Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Pulang kerumah orangtua ku


__ADS_3

Setelah semua barang dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk bayi Raina dirasa cukup, kedua orang itu pun membayar semua belanjaan dikasir. Dan setelah itu mereka pun meninggalkan toko perlengkapan bayi itu.


"Raina, apa kamu sudah mempunyai baju untuk ibu menyusui?" tanya Bunda Eva.


"Raina cuma punya satu daster dengan kancing depan, Bun. Selebihnya hanya kaos besar yang tidak memiliki kancing." jawab Raina.


"Ok, sekarang kita cari baju untukmu." ucap Bunda Eva.


Raina tak bisa menolak mau pun membantah. Karena, jika ia melakukannya juga percuma karena bunda Eva tetap membelikannya untuknya. Dan akhirnya Raina pun hanya ikut melangkahkan kakinya kemana bunda Eva pergi.


Bunda Eva sudah memilihkan beberapa setel baju untuk mempermudah Raina menyusui nanti, beberapa dalaman yang nyaman untuk ibu setelah melahirkan dan sebuah korset untuk Raina.


"Bun, yang ini untuk apa?" tanya Raina sembari menunjuk korset yang telah dimasukkan ke dalam tas belanja.


"Itu korset sayang, itu gunanya agar perutmu tidak bergelambir. Karena setelah melahirkan kulit perut terlihat lentur dan mengkerut seperti balon yang pecah dan butuh waktu lama untuk mengembalikannya ke bentuk normal. Dan jika kamu menggunakan ini, setidaknya bisa mengatasinya." jelas Bunda Eva.


Sebenarnya Raina tidak mempermasalahkan bentuk tubuhnya setelah melahirkan nanti. Bagaimana pun perubahannya nanti, itu karena dia sudah mengandung dan melahirkan seorang manusia titipan Tuhan untuknya. Namun, tidak ada salahnya mengikuti omongan orang tua. Benar adanya yang dikatakan oleh Bunda Eva, karena dirinya masih muda dan harus tetap merawat diri meski sudah memiliki anak.


"Kalau bunda dulu masih ada eyang utinya Sandra, beliau sangat ketat membuat peraturan jika ada anaknya yang habis melahirkan. Bunda disuruh memakai stagen yang panjang banget terus dililitkan dibadan. Sebenarnya hal itu bukan untuk membuat langsing, hanya saja kulit perut akan mengencang. Kalau mau mengecilkan perut buncit sehabis melahirkan, ya tentu saja harus menjaga pola makan dan berolahraga. Tapi, ya seperti itulah jaman dulu harus mengikuti tidak boleh membantah." terang Bunda Eva sembari tertawa mengingat masa-masa setelah ia melahirkan Sandra anak satu-satunya.


"Apa mamah diperlakukan yang sama seperti bunda juga setelah melahirkan dulu?" tanya Raina yang penasaran dengan mertuanya.


"Tentu. Mamah mertuamu itu sangat mematuhi apa yang dikatakan eyang uti, sebenarnya dia pun masih sangat menjunjung tinggi peraturan lama itu. Tapi, kalau setelah melahirkan nanti kamu tinggal bersama ibumu, mungkin kamu tidak merasakan kerasnya peraturan yang dibuat mertuamu." jawab Bunda Eva.


Raina tidak bisa membayangkan, jika harus mengikuti peraturan mertuanya jika ia melahirkan nanti. Sedangkan selama Raina hamil saja, banyak sekali makanan yang tidak diperbolehkan makan oleh mertuanya. Semua karena pantangan. Padahal menurut dokter kandungan, tidak ada pantangan makanan apa pun untuk ibu hamil selama mengkonsumsi nya dalam batas wajar. Sehingga Raina terkadang makan sembunyi-sembunyi didalam kamarnya, jika ia ingin memakan apa yang tidak diperbolehkan mertuanya.


Setelah urusan berbelanja selesai, bunda Eva memutuskan untuk mengantar Raina pulang terlebih dulu.


Setibanya dirumah Satria, bunda Eva hanya mampir sebentar untuk melihat kakak perempuannya.


"Mbak, saya tidak bisa lama disini. Masih banyak pekerjaan yang saya tinggalkan. Saya pamit pulang dulu ya, Mbak." ucap Bunda Eva.


"Iya, terimakasih sudah menemani Raina." balas Ibu Santi.


Setelah kepergian bunda Eva, Raina bersama dengan mertuanya masih berada diruang keluarga. Raina memperlihatkan apa saja yang telah ia beli menggunakan uang pemberian mertuanya.


"Lucu-lucu ya, baju-bajunya. Mamah semakin tidak sabar menunggu kelahirannya." ucap Ibu Santi sembari mengelus perut Raina.


"Hehe ... iya, Mah." balas Raina dengan sedikit memberikan tawa.


"Ehm, Raina ... kalau sudah dekat waktu persalinanmu nanti, sebaiknya kamu kembali kerumah ibumu saja." ucap Ibu Santi.

__ADS_1


"Ehm ...." Raina menoleh ke arah mertuanya.


"Maaf, bukan maksud mamah mengusirmu dari rumah ini. Hanya saja, mamah merasa jika mamah tidak bisa mengurusmu nanti setelah kamu melahirkan." ucap Ibu Santi.


Setelah berbicara, ibu Santi kembali menarik nafasnya.


"Jika, kamu bersama ibumu, pasti ada yang merawat dirimu dan juga bayimu. Kalau kamu disini, saat waktunya melahirkan dan Satria belum pulang, tidak ada yang bisa membantumu. Mamah takut dan pastinya mamah akan panik sendiri. Nanti yang ada bukan hanya kamu yang dibawa kerumah sakit, tapi mamah juga karena jantung mamah kambuh." tambah Ibu Santi lagi.


Raina hanya menganggukan kepalanya mengerti. Alasan yang dibuat oleh mertuanya cukup dapat diterima.


"Mamah hanya bisa menjengukmu dan cucu mamah saja disana nanti. Tapi, jika kamu sudah merasa kuat dan kamu sudah bisa mengurus anakmu sendiri, kamu bisa kembali lagi kerumah ini." ujar Ibu Santi.


"Iya, Mah. Oh ya, Mah ... Raina lelah sekali, Raina mau masuk kekamar Raina dulu." ucap Raina sembari tersenyum.


"Iya, mamah juga mau kembali berbaring. Entah kenapa tiba-tiba kepala mamah jadi pusing." ujar Ibu Santi.


"Mamah harus beristirahat dan meminum obat mamah." ucap Raina yang sudah membantu mertuanya masuk ke dalam kamar dan mengambilkan obat untuk mertuanya.


Setelah itu, Raina mengemas kembali baju dan perlengkapan bayinya. Kemudian membawanya masuk kedalam kamarnya.


Raina segera mengganti baju nya dengan baju daster. Dan kemudian merebahkan badannya dikasur. Raina kembali memikirkan omongan mertuanya dan juga memikirkan persalinannya kelak. Selain itu, Raina juga kembali memikirkan seperti apa kelanjutan pernikahannya setelah ia melahirkan nanti.


Raina memandang dinding kamarnya dengan nanar, ada perasaan sedih jika memang harus berpisah dengan orang yang mulai ia cintai. Namun, dirinya sebisa mungkin harus menerima kenyataan yang ada jika itu benar-benar terjadi dan dirinya juga harus membuang semua perasaannya terhadap Satria.


Handphone Raina berdering, memecahkan lamunan akan kehidupannya kelak. Segera ia mengambil handphone yang masih berada didalam tas yang ia kenakan tadi.


Tertera nama Satria dilayar handphonenya. Segera ia jawab panggilan itu, meski terasa enggan untuk berbicara dengan Satria saat ini.


[Hallo, assalamualaikum, Mas.]


[Walaikumsalam, maaf mas baru lihat pesan darimu. Bagimana dengan kandunganmu? Apa jagoanku sehat-sehat saja?]


[Iya Mas, dia sangat sehat.]


[Terus, apa kamu jadi berbelanja dengan bunda?]


[Iya Mas, aku sudah berbelanja semua perlengkapan bayi.]


Raina hanya menjawab pertanyaan Satria dengan datar dan Satria pun merasakan jika ada sesuatu yang membuat Raina seperti itu.


[Raina, are you oke?]

__ADS_1


[Iya, Mas. Aku baik-baik saja.]


[Serius?]


[Iya, Mas.]


Keduanya pun terdiam cukup lama. Satria tidak ingin membahas terlalu dalam lagi apa yang menyebabkan Raina bersikap dingin dengannya. Sedangkan Raina merasa galau dengan dirinya sendiri.


"Apa aku memberitahukan mas Satria sekarang, ya?" batin Raina.


[Ehem.] Satria berdehem cukup keras hingga membuyarkan lamunan Raina.


[Mas ... sepertinya mulai bulan depan, aku akan tinggal dirumah ibu.]


[Kenapa?] Satria terkejut mendengar ucapan Raina yang ingin kembali pulang kerumah orangtuanya.


[Gak apa-apa, Mas. Raina gak ingin menyusahkan orang rumah sini, jika Raina melahirkan nanti.]


[Kami semua tidak merasa direpotkan atau pun disusahkan Raina.]


[Mas, kamu tahu sendiri keadaan mamah seperti apa, bagaimana jika nanti waktu kelahirannya maju tidak sesuai dengan jadwal perkiraan dokter dan kamu belum ada disini? Aku gak mau buat mamah kamu panik dengan kondisiku. Mamah belum sepenuhnya sembuh, biarkan aku tinggal bersama ibu sampai aku benar-benar pulih dan bisa mengurus anakku sendiri nantinya.]


Satria terdiam mendengarkan penjelasan Raina. Entah kenapa dirinya merasa tidak rela jika Raina pergi dari rumahnya meskipun alasan Raina hanya sementara waktu.


[Baiklah, jika itu alasannya.]


Meski dengan berat hati, Satria tetap mengizinkan Raina untuk pulang kerumah orang tuanya.


[Mas, aku lelah sekali. Aku mau beristirahat.]


[Oh, ok. Beristirahatlah.]


Satria langsung mengakhiri panggilan teleponnya. Dirinya merasa jika Raina sengaja melakukan hal itu untuk menghindar darinya.


Sementara itu, setelah Satria menutup teleponnya tanpa sadar air mata Raina mengalir begitu saja. Entah apa yang ia rasakan, ada rasa sakit yang tiba-tiba terbesit dihatinya saat dia mengatakan ingin pulang kerumah orangtuanya.


Perasaan itu, hanya Raina yang tahu.... Author pun tak tahu 😜✌️


Mohon like, vote, komen serta berikan rate pada karya author 😁


Dukungan kalian sangat berarti untuk author πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2