Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Malam ini, sesuai dengan pembicaraan Satria ditelpon siang tadi dengan Raina bahwa dirinya akan datang kerumah Raina bersama pakde Suseno, maka Ibu Riska mempersiapkan jamuan untuk tamunya yang akan datang tersebut.


Sedangkan Raina mematut dirinya didepan cermin, dia terlihat sangat cantik. Bolak balik mencari baju yang bagus dan akhirnya pilihan nya jatuh pada dress diatas lutut dengan lengan pendek namun tetap menutup bahunya yang berbahan kan brukat sekilas nampak seperti kebaya namun berbentuk dres, baju tersebut dibelikan Sandra saat mereka akan mengikuti sebuah pesta dirumah temannya saat masih sekolah dulu yang masih muat ditubuh Raina. Rambut lurus panjang hitam legamnya dibiarkan terurai dengan sedikit polesan make up natural diwajahnya menambahkan kecantikan nya.


Ada perasaan yang tak menentu dihati Raina.


"Apakah seperti ini rasanya orang yang mau dilamar?" gumam Raina.


Secara tidak langsung kedatangan Satria nanti untuk melamar Raina secara formal dihadapan keluarga Raina.


Suara deru mobil berhenti didepan rumah Raina. Raina semakin merasa jantung nya berdebar begitu kencang nya.


"Aldo, coba tengok dulu didepan. Mungkin itu Satria sudah datang!" teriak ibu Riska dari ruang keluarga.


"Iya, Bu." jawab Aldo cepat sembari melangkah ke pintu luar.


Raina keluar dari kamarnya dan menghampiri sang Ibu.


"Bu ... kenapa Raina merasa gugup, ya?" tanya Raina berdiri disamping ibunya.


"Itu hal biasa. Tarik nafas perlahan lalu hembuskan, biar kamu lebih tenang." jawab Ibu Riska sembari memberi solusi agar putrinya bisa merasa tenang.


Raina mengikuti saran sang ibu berulang-ulang hingga dia merasa sudah tidak terlalu gugup lagi.


"Ayo, mari silahkan masuk." ucap Aldo mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke rumahnya dan menuntun ke arah ruang keluarga.

__ADS_1


Di luar dugaan, Satria tidak datang berdua dengan pakde Suseno saja. Pakde Suseno membawa serta istrinya dan ada juga bunda Eva bersama ayah Ridwan dan tak ketinggalan Sandra, sahabat Raina pun turut datang.


"Katamu Satria hanya berdua, ini kok malah bawa rombongan?" tanya Ibu Riska setengah berbisik pada Raina.


Raina hanya mengangkat kedua bahu dan menggelengkan kepalanya tanda dia juga tidak tahu.


"Untung ibu masak banyak, kalo gak kan, bikin malu." ucap Ibu Riska lagi.


Satria beserta keluarga sudah memasuki ruang keluarga.


"Silahkan, maaf ruangan nya tidak terlalu besar. Beginilah keadaan rumah Raina." ucap Ibu Riska merendah.


"Ah, tidak apa-apa, Bu. Yang penting bisa menaungi keluarga." timpal Bunda Eva.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum dan duduk ditempat yang telah disediakan oleh sang tuan rumah.


"Terimakasih, Pakde." jawab Raina sembari tersenyum tipis.


Satria melirik dan tersenyum ke arah Raina. Tak bisa dipungkiri apa yang dibilang oleh Pakde nya memang seperti itu adanya. Raina memang cantik dan anggun, ditambah lagi dengan aura dewasa dan keibuan nya mulai terpancar meski di usia nya yang baru menginjak delapan belas tahun. Mungkin karena kehamilan nya yang membuat aura keibuan nya lebih terpancar.


Raina yang melihat dirinya diperhatikan oleh Satria hanya membalas senyuman Satria dengan senyuman kikuk dan menundukkan wajahnya yang mulai bersemu merah.


"Ah, kenapa ini? Rasanya jantung ku mau copot ditatap seperti itu sama mas Satria. Rasanya debaran nya berbeda saat aku menyukai mas Awan dulu dan dekat dengan mas Ridho."


Semua keluarga sudah berkumpul di pihak Raina jelas hanya ada Ibu Riska, Aldo dan Raka. Meski, keluarga dari pihak ibunya masih ada, namun ibu Riska tidak mau memberitahukan keluarga besarnya. Karena kedekatan antara ibu Riska dan keluarga nya kurang baik semenjak dirinya menikah dengan bapak dari anak-anaknya. Dan mengingat Raina dalam kondisi hamil, dia tahu betapa jelek nya sifat saudara-saudaranya jika mengetahui keadaan Raina. Yang ada dirinya akan menjadi bahan cemoohan keluarganya. Sedangkan dari pihak keluarga bapak nya Raina sendiri berada dipulau yang sangat jauh, sehingga Raina hanya memberi kabar melalui handphone saja jika dirinya akan menikah.

__ADS_1


"Apa kita bisa memulai pembicaraannya?" tanya Pakde Suseno selaku orang tertua dikeluarga Satria.


"Iya, silahkan, Pak." jawab ibu Riska.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh ...." ucap Pakde Suseno membuka acara.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabaraakatuh ...." jawab semuanya.


"Saya selaku kakak kandung tertua dari ibu nya Satria, mohon maaf jika ibu dari Satria tidak dapat hadir diacara ini karena beliau masih terbaring lemah karena sakit jantung. Maksud kami datang kesini untuk mendampingi keponakan saya untuk meminta atau melamar anak ibu yang bernama Raina untuk menjadi istri keponakan saya. Dan mengingat bahwa sebenarnya Raina dalam kondisi mengandung anak dari Awan, adik nya Satria, dengan rela hati dan ikhlas Satria akan bertanggung jawab penuh atas bayi yang di kandung Raina." ucap Pakde Suseno.


Semua mendengarkan secara seksama dan penuh ketenangan.


"Hubungan mereka memang tidak dilandasi oleh cinta yang semestinya, memang untuk sementara kita memperjuangkan anak yang dikandung Raina agar mempunyai status yang jelas dan untuk menutup aib yang telah diperbuat oleh keponakan saya Awan yang tak lain adik dari Satria. Memang sebagian ulama ada yang memperbolehkan dan ada pula yang melarang melakukan pernikahan seperti ini semua punya alasan tersendiri, tapi kita kembali ke niat awal ini hanya untuk memperoleh status atas bayi tersebut meski nanti nasabnya tetap mengikuti sang ibu." tambah Pakde Suseno.


"Jadi, sesuai ajaran agama kita, sesudah menikah nanti, selama Raina masih dalam keadaan mengandung, Satria tidak boleh menggauli Raina. Satria hanya bertanggung jawab secara lahir kepada Raina, tapi tidak dengan batin nya. Kecuali setelah Raina melahirkan dan kalian menikah kembali barulah kalian bisa seperti pasangan suami istri semestinya. Tapi semua tergantung dengan kalian lagi, mau tetap berlanjut atau tidaknya. Kami hanya berharap yang terbaik untuk kalian berdua." ucap ayah Ridwan menambahkan penjelasan.


"Bagaimana?" tanya Pakde Suseno.


"Kami mengambil jalan yang terbaik nya saja. Seperti yang dikatakan oleh ayah nya Sandra tadi, selebihnya tergantung mereka berdua lagi yang akan menjalani. Untuk sekarang memang lebih mementingkan anak yang dikandung Raina terlebih dahulu. Dan kita bisa melangsung kan pernikahan ini lebih cepat mengingat perut Raina yang semakin hari akan bertambah besar." jawab Ibu Riska.


"Iya, kami juga setuju untuk melangsungkan pernikahan nya lebih cepat. Tapi sebelumnya, kami harus memberitahukan hal ini terlebih dahulu kepada ibunya Satria. Karena beliau belum mengetahui kabar ini, karena waktu saat ingin memberitahukan beliau malah melihat kabar tentang Awan terlebih dulu dan membuat keadaan nya semakin drop. Secepatnya kami akan membicarakan rencana ini dengan beliau selepas pertemuan ini." ucap Bunda Eva.


Ucapan bunda Eva pun disetujui oleh semuanya. Semua tidak ingin menunda-nunda pernikahan Satria dan Raina.


Setelah mendapatkan kesepakatan yang melegakan untuk kedua belah pihak keluarga, mereka melanjutkan dengan menyantap hidangan yang telah dihidangkan oleh tuan rumah.

__ADS_1


Malam ini, resmi sudah Raina dilamar oleh Satria. Dirinya merasa senang karena Satria sangat begitu berbesar hati menerima dirinya meski bukan ia yang berbuat. Raina terharu atas pengorbanan Satria.


Mohon like, komen dan vote nya ya πŸ˜˜πŸ™


__ADS_2