
Seminggu telah berlalu sejak kepulangan Raina dari rumah ibunya, dia kembali memikirkan ucapan sang ibu mengenai masalah acara tujuh bulanan yang hingga saat ini belum ia bicarakan dengan Satria atau pun mertuanya.
Raina duduk diatas kasurnya sembari menyandarkan kepalanya pada kepala kasur. Menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan dan pada siapa terlebih dulu ia akan menyampaikan maksudnya.
"Apa aku coba untuk bicara dengan mamah dulu, ya? Kalau mamah sudah memberikan persetujuannya baru aku beri kabar ke mas Satria. Yah, mungkin seperti itu lebih baik." gumamnya sembari menepuk-nepuk pelipisnya dengan jari telunjuknya.
Raina menarik nafasnya terlebih dahulu sebelum beranjak meninggalkan kamarnya.
Dan kini, dirinya sudah berada didepan pintu kamar mertuanya, Raina menengokkan kepalanya kedalam kamar mertuanya sebelum dia masuk.
"Raina, kenapa kamu mengintip seperti itu? Kamu mengagetkan mamah." tanya Ibu Santi yang melihat kepala Raina yang muncul dipintu kamarnya.
"He, maaf Mah. Ehm, Mah ... apa Raina bisa meminta waktu mamah sebentar? Raina ingin membicarakan sesuatu sama Mamah." tutur Raina yang sudah lebih dekat dengan mertuanya.
"Kamu mau membicarakan apa? Ayo sini, duduk disebelah mamah." tanya Ibu Santi sembari menepuk kasur disebelahnya untuk diduduki Raina.
Raina sudah duduk disebelah mertuanya. Raina kembali terdiam, bukan hal yang mudah untuk Raina mengingat status pernikahannya dengan Satria, dirinya hanya takut jika dia dianggap terlalu menuntut.
"Rai, kamu bilang mau membicarakan sesuatu? Tapi, kenapa kamu malah diam begini?" tanya Ibu Santi, mertuanya.
"Eh, ehm ... tapi mamah jangan marah atau menganggap Raina cewek matre, ya?" Raina bukannya menjawab pertanyaan sang mertua, namun malah mengajukan pilihan pada sang mertuanya.
Sontak Ibu Santi tertawa mendengar ucapan Raina.
"Kamu ini lucu ya, ternyata. Ok, mamah gak akan melakukan kedua hal itu. Sekarang bicarakan apa yang ingin kamu katakan." ucap Ibu Santi sembari meredam tawanya.
"Mah, waktu Raina ke rumah ibu ... ibu menanyakan sesuatu pada Raina. Apa mamah akan membuatkan acara tujuh bulanan untuk Raina?" Akhirnya kalimat yang sedari tadi sudah tergantung diujung lidahnya, kini keluar begitu saja dari mulutnya.
Raut wajah ibu Santi kembali berubah setelah mendengar penuturan menantunya dan seketika itu pula dia kembali tertawa. Menurutnya, menantunya benar-benar lugu hingga takut menanyakan hal yang sebenarnya tidak masalah untuknya.
"Ya, tentu kita akan mengadakan acara tujuh bulanan untukmu. Kenapa kamu sampai mengira mamah akan marah atau menganggap mu sebagai cewek matre? Kamu menantu mamah dan yang didalam perutmu itu adalah cucu pertama mamah, kami akan memberikan yang terbaik untuk kalian." Ibu Santi menjawab keraguan Raina.
"Tapi, Mah ... Raina takut jika mamah berfikir jika Raina banyak menuntut, karena Raina sadar akan status Raina disini seperti apa." ucap Raina dan menundukkan wajahnya.
"Hei, kamu bicara apa? Seperti apa pun cara hadir mu dikeluarga ini, kamu tetap menantu mamah dan sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Mamah gak mau kamu berfikiran yang macam-macam lagi. Ingat kami semua menyayangimu." ujar Ibu Santi.
Terdengar sangat tulus setiap kalimat yang terucap dari mertuanya, Raina pun menepiskan segala pikiran negatifnya yang telah berasumsi jika mertuanya akan menganggapnya sebagai menantu yang banyak menuntut.
"Tapi, mamah mau minta maaf sebelumnya ke kamu, mamah tidak bisa membuatkan acara yang besar dan mengikuti adat. Mungkin, mamah akan menggelar pengajian dan mengundang anak-anak yatim saja untuk acara tujuh bulanan mu nanti. Karena Satria tidak ada disini jadi kita tidak bisa menggelar acara tersebut sesuai dengan acara adat." tambah Ibu Santi lagi.
"Tidak masalah, Mah. Yang terpenting dalam acara itu kan, doanya." sahut Raina yang merasa sangat lega mendengar keputusan dari sang mertua.
__ADS_1
"Mamah akan memberitahukan hal ini pada bunda Eva, agar dia saja yang mengatur semuanya. Karena kamu tahu sendiri kan, kondisi mamah sekarang tidak bisa terlalu mikir banyak hal dan tidak bisa terlalu lelah karena itu akan berpengaruh pada penyakit mamah ini yang belum sepenuhnya sembuh total." ujar Ibu Riska.
"Iya, Mah. Raina mengerti kok, Raina akan memberitahukan mas Satria dan juga keluarga Raina. Sebaiknya sekarang mamah istirahat, Raina akan keluar. Terimakasih atas waktunya, Mah." ucap Raina sembari keluar dari kamar mertuanya setelah mendapat anggukan setuju dari mamah mertuanya.
********
Hari-hari berlalu, minggu pun telah berganti dengan bulan. Hari ini, hari yang telah ditetapkan keluarga Raina dan keluarga Satria untuk melangsungkan acara pengajian tujuh bulan kehamilan Raina.
Ibu-ibu pengajian serta anak-anak yatim pun telah datang dan berkumpul untuk mendoakan kehamilan Raina. Begitu pula dengan para kerabat dari Satria juga ikut datang menghadiri acara tersebut, tapi tidak dengan kerabat Raina hanya keluarga inti saja yang hadir. Karena Ibu Riska takut jika akan menjadi gunjingan keluarganya jika tahu usia kehamilan Raina tidak sesuai dengan masa pernikahannya yang terbilang baru.
Acara berjalan sangat lancar, ibu-ibu pengajian dan para anak yatim pun diberi santunan serta bingkisan sebelum mereka pulang.
Setelah dipastikan semua tamu dan keluarga sudah pulang, Raina segera masuk ke kamarnya karena dia sangat begitu lelah duduk terlalu lama ditempat acara tadi.
Raina segera mengganti gamisnya dengan baju hamil yang longgar yang membuat nyaman ibu dan bayi yang berada didalam perutnya jika ia memakainya. Setelah mengganti bajunya, Raina pun langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
"Ya, Allah ... ini nyaman sekali." gumam Raina sembari merenggangkan otot-ototnya diatas kasur yang empuk.
Raina memejamkan matanya, merasakan kenyamanan yang hakiki setelah melewati acara tadi yang membuat badannya begitu lelah dengan perutnya yang semakin membesar. Cukup lama dia memejamkan matanya dan hampir tertidur, namun ia kembali terbangun setelah mendengar dering handphone yang membangunkannya.
"Siapa sih, yang nelpon? Kan, sudah mau tidur jadi terbangun, deh." gerutu Raina sembari mengambil handphonenya yang terletak diatas nakas.
Raina membelalakkan matanya saat tahu yang meneleponnya adalah Satria, namun bukan sekedar panggilan telepon biasa, melainkan Satria melakukan panggilan video pada Raina.
Belum sempat Raina menjawab panggilan itu sudah berakhir karena sudah terlalu lama menunggu untuk dijawab yang akhirnya, panggilan itu berakhir sendiri.
"Alhamdulilah ... mati sendiri." gumam Raina.
Baru saja Raina ingin kembali merebahkan tubuhnya, handphonenya kembali berdering dengan orang yang sama dan panggilan yang sama. Ragu-ragu Raina menjawab panggilan itu, tapi akhirnya dia menggeser tombol hijau yang artinya menjawab panggilan itu.
"Hai ...." sapa Raina sembari tersenyum dan melambaikan tangannya seperti anak kecil.
"Hai juga ... kamu habis ngapain? Kok, panggilan ku yang pertama tidak dijawab?" tanya Satria.
"Eh, ehmm ... anu ... itu ... Raina tadi lagi ditoilet, Mas." jawab Raina yang terlihat sekali jika dia sedang gugup.
Sementara Satria memperhatikan tingkah Raina yang terlihat gugup, yang membuatnya gemas dan ingin mencubit pipi Raina.
"Kenapa mukamu menggemaskan sekali saat gugup seperti itu? Seandainya dekat, aku pasti sudah mencubit kedua pipi merahmu itu." batin Satria.
"Oh, begitu ... bagaimana acaranya tadi?" tanya Satria.
__ADS_1
"Alhamdulilah, acaranya berjalan lancar, Mas." jawab Raina yang mulai mengontrol kegugupannya.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu." ucap Satria dengan mata sendunya yang tersirat kesedihan disana.
"Raina mengerti kok, Mas. Raina tidak apa-apa. Yang terpenting, saat Raina melahirkan nanti, Mas ada disisi Raina." ucap Raina dengan nada manjanya yang tanpa sadar mengeluarkan kalimat itu dan langsung menutup mulutnya.
"Kenapa kamu menutup mulutmu seperti itu?" tanya Satria.
"Eh, ehmm, Raina agak mual tadi, Mas." kilah Raina.
"Oh ... apa tadi yang kamu ucapkan?" tanya Satria lagi yang ingin mendengar Raina mengulang kembali ucapannya.
"Ehm, ucapan yang mana ya, Mas?" Raina balik bertanya dan pura-pura lupa apa yang telah ia ucapkan.
"Yang tadi sebelum kamu menutup mulutmu. Sudahlah, kalau kamu lupa gak usah dibahas lagi." jawab Satria yang sebenarnya sangat mendengar dengan jelas apa yang telah dikatakan oleh Raina hanya dia ingin Raina kembali mengulang ucapannya.
"Alhamdulilah ternyata dia gak dengar apa yang aku ucapkan." batin Raina.
"Ternyata kamu pandai sekali mengelak." batin Satria.
Cukup lama mereka berdua terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Satria melempar pandang pada Raina yang sibuk menatap ke arah lain.
"Mas, Raina ngantuk." ucap Raina.
"Ehm, tidurlah." balas Satria.
"Panggilannya Raina akhirin, ya?" tanya Raina.
"Jangan biarkan aja tetap hidup, aku mau lihat kamu tidur." jawab Satria dengan santainya.
"Hah? Apa? Kenapa harus di lihatin? Gak ada kerjaan lain apa?" gerutu Raina.
"Gak ada. Makanya aku mau lihatin kamu tidur." jawab Satria lagi dengan gaya santainya.
Raina masih belum memejamkan matanya, dia merasa risih dengan tatapan Satria yang terus memperhatikan dirinya. Raina hanya bisa membolak-balikkan badannya walau dengan sangat kepayahan karena tubuhnya yang membesar.
Satria tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Raina. Raina membelakangi handphonenya yang ia letakkan bersandar pada guling. Yang dengan bodohnya, dia tetap menuruti kemauan Satria untuk tetap membiarkan panggilan itu masih terhubung.
Dan akhirnya Raina pun menyerah sendiri, dia sudah tidak sanggup menahan matanya untuk tetap terjaga karena kantuk yang menderanya. Tanpa ia sadari, dirinya tertidur dengan posisi yang sudah kembali menghadap ke arah handphonenya. Sehingga Satria bisa melihat wajah Raina yang sudah tertidur pulas.
"Mau dalam posisi apa pun dan dalam kondisi tertidur ini pun kamu terlihat sangat cantik. Selamat tidur Raina." ucap Satria dan mengakhiri panggilan videonya setelah puas memandangi wajah Raina.
__ADS_1
Mohon like, komen, vote serta berikan rate pada karya author ya π
Dukungan kalian sangat berarti untuk author ππ