Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Berbaikan


__ADS_3

Sampai lah Satria ditempat biasa dirinya dan Ridho menenangkan pikirannya. Setibanya disana ada sebuah mobil yang lebih dulu datang kesana. Mobil itu adalah milik Ridho. Satria mengernyitkan dahinya, saat melihat sahabatnya sudah berada disana.


"Mau apa dia kesini?" gumam Satria.


Hubungannya dengan Ridho hingga kini memang masih merenggang. Tidak ada komunikasi antara keduanya semenjak Satria telah resmi menjadi suami Raina kala itu.


Tempat ini, hanya mereka berdualah yang tahu. Tak ada orang lain yang pernah menyentuh tempat itu selain mereka berdua. Pegunungan yang menyajikan pemandangan kota, tempat ternyaman bagi keduanya jika ingin menghindar dari ramainya kota atau pun ketika mereka sedang dilanda masalah.


"Apa dia juga ada masalah?" Satria kembali bertanya pada dirinya sendiri.


Satria menepikan mobilnya tepat disamping mobil Ridho. Ridho terbangun dari tidurnya kala mendengar suara mobil yang sangat dekat dengannya. Seketika dirinya bangkit dari tidurnya dan menoleh ka arah mobil Satria.


"Kenapa dia harus kesini? Mengganggu saja!" batin Ridho.


Satria keluar dari mobilnya dan mulai duduk diatas kap mobilnya. Sedangkan Ridho juga melakukan hal yang sama dengan Satria dan kembali memandang lurus kedepan tanpa melihat lagi ke arah Satria dengan acuhnya.


Cukup lama keduanya berdiam, saling acuh satu sama lain. Sampai akhirnya, mereka saling pandang dan kembali sama-sama membuang muka. Layaknya seperti anak kecil yang sedang bermusuhan. Dan tak ada yang mau mengalah terlebih dahulu.


"*Kenapa jadi seperti ini? Apa aku harus menyapanya?" batin Ridho.


"Apa aku harus menyapa nya terlebih dulu? Menyapa si kepala batu itu?" batin Satria.


Seperti ada sesuatu yang mengganjal dikerongkongan dua orang itu. Hingga berat sekali untuk sama-sama memulainya. Gengsi lebih tepatnya. Keduanya sama-sama membesarkan gengsi mereka masing-masing dan tak ada yang mau mengalah.


Kembali Satria menoleh ke arah Ridho, dengan bibir yang seakan ingin bersuara.


"Apa kabarmu?" tanya mereka bersamaan.


"Ehm, kamu duluan. Jawablah!" ucap Satria.


"Tidak, kamu duluan saja yang menjawabnya." ujar Ridho.


Lalu Satria turun dari kap mobilnya dan mendekat ke arah Ridho.


"Aku baik. Lalu bagaimana denganmu?" jawab Satria.

__ADS_1


"Aku juga baik-baik saja." Setelah mendapat jawaban dari Ridho, keduanya pun saling berpelukan ala lelaki dewasa.


Setelah akhirnya mereka berbaikan, keduanya kembali duduk diatas kap mobil. Kali ini Satria duduk bersama diatas kap mobil milik Ridho.


"Aku tahu jika sebenarnya kita tidak sama-sama dalam keadaan baik-baik saja. Katakanlah apa yang membawa mu kesini?" tanya Satria.


"Tidak ada! Aku tidak ada masalah apa pun. Entahlah aku hanya ingin berada disini saja hari ini. Dan ternyata, kamu akan kesini juga." jawab Ridho sembari tertawa.


"Hemm, disengaja mau pun tidak disengaja, pertemuan ini sudah ditentukan oleh Tuhan. Tuhan lah yang menggerakkan hatiku untuk sampai disini." ujar Satria.


"Ok, baik. Apa hanya karena itu saja? Apa kamu yang sebenarnya sedang mempunyai masalah?" tanya Ridho.


"Bisa dikatakan seperti itu." jawab Satria.


Satria menatap langit cerah yang terbentang luas itu. Entah dia harus cerita atau tidak dengan sahabatnya ini mengenai apa yang telah membuat hatinya bimbang dengan sikap dingin mamahnya itu.


"Apa yang membuat dirimu terlihat bimbang seperti ini?" tanya Ridho yang seakan bisa membaca raut wajah sahabatnya itu.


Satria menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya dengan kasar.


"Apa ada perkataanmu mungkin yang membuatnya bersikap seperti itu padamu?" tanya Ridho lagi.


Satria menceritakan apa yang terjadi sebelum akhirnya sang mamah menjadi dingin dengannya. Ridho cukup antusias mendengar cerita sahabatnya itu. Apa lagi juga menyangkut dengan Raina.


"Jadi, sekarang Raina sudah melahirkan?" tanya Ridho dengan wajah yang gembira.


"Iya, dia sudah melahirkan bayi yang sangat tampan dan menggemaskan." jawab Satria.


"Terus, apa maksud mu ingin mengulang akad nikah dengan Raina? Bukannya kalian sudah resmi menikah?" tanya Ridho yang tidak tahu alasan sebenarnya Satria menikahi Raina.


"Kamu tahu sendiri awal pernikahanku dengan Raina karena apa. Pada dasarnya, kami tidak saling mencintai dan aku mau menikahinya karena aku merasa bertanggungjawab atas anak yang dikandungnya karena anak itu tidak lain juga adalah keponakan ku sendiri, darah daging adik kandungku." jawab Satria menarik nafas dalam untuk melanjutkan ceritanya.


Sementara Ridho masih setia untuk mendengarkan cerita sahabatnya itu.


"Dan memang kami telah resmi menikah secara hukum, tapi tidak dengan agama. Dalam agama kita sebenarnya melarang melakukan pernikahan saat seorang wanita itu dalam posisi sedang mengandung apa lagi Raina hamil diluar nikah. Disini, aku dan keluargaku memikirkan status dari anak yang dikandung Raina ini agar anak tersebut mempunyai status yang jelas meskipun memang nasabnya tetap mengikuti ibunya. Maka dari itu, keputusan selanjutnya apa pernikahan ini akan kami lanjutkan atau tidak setelah anak itu lahir? Dan jika ingin kembali melanjutkan pernikahan ini, aku dan Raina harus kembali melakukan akad nikah. Setelah itu barulah pernikahan kita akan sah secara agama." tambah Satria.

__ADS_1


"Cukup rumit. Tapi, memang seperti itu jalannya yang harus dilakukan. Jadi, sekarang kamu mulai mencintainya?" Ridho menganggukan kepalanya tanda paham dengan penjelasan sahabatnya itu dan kembali mengajukan pertanyaan pada Satria.


"Iya. Aku mulai mencintainya. Aku mencintai ketulusan hatinya, mencintai ketegarannya yang selama ini dengan sangat sabar menghadapi masalah hidupnya. Seperti yang kamu bilang sebelumnya, terlalu banyak luka yang sudah ia rasakan. Dan seperti janjiku padamu, aku akan membahagiakannya." jawab Satria.


"Mungkin kamu memang laki-laki yang tepat untuknya, meski sebenarnya ada rasa sedikit cemburu dihatiku saat kamu menceritakannya." ujar Ridho sembari tertawa kecil.


"Maaf, bro. Apa kamu akan kembali marah padaku?" Satria mengucapkan kata maaf pada Ridho sembari menepuk pelan bahu sahabatnya itu. Dan kemudian, dia kembali mengajukan pertanyaan pada sahabatnya itu dengan hati-hati.


"Tidak. Jangan diambil hati ucapanku yang tadi, aku hanya bergurau. Aku sekarang sedang berusaha move on dari perasaanku pada Raina." jawab Ridho santai.


"Jadi? Kamu sudah menemukan pengganti Raina?" tanya Satria.


"Bisa dibilang seperti itu. Tapi, aku masih ragu. Aku takut kembali sakit." jawab Ridho.


"Siapa wanita itu? Kenapa kamu menyerah sebelum berperang? Katanya mau move on? Semangatlah kawan." Satria memberondong Ridho dengan banyak sekali pertanyaan.


"Hahahah ... kamu sudah seperti polisi saja, banyak sekali pertanyaanmu itu. Baiklah, aku akan berusaha. Dan jika aku sudah berhasil menaklukkannya, aku akan memperkenalkan nya padamu." jawab Ridho.


"He'em, sekarang kita sama-sama harus berjuang untuk seorang wanita yang kita cintai." ucap Satria.


Serasa ada dorongan semangat saat setelah dia berbagi ceritanya dengan sahabatnya itu.


"Ya, aku akan memperjuangkan mu, Raina. Apa pun yang akan menghalanginya nanti, semoga Allah membukakan jalannya untuk kita bersama." batin Satria.


Satria memantapkan hatinya untuk memperjuangkan cintanya, meskipun sebenarnya dirinya tidak tahu bagaimana perasaan Raina terhadapnya.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜

__ADS_1


__ADS_2