
Pemandangan yang membuatku terperangah. Halaman belakang resto disulap dengan begitu indahnya dengan berbagai pernak-pernik pesta yang menambah kemeriahan acara.
Suara terompet saling bersahutan, begitu aku menapaki kaki ku dihalaman tersebut. Semua mata tertuju padaku, sorak sorai lantunan lagu selamat ulang tahun menyambut diriku.
Aku masih terdiam tak bergeming ditempat ku berdiri. Aku tak bisa berkata-kata melihat kawan-kawan kerja sebegitu antusiasnya merayakan hari ulang tahun ku.
Ya, ini pesta pertama yang aku dapatkan sebegini meriahnya selama hidupku. Tampak Sandra berdiri diposisi paling depan diantara mereka semua.
Sandra berjalan menghampiriku, menarik lenganku menuju gazebo yang juga sudah dihias, nampak didepan gazebo ada sebuah meja bundar yang dilengkapi dengan kue ulang tahun diatasnya.
Aku sudah berada dibelakang meja, hanya senyum bahagia yang bisa aku berikan.
"Ayo, tiup lilin nya,Rai." ucap Sandra.
"Make a wish dulu donk!" Teriak salah satu teman yang berada didepan.
Aku hanya menganggukan kepala dan melakukan saja perintah dari semuanya.
"Selamat ulang tahun ya, Rai." ucap Sandra sembari memeluk tubuh ku dengan hangat.
"Iya, sama-sama, San. Pasti ini semua kamu yang rencanakan." Aku membalas pelukannya dan menebak semua konsep pesta yang sudah dibuat.
Sandra hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Terpancar dari wajahnya pun terlihat sama bahagianya dengan diriku.
"Rai, coba kamu tengok ke belakang." ucap Sandra memberiku instruksi agar aku menoleh ke arah yang dia bilang.
Aku pun membalikkan badanku, betapa terkejutnya saat melihat Ibu dan Bunda Eva sudah berdiri disana. Entah kapan dan darimana mereka datangnya, aku sama sekali tak menyadarinya.
Ibu berjalan mendekat ke arahku.
"Selamat ulang tahun anak gadis Ibu." ucap beliau sembari memelukku dan terlihat mata beliau yang berkaca-kaca.
Aku tak bisa menjawab apa pun. Aku hanya mampu merasakan pelukan hangat dari ibu yang selama ini tak pernah ku dapatkan semenjak beliau pergi. Aku rasakan ada kerinduan yang teramat sangat yang menjalar ke tubuhku. Dan akhirnya, aku pun membalas pelukannya. Ini lah tanda bahwa aku dengan ikhlas sudah memaafkan beliau. Tanpa disadari air mata pun tak mampu lagi terbendung, terluap kan sudah rasa haru bahagia ini.
"Ehm, ehm, kuenya bisa dipotong sekarang donk?" kata Sandra memecahkan suasana haru ini.
Aku pun melakukan hal yang paling ditunggu-tunggu tersebut. Potongan kue pertama aku berikan kepada Ibu, kedua pada Bunda Eva dan ketiga kepada sahabat tercintaku yaitu Sandra.
Tepuk tangan meriah dari para kawan-kawan karyawan lainnya saat aku menyuapkan potongan-potongan kue tersebut kepada orang yang tersayang.
__ADS_1
Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Ibu dan Bunda Eva duduk di gazebo. Terlihat sangat akrab keduanya. Entah kenapa dua ibu itu bisa seakrab itu.
Teman-teman saling memberikan ucapan kepada ku. Dan tak sedikit dari mereka juga ada yang memberiku kado. Salah satunya Gina yang juga ikut memberikan ku sebuah kado.
"Selamat ulang tahun ya, Rai. Semoga kamu suka dengan kado ku." ucapnya.
"Terimakasih, Gin." balasku dengan melemparkan senyumanku.
Aku berjalan ke arah meja prasmanan untuk mengambil makanan. Sanking bahagianya, aku sampai lupa dengan perut keroncongan ku.
Aku mengambil nasi dan beberapa lauk yang sudah disajikan. Sembari memilih-milih lauk, tak ku sadari ada seseorang yang mendekat ke arahku.
"Selamat ulang tahun ya, Rai." ucapnya.
Aku membalikkan badanku ingin mengetahui siapa yang sudah mengucapkan selamat kepadaku.
"Eh, Mas. Iya, terimakasih ya, ucapannya." ucapku tergagap saat melihat siapa orangnya. Rupanya Mas Awan yang sudah berada dibelakangku.
"Rai ...." Panggilnya ketika aku ingin beranjak meninggalkan nya.
Aku pun kembali menoleh.
"Rai, aku mau minta maaf." ucapnya.
"Minta maaf untuk apa ya, Mas?" tanyaku.
"Minta maaf sudah berbicara kasar saat itu." ucapnya.
"Oh, aku sudah lama memaafkan nya. Lupakan lah, anggap saja itu tak pernah terjadi." ucapku sedikit sinis kearahnya.
Aku harus tetap menjaga jarak ku terhadapnya karena ada Gina yang pasti akan kecewa jika melihatku dengan mas Awan. Meski bukan aku yang mendekati.
"Jadi, kamu masih mau kan, menganggap ku sebagai teman?" tanya nya.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan dan berlalu meninggalkannya.
Acara di tutup dengan baca doa bersama yang dipimpin oleh pak Abdul. Setelah itu, kami saling bahu membahu membersihkan halaman belakang resto. Cukup setengah jam membereskan semuanya, karena saling gotong royong.
__ADS_1
Keadaan kembali normal, dan karyawan resto yang kerja sift sore langsung melanjutkan pekerjaan mereka.
Sementara aku, Sandra, Ibu dan Bunda Eva berkumpul dikantor.
"Ini Bu, laporannya sudah saya selesaikan." ucapku pada Bunda Eva sembari memberikan kertas laporan yang sudah aku buat.
Sandra dan Bunda Eva saling bertatapan dan seketika mereka tertawa bersama.
"Aneh deh, orang kasih lihat hasil laporan. Kok, malah diketawain." gumamku masih tidak menyadari bahwa aku sudah dikerjain oleh mereka.
"Hehehe, maaf ya, Rai. Bunda hanya menjalankan ide dari Sandra." ucap Bunda sembari tertawa kecil.
"Maksudnya gimana ya, Bun?" tanyaku seperti orang bodoh.
"Kamu masih gak sadar, Bunda cuma ngerjain kamu aja. Nyuruh kamu cepat-cepat bikin laporan. Dan ini semua ide Sandra" kata Bunda Eva menjelaskan.
"Berarti untuk mengatur acara anniversary resto itu juga hanya dari sebagian rencana Bunda juga." dugaku.
"He'em." Bunda hanya berdehem dan menganggukan kepalanya.
Tatapan ku beralih ke Sandra.
Sandra yang menyadari dengan tatapanku langsung mengacungkan dua jarinya membentuk tanda damai. Aku yang tak terima dikerjai oleh nya membalas dengan menggelitik perutnya.
Ibu dan Bunda Eva hanya tertawa melihat kelakuan kami yang seperti anak kecil.
"Rai ...." panggil Ibu.
"Iya, Bu." sahutku.
Aku berhenti melakukan serangan ku kepada Sandra dan beralih mendekat dengan ibu.
"Ibu mau ketemu dengan kakak dan adikmu. Apa kamu mengizinkan Ibu untuk bertemu dengan mereka?" tanya beliau.
"Tentu Raina mengizinkan, Bu. Mereka kan, juga anak ibu, gak cuma Raina aja. Dan pastinya mereka juga akan senang bila bisa bertemu dengan ibu." ucapku dengan memeluk tubuh beliau lagi.
"Alhamdulilah ...." ucap Sandra dan Bunda Eva bersamaan.
Aku tak bisa berucap apa-apa selain dengan bersyukur kepada Tuhan yang telah mengatur ini semua. Ini merupakan kado terindah untukku. Bisa memeluk ibu kembali, semoga ini tak hanya sementara, semoga ibu akan benar-benar kembali ke pelukan kami semua.
__ADS_1
Terukir senyum yang mengembang dibibir ku.
Bersambung