Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Raina vs Satria


__ADS_3

Raina mengernyitkan dahinya, memperhatikan suaminya seperti ada sesuatu yang sedang direncanakan suaminya itu.


"Bukannya tadi siang sudah ketemu Al disini, pasti ayah cuma alasan aja, nih?" tebak Raina dalam hatinya.


"Ya, kalau kalian mau pulang dulu gak apa-apa. Toh, Mamah juga sudah mulai enakan. Disini juga ada Sandra yang menemani Mamah. Atau nanti Mamah bisa memanggil suster kalau membutuhkan sesuatu. Lebih baik Sandra sementara temani Bara saja dulu disana. Karena, pasti Bara lebih membutuhkan teman." ucap Ibu Santi.


" Iya, Rai. Kalau kamu sama Mas Satria mau pulang dulu gak apa-apa, kok. Kan, masih ada aku disini." Sandra ikut menimpali perkataan budenya.


Raina seakan berat untuk meninggalkan rumah sakit itu, sementara Satria memberi tatapan memohon agar Raina mau ikut pulang bersamanya.


"Maaf ya, Mah. Tapi, kami gak akan lama, kok. Kami pasti kesini lagi nanti." Raina yang tidak enak hati, meyakinkan kembali mertuanya kalau baik-baik saja.


"Iya, sayang." balas Ibu Santi.


Setelah mendapatkan jawaban, Raina pun mulai berkemas pakaian-pakaian ganti yang sudah kotor selama dirinya berada dirumah sakit.


"Baju-baju Mamah gak usah dibawa, Rai. Toh, besok Mamah juga pulang." Ibu Santi mencegah menantunya.


"Gak apa-apa, Mah. Biar nanti sekalian Raina cucikan dan biar besok tidak banyak barang yang dibawa dari sini." balas Raina.


"Iya, Mah. Benar apa yang dikatakan Raina. Jadi, besok kalau Mamah memang sudah diperbolehkan pulang sama dokter, tidak terlalu sibuk lagi membereskannya." Satria menyetujui perkataan Istrinya.


Meski dengan perasaan tidak enak, karena menantunya itu sudah sangat baik dan telaten mengurus dirinya selama dia sakit, tapi akhirnya dia hanya bisa menurut saja dengan ucapan menantu dan juga anaknya.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, ya." ucap Satria sambil mencium punggung tangan mamahnya diikuti oleh Raina.


"Kalau ada apa-apa, cepat hubungi kami ya, San?" pinta Raina.


"Iya, Rai. Tenang aja, deh. Kalian hati-hati, ya!" balas Sandra.


Setelah saling berpamitan, pasangan suami istri itu pun keluar dari ruang rawat ibu Santi.


"Ayah mau lihat Bara dulu, Bun." ucap Satria.


"Ayo." balas Raina cepat.


Keduanya sudah berdiri didepan ruang rawat Bara dan Satria mulai membuka ruangan itu.


"Lagi ngapain kamu?" tanya Satria pada adiknya itu yang sedang asyik dengan ponsel pintarnya.


Bara hanya menunjukkan ponselnya itu ke arah kakaknya. Yang ternyata, dia lagi asyik bermain game yang ada didalam handphonenya.


"Jangan terlalu banyak main game, nanti matamu kelelahan jadi sakit juga." Satria menasihati adiknya itu.


"Gak terlalu sering kok, Mas. Hanya kalau sedang melepas kejenuhan aja. Bara bosan tiduran dikasur mulu." ungkap Bara.


"Ya, sabar. Memang keadaannya begini, yang penting kamu tetap semangat agar pemulihannya cepat berjalan." Satria memberikan semangat pada adiknya itu agar tidak putus asa dengan keadaan.


Bara hanya membalas ucapan kakaknya dengan deheman kecil dengan mata dan tangan masih tetap fokus ke layar handphone nya.


"Mas sama Mbak mu ini mau pulang dulu, tapi kami tetap kesini lagi nanti. Kamu kalau butuh sesuatu panggil suster aja dulu, sebentar lagi mungkin Sandra akan kesini. Dia lagi diruangan mamah." ucap Satria.

__ADS_1


"Iya, Mas." jawab Bara singkat.


Setelah berpamitan dengan adiknya itu, Satria dan Raina kembali melanjutkan langkah mereka menuju parkiran rumah sakit dimana sepeda motor Satria diparkirkan.


"Sini, biar Ayah yang bawa." ucap Satria meminta bungkusan yang berada dipegangan istrinya.


Dengan senang hati Raina pun menyerahkan apa yang dimaksud suaminya itu. Sesampainya diparkiran, Satria bergegas mengambil sepeda motornya dan meletakkan barang bawaannya di atas tangki sepeda motornya. Raina pun naik ke atas sepeda motor suaminya. Dan tangan Satria langsung menarik kedua tangan istrinya untuk memeluk tubuhnya dengan erat. Raina yang baru saja mendaratkan bokongnya diatas jok sepeda motor suaminya itu pun sontak terkejut dengan perlakuan suaminya yang tiba-tiba.


"Yah ... bisa sabar dikit gak, sih?" gerutu Raina.


"Hehehe ... maaf Bun, Ayah sudah kangen banget sama pelukannya Bunda." goda Satria.


"Gombal, deh. Pasti ini ada sesuatu kan, makanya Ayah ngajak Bunda untuk pulang?" tanya Raina penuh selidik.


Satria hanya tertawa licik. Raina memutar bola matanya jengah melihat tawa suaminya. Dia sudah mengerti apa yang ada dipikiran suaminya. Sepanjang perjalanan pulang, tak sekalipun Raina melepas pelukannya. Kedua tangannya masih melingkar manis diperut rata suaminya.


Kini sepeda motor Satria sudah berhenti tepat dihalaman rumah sewaan mereka. Raina pun segera turun dari sepeda motor suaminya dan bergegas membuka pintu dan masuk ke dalamnya diikuti oleh Satria.


Raina langsung menuju keranjang baju kotor untuk meletakkan beberapa pakaian kotor yang ia bawa dari rumah sakit. Saat dia berbalik, badannya langsung menabrak Satria yang ternyata sedari tadi membuntuti dirinya dibelakang.


"Ayah! Ngapain sih, ngintilin Bunda kayak gini?" tanya Raina dengan berkacak pinggang dan melotot ke arah suaminya.


"Gak apa-apa, iseng aja." jawab Satria dengan santainya sambil tersenyum.


"Ih, Ayah nyebelin banget, sih!" gerutu Raina sambil mencubit pinggang suaminya.


"Aw, sakit tahu ... Bun?" ucap Satria sembari mengelus-elus pinggang yang habis di unit Raina.


Satria memandang Raina dengan tatapan tajam, dengan cepat Satria menangkap tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan langsung menggendong istrinya itu dengan ala bridal style.


"Ayah, apa-apaan sih?" gerutu Raina sambil terus berontak dalam gendongan suaminya.


Satria membawa Raina masuk ke dalam kamar, dengan cepat Satria langsung menutup pintu kamar dan menguncinya sebelum akhirnya dia merebahkan tubuh kecil istrinya diatas kasur beserta dirinya yang juga ikut terbaring diatas tubuh istrinya.


"Mas, pengap tahu? Aku gak bisa nafas, nih?" gerutu Raina.


"Kamu panggil aku apa?" pinta Satria, meminta istrinya untuk mengulang kembali memanggil dirinya.


"Mas, kenapa memangnya?" Raina balik bertanya pada suaminya.


"Kok, bukan ayah sih, manggilnya?" Satria menatap intens wajah istrinya dengan badannya yang masih menindih tubuh mungil istrinya.


"Iya, suka-suka aku, dong!" ketus Raina.


"Oh, ternyata istri ku ini sudah mulai berani menjawab, ya?" ucap Satria sambil menggigiti ujung bibir tipis istrinya.


"Aw, sa -" Ucapan Raina terputus karena bibirnya sudah berhasil dibungkam dengan bibir suaminya.


Satria terus saja menciumi bibir istrinya dan setelah dirasa cukup, dia pun melepas tautan bibirnya. Tampak wajah sang istri yang memerah dan dengan nafas yang tersengal-sengal karena mendapat serangan tak terduga oleh sang suami.


"Ayah, na -" Kembali Satria mengulang hal yang sama pada istrinya.

__ADS_1


Raina terus memberontak dan memukul-mukul punggung suaminya itu dengan kedua tangannya, namun kali ini Satria lebih bernafsu untuk menciumi istrinya.


"Makanya, jangan berani dengan suami. Ini hukumannya." ucap Satria disela-sela melakukan aktifitasnya.


Raina hanya pasrah dengan perlakuan suaminya, karena sedari pulang tadi dirinya sudah mengetahui jika suaminya itu ingin melepas hasrat bioligisnya. Dan ternyata benar saja dugaannya, meski dengan berbagai alasan dan tidak langsung mengungkapkan keinginannya itu pada istrinya, tapi Raina sangat mengerti gelagat suaminya itu.


Sekarang Raina hanya diam, menikmati aksi liar suaminya yang sudah mulai bergerilya kemana-mana. Setelah melucuti semua pakaian dan melemparkan ke sembarang arah, Satria yang melihat istrinya sudah sangat menikmati permainannya dan begitu pula dirinya yang sudah merasa cukup dengan pemanasan, Satria pun menuntaskan kegiatannya setelah mereka berdua sama-sama mencapai pada puncaknya.


"Ayah, kok nakal banget, sih?" tanya Raina pada suaminya yang sudah terbaring disampingnya.


"Nakal gimana sih, Bun?" Satria balik bertanya pada Raina dengan suara serak menggoda dan langsung menghadapkan tubuhnya pada istrinya.


"Ehm, itu ... Ayah gak seperti biasanya, Ayah liar sekali." jawab Raina dengan wajah yang malu-malu.


"Bunda, mau lagi?" tanya Satria menggoda.


Raina menggelengkan kepalanya cepat.


"Bunda itu cuma tanya aja, Yah. Bukan maksudnya mau minta nambah lagi." balas Raina.


Satria tertawa melihat wajah cemberut istrinya.


"Entahlah, beberapa hari kita gak tidur sekamar membuat Ayah sangat merindukan Bunda." ujar Satria.


"Baru dua hari, Yah." ucap Raina sembari mengernyitkan dahinya melihat wajah suaminya.


"Tapi rasanya dua tahun, Bun." balas Satria sambil bergelayut manja dibahu istrinya.


"Gombal." ucap Raina sambil menyentil hidung bangir suaminya dan beranjak dari kasur meninggalkan suaminya yang masih terbaring kelelahan.


Raina menutupi tubuhnya dengan handuk kimono miliknya, berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum dan menegaknya hingga habis. Kemudian, dirinya kembali melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Raina membuka handuk kimononya, setelah dirinya menutup rapat pintu kamar mandi. Matanya terbelalak saat melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda merah, stempel kepemilikan yang diberikan suaminya itu.


Raina hanya berdecak kesal dan menggelengkan kepalanya melihat warna merah disekujur tubuhnya.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Raina pun keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang menutupi tubuhnya serta handuk lain yang membalut rambutnya.


Raina berdiri didepan lemari pakaiannya, memilih baju apa yang akan ia kenakan. Saat tangannya sudah akan menggapai salah satu baju diantara lipatan-lipatan lainnya, Raina tersontak saat tangan kekar Satria sudah melingkar diperutnya serta kepala Satria yang sengaja dia letakkan diatas bahu istrinya.


"Yah ... kenapa Ayah memaksakan diri seperti ini? Apa Ayah tidak lelah meletakkan kepala Ayah dibahu Bunda seperti ini?" tanya Raina yang membiarkan suaminya masih bergelayut manja.


"Ehm, capek sih, tapi gak apa-apa, deh. Makanya, Bunda waktu pembagian tinggi badan jangan telat, jadi seperti ini deh, jadinya." ejek Satria.


"Gak usah ngejek, deh?" Raina mengerucutkan bibirnya dan membalikkan badannya sembari membalas pelukan suaminya.


Sementara Satria hanya cengengesan mendengar gerutuan istrinya.


"Sana, mandi. Bau tahu." ucap Raina sambil mendorong tubuh suaminya dan kembali membalikkan badannya ke arah lemari pakaian dan mengambil pakaiannya.


Dengan langkah gontai Satria pun menuruti perintah istrinya untuk segera ke kamar mandi membersihkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2