
Raina sudah berada didalam ruangan nya, meski saat memasuki resto semua mata karyawan lainnya menatap Raina dengan tatapan tak bersahabat seperti biasanya. Namun Raina tak ambil pusing dengan sikap mereka. Yang pada akhirnya akan tahu dengan sendirinya. Hanya Gina yang masih menyapa Raina dengan hangat.
Sekarang yang ada dipikiran nya adalah memperkuat mental nya untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan hal yang akan terjadi nantinya.
Raina mulai berkutat dengan pekerjaan nya didepan komputer. Terdengar suara dering handphone nya yang membuyarkan konsentrasi nya bekerja.
Segera ia mengambil benda pipih itu yang masih berada didalam tas jinjing nya. Tertera nama bunda Eva di layar ponsel nya.
[Hallo, assalamualaikum ... Bun]
[Walaikumsalam, apa kamu bekerja hari ini?]
[Iya, Bun. Ini sekarang Raina lagi ngerekap laporan yang kemarin]
[Ehm, bagaimana dengan keputusan yang kemarin? Apa kamu sudah menemukan jawabannya?]
Raina terdiam sesaat dan kemudian menarik nafas nya perlahan dan menghembuskan nya. Raina kembali memantapkan hatinya untuk memberi jawaban.
[Rai, apa kamu dengar Bunda?]
[Iya, Bun. Raina dengar]
[Lalu bagaimana?]
[Bismillah ... Raina bersedia menerima mas Satria] jawab Raina dengan mantap.
[Alhamdulillah ... Ya sudah Bunda tutup ya telepon nya. Bunda mau ngabarin kabar baik ini ke Pakde Suseno.]
[Iya, Bun]
Panggilan pun diakhiri. Ada perasaan lega setelah Raina mengucapkan ketersediaan nya untuk menikah dengan Satria. Meski dia tahu pernikahan ini hanya sebatas untuk bertanggung jawab atas buah hati yang di kandung nya agar mempunyai status yang jelas. Untuk ke depannya biarlah berjalan sesuai alur nya, itulah yang ada dipikiran Raina. Semua sudah ia serahkan kepada Sang Pengatur kehidupan.
Ditempat lain, bunda Eva mengabari kepada pakde Suseno dan Satria mengenai kabar baik yang ia terima dari Raina. Semua mengucap syukur atas jawaban yang telah dibuat oleh Raina. Dan berharap ini adalah keputusan yang terbaik untuk Satria dan Raina.
Bunda Eva pun sebenarnya sangat berharap lebih kedepannya Raina dan Satria tetap menjalani pernikahannya dengan baik, bukan karena rasa simpati Satria semata yang bertanggung jawab atas anak yang dikandung Raina. Karena bunda Eva lebih setuju jika Raina dengan Satria bukan bersama Awan, dirinya lebih mengenal sifat kedua keponakan nya itu. Karena dirinya yakin jika Satria akan membuat Raina bahagia.
**********
Satria yang mendapat kabar baik itu pun langsung merasa senang. Entah kenapa hatinya begitu berbunga-bunga. Satria langsung mengambil handphone nya untuk menghubungi Raina.
Tut.. Tut.. Tut..
[Hallo ... siapa ya?]
__ADS_1
[Hai, Raina ... ini aku Satria. Terimakasih ya sudah memberi jawaban terbaik mu]
[Oh ... ehm ... iya mas sama-sama]
[Semoga kita bisa melalui ini bersama. Oh, iya ... nanti malam selepas maghrib aku sama pakde Suseno akan kerumah mu untuk membicarakan hal ini dengan ibu dan juga kakak mu.]
[Ehm ... nanti Raina sampaikan sama ibu.]
[Ok. Sampai jumpa nanti malam.]
Panggilan pun diakhiri, Satria melihat jam tangannya. Dia akan memenuhi janji nya untuk bertemu dengan sahabatnya disebuah kafe siang ini.
Dia langsung meraih kunci sepeda motornya dan mulai melajukan ke jalan utama. Satria bergegas ke kafe tempat yang sudah disebutkan oleh Ridho.
Setengah jam perjalanan akhirnya dia tiba ditempat yang ia tuju. Satria segera memarkir sepeda motornya dan masuk ke dalam kafe tersebut. Rupanya dia datang lebih awal sebelum Ridho. Satria memilih tempat duduk seperti biasa, tempat favorit mereka berdua jika berada dikafe itu.
Satria mengeluarkan handphone dari saku celana nya dan menghubungi sahabatnya itu.
[Hallo, Sat ... kenapa?]
[Pake acara nanya kenapa lagi. Aku sudah dikafe yang kamu bilang. Buruan!]
Sementara disebrang sana Ridho melirik jam tangannya.
[Hei ... aku bilang kan jam makan siang, ini masih pagi.]
[Ok. Limabelas menit lagi aku kesana.]
Panggilan pun diakhiri. Ridho pun mengalah menuruti kemauan sahabatnya itu. Jarak antara kantor nya dengan kafe tempat ia bertemu tidak terlalu jauh.
Sesuai dengan yang ia ucapkan, Ridho tiba dikafe tepat limabelas menit. Ridho langsung menuju tempat yang biasa dia duduk bersama Satria. Seperti yang ia duga Satria sudah berada disana dengan menikmati secangkir Cappucino hangat kesukaan nya.
"Hai, Bro ..." sapa Ridho sembari merangkul Satria.
Satria pun membalas rangkulan sahabatnya itu dan kemudian mereka duduk saling berhadapan.
"Apa yang membuat mu ingin bertemu dengan ku?" tanya Satria.
"Makan dulu lah, baru bahas itu." balas Ridho sembari tangannya melambai kepada seorang pekayan.
Pelayan itu pun mendekat ke arah meja yang ditempati oleh Ridho dan Satria.
"Silahkan dipilih menu nya, Tuan ...." ucap pelayan itu sembari menyodorkan buku menu kehadapan Ridho.
__ADS_1
Ridho membolak balik kan buku menu mencari menu yang akan dia pesan.
"Kamu mau makan apa?" tanya nya pada Satria.
"Samain aja deh." jawab Satria.
"Steak saus baberque dua sama jus alpukat satu." ucap Ridho pada pelayan yang berdiri disamping nya.
"Baik, Tuan." Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Ridho.
Ridho dan Satria mulai mengobrol ringan sembari menunggu pesanan mereka datang. Kedatangan mereka sebenarnya mempunyai tujuan yang sama. Sama-sama bermaksud untuk membicarakan Raina. Namun, kedua orang itu belum membahas maksud hati mereka masing-masing.
Akhirnya makanan yang mereka tunggu pun datang. Mereka berdua menikmati makanan itu dengan tenang.
"Baiklah. Sekarang sudah selesai makan, katakan apa yang mau kamu bicarakan." ucap Satria langsung to the point tidak ingin terlalu lama berbasa basi itu lah Satria.
"Begini Sat, kamu tahu sendiri adik mu sekarang masih dalam proses tahanan jadi tidak mungkin kan, Raina menunggu nya terlalu lama mengingat kondisi nya sekarang seperti apa. Dan kamu juga tahu jika aku menyukai gadis itu dari beberapa bulan yang lalu." Ridho menjelaskan dengan wajah yang berseri-seri.
Sementara Satria sudah mulai terlihat merubah raut wajahnya. Namun dirinya tetap mendengarkan penjelasan dari Ridho.
"Jika kamu tidak keberatan, aku ingin bertanggung jawab penuh untuknya." tambah Ridho lagi.
"Maksud mu ... kamu ingin menikahi nya?" tanya Satria setengah terkejut mendengar penuturan sahabatnya.
"Iya, apa kamu merestui nya?" tanya Ridho hati-hati sembari melihat perubahan wajah Satria.
"Maaf, Do. Sebenarnya tujuan ku kesini juga ingin mengabari dirimu, bahwa aku yang akan menikah dengan Raina menggantikan Awan." jawab Satria. Dia tahu bahwa ini menyakiti hati sahabatnya tapi dia tidak ingin menutupi nya dan membuat Ridho semakin berharap.
Ridho mematung ditempat nya. Kata-kata Satria bagaikan busur panah yang melesat tepat dihatinya. Dia terdiam tak bisa berkata apa-apa.
"Aku benar-benar minta maaf, Do. Keputusan ini aku ambil setelah berembuk dengan anggota keluargaku. Dan lagi pula anak yang dikandung Raina adalah anak dari adikku sendiri yang mempunyai darah yang sama denganku dan mengalir ditubuh anak itu." tambah Satria lagi.
"Bukan kah kamu telah memiliki Erlina. Bagaimana dengan kekasih mu itu?" tanya Ridho.
Satria memang sudah menjalin kasih dengan seorang gadis, namun mereka menjalani hubungan jarak jauh mengingat Satria yang lebih sering bekerja dilokasi ketimbang dikantor pusat dan Erlina sendiri juga berada di pulau yang berbeda karena tugasnya sebagai seorang dokter yang mengharuskan dirinya bekerja dipulau terpencil itu demi pengabdian nya sebagai dokter.
"Aku akan memutuskan nya. Aku akan membicarakan masalah ini kepada orang tuanya." jawab Satria.
"Baik lah, aku pegang kata-kata mu. Aku tidak mau melihat Raina kecewa dan bersedih. Buatlah dia bahagia, sudah cukup kepahitan dihidupnya." ucap Ridho mencoba berbesar hati menerima kenyataannya dan beranjak meninggalkan Satria.
Ridho pergi dengan hati yang hancur.
"Seharusnya aku mengubur semua perasaan ini dan bukan mengajukan ide gila itu pada Satria." gumam Ridho sembari menonjok stir mobil nya.
__ADS_1
Satria membiarkan Ridho pergi, Satria tahu jika sahabatnya itu sekarang merasa kacau. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan dan memutus persahabatan mereka.
Mohon like, komen dan vote ππ