Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Setetes penyesalan


__ADS_3

Malam semakin larut, Raina sudah terlelap dalam tidurnya bersama dengan hati yang penuh dengan luka dan kecewa, serta wajah lelahnya yang begitu nampak. Wajah yang selalu sebisa mungkin memainkan perannya dalam sandiwara yang sedang ia dan Satria mainkan.


Si kecil Al pun sudah tidur dengan tenangnya, wajah polos yang tak berdosa itu, yang tak mengerti masalah apa yang sedang dihadapi orangtuanya. Dia hanya bisa tersenyum bahkan tertawa, senyum yang selalu bisa menutupi rasa sakit Raina. Si kecil Al bagaikan penawar untuk rasa sakit yang dirasakan Raina.


Tapi tidak dengan Satria, matanya enggan terpejam. Satria terduduk dikursi kecil yang langsung menghadap ke arah kasur milik Raina. Dengan begitu dirinya dapat melihat wajah Raina maupun Al saat tertidur. Dia memandangi wajah kedua orang itu secara bergantian, terbesit rasa bersalah yang teramat dalam dihatinya. Mengingat terlalu banyak luka yang telah ia buat dihati Raina, dihati seorang perempuan yang sudah jelas sangat mengharapkan kehadiran dirinya sebagai seorang suami.


Satria mengusap wajahnya secara kasar, lalu menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. Setelah dirasa puas menyakiti dirinya sendiri, Satria menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar dan kemudian menutup matanya dengan kedua tangannya, dia terdiam beberapa saat memikirkan apa yang harus ia lakukan demi hubungannya dengan Raina.


Matanya mulai memberat, rasa kantuk mulai menguasainya. Perlahan Satria bergeser ke lantai tempat dimana biasanya dirinya tidur. Satria meraih bantal dan kemudian menutupi kepalanya. Berharap dirinya dapat tertidur dengan nyenyak.


***********


Sayup-sayup terdengar suara Al yang sedang mengoceh, Satria membuka matanya perlahan. Satria meraih handphonenya yang tergeletak tak jauh dari dirinya tidur, dia melihat jam yang tertera dilayar handphonenya sudah menunjukkan pukul empat subuh. Satria mengucek-ngucek kedua matanya dan mencoba bangun dari tidurnya. Meski kepalanya masih terasa berat, karena hanya beberapa jam saja dirinya tertidur, tapi dia tetap berusaha bangun sekarang dan melihat Al yang tak henti-hentinya mengoceh.


Satria juga melihat Raina yang juga sudah terbangun dari tidurnya.


"Eh, anak ayah sudah bangun. Lagi ngomongin apa sih, anak ganteng ini?" Satria bergeser naik ke atas kasur dan mencubit pelan kedua pipi Al yang menggemaskan.


"Dia sudah bangun dari jam tiga subuh tadi, Mas. Maaf ya, karena ocehan Al membuat Mas jadi ikut terbangun." ujar Raina.


"Iya, gak apa-apa. Ini juga sudah jam segini. Mas mau mandi dan sholat subuh ke mushola." ucap Satria.


"Ehm ... iya, Mas." balas Raina.


"Rai, ada yang ingin Mas sampaikan padamu." ucap Satria yang diselingi dengan suara adzan berkumandang dan mengharuskan dirinya segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Nanti sepulang sholat, Mas bicara padamu." ucap Satria sebelum akhirnya dia benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


Raina hanya menganggukan kepalanya dan langsung beralih kembali menemani Al bermain lagi.


Sekitar dua puluh menit, Satria beserta kedua saudara laki-laki Raina sudah kembali dari sholat subuh dimusholla yang terletak tidak jauh dari rumah.


Satria langsung masuk ke dalam kamar, namun tak didapatinya Raina berada didalam sana. Hanya ada Al yang sudah kembali tertidur. Satria mengganti baju kokonya dengan seragam kerjanya. Selang beberapa menit kemudian, Raina masuk ke dalam kamar berniat untuk memanggil Satria untuk sarapan bersama. Karena memang dirumah Raina terbiasa sarapan di pagi buta.


"Mas ...." panggil Raina.


Satria yang tengah duduk disamping Al dengan memainkan handphonenya itu kini beralih pada Raina yang masih berdiri diambang pintu.


"Eh, Dek. Kenapa?" tanya Satria.


"Ayo sarapan dulu. Raina sudah buatin sarapan untuk Mas." jawab Raina.

__ADS_1


"Sini dulu. Mas kan, tadi sudah janji sama kamu akan berbicara setelah Mas pulang dari mushola." ucap Satria sembari menepuk kasur untuk Raina duduk.


Raina pun menurut dengan ucapan Satria dan kini dirinya sudah duduk tepat disamping Satria yang hanya berjarak dua jengkal tangan.


"Mas sudah memikirkan dari semalam. Kalau kita pindah dari rumah ini dan kita menyewa rumah saja bagaimana?" tanya Satria.


"Sewa rumah? Kenapa?" Raina balik bertanya pada Satria.


"Ehm, apa kamu tidak ingin mencoba belajar mandiri? Kalau kita sewa rumah sendiri, hanya ada kita bertiga. Kamu, Mas dan juga Al, tentunya kita berdua bisa lebih belajar dalam membangun rumah tangga dan juga kita bisa lebih saling memahami dan melengkapi satu sama lain. Dan pastinya, hal tersebut bisa membuat kita berdua sama-sama belajar untuk lebih menyayangi dan mencintai. Bukan kah, kamu ingin seperti itu?" Satria menjelaskan alasan dirinya untuk membawa Raina keluar dari rumah ibunya.


Raina terdiam dan berfikir untuk memberi jawaban pada Satria.


"Ehm, Raina akan ikut kemana pun Mas bawa Raina. Selama itu untuk kebaikan kita dan selama kita selalu bertiga." jawab Raina.


"Terimakasih. Kamu mau menurut dengan Mas." ucap Satria.


"Terus, kira-kira kapan kita pindahnya?" tanya Raina.


"Tiga hari lagi Mas gajian. Tunggu Mas gajian dulu baru kita pindah, nanti Mas cari rumah sewaan yang dekat dengan tempat kerja Mas. Gak apa-apa, kan?" jawab Satria dan kembali meminta persetujuan Raina.


"Gak apa-apa, Mas. Toh, masih dalam satu kota." jawab Raina sembari tersenyum.


"Sekali lagi, Mas ucapkan terimakasih sama kamu. Kamu sudah mau menurut sama Mas." ujar Satria.


Lagi-lagi ucapan Raina kembali menampar Satria.


"Maafin, Mas. Tolong beri Mas waktu untuk meyakinkan hati Mas lagi. Mas akan tetap disini bersamamu dan juga Al. Sampai waktu itu tiba, untuk Mas kembali mengucapkan ikrar suci itu lagi." ucap Satria sembari menggenggam kedua tangan Raina.


Raina tertegun kala Satria menggenggam tangannya, ada rasa hangat yang menjalar dihatinya. Namun, Raina segera sadar dan tidak ingin terlalu hanyut dalam perasaan itu. Dirinya tidak mau kembali untuk kecewa. Baginya, biarlah semua berjalan apa adanya dan perasaan itu juga mengalir dengan semestinya.


Raina dengan cepat menarik tangannya dan beranjak dari duduknya.


"Ayo, sarapan. Tempat kerja Mas jauh dari sini, kalau kesiangan nanti telat, lho." ucap Raina yang mengalihkan pembicaraan.


Raina duluan keluar dari kamarnya meninggalkan Satria yang masih terdiam dipinggir kasur.


*********


Sementara dikediaman ibu Santi, wanita paruh baya itu semakin terlihat kurus karena sakit sepeninggalan Satria. Garis-garis halus sangat terlihat dibagian beberapa tubuh dan juga wajahnya yang semakin menampakkan dirinya yang semakin menua.


Tak dapat dipungkiri, dirinya merasa rindu dengan anak sulungnya itu. Namun, lagi-lagi keegoisan hatinya menutupi semuanya. Meski, tak jarang Satria mengunjungi dirinya, tapi dirinya seakan menutup maaf untuk anak sulungnya itu. Dan selalu mengacuhkan kehadiran Satria.

__ADS_1


"Mah, kenapa sih, mamah membohongi perasaan mamah sendiri? Sebenarnya mamah itu kangen kan, sama kak Satria? Berdamailah Mah, sama hati Mamah sendiri agar bisa memaafkan kak Satria. Mau sampai kapan mamah begini terus?" ujar Bara yang pagi itu mendapati mamahnya yang sedang duduk digazebo belakang rumahnya.


"Jangan pernah menyebutkan namanya lagi. Mamah tidak merasa mempunyai anak pembangkang seperti dia." ucap Ibu Santi yang masih saja membohongi hatinya sendiri.


"Terserah Mamah lah. Mamah kan, paling tahu yang terbaik untuk mamah dan anak-anaknya." sindir Bara yang kemudian meninggalkan mamahnya sendiri ditaman.


Santi hanya tersenyum getir menerima sindirian yang cukup pedas dari anak bungsunya itu.


"Egois. Iya, aku memang orangtua yang egois." gumamnya dengan nada bergetar.


Ketiga anaknya kini benar-benar sudah tidak mau mendengarkan omongannya lagi. Untuk kedua kalinya, saat itu dirinya kembali berkunjung ke rumah tahanan dimana Awan berada. Saat itu juga dirinya kembali menerima penolakan dari anaknya, karena dirinya yang mencoba mempengaruhi Awan lagi.


Sejatinya, ketiga anak lelakinya itu sangat menyayangi dirinya, namun hanya dirinya lah yang telah memperkeruh keadaan yang membuat ketiga anaknya lebih memilih untuk menghindar dari dirinya. Tak hanya anak-anaknya saja, kedua saudaranya pun seakan menjauh darinya saat tahu apa yang sudah terjadi.


Flashback On


Saat itu sebulan setelah Satria keluar dari rumah mamahnya, Pakde Suseno dan Bunda Eva mencoba berbicara pada saudaranya itu yang tak lain adalah Ibu Santi yang merupakan ibu kandung dari Satria agar membuka hatinya untuk Satria dan juga Raina.


"Apa yang kamu harapkan sekarang? Anakmu sendiri, darah dagingmu, kamu tega mengusir nya dan bahkan kamu tidak mau mengakuinya sebagai anakmu lagi. Dimana otakmu itu, Santi?" cecar Pakde Suseno pada adiknya itu.


"Aku tidak punya anak yang pembangkang seperti itu, Mas." ketus Ibu Santi.


"Eling Mbak, Eling (ingat Mbak, ingat) ... yang kamu sebut pembangkang itu, dia yang sudah menyelamatkan nama keluargamu. Lihat perjuangan dan pengorbanannya. Dia sudah dewasa, Mbak. Dia berhak menentukan kehidupannya sendiri, tanpa terus-terusan berada diketiakmu, Mbak." ucap Bunda Eva.


"Kalau kalian kesini hanya untuk menceramahi saya, mending tidak usah datang. Kepala saya tambah mumet jadinya." ketus Ibu Santi.


"Sampai kapan kamu terus keras kepala seperti ini? Ingat, umur sudah tua. Sudah punya cucu, sifat masih saja seperti anak-anak. Kalau kamu tidak merubah watakmu yang egois seperti ini, anak-anakmu akan semakin menjauh dari kamu. Kamu akan menyesal nantinya." tegur Pakde Suseno.


"Wes, Kang. Sudah cukup kita kasih tahu yang benar, tapi kehadiran kita tidak dianggap disini. Kami pamit, assalamualaikum." ucap Bunda Eva dan mengajak Pakde Suseno pergi dari rumah itu.


Bunda Eva dan Pakde Suseno pun keluar dari rumah Ibu Santi dengan perasaan yang campur aduk. Sepanjang perjalanan keduanya hanya beristighfar untuk meredam amarah mereka.


Flashback Of


Ibu Santi teringat ucapan kedua saudaranya, tanpa terasa bulir bening sudah membasahi pipinya. Terasa sesak memenuhi rongga dadanya.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.

__ADS_1


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2