
"Do, kok, adik kamu belum sampai-sampai juga, ya?" tanya Ibu Riska kepada Aldo.
"Seharusnya dia sudah sampai rumah sekitar empat puluh menitan yang lalu. Sebentar Aldo hubungi lagi." jawab Aldo.
Aldo mencoba menghubungi Raina, namun tak ada jawaban dari adiknya itu.
"Bagaimana, Do?" tanya Ibu Riska.
"Gak diangkat, Bu. Mungkin sekarang dia lagi dijalan." jawab Aldo.
Ya, handphone Raina diletakkan didalam tas, sehingga dia tidak tahu jika ada panggilan masuk dihandphone nya.
Perjalanan dari restoran Y menuju rumah Raina sekitar empat puluh menit. Karena Raina sempat berhenti menemani anak penjual koran dan harus mengantar kan anak itu pulang, maka waktu semakin molor hingga dipastikan dia telat sampai kerumah tidak sesuai dengan janjinya pada kakaknya.
Hembusan angin malam menemani perjalanan nya pulang. Semilir angin menusuk hingga ke tulang-tulang persendian.
Raina sudah memasuki gapura perumahan nya, tampak suasana malam yang sepi saat dia memasuki daerah perumahan nya menuju kerumah.
Sampai lah dia dihalaman rumahnya. Terlihat masih terang didalam sana, menandakan bahwa masih ada penghuni rumah yang terjaga.
Tok... Tok... Tok...
Raina mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
__ADS_1
"Assalamualaikum ...." ucapnya sembari mengetuk pintu.
"Walaikumsalam ...." Terdengar sahutan dari dalam.
Ibu Riska segera membukakan pintu untuk anaknya. Raina segera mengambil tangan ibunya dan mencium nya penuh takzim.
"Kok, malam sekali kamu pulang nya? Apa ada kendala lagi dijalan?" tanya Ibu Riska kepada Raina yang baru saja memasuki rumah.
"Gak kok, Bu. Raina baik-baik saja." jawab Raina sembari tersenyum.
Raina menceritakan semua apa yang membuat dirinya terlambat pulang.
"Baiklah. Segera bersihkan dirimu dan beristirahat lah." ucap Ibu Riska tersenyum setelah mendengar penjelasan dari putrinya.
Raina segera masuk ke dalam kamarnya, secepat mungkin membersihkan badannya dan mengganti pakaian nya. Hari yang dilewati cukup melelahkan.
********
Matahari sudah menampakkan sinar nya, menerangi setiap sudut bumi. Semua orang sudah sibuk bersiap untuk memulai aktifitas nya. Begitu pula dengan Raina yang sudah siap semua dengan persiapan nya. Sepeda motor ia panaskan terlebih dahulu, berpamitan kepada ibu nya dan bergegas berangkat kerja.
Dan hari ini, Ibu Riska pun akan siap memulai semuanya. Setelah mobil laku terjual beberapa hari lalu, dirinya sudah memutuskan langsung mencari tukang untuk merenovasi rumahnya.
Dan hari ini, hari yang sudah disepakati untuk memulai pekerjaan. Rencananya akan merenovasi beberapa bagian rumah yang sudah cukup rapuh dan akan membuat warung kecil didepan rumahnya untuk usaha berjualan kue nanti.
__ADS_1
Setelah tukang bangunan nya datang, mereka langsung bergerak memindah kan beberapa barang ke ruangan lain yang tidak direnovasi. Sedangkan Ibu Riska sibuk didapur menyiapkan makan siang untuk para pekerja nanti dan untuk makan siang si bungsu Raka.
Para tukang bekerja sangat cekatan dan sesuai dengan arahan dari Ibu Riska.
Bukan perumahan kampung namanya, jika tidak ada tetangga yang resek dan iri dengan apa yang dimiliki dan diperbuat tetangga lainnya.
Ibu Ratna si biang gosip sudah nangkring didepan rumah ibu Sofi yang rumah nya berhadapan langsung dengan rumah Raina.
Memandang rumah Raina dengan sejuta rasa keponya. Mencari tahu kesana kemari informasi yang menurutnya pas untuk dijadikan bahan gosipan nya. Dan untungnya ibu Sofi bukan orang yang suka sibuk dengan urusan orang lain, sehingga tidak memperdulikan ocehan ibu Ratna.
"Ih, coba lihat tuh, Bu Sofi ... si janda berlagak renovasi rumah segala, memang nya ada uang untuk bayar tukang nya?" tanya nya kepada ibu Sofi yang duduk diteras menunggu tukang sayur lewat.
"Ya, biarkan saja lah, Bu. Mungkin ibu Riska punya tabungan." jawab ibu Sofi.
"Hmmm, mobil mewah nya sudah gak ada lagi. Sepertinya dia jual deh, itu mobil hasil morotin harta suami orang." ucapnya lagi dengan wajah sok tahu nya.
"Hush, jangan sembarangan ngomong, Bu. Kalau yang Ibu bicarakan itu gak benar jatuhnya fitnah, lho."
Ibu Sofi mulai merasa risih dengan adanya ibu Ratna. Namun, sepertinya ibu Ratna tidak memahami sikap dari sang empunya rumah.
"Maaf, Bu, saya tinggal kedalam dulu, ya. Saya lupa tadi lagi menggiring cucian." ucap Ibu Sofi sembari menutup pagar rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya meninggalkan ibu Ratna yang masih saja berdiam didepan rumahnya.
Sementara itu, Ibu Riska yang melihat adegan kedua tetangganya tadi, pura-pura tidak mengetahuinya. Ibu Riska kembali dengan kesibukan nya membantu pak tukang apa yang bisa dia bantu.
__ADS_1
Dirinya mencoba untuk tidak perduli dengan omongan-omongan orang yang berfikiran negatif tentangnya. Baginya, tidak ada keuntungan meladeni mulut si biang gosip. Hanya akan menambah dosa nya saja.
Bersambung