sekeluarga baik." jawab Raina dengan gaya khasnya saat berbicara dengan Ridho.


"Oh, ini istrinya Satria. Beruntung sekali dirinya dapat gadis cantik seperti ini. Pantas saja dia cuek sekali saat ku ajak berkenalan saat itu, laki-laki mana yang akan tergiur dengan daun kering kalau sudah punya daun muda seperti ini. Ternyata dia lebih muda dan lebih cantik dari aku" batin Renita.


Renita menertawakan dirinya sendiri yang saat itu hampir saja ingin menggoda Satria.


"Kenapa kalian hanya berdiri disitu? Mari, duduk sini." titah Satria.


"Bunda, kenalin ini gebetan barunya Ridho." ucap Satria memperkenalkan Raina pada Renita.


Raina terperangah mendengar panggilan Satria padanya.


"Apa dia memanggilku bunda?" batin Raina.


"Bunda, sweet banget ... kapan aku dipanggil seperti itu juga." batin Renita.


"Ah, shit. Kenapa hatiku memanas saat Satria manggil Raina dengan sebutan bunda? Sengaja buat iri atau gimana sih, anak ini?" umpat Ridho dalam hati.


"Kenapa bengong itu lho, orang mau kenalan?" ucap Satria menyadarkan lamunan Raina yang masih menatap dirinya.


"Eh, hemm ... Raina." ucap Raina tergagap sembari menoleh ke arah Renita.


"Renita." balas Renita dengan melemparkan senyumannya.


"Kalau mau main tatapan, nanti dirumah kalian aja. Gak usah disini, bikin iri aja." gerutu Ridho yang mengejek Raina.


"Ih, apaan sih, Mas Ridho?" kilah Raina.


"Hahaha, kamu iri? Makanya, cepat tuh halalin." goda Satria sembari melirik Renita.


"Kalau dia mau." sahut Ridho menoleh ke arah Renita.

__ADS_1


Ridho pun menatap Renita dan berhasil membuat perempuan berhidung bangir itu tersipu malu dan jadi salah tingkah.


"Oh ya, bukankah Renita tinggal di pulau B. Kenapa bisa ada disini? Apa ada pekerjaan lagi disini?" tanya Satria.


"Iya, sekarang dia dipindah kerja disini. Mengelola perusahaan anak cabang yang ada dikota ini. Bahkan dia sekarang tinggal diapartemen yang sama denganku." jawab Ridho.


"Benar, kah? Kenapa bisa kebetulan seperti itu?" tanya Satria yang terkejut.


"Kalau memang jodoh itu gak akan kemana. Kan, aku sudah pernah bilang ke kamu kalau kami pasti akan bertemu lagi." jawab Ridho yang semakin membuat Renita merona.


"Kenapa kalian bisa seakrab ini? Kalau yang aku dengar cerita dari Ridho kalian sempat bertengkar." tanya Satria lagi.


"Hush, jangan dibahas lagi tentang itu." ujar Ridho.


"Hah, apa dia menceritakan diriku pada temannya ini?" batin Renita.


"Apa kalian sudah pacaran?" tanya Satria blak-blakan.


"Hah?" Renita terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Satria.


"Belum, lah. Ketemu aja baru empat hari ini." jawab Ridho dengan santainya.


Renita sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraan dua lelaki yang ada dihadapannya ini yang terus saja membicarakan dirinya dengan Ridho.


"Apa Ridho menyukaiku? Ah, jangan terlalu berharap Ren, nanti kamu kecewa." batin Renita.


"Jangan lama-lama, Mas. Nanti keduluan orang, lho." ucap Raina.


Renita hanya tersenyum mendengar ucapan Raina.


"Nah, betul banget apa kata istriku. Kita sepemikiran, Bun." ujar Satria yang menimpali ucapan Raina.


Lagi-lagi Satria memanggil Raina dengan sebutan bunda. Meski sebenarnya, lidahnya masih kelu untuk memanggil Raina dengan sebutan itu. Hanya saja, dia memang sengaja memperlakukan Raina didepan orang lain seakan-akan mereka adalah pasangan suami dan istri yang harmonis.


"Apa tidak ada pembahasan yang lain selain ini?" tanya Ridho yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Satria tertawa mendengar gerutuan dari sahabatnya itu.


Malam itu mereka habiskan dengan saling berbincang. Renita dan Raina terlihat akrab dan sepemikiran saat membahas soal anak. Meskipun Renita belum menikah, namun dirinya sudah paham dan mengerti cara-cara pengasuhan bayi.


Memang sebenarnya Renita ingin sekali menikah muda dan segera memiliki anak karena mengingat dia adalah anak satu-satunya jadi dia ingin meramaikan rumah papah dan mamahnya dengan kehadiran seorang anak. Namun, itu hanya sebuah angan. Karena hingga usianya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun ini dia belum menemukan jodoh yang tepat.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜

__ADS_1


__ADS_2