Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Siapa Lin?


__ADS_3

Ditengah-tengah tidurnya, Raina terbangun karena rasa lapar yang mendera perutnya. Raina melihat jam dihandphonenya, jam menunjukkan pukul satu dinihari.


"Dibawa tidur lagi aja lah, empat jam lagi sudah subuh." gumam Raina sembari kembali merebahkan tubuhnya.


Semakin mencoba untuk memejamkan matanya, perutnya semakin berontak untuk meminta segera diisi. Raina kembali bangun dan duduk dipinggir kasur nya.


"Adek laper, ya? Ehm, kita bangunin ayah Satria dulu, ok. Dedek yang sabar dulu, ya." gumam Raina sembari mengelus perutnya seakan berbicara pada sang bayi yang berada didalam perutnya.


Akhirnya Raina memberanikan diri untuk keluar dari kamar dan mencoba untuk membangunkan Satria.


Raina mengetuk pintu kamar Satria berulang kali, namun tak ada sahutan dari dalam. Saat Raina memegang handel pintu,


Ceklek,


"Ternyata pintu nya gak dikunci." gumam Raina dan perlahan masuk ke dalam kamar Satria.


Raina sudah berada tepat didepan Satria, namun posisi nya membelakangi Raina. Raina pun dengan perlahan menggoyang kan tubuh Satria untuk membangunkan nya.


" Susah sekali dia dibangunkan." gerutu Raina.


Raina mencoba kembali membangunkan Satria. Kali ini terlihat Satria menggeliat diatas kasurnya dan membalikkan badannya kearah Raina. Raina yang ingin merubah posisi nya untuk lebih menjauh dari Satria, namun tidak bisa. Karena tangan nya sudah ditahan oleh Satria.


"Maaf kan aku, Lin? Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aku benar-benar minta maaf." ucap Satria yang sedang mengigau.


"Lin?" desis Raina.


"Apa mas Satria mempunyai seorang kekasih? Tapi, bukannya kata Sandra waktu itu, jika mas Satria tidak sedang mempunyai hubungan apa pun dengan perempuan." gumam Raina.


Raina mencoba menarik tangannya agar terlepas dari pegangan Satria. Saat Raina berhasil melepaskan tangannya, saat itu juga Satria terbangun dari tidurnya.


"Eh, ehm ... Raina ...." ucapnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

__ADS_1


"I-iya, Mas." jawab Raina terbata.


"Sedang apa kamu disini? Ini masih malam." tanya Satria.


"Ehm, ini bukan malam Mas, tapi sudah dinihari. Aku lapar sekali, jadi aku bangun dan berniat ingin membangunkan Mas juga untuk menemani ku makan." jawab Raina.


"Makan? Disaat seperti ini?" tanya Satria kaget mendengar ucapan Raina.


"He'em, dari tadi aku menahan lapar. Sudah mencoba untuk tidur lagi tapi tidak bisa. Rasanya semakin lapar sekali, mungkin si dedek juga ngerasain yang sama seperti ku." Raina menganggukan kepalanya sembari menunjuk perutnya yang membuncit.


"Hemm,, baiklah. Ayo, kita ke dapur." ucap Satria sembari tersenyum memandang perut Raina.


Raina membuntuti Satria dibelakang. Mereka pun akhirnya berada didapur. Satria membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan oleh Raina.


"Hanya ada ini. Apa kamu mau?" tanya Satria sembari menunjukkan mie instan, telur serta beberapa buah sosis.


"Mau." ucap Raina antusias. "Tapi, Mas harus ikut makan juga, ya?" bujuk Raina.


Hanya perlakuan kecil seperti itu sudah membuat Raina senang.


Satria sudah mulai memasak, sementara Raina hanya memperhatikan Satria yang sudah sibuk dengan sutil ditangan nya.


Makanan pun sudah tersaji dihadapan Raina, mie instan rebus ditambah telur orak arik dan sosis goreng yang menggiurkan untuk Raina.


"Kenapa mie nya hanya satu mangkuk?" tanya Raina pada Satria yang melihat hanya ada satu mangkuk dihadapannya.


"Iya, itu untuk mu. Aku akan makan ini saja." jawab Satria sembari menarik piring sosis dan menuangkan saus sambal dipiringnya.


Raina mulai memakan mie instan buatan Satria dengan sangat lahap. Satria yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Raina. Setelah selesai dengan semangkuk mie nya, Raina pun mencomot sosis goreng yang ada dihadapan Satria dan kembali memakannya dengan lahap.


Satria pun berhenti memakan sosis goreng itu dan menyerahkan nya pada Raina. Karena seperti yang dia lihat, jika Raina sangat menyukai nya. Tak ayal, sosis goreng pun sudah tandas masuk ke dalam perut Raina.

__ADS_1


"Apa ibu hamil kalau sedang makan seperti ini?" tanya Satria yang tak menyangka jika Raina sanggup memakan sebanyak itu.


"Tergantung. Jika mood ku lagi bagus, aku bisa makan sangat banyak, tapi jika mood ku sedang jelek, aku bisa sangat malas untuk menyentuh makanan apa pun." jawab Raina santai.


"Makan lah yang banyak, biar kalian berdua sama-sama sehat." sahut Satria.


Dengan cepat Raina menganggukan kepalanya. Dan kemudian, dirinya teringat sesuatu.


Ya, Raina teringat dengan ucapan Satria saat dirinya mengigau tadi. Dan Raina pun bermaksud untuk menanyakan nya.


" Ehm, Mas ... apa aku boleh bertanya?" tanya Raina berhati-hati.


"Iya tanya kan saja, selama pertanyaan mu tidak yang aneh-aneh aku akan menjawabnya." jawab Satria dengan wajah datar nya.


"Ehm, siapa Lin? Apa dia kekasih mu?" tanya Raina lagi. Sontak pertanyaan nya membuat Satria gugup.


"Mas tadi mengigau dan mengucapkan permohonan maaf pada si Lin itu." tambah Raina.


"Sudah lah, tak usah dipikirkan. Aku kan hanya sedang mengigau. Jika kamu sudah selesai, kembali lah ke kamar mu lagi. Ini masih gelap." ucap Satria mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah." balas Raina beranjak dari meja makan dan melangkah pergi meninggalkan Satria tanpa memperpanjang pertanyaan nya yang masih membuatnya penasaran.


Satria mengusap wajah nya dengan kasar.


"Bagaimana aku bisa sampai mengigau mengucapkan nama wanita lain didepan Raina?" gumamnya.


"Apa aku juga harus jujur pada Raina tentang Erlina? Aarrrggghhhh.....!" Satria kembali mengusap wajahnya dengan frustrasi.


Mohon like, komen, vote serta rate nya ya 😁


Dukungan kalian sangat berharga untuk author agar lebih semangat lagi UP nya πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2