
Bismillah ....
Assalamu'alaikum semua nya, selamat pagi ... semangat pagi πβ
Author kembali lagi setelah sekian lama menghilang dari dunia kehaluan ini π
Terimakasih yang sudah tetap setia menunggu lanjutan cerita ini π
Selamat membaca ππ
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Keesokan harinya, seperti yang sudah dikatakan oleh dokter yang menangani ibu Santi. Jika, keadaan beliau sudah mulai membaik dan kondisi jantungnya sudah mulai stabil, maka ibu Santi diperbolehkan untuk pulang hari itu juga.
Ibu Santi yang mendengar penjelasan dan arahan dari dokter, merasa sangat senang karena akhirnya dirinya bisa keluar dari ruangan itu dan menengok anak bungsunya yang beberapa hari tidak ia lihat.
Ibu Santi pun berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih memperhatikan lagi kesehatan dirinya dan tidak ingin melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh dokter yang menangani dirinya.
Raina yang baru saja masuk ke ruang rawat mertuanya itu pun langsung mendekati mertuanya itu yang sedang berkemas dan sudah tidak menggunakan selang infus lagi.
"Jadi, Mamah sudah diperbolehkan untuk pulang sama dokter?" tanya Raina yang juga ikut membereskan sisa-sisa perlengkapan mertuanya.
"Iya, Rai. Mamah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Bara. Bagaimana keadaannya?" jawab Ibu Santi yang juga melemparkan pertanyaan seputar perkembangan Bara.
"Alhamdulilah, Bara sudah mulai ada sedikit kemajuan. Luka-luka nya juga sudah mulai mengering. Mungkin, seminggu lagi kalau dia sudah bisa menggunakan tongkat sendiri, dia juga diperbolehkan untuk pulang, Mah." jawab Raina.
"Sudah beres semua, kan? Ayo, kita ke ruang rawat Bara." ajak Ibu Santi pada menantunya itu.
Raina pun menganggukan kepalanya menyetujui ajakan mertuanya. Raina membawa tas kecil berisi sisa perlengkapan mertuanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggandeng mertuanya. Mereka berdua pun meninggalkan ruang rawat itu menuju ke ruang rawat Bara.
Sesampainya di dalam ruang rawat Bara, ibu Santi langsung menghampiri anak bungsunya itu yang ternyata sedang tertidur.
"Mah, Raina tinggal dulu, ya. Raina mau menyelesaikan administrasi dan memberitahukan kepulangan Mamah." ucap Raina.
"Oh iya, sayang. Mamah sampai lupa jika belum menyelesaikan administrasinya. Mamah minta tolong ya, sama kamu. Nih, pakai kartu ini kalau kamu mau bayar-bayar." balas Ibu Santi sambil mengeluarkan kartu atm nya dari dompet dan menyerahkan nya pada Raina.
" Gak usah, Mah. Pakai punya Raina aja, toh ini juga uang hasil kerja anak Mamah juga." tolak Raina.
" Jangan, Nak. Lebih baik, kamu simpan uang kamu itu untuk tabungan kalian saja. Ambil ini, gunakan ini saja." ucap Ibu Santi yang langsung meletakkan benda pipih itu diatas telapak tangan menantunya itu.
Akhirnya, Raina menerimanya tanpa penolakan lagi. Raina pun segera keluar dari ruangan itu untuk menuju kasir rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi mertuanya selama di opname dirumah sakit itu.
*****
__ADS_1
Hari-hari berlalu, dua minggu sudah Bara berada dirumah. Sejak kepulangannya ke rumah, Bara begitu menunjukkan kemajuan yang pesat. Dia tak pernah berhenti untuk terus melatih kakinya agar bisa berjalan lagi dengan normal.
Begitu pula dengan kehidupan rumah tangga Raina dengan Satria yang semakin harmonis, serta kedekatan Raina dengan ibu mertuanya yang juga sudah semakin membaik.
Hari itu, bertepatan dengan hari minggu. Raina dan Satria bersepakat untuk mengunjungi kediaman rumah ibu Santi, mamah dari Satria dan juga merupakan ibu mertuanya Raina. Dan tak lupa si kecil Al yang ikut serta dengan kedua orang tuanya.
Setibanya dirumah ibu Santi, mereka sudah disambut dengan hidangan yang menggugah selera yang tersaji dimeja makan.
"Mamah masak sebanyak ini?" tanya Raina.
"Iya. Mamah sengaja menyiapkan semua ini karena tahu kalian akan datang kesini. Sudah lama juga kan, kita gak makan bareng lagi?" jawab Ibu Santi dan juga kembali melemparkan pertanyaan kepada menantunya itu.
Raina hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan sang mertua.
"Terimakasih ya, Mah." ucap Satria.
"Ayo, langsung dimakan. Nanti keburu dingin malah gak enak, lho." ujar Ibu Santi.
Semua pun duduk dikursi yang berhadapan dengan makanan yang tertata rapi di meja makan.
"Sini cucu Uti, ayo sama Uti sini." ajak Ibu Santi pada Al yang juga sudah duduk disamping Raina.
Al menengok ke arah bundanya meminta persetujuan sang bunda sebelum dia menyetujui ajakan mbah uti nya.
Al pun berjalan ke arah mbah uti nya dengan bokong yang bergeal-geol karena badan gempalnya.
Tanpa ragu Al langsung naik ke pangkuan mbah uti nya.
"Adek jangan duduk disitu. Adek kan, badannya berat. Nanti mbah uti nya keberatan, lho." ucap Raina meminta anaknya untuk duduk dikursi sendiri.
"Gak apa-apa, Rai. Paling nanti kalau. Mamah sudah capek, Mamah bakal turunin Al." jawab Ibu Santi sambil tertawa kecil dan mencubit pipi tembam Al yang menggemaskan.
Semua pun ikut tersenyum melihat Al dengan mbah nya.
"Al mau ini?" tanya Ibu Santi sambil menunjuk semangkuk puding berfla vanila itu pada cucunya.
"Au (Mau)" jawab Al sambil menganggukan kepalanya.
Ibu Santi pun mengambilkan puding tersebut dan menyuapkan nya ke dalam mulut cucunya itu.
Semua pun kembali menikmati hidangan yang tersaji dengan hikmat dan kembali penuh kehangatan diantara semuanya. Rasa yang telah lama tak dirasakan ibu Santi, dimana dirinya kini dapat kembali berkumpul dengan anak-anaknya. Dan dirinya pun sudah mengikhlaskan Awan yang kini masih dalam masa pembinaan dirumah tahanan di seberang pulau yang berbeda.
*****
__ADS_1
Makan siang pun berakhir, mereka semua berkumpul diruang keluarga. Ditengah-tengah suasana yang ceria bermain dengan cucu satu-satunya itu, Ibu Santi mencoba meminta anaknya yang tak lain adalah Satria untuk kembali menempati rumahnya itu.
"Sat, Mamah tahu sekarang kalian mengontrak rumah yang tidak begitu besar, apa tidak sebaiknya jika kalian kembali tinggal disini lagi? Biar Mamah tidak merasa kesepian karena sudah pasti ada Al yang menjadi hiburan Mamah." pinta Ibu Santi.
"Ehm, maaf Mah. Bukannya Satria tidak ingin tinggal bersama lagi dengan Mamah, tapi Satria rasa memang seharusnya kami belajar mandiri dalam rumah tangga kami." jawab Satria sembari sesekali melirik ke arah istrinya.
Satria tahu bagaimana kondisi psikis Raina yang baru saja pulih dari stres berat yang dialami perempuannya itu. Satria pun mengerti, belum tentu kedua wanita yang ia sayangi ini akan benar-benar akur jika berada dalam satu atap kembali. Mungkin lebih baik seperti ini, tinggal berjauhan dan menyisakan perasaan saling rindu.
Ibu Santi tertunduk lesu setelah mendengar jawaban sang anak yang tidak menuruti permintaan nya.
"Mamah jangan sedih, kami akan tetap selalu berkunjung ke rumah ini. Dan Mamah pun boleh mengunjungi ke rumah kontrakan kecil kami." ujar Satria yang mengerti perasaan mamahnya.
"Mungkin ini semua yang terbaik untuk kalian, Mamah hanya bisa mendukung saja. Karena memang kamu harus menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas keluargamu." balas Ibu Santi yang menerima keputusan sang anak.
"Terimakasih, Mamah sudah mau memahami dan menerima keputusan Satria." ucap Satria.
"Iya, Nak." Ibu Santi tersenyum kepada anak sulung nya itu.
Setelah pembicaraan tersebut, semua kembali fokus pada tingkah lucu Al yang menggemaskan. Tapi tidak dengan ibu Santi, yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa menit kemudian, ibu Santi kembali bersuara. Membuka obrolan yang sepertinya telah ia pikirkan sebelumnya.
"Hmmm, Satria ... Mamah rasa, kamu sudah seharusnya tahu." ujar Ibu Santi menggantung omongannya.
Kembali Satria menoleh kearah mamah nya itu, begitu pun dengan Raina dan juga Bara yang berada diruangan itu.
"Harus tahu tentang apa, Mah?" tanya Satria menatap mamah nya dengan wajah penasaran.
"Sebenarnya, papah mu sebelum meninggal memberikan sebuah rumah di daerah sentosa. Dan juga aset lainnya seperti tanah untuk kamu dan juga adikmu, Awan." jawab Ibu Santi.
Satria terkejut mendengar jawaban dari mamahnya, yang ia baru tahu bahwa papah nya telah meninggalkan warisan untuk dirinya dan juga adiknya. Karena selama ini yang ia ketahui peninggalan papahnya hanyalah rumah yang masih ditempati oleh mamahnya sekarang dan juga sebuah pabrik yang sekarang turut dikelola oleh ayahnya Sandra.
"Kenapa Mamah baru memberitahukan hal ini?" tanya Satria lagi.
"Karena Mamah rasa ini adalah waktu yang tepat. Sekarang kamu sudah berkeluarga, dan Mamah rasa kamu tidak akan menolak lagi sekarang. Jika tadi, Mamah memintamu untuk kembali tinggal disini kamu menolaknya, mungkin jika Mamah meminta kalian untuk menempati rumah itu, apakah kamu akan menolaknya juga?" Ibu Santi kembali mengajukan penawaran pada anak lelaki nya itu.
"Tentu Satria tidak akan menolaknya, Mah. Karena itu adalah hak untuk Satria yang diberikan oleh almarhum papah. Tapi, untuk menempati rumah itu sepertinya Satria akan kembali memikirkannya terlebih dahulu. Karena Satria juga belum tahu rumah itu terletak dimana dan bagaimana dengan kondisi rumah itu sekarang." jawab Satria.
"Bagaimana jika kita melihatnya sekarang? Kamu tidak ada kesibukan lagi kan, hari ini?" ajak Ibu Santi.
"Ehm ... tidak ada. Boleh juga ide Mamah." jawab Satria yang menyetujui ajakan mamah nya itu.
"Mah, apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanya Bara.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, Nak." jawab Ibu Santi.