
"Satria, apa yang kamu ragukan pada Raina? Berkali-kali kamu memupuskan harapannya, tapi berkali-kali juga dia masih sabar untuk kembali menunggumu. Bahkan, dia masih sempat memikirkan dirimu. Dia tidak ingin melihat dirimu dipersalahkan. Tapi, apa balasanmu kepadanya? Pakde sudah berulang kali menasihatimu untuk mensegerakan kembali akad nikah kalian, agar tidak terjadi hal seperti ini. Kalau alasanmu karena belum mencintai Raina, cinta itu bisa hadir dengan sendirinya, Satria. Cinta itu akan tumbuh jika kalian terus terbiasa bersama." ucap Pakde Suseno yang turut geram dengan Satria yang menjadi lemah dan tidak tegas.
Sementara ayah Ridwan hanya memperhatikan dan mendengarkan istri dan juga kakak iparnya memarahi keponakannya itu.
"Maafin Satria. Satria mengakui jika memang semua ini karena kesalahan Satria yang terlambat untuk menyadarinya. Kali ini, Satria akan menepati janji Satria untuk kembali mengulang akad nikah dengan Raina." ucap Satria yang terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Kalau kamu memang bersungguh-sungguh, Pakde minta secepatnya kamu kembali halalkan Raina." tegas Pakde Suseno.
"Iya, Pakde." balas Satria.
"Jangan cuma iya-iya aja, tapi dibuktikan." sungut Bunda Eva.
"Hmm ... Pakde rasa, hari minggu nanti waktu yang cocok. Lebih cepat lebih baik, jangan ditunda-tunda lagi." saran Pakde Suseno.
Satria memandang Raina, memberikan isyarat pada perempuannya itu apakah setuju dengan saran yang diberikan oleh pakdenya itu atau tidak.
"Aku serahkan semuanya padamu, Mas." ucap Raina.
"Baik, saya terima saran dari Pakde. Nanti malam saya akan menemui mertua saya untuk memberitahukan rencana ini pada beliau." balas Satria.
"Karena ini hanya akad nikah ulang, sebaiknya dilakukan secara sederhana saja. Gak apa-apa kan, Raina?" usul Bunda Eva.
"Iya, Bun. Raina tidak mempermasalahkan hal itu." jawab Raina.
"Terus, acaranya mau diadakan dimana nanti?" tanya Ayah Ridwan.
Satria dan Raina saling berpandangan.
"Disini saja." jawab mereka berdua bersamaan.
Sandra tertawa melihat kekompakan pasangan suami dan istri itu.
"Cie ... coba waktu dirumah sakit tadi kalian kompak gini juga jawabnya, pasti gak ada perdebatankan? Hahaha ... sebenarnya kalian itu sudah mempunyai chemistry, hanya saja kalian itu gengsi, jadi saling bungkam satu sama lain." goda Sandra.
"Ngomong apa sih, bocah?" ucap Satria sembari menjitak kepala Sandra.
"Aw, sakit tahu ...." gerutu Sandra sembari mengusap-usap bagian kepalanya yang jitak Satria.
"Sudah, sudah, jangan seperti anak kecil lagi. Oh ya, jadi sudah deal, ya. Acaranya nanti diadakan disini, nanti Bunda yang akan mensponsori konsumsinya." ucap Bunda Eva.
"Iya, Bun. Terimakasih banyak." balas Satria.
"Om ada kenalan penghulu kampung, karena ini hanya sekedar untuk bangun nikah saja, jadi tidak masalah jika penghulunya bukan dari orang KUA. Nanti Om bantu tanya kan apa saja persyaratannya." ujar Ayah Ridwan.
"Iya, Om. Terimakasih sekali lagi untuk bantuannya." balas Satria.
"Jadi, sekarang sudah clear ya, masalah kalian ini. Kita tinggal menunggu hari H nya saja." ucap Pakde Suseno.
"Iya, Pakde. Terimakasih banyak untuk bantuannya selama ini. Maafin Satria yang masih suka bandel." ucap Satria sembari mencium punggung tangan pakdenya.
__ADS_1
"Pakde sudah maafin, semua manusia pasti pernah punya salah. Tapi jangan terus diulangi kesalahannya. Yang terpenting sekarang bagaimana kamu belajar untuk menjadi suami dan juga ayah yang baik untuk keluarga kecilmu." balas Pakde Suseno dengan memeluk keponakannya itu.
Pertemuan keluarga itu akhirnya menemukan titik terang untuk kelangsungan hubungan antara Satria dan juga Raina.
"Masalah Raina dengan Satria kini sudah selesai, sekarang giliran Bunda yang akan memberi hukuman pada Sandra." ucap Bunda Eva dengan menatap tajam ke arah anak perempuannya itu.
"Hukuman apa, Bun? Kan, Sandra bohongnya gak sendirian. Tapi, juga sama Raina." Sandra menatap ke arah Raina untuk sama-sama bertanggungjawab.
"Ini bukan masalah yang tadi, tapi masalah dirimu. Bukannya bunda sudah memperingatkan dirimu untuk tidak mengendarai sepeda motor besar lagi. Kenapa kamu menggunakan sepeda motor kakakmu waktu pulang tadi. Pasti kamu yang sudah memaksa Satria untuk meminjamkan sepeda motornya padamu." jelas Bunda Eva.
Sandra terkejut mendengar penjelasan bundanya. Dia hanya menepuk dahinya karena sudah ketahuan kembali menggunakan sepeda motor besar milik Satria.
"Kok, bunda bisa tahu, sih?" tanya Sandra sembari mengeratkan gigi-giginya.
"Bunda kan, punya mata. Bunda lihat tadi kamu turun dari sepeda motor milik Satria. Dan mulai besok, kamu kembali diantar supir lagi kalau mau kemana-mana." jawab Bunda Eva santai sembari menyampaikan hukuman untuk Sandra.
"Ish, Bunda ... Sandra gak bebas kemana-mana kalau diantar supir. Ayah, bantu bilangin ke bunda, dong" Sandra memohon bantuan kepada ayahnya, namun ayah Ridwan hanya mengangkat kedua bahunya tidak mau membantah keputusan yang sudah dibuat oleh istrinya.
"Ayo, semuanya kita makan siang dulu." ajak Bunda Eva tanpa menghiraukan rengekan Sandra.
"Kalau kamu merengek seperti anak kecil begitu, Bunda akan menambahkan hukumannya lagi." Bunda Eva memperingatkan Sandra, seketika Sandra pun menurut dengan ucapan bunda nya dengan berat hati dan tanpa bantahan lagi.
Semua sudah berada diruang makan, mulai menikmati makanan yang sudah disajikan.
"Rai, kalau Al sudah bangun nanti, kita pulang ke rumah kita, ya." pinta Satria disela-sela makannya.
Setelah makan siang, Raina langsung mengemasi barang-barangnya kembali karena dia akan ikut pulang bersama dengan Satria.
Seperti yang sudah mereka sepakati tadi, setelah Al bangun dari tidurnya, mereka akan pulang.
"Bunda, Ayah, Raina pamit pulang, ya. Terimakasih sudah mau menerima Raina selama dua minggu disini." ucap Raina.
"Iya, sayang. Kamu jangan pernah sungkan pada kami, kamu juga anak bunda dan ayah." balas Bunda Eva.
"Iya, Rai. Rumah ini selalu terbuka lebar untukmu." ucap Ayah Ridwan menimpali ucapan Bunda Eva.
Betapa beruntungnya Raina masih memiliki orangtua angkat seperti bunda Eva dan ayah Ridwan yang masih tetap menganggap dirinya sebagai anak.
"Ini hasil kerjamu beberapa hari yang lalu." ucap Bunda Eva sembari menyodorkan amplop cokelat berisi uang gaji Raina yang sudah bekerja beberapa hari dikantor resto.
"Gak usah, Bun. Toh, Raina juga gak sepenuhnya bekerja." ucap Raina sembari menolak halus amplop yang telah diberikan oleh bunda Eva.
"Jadi, beberapa hari yang lalu, kamu sempat bekerja lagi, Rai?" tanya Satria yang semakin merasa bersalah karena dirinya yang tidak bisa menafkahi Raina dengan benar.
"Iya, Raina kerja lagi diresto Bunda, tapi hanya untuk mengisi waktu luangnya saja selama berada disini. Raina juga tidak lalai dalam tugasnya sebagai seorang ibu, Al tetap dalam pengasuhannya selama bekerja." Bunda Eva membantu menjawab pertanyaan yang sudah diberikan Satria untuk Raina.
"Maafin Mas, Rai. Selama ini, Mas tidak begitu memperhatikan kebutuhanmu. Mas tidak memberi nafkah yang benar kepadamu. Mas benar-benar minta maaf, Rai." Satria berulang-ulang meminta maaf pada Raina.
"Yang sudah pernah terjadi, biarkan lah berlalu Mas. Sekarang kita sama-sama memperbaikinya lagi." ucap Raina yang mencoba melupakan semua yang telah terjadi antara dirinya dan juga Satria.
__ADS_1
"Tuh, dengarin apa kata istri. Sesama pasangan itu harus saling percaya, melengkapi kekurangan satu sama lain, saling mengingatkan satu sama lain jika ada yang salah dan yang terpenting jangan mau menang sendiri." Bunda Eva menasihati keponakannya.
"Iya, Bun." sahut Satria dan Raina bersamaan.
"Rai ... Ini hasil keringatmu dari kerjamu sendiri, jadi jangan kamu tolak ya, sayang. Ini rejeki anakmu, lho." bujuk Bunda Eva agar Raina mau menerima uang yang ia berikan.
"Baik, Bun. Raina terima ya, Bun. Sekali lagi Raina ucapkan terimakasih banyak untuk bantuannya." ucap Raina sembari menerima uang yang memang seharusnya menjadi hak nya.
Satria dan Raina pun meninggalkan kediaman bunda Eva setelah berpamitan pada semuanya.
Satria merasa senang karena dapat membawa kembali Raina dan Al untuk pulang bersamanya. Meskipun sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya saling diam.
Tak terasa, mereka pun tiba dirumah sewaan itu. Rumah yang telah Raina tinggalkan berminggu-minggu.
Raina memasuki rumah itu, rumah yang sedikit berantakan karena tidak ada sentuhan wanita didalamnya. Satria memang jarang membersihkan rumah itu, karena setiap waktu selepas pulang kerja ia habiskan untuk mencari keberadaan Raina.
"Maaf, rumahnya berantakan. Nanti Mas akan membersihkan semuanya." ucap Satria.
"Iya, gak apa-apa, Mas. Nanti Raina juga bantu membersihkannya." balas Raina.
"Jangan, Dek. Lebih baik kamu dan Al istirahat aja. Biarkan semua ini Mas yang mengerjakannya." Satria melarang Raina untuk membereskan rumah.
"Oh ya, Mas. Kenapa Mas bisa tahu kalau hari ini jadwal Raina konsultasi?" tanya Raina yang masih bingung dengan kedatangan Satria yang tiba-tiba pagi itu.
"Kamu meninggalkan obatmu didalam lemari pakaian dan Mas baca catatan dibuku kecilmu itu, makanya Mas bisa tahu kalau kamu pasti akan datang kembali menemui dokter psikiater mu itu." jawab Satria.
"O" ucap Raina dengan bibir yang membulat sempurna.
Satria yang melihat bibir Raina yang terbentuk seperti itu semakin membuatnya gemas dan ingin segera mencicipi bibir merah muda itu.
Raina yang mendapat tatapan intens dari Satria, segera memalingkan wajahnya. Satria sudah berhasil membuat Raina kembali salah tingkah didepannya.
Raina pun segera masuk ke dalam untuk merapikan pakaian-pakaian yang ia bawa pulang ke dalam lemari dan juga untuk menemani Al bermain.
Setelah selesai membereskan rumah, Satria langsung bergegas membersihkan tubuhnya karena dia akan menemui mertuanya untuk memberitahukan rencana akad nikah ulang mereka.
"Dek, Mas akan ke rumah ibu sekarang. Kamu dirumah aja, ya. Mas juga gak akan lama kok, disana. Kalau sudah selesai Mas akan langsung pulang." ucap Satria yang sedang mengenakan pakaiannya.
Bukan tanpa alasan, Satria memang sengaja tidak membawa Raina turut dengannya. Karena jika Raina ikut, pasti Raina akan ditahan dirumah mertuanya untuk menginap disana. Sedangkan Satria ingin malam itu, ia ingin melepas rindunya dengan Raina tanpa ada gangguan.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π
__ADS_1