
"Ayo, Mamah makan dulu. Biar Raina yang suapin." ucap Raina yang masih berusaha membujuk mertuanya.
Untuk kedua kalinya tak ada respon dari ibu Santi, mertua dari Raina itu sama sekali tak bergeming ditempatnya. Tatapannya kosong, menatap lurus ke arah jendela.
Entah apa yang ada dipikirannya, hatinya ingin berbicara dan menjawab perkataan dari menantunya itu. Tapi, bibirnya seakan membisu. Perasaan bersalah dan malu itu bercampur aduk dibenaknya.
"Bagaimana bisa? Dia yang telah ku sakiti hatinya, kini dengan rela mau mengurus diriku dan juga anakku. Maafkan diriku, ya Rabb ... aku benar-benar malu dengan segala sikap dan perbuatan ku pada menantu ku dulu." Ibu Santi membatin, tak terasa bulir bening sudah membasahi sudut matanya yang mulai terlihat jelas kerutan disana.
Raina kembali menghela nafasnya pelan dan tersenyum getir, matanya memandangi piring yang berisikan makanan itu. Makanan yang belum tersentuh.
"Mah, maafkan Raina yang sudah lancang menemui Mamah. Maafkan Raina yang sudah tidak tahu malu ini berani menampakkan diri dihadapan Mamah. Sekali lagi, Raina minta maaf." Dengan perasaan yang tersayat saat mengatakan hal yang tak pernah sedikit pun terlintas dibenaknya, Raina tetap berusaha tenang dan tegar mengucapkannya.
Raina berdiri dari duduknya dan kembali meletakkan piring tersebut ditempatnya semula.
"Jika kehadiran Raina disini mengganggu ketenangan Mamah, Raina akan keluar dari sini. Tapi ingat, makanannya jangan lupa dimakan dan obatnya jangan lupa diminum. Semoga Mamah lekas sembuh." pesan Raina sebelum dirinya meninggalkan ruang rawat mertuanya.
Langkah Raina sudah mulai menjauh dari kasur tempat ibu Santi terbaring. Dan seketika langkah itu terhenti, kala suara lemah nan parau itu memanggilnya.
"Raina ...." panggilnya lirih.
Raina membalikkan badannya, melihat ke arah mertuanya yang masih memunggungi dirinya. Namun, tubuh itu bergetar. Raina kembali mendekatkan dirinya ke kasur mertuanya, sayup-sayup terdengar isakan.
"Mah, kenapa Mamah menangis? Raina minta maaf, Mah? Jika ucapan Raina sudah menyakiti hati Mamah." tanya Raina dan memberanikan diri untuk menyentuh lembut bahu mertuanya itu.
Dengan hati-hati dan masih terisak, ibu Santi meraih tangan menantunya itu yang menyentuh bahunya. Sontak Raina sedikit terkejut ketika tangannya disentuh oleh ibu mertuanya itu. Dengan perlahan-lahan ibu Santi membalikkan badannya menghadap Raina. Dan menatap dengan lekat wajah teduh Raina.
"Kamu sama sekali tidak bersalah. Mamah lah yang sudah sangat bersalah, bahkan sudah membuat dosa besar ingin memisahkan mu dengan Satria." ucap Ibu Santi dengan masih terisak.
Raina menggenggam erat tangan mertuanya itu sembari menggelengkan kepalanya. Betapa terkejutnya dirinya melihat wanita yang pernah memporakporandakan hatinya saat itu, kini terlihat jelas penyesalan diwajah wanita paruh baya itu. Tak ada kebohongan maupun sandiwara yang akan kembali wanita itu perbuat.
"Mamah jangan bicara seperti itu. Raina sudah memaafkan semua yang terjadi. Mamah jangan mengungkit masalah itu lagi. Karena Raina sudah tidak ingin mengingat masa kelam itu lagi, Mah. Sekarang Mamah jangan berfikir yang macam-macam lagi, kesehatan Mamah itu yang lebih penting." balas Raina dengan menyeka air mata yang sudah mengalir di kedua pipi mertuanya.
"Terimakasih, sayang. Kamu memang berhati baik dan tulus, Mamah sangat menyesal sudah tidak menganggap dirimu menantu Mamah." ucap Ibu Santi.
"Mah ... sssttt, jangan dibahas lagi. Sekarang Mamah makan, ya. Raina suapin." Raina menempelkan jari telunjuknya dibibirnya dan juga menggelengkan kepalanya lagi tanda agar mertuanya tidak lagi mengingat hal yang sudah terjadi.
Raina pun kembali membujuk ibu mertuanya untuk makan dan diberi anggukan serta senyuman oleh mertuanya sebagai jawaban.
Raina pun dengan tulus dan telaten menyuapi makanan ke mulut mertuanya. Dan tak hanya itu, Raina juga memberikan obat untuk mertuanya itu.
**********
Matahari sudah semakin meninggi, teriknya cukup membuat peluh bercucuran jika berada dibawah sinar hangatnya. Pukul satu siang, sesuai dengan janjinya dengan Raina, Sandra akan kembali untuk menemani sahabatnya itu dirumah sakit selepas dia pulang kuliah.
Hanya satu mata kuliah hari itu, sehingga membuat Sandra bisa cepat pulang. Tidak lupa dia mampir disebuah outlet yang menyediakan makanan cepat saji untuk dibawanya ke rumah sakit. Tentu saja bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk sahabatnya dan sepupunya.
Perjalanan dari kampus menuju rumah sakit dimana tempat sepupu dan juga budenya dirawat memakan waktu tiga puluh lima menit untuk sampai disana. Kini dirinya sudah tiba dipelataran rumah sakit. Tak lupa dirinya untuk mengunci mobilnya, setelah itu memasukkan kunci mobilnya ke dalam saku tasnya.
__ADS_1
Tanpa di sengaja, matanya menangkap pemandangan yang tentu membuat hatinya cukup perih.
"Ternyata, dia sudah punya kekasih." gumam Sandra, saat melihat dokter Adrian membukakan pintu mobil untuk seorang perempuan yang sepertinya perawat yang juga bertugas dirumah sakit yang sama.
Sandra kembali melanjutkan langkahnya dan segera mengalihkan pandangannya.
"Argh, kenapa tiba-tiba hatiku memanas? Apa aku cemburu? Bagaimana bisa aku cemburu dengan orang yang sama sekali gak pernah kenal dengan diriku? Oh hati, kembali lah normal, jangan seperti ini." gerutu Sandra dalam hati.
Dengan langkah cepat dan dengan tatapan mata yang terus lurus tanpa melihat ke arah samping kanan dan kirinya. Tiba-tiba ....
BRUGH,
Tiba-tiba ada yang menabrak dirinya dari arah koridor yang lain.
"Aw ...!" pekik Sandra sambil mencoba berdiri.
"Punya mata gak, sih? Pake acara nabrak-nabrak segala? Aduh ... jadi sakit nih, pinggang dan bokong ku." gerutu Sandra sembari mengelus-elus pinggang dan bokongnya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya lagi buru-buru karena ada pasien urgent. Sekali lagi saya minta maaf." ucap seseorang yang telah menabrak Sandra yang tak lain adalah dokter Adrian.
Sandra menoleh ke arah suara yang berbicara padanya. Matanya membulat sempurna ketika tahu siapa yang sudah menabrak dirinya.
"Oh, God. Dia ...." Sandra membatin.
Sementara dokter Adrian sudah melangkah pergi dengan langkah cepat meninggalkan Sandra yang masih terpana akan ketampanan wajah Adrian.
*********
Raina kembali ke ruang rawat Bara, disana dia sudah mendapati Sandra duduk disofa dengan wajah yang tertekuk dan melipat kedua tangannya diatas dadanya.
"Kenapa tuh, muka sudah seperti tisu yang berkerut?" tanya Raina pada sahabatnya itu.
"Gak tahu itu, Mbak. Datang-datang bawaannya sudah begitu." sahut Bara.
"Kenapa, sih? Cerita dong?" Raina kembali bertanya pada sahabatnya itu dan duduk disebelah Sandra.
Sandra membalikkan tubuhnya menghadap Raina. Dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang membuat Raina semakin bingung.
"Kenapa kamu menatap diriku seperti itu?" tanya Raina.
"Sepertinya, aku mulai mencintainya, Rai." jawab Sandra, setelah dia menghela nafasnya.
"Mencintai dia? Maksud mu, dokter itu?" Raina kembali bertanya pada sahabatnya itu untuk memastikannya.
Sandra menganggukan kepalanya dengan cepat dan kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Dan sepertinya ... aku hanya akan mencintai dirinya dalam diam, Rai." ucap Sandra tertunduk.
__ADS_1
"Kenal juga belum, tapi sudah begitu yakin untuk mencintai. Dan sekarang, langsung menyerah begitu saja. Dasar aneh!" ujar Raina.
"Aku melihatnya bersama dengan seorang perempuan tadi diparkiran. Dia membukakan pintu mobil dan memperlakukan perempuan itu dengan hangat. Pasti itu pacarnya." jelas Sandra.
"Jadi orang jangan langsung sok tahu. Baru lihat begitu langsung mengira yang bukan-bukan. Bisa jadi itu saudara atau hanya temannya aja, kan?" ujar Bara yang langsung menimpali pembicaraan kedua perempuan yang ada disisi lain ruangan itu.
"Nyambung aja lu kaya listrik." gerutu Sandra.
"Tapi San, apa yang dibilang Bara ada benarnya, lho." Raina menyetujui ucapan adik iparnya.
"Permisi ...." ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Bara.
"Iya ...." balas Raina dan juga Sandra menoleh bersamaan ke arah suara.
Dengan seketika, Sandra langsung berbalik dan menundukkan kepalanya serta bersembunyi dibalik badan Raina saat melihat siapa orang yang masuk ke dalam ruang perawatan saudara sepupunya itu.
"Saya mau memeriksa kondisi pasien." ucap dokter Adrian mendekat ke arah Bara.
"Silahkan, Dok." balas Raina.
Adrian pun melakukan tugasnya, sementara itu disisi lain Raina menyikut lengan Sandra untuk menggoda sahabatnya itu.
"Panjang umur banget tuh, orang. Baru aja kamu bicarakan dia langsung datang. Sepertinya ada kontak batin denganmu." ejek Raina setengah berisik pada Sandra.
Dengan sebal Sandra mencubit pinggang sahabatnya itu.
Setelah selesai melakukan tugasnya, Adrian berniat untuk keluar dari ruang rawat pasiennya. Ketika dirinya berpamitan pada Raina, matanya juga tertuju pada Sandra yang kembali menundukkan kepalanya.
"Maaf, bukannya? adek yang tadi saya tabrak, ya?" tanya Adrian.
"Apa? Dia panggil aku, adik? Memangnya aku terlihat seperti anak kecil?" gerutu Sandra dalam hati.
Sandra tak lagi dapat menutupi dirinya.
Dengan sedikit malu, Sandra mencoba mengangkat kepalanya. Dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Tidak dapat dipungkiri, kedua pipinya bersemu merah karena menahan malu.
Sedangkan Raina, menahan tawanya melihat ekspresi dari sahabatnya itu.
******
Dipart ini nulisnya dicicil dan mikirnya berjam-jam, pikiran kemana-mana. Dan alhamdulilah, si adek sudah gak terlalu rewel jadi Emaknya bisa lanjutin nulis dan UP malam ini.
Terimakasih untuk kalian yang mengerti keadaan author ππ
Dukungan kalian masih sangat author harapkan. Jangan lupa like dan votenya ya kawan π
__ADS_1