
Hari mulai berganti, tanggal dimana seharusnya Raina kembali kontrol dengan dokter psikiaternya pun tiba. Sandra dan Raina sudah mengatur rencana untuk berangkat bersama tanpa bunda Eva tahu kemana sebenarnya tujuan mereka.
"Bun, Raina mau minta izin sama Bunda. Hari ini Raina belum bisa masuk kantor dulu, karena Raina akan membawa Al imunisasi." ucap Raina.
"Iya, Bun. Sandra yang akan menemani Raina membawa Al ke dokter." sahut Sandra menimpali ucapan Raina.
"Ya sudah, kalian hati-hati perginya." balas Bunda Eva yang memberikan izin pada keduanya.
Sandra dan Raina yang sudah siap, langsung pergi setelah mendapatkan izin dari bunda Eva.
"Alhamdulilah, berhasil." ucap Sandra pada Raina yang sudah berada didalam mobil.
"Hmm, tapi aku gak enak, San. Sudah berbohong pada bunda mu." balas Raina dengan wajah sendunya.
"Iya juga, sih. Hmmm ... sudah lah, tenang aja. Semoga kenapa-kenapa kita sudah bohongin orangtua." ucap Sandra.
Sementara itu, bunda Eva yang tengah asik membolak-balik halaman tabloid tiba-tiba menghentikan aktifitasnya. Dan kembali teringat pada kedua anak perempuan yang beberapa menit lalu meninggalkan rumah.
"Ehm, bukannya Al umur delapan bulan? Imunisasi apa di umur segitu? Bukannya diumur sembilan bulan lagi baru suntik imunisasi?" Bunda Eva bertanya-tanya dan memastikan kalau daya ingatnya memang masih bagus.
Meskipun bunda Eva sudah tidak memiliki dan tidak mengurus bayi lagi, setidaknya dia masih ingat tahapan-tahapan usia bayi yang seharusnya untuk melakukan imunisasi.
"Mereka pasti sudah bohong denganku. Tapi, kenapa mereka harus berbohong?" Bunda Eva kembali bertanya dengan dirinya sendiri.
*******
Ditempat lain, tepatnya dirumah sewaan Satria. Satria sudah bersiap untuk menuju rumah sakit dimana Raina akan kembali melakukan konseling dengan dokter psikiaternya. Satria sudah izin pada mandornya terlebih dahulu, bahwa dirinya tidak masuk bekerja hari itu.
Satria pun melajukan sepeda motornya, menuju rumah sakit yang dituju. Ini merupakan kesempatan Satria untuk dapat bertemu dengan Raina. Setelah hampir dua minggu dia sama sekali tidak mengetahui kabar Raina dan Al.
********
Sandra sudah memarkir kan mobilnya dengan sempurna dihalaman parkiran rumah sakit. Raina yang sebelumnya sudah menghubungi Yumna dokter psikiaternya bahwa dia akan kembali konseling, langsung diminta Yumna untuk langsung saja ke ruangan Yumna. Karena Yumna sudah menunggu dirinya disana.
Setelah kembali melakukan registrasi terlebih dahulu diloket pendaftaran, Raina dan Sandra langsung menuju ruangan Yumna. Saat mereka melangkah untuk pergi ke ruangan Yumna, saat itulah Satria tiba dirumah sakit.
Satria memperhatikan sebuah mobil yang tidak asing untuknya, yang sudah terparkir lebih dulu dari dirinya.
"Ini kan, mobil Sandra. Berarti Raina datang kesini dengan Sandra." gumam Satria.
Satria segera melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit itu. Satria mencari-cari dimana letak ruangan dokter psikiater.
Satria menuju ke loket pendaftaran untuk menanyakan.
"Permisi, saya mau nanya. Apa ada pasien atas nama Raina Hapsari yang mendaftar untuk kunjungan konseling dengan dokter psikiater hari ini?" tanya Satria.
"Iya, Mas ada. Ibu muda bersama dengan seorang perempuan yang seumurannya dan membawa seorang bayi. Mereka barusan saja masuk ke dalam ruangan dokter Yumna." jawab penjaga loket itu sembari menunjukkan ruangan Yumna yang tak jauh dari loket pendaftaran.
"Oh iya, terimakasih." ucap Satria.
__ADS_1
Satria pun melangkah menuju ruangan dokter psikiater yang telah ditunjukkan oleh petugas itu.
Sementara didalam ruangan, Sandra dan Raina sudah duduk dikursi yang berhadapan dengan dokter Yumna dan dibatasi oleh meja kerja dokter.
"Selamat datang lagi kesini Raina." sapa Yumna sembari tersenyum ramah pada pasiennya.
"Iya, Bu Dokter." balas Raina.
"Biar lebih akrab, kamu bisa memanggil saya kakak atau mbak saja. Jangan panggil ibu, karena saya belum menikah." ujar Yumna.
"Baik." sahut Raina dengan tersenyum juga.
"Oh ya, bukan kah ... saya memintamu untuk datang bersama dengan suamimu?" tanya Yumna sembari menatap ke arah Raina.
Raina memandang ke arah Sandra untuk membantunya memberi alasan. Baru saja Sandra akan membuka mulutnya untuk berbicara, terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar dan membuat menghentikan sejenak pembicaraan mereka.
"Iya, silahkan masuk." sahut Yumna dari dalam.
Satria pun memasukkan kepalanya dibalik pintu yang dia buka, seketika Sandra dan Raina pun terkejut melihat kedatangan Satria yang tak pernah mereka duga.
"Permisi, Dok. Saya suaminya Raina. Maaf, saya datangnya telat. Tadi harus meminta izin dulu ke kantor." ucap Satria.
Raina dan Sandra pun saling berpandangan dan menatap bingung ke arah Satria.
"Oh iya, Mas. Silahkan duduk." ucap Yumna mempersilahkan Satria untuk duduk.
Sementara Sandra sudah berpindah posisinya disofa yang berada dibelakang mereka dengan Al yang berada dipangkuannya.
Satria memandangi wajah yang dua minggu ini sangat ia rindukan kehadirannya, sedangkan Raina terus menatap dan mendengarkan Yumna yang menjelaskan bagaimana proses konseling selanjutnya tanpa menghiraukan Satria.
Yumna memperhatikan pandangan Satria kepada Raina dan Raina yang bersikap cuek dengan Satria, membuat Yumna menyimpulkan jika pasiennya ini sedang ada masalah dengan pasangannya. Karena tidak menunjukkan seperti pasangan suami dan istri yang harmonis.
"Hmm, maaf. Saya harus bertanya terlebih dahulu pada kalian. Apa kalian sedang lagi ada masalah?" tanya Yumna.
"Tidak." jawab Satria
"Iya." jawab Raina.
Mereka berdua menjawab secara bersamaan dan saling melemparkan pandangan karena mereka tidak kompak dalam menjawab.
Sandra yang mendengar jawaban antara kakak sepupu dan iparnya itu, hanya menahan tawa.
"Kok, jawabnya gak kompak gini, sih? Saya harus percaya dengan yang mana, dong?" Yumna kembali bertanya karena bingung dengan kedua orang yang ada dihadapannya.
"Saya." jawab keduanya secara bersamaan dan menunjuk diri masing-masing.
Lagi-lagi mereka saling melempar pandang, Raina merasa kesal dengan Satria dan menatap Satria dengan tatapan yang tajam. Seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.
Namun menurut Yumna, dibalik tatapan marah Raina pada Satria, sebenarnya menyimpan cinta yang teramat dalam disana.
__ADS_1
"Ok, baiklah. Kita gak akan mulai konseling selanjutnya kalau kalian masih belum bisa kompak." ucap Yumna.
"Ini dia si biang masalahnya, Kak. Dia yang menyebabkan saya seperti ini." ucap Raina dan mulai menceritakan masalahnya dengan Satria.
"Tapi, sekarang aku disini, Raina. Aku akui kalau diriku memang banyak salah padamu. Tentang perasaan itu, aku baru menyadari jika hati ini sudah mencintaimu. Bukan sekedar perasaan sayang terhadap seorang adik, tapi untuk sebagai seorang istri yang sangat berarti untukku. Plis, Raina ... beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Aku janji, setelah kamu memberi kesempatan lagi untukku, kita akan langsung mengulang akad nikah kita lagi." ucap Satria sembari berlutut dihadapan Raina dan memohon pada perempuannya itu.
Ini untuk pertama kalinya Satria memohon cinta pada seorang perempuan, hingga dia bersimpuh dikaki Raina dan disaksikan oleh orang lain.
Yumna dapat melihat kesungguhan dimata Satria, sedangkan Raina sama sekali tak berkutik. Dia bingung harus memberi jawaban apa pada Satria, Raina masih belum puas melihat Satria kebingungan mencari dirinya. Tapi keadaannya lain, sekarang Satria sudah menemukannya dan bersimpuh memohon kesempatan lagi padanya.
"Raina, percayalah pada hati kecilmu. Berdamailah dengan dirimu sendiri. Agar dapat mengurangi beban perasaanmu. Saya yakin, kamu sudah mempunyai jawaban yang tepat untuk suamimu, tapi kamu masih merasa ragu dengannya." ucap Yumna pada Raina.
"Dan untuk Mas, jangan pernah lagi memberi harapan yang tak pasti pada Raina. Jangan hanya sekedar janji, tapi harus dengan pembuktian. Cukup lama Raina menunggu, dan jika dirimu benar-benar sudah mencintai Raina, sebaiknya cepat halalkan kembali hubungan kalian. Kuncinya satu, bahagia kan hati Raina, maka cepat atau lambat masalah sebelum-sebelumnya yang membuat dirinya mengalami depresi akan memudar dari ingatannya. Karena hubungan yang harmonis, kepercayaan penuh terhadap pasangan, saling terbuka dan saling suport itulah yang sangat dibutuhkan oleh Raina. Yang dapat membantu pemulihan dirinya." Yumna menjelaskan panjang lebar apa yang harus dilakukan Satria sebagai pasangan.
Satria menganggukan kepalanya mantap, memberitahukan bahwa dirinya paham dan mengerti dengan penjelasan yang sudah diberikan oleh Yumna.
" Lalu, bagaimana dengan Raina? Apa sudah bisa memaafkan suaminya dan memberi kesempatan lagi padanya?" tanya Yumna.
Sekarang Satria menggenggam erat kedua tangan Raina dan mengharapkan jawaban yang tepat dari mulut Raina.
Raina masih tak bergeming, rasanya dia masih tidak percaya dengan Satria yang secara langsung sudah menyatakan perasaan cintanya itu padanya, perasaan yang selama ini dia tunggu-tunggu dan ia harapkan, hingga dia selalu kembali merasakan kekecewaan karena Satria yang tak kunjung memberikan kepastian.
Tapi hari ini, Satria mengungkapkannya dengan jelas dan mengatakan bahwa lelaki yang berstatuskan suaminya itu sudah mencintai dirinya secara utuh sebagai seorang istri dan bukan sekedar adik lagi.
"Buka hatimu untuk memaafkan, Raina. Semua akan indah jika kamu bisa berdamai dengan keadaan dan terutama dengan hatimu sendiri." ucap Yumna memberi dorongan semngat untuk Raina.
Dengan mata berkaca-kaca, Raina menganggukan kepalanya pada Satria.
"Maksudnya? Kamu sudah memaafkan diriku? Kamu mau memberiku kesempatan lagi, Raina?" tanya Satria.
Sekali lagi, Raina menganggukan kepalanya. Bibirnya seakan terkunci rapat, kehabisan kata-kata.
"Tapi, Mas Satria jangan senang dulu. Mas harus berhadapan dengan bunda dan pakde dulu. Pertanggungjawabkan semuanya dan buktikan ucapan Mas yang tadi. Awas kalau sampai Mas mangkir dengan janji, Mas. Bisa dipastikan Mas benar-benar gak bisa ketemu lagi sama Raina dan juga Al." ancam Sandra.
Raina terkekeh geli mendengar ancaman yang diberikan Sandra untuk kakak sepupunya itu, Sandra seperti ibu tiri yang lagi memarahi anak tirinya.
Pertemuan konseling hari itu, menjadi saksi atas bertemunya kembali Satria dan Raina. Dan juga pernyataan cinta Satria untuk Raina yang disaksikan oleh dokter Yumna, Sandra dan juga Al.
Setelah kembali ke beberapa rangkaian proses konseling yang dilakukan Raina, setelah acara dramatis pernyataan maaf dan cinta dari Satria, dokter pun kembali menjadwalkan pertemuan lagi pada Raina.
Dan pastinya Yumna juga meminta Satria kembali untuk menemani Raina, karena dia ingin melihat seberapa pesat perkembangan Raina setelah kembali lagi dengan suaminya.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
__ADS_1
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π