Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Panggilan Sayang


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, Raina menggeliat diatas kasurnya. Dengan tubuh yang masih lemah baru bangun tidur, Raina berusaha bangun dan beranjak ke kamar mandi dengan langkah gontai untuk berwudhu. Raina segera menggelar sajadahnya dan melakukan sholat dua rakaat itu dengan khusyuk.


Setelah selesai, Raina keluar dari kamarnya dan berniat untuk membangunkan Satria. Semenjak ada Raina, Satria tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Sejak kejadian hari itu, dimana Raina membangunkannya ditengah malam karena meminta untuk ditemani makan. Jadi, dia memutuskan agar tidak mengunci pintu kamarnya, jika sewaktu-waktu Raina membutuhkan dirinya lagi.


Raina membuka pintu kamar Satria, perlahan-lahan dia melangkah mendekat ke arah kasur Satria. Dia berdiri tepat dibawah kaki Satria. Raina menggoyang-goyangkan kaki Satria membangunkan nya.


Satria menggeliat dan seketika kakinya merengang dan hampir menendang perut Raina. Refleks Raina menghindar dan mundur kebelakang hingga dirinya terbentur pada tembok.


"Aw ..." Raina meringis karena kepalanya ikut terbentur ke dinding kamar Satria.


Satria terkejut setelah mendengar suara seseorang kesakitan. Dia bangun dari tidurnya dan melihat Raina berdiri diujung kasurnya sembari mengusap-usap kepala.


"Kamu kenapa?" tanya Satria.


"Aku habis terbentur ke tembok." jawab Raina.


"Kok, bisa?" Satria bertanya setengah berteriak karena dia kaget dengan jawaban Raina.


"Kakimu hampir saja menendang perutku, jadi aku refleks mundur dan terbentur ke tembok." jawab Raina bersungut-sungut.


"Benarkah? Tapi aku tidak menendangnya kan? Maaf, ya." Tanpa sadar, tangan Satria langsung mengelus perut Raina karena khawatir jika dia hampir saja menendang perut Raina yang ada nyawa didalamnya.


Raina terdiam, mendapatkan perhatian dadakan yang dilakukan oleh Satria. Dia dapat merasakan kasih sayang tulus yang diberikan Satria pada calon anaknya.


"Baru kali ini perutku disentuh oleh seorang lelaki seperti ini. Meskipun kamu hanya suami sementara, setidaknya aku dan anakku bisa merasakan kasih sayangmu yang tulus."


Bukan hal yang mudah bagi Raina, disaat masa kehamilannya seperti ini, tak dapat dipungkiri dirinya pun ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih dari seorang suami seperti pasangan suami-istri semestinya. Tapi, keadaannya berbeda. Suami dan istri baginya hanya sebuah status.


"Ah, sudahlah Rai, jangan berharap lebih. Nanti kamu kecewa jika tidak sesuai dengan yang kamu harapkan."


Cukup lama Satria mengelus perut Raina sembari mengajak bicara yang didalam perut. Seperti seakan mengerti, calon bayi itu selalu merespon dengan tendangan diperut Raina saat Satria mengajaknya bicara.

__ADS_1


" Maaf Mas, aku harus ke dapur untuk membuatkan sarapan." ucap Raina dan segera keluar dari kamar Satria.


Raina segera masuk kedalam kamar mandi yang terletak bersebelahan dengan dapur. Raina menumpahkan air matanya yang sedari tadi sudah terbendung dikelopak matanya.


Di satu sisi dia merasa senang karena dapat merasakan tendangan sang buah hati yang merespon ucapan Satria tadi, tapi disisi lain dirinya juga merasa sesak dihatinya mengingat status yang dia sandang hanya sebagai istri sementara.


Sementara Satria masih terpaku, menyadari apa yang sudah ia lakukan setelah Raina pergi.


"Apa begini rasanya jadi seorang suami yang mempunyai istri hamil? Apa Raina tidak merasa sakit diberi tendangan bertubi-tubi sama anaknya didalam perut sana?" Satria terus bertanya pada dirinya sendiri dengan tersenyum-senyum dan tertawa kecil mengingat dirinya mendapat respon dari anak yang dikandung Raina setiap kali dia berbicara.


Raina sudah menata hatinya kembali, dia keluar dari kamar mandi dan segera bergegas membuatkan sarapan untuk dirinya serta semua orang yang berada dirumah itu. Seperti hari sebelumnya, Raina membuat menu sarapan untuk dirinya, Satria dan Bara yang berbeda dengan menu makanan sang mertua. Dirinya tetap menjaga pola makan mertuanya agar cepat sehat kembali.


Satria sudah membersihkan dirinya dan mengenakan pakaiannya. Kemudian dia keluar dari kamarnya menuju meja makan. Diatas meja makan sudah tersaji secangkir kopi panas yang telah dibuatkan oleh Raina untuk dirinya.


Satria segera duduk dan menyesap kopinya, tak lama kemudian Raina dengan gesit menghidangkan makanan diatas meja makan untuk sarapannya.


"Sarapanlah dulu, sebelum kamu berangkat." ucap Raina sembari mengisi makanan di piring Satria.


Raina pun sudah siap dengan nampan ditangannya yang sudah berisi makanan serta obat untuk diantarnya ke kamar ibu Santi, mertuanya.


"Mah ..." panggil Raina pelan membangunkan mertuanya.


Ibu Santi mengerjapkan matanya, perlahan-lahan membuka matanya.


"Raina ...." jawabnya lirih dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.


"Ayo, Mah ... bangun dulu. Raina sudah bawain sarapan dan obat buat Mamah." ajak Raina.


"Tapi, Mamah mau ke toilet dulu." ucap Ibu Santi.


"Sini, biar Raina yang bantu." sahut Raina.

__ADS_1


"Jangan, panggilkan Satria aja. Kamu lagi hamil dan badanmu juga lebih kecil dari mamah." Raina pun menyadarinya jika memang tubuhnya lebih kecil dibanding dengan mertuanya yang bertubuh tambun dan lebih tinggi dari dirinya.


Raina menganggukan kepalanya dan segera keluar untuk menemui Satria.


" Mas ... Mas Satria ..." panggil Raina.


"Iya, Dek. Kenapa?" sahut Satria.


"Mamah minta tolong, antar kan ke toilet." ucap Raina.


Satria pun segera ke kamar mamahnya. Sementara Raina masih berdiam diri ditempatnya.


"Apa dia memanggilku adik? Apa itu bisa dibilang panggilan sayang?" Raina tersenyum setelah mendengar Satria memanggil Raina dengan sebutan adik dengan halus.


Setelah tersadar dari lamunannya, Raina segera bergegas kembali ke kamar mertuanya. Raina mulai menyuapi sedikit demi sedikit makanan kepada Ibu Santi.


" Mah, pagi ini Satria harus ke bandara. Pakde Suseno pasti sudah menunggu Satria disana. Satria akan ke pulau B untuk menemui Awan dirutan sana." ucap Satria.


"Iya, Nak. Kamu hati-hati. Kabari kami secepatnya jika kamu sudah sampai dan bertemu dengan adikmu." balas Ibu Santi.


"Satria berangkat dulu ya, Mah." pamit Satria pada mamahnya dan dijawab anggukan oleh ibu Santi.


"Kamu dirumah aja, jangan kemana-mana. Temenin mamah. Aku tidak menginap disana, setelah urusan disana selesai aku langsung pulang" pesan Satria pada Raina.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati, ya." balas Raina dan mencium tangan Satria penuh takzim.


Sekian lama Satria tak mengendarai sepeda motornya, kini dia sudah memacu kuda besinya dijalan besar. Empat puluh lima menit waktu yang ia tempuh dari rumahnya hingga sampai dibandara. Satria segera mendatangi Pakde Suseno yang telah menunggunya diterminal keberangkatan.


Setelah melakukan semua prosedur untuk keberangkatan, Satria dan Pakde Suseno memasuki pesawat yang akan membawa mereka ke pulau B. Satria dan Pakde Suseno sudah duduk dikursi penumpang yang telah ditetapkan. Pesawat pun mulai meninggalkan landasan.


Mohon like, komen, vote dan beri rate nya kawan readers 😊

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2