
Namun, rasa sakit itu hanya persekian detik. Sehingga Raina kembali melanjutkan aktifitasnya. Raina mulai membersihkan kamarnya, tak lupa Raina pun meletakkan kasur bayi diatas kasurnya. Raina merapikan nya sedemikian rupa. Karena box bayi yang dibelikan bunda Eva terlalu besar, Raina meninggalkannya dirumah Satria. Hanya kasur serta bantal dan guling bayinya saja yang ia bawa.
Setelah acara berbenah kamar selesai, Raina melanjutkan menyapu dan mengepel rumah. Mulai dari ruang belakang, setiap kamar, hingga kedepan tak luput dari jangkauannya. Raina merasa ingin melakukannya dan dirinya benar-benar rajin pagi itu.
"Raina, kamu sudah rajin sekali sepagi ini?" tanya Aldo yang melihat adiknya sedang bersih-bersih.
"Iya, Kak. Gak tahu nih, rasanya Raina pengen aja ngelakukannya." jawab Raina.
"Itu kenapa kantung matamu gelap kaya mata panda?" tanya Aldo lagi sembari menunjuk mata Raina.
"Hemm, Raina susah tidur dari semalam. Sampai sekarang pun Raina belum ada tidur." jawab Raina sembari menguap.
"Jangan terlalu lelah, kasihan bayimu." ucap Aldo mengingatkan Raina.
"Huft, kata dokter Raina harus banyak gerak, Kak." sahut Raina dengan wajah kusutnya.
"Beristirahatlah sejenak, sayang. Kita gak tahu kapan yang berada didalam perutmu itu akan keluar. Bisa jadi hari ini, kamu harus menyiapkan tenaga juga untuk menghadapi persalinanmu." ucap Ibu Riska yang datang menghampiri kedua anaknya.
"Iya, benar apa yang dikatakan Ibu. Ayo, sarapan sama kakak." ajak Aldo sembari menarik tangan adiknya.
Raina sudah mengikuti Aldo menuju ruang makan. Namun, tiba-tiba perutnya kembali terasa sakit.
"Arggh ...." Raina mengerang sembari memegang sandaran kursi yang ada didepannya sebagai tumpuan.
"Kamu kenapa, Rai?" tanya Aldo panik.
"Perut Raina sakit lagi, Kak." jawab Raina dengan meringis menahan sakit.
"Ayo, duduklah dulu. Kakak panggilkan ibu." ucap Aldo.
Aldo bergegas keluar menuju toko kue untuk memanggil ibunya yang berada disana.
"Bu ... Raina sakit, Bu." ucap Aldo yang terlihat panik.
"Sakit? Kamu jangan panik seperti itu, nanti adik kamu juga akan ikutan panik." ujar Ibu Riska sembari berjalan dengan langkah cepat untuk menemui Raina.
Setibanya didapur, Ibu Riska dan Aldo tercengang saat melihat Raina sedang makan dengan tenang, tak terlihat seperti orang yang sedang merasakan sakit. Aldo dan Ibu Riska saling melempar pandang. Seperti sedang berbicara melalui telepati.
"Katamu, adikmu sakit?" Seperti itu kira-kira yang ibu Riska katakan melalui sorot matanya.
Sedangkan Aldo mengangkat kedua bahunya menjawab seakan dia tidak tahu kenapa adiknya berubah. Raina tak menyadari ada dua orang yang berdiri dibelakangnya.
"Kenapa Kak Aldo sama Ibu berdiri disini?" tanya Raka yang tiba-tiba datang.
Serempak ibu dan anak itu pun membalikkan badannya, begitu pun dengan Raina yang tersentak mendengar ada suara dibelakangnya.
"Kenapa kalian bertiga hanya berdiri disitu? Ayo, temani Raina makan." Raina malah mengajak ibu serta saudaranya untuk menemaninya makan.
Belum sempat ibu Riska dan Aldo menjawab pertanyaan Raka, kini Raina sudah meminta mereka untuk makan bersama. Alhasil, mereka pun turut duduk dikursi dan mulai menikmati sarapannya.
"Rai, apa tadi kamu sakit?" tanya Ibu Riska.
"Iya, Bu. Tapi, rasa sakitnya seperti yang Raina rasakan pertama kali. Hanya beberapa detik, lalu kembali menghilang. Entahlah, sepertinya si kecil ini lagi mengerjai bundanya." jawab Raina sembari menunjuk perutnya.
"Bukan hanya kamu saja yang dikerjai, kakak juga. Kakak sangat panik tahu, saat melihatmu kesakitan tadi." gerutu Aldo.
"Hehehe ... ya, maaf. Kan, bukan mau ku seperti itu." ucap Raina sembari tercengir.
__ADS_1
"Apa sebaiknya kita periksakan dulu ke bidan Emil, Rai?" usul Ibu Riska.
"Boleh, Bu. Sehabis ini kita kesana, ya." jawab Raina.
Ibu Riska menganggukkan kepalanya. Kedua anak lelakinya sudah pergi meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu dan juga bekerja.
Raina dan Ibu Riska pun sudah siap untuk ke rumah bidan Emil yang hanya berjarak tujuh rumah dari rumah Raina. Sehingga keduanya memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Sesampainya disana, Raina disuruh naik ke atas kasur untuk mengecek pembukaan. Bidan Emil memasukkan satu jarinya ke dalam jalan lahir.
"Baru pembukaan satu, masih lama. Masih bisa ngemall dulu ini." canda Bidan Emil sembari terkekeh.
"Kalau dirasa sakitnya semakin sering datangnya dan Mbak Raina merasa sudah tidak kuat, Mbak Raina bisa kembali lagi kesini atau langsung kerumah sakit." tambah Bidan Emil lagi.
"Baik, Bu. Terimakasih." jawab Ibu Riska dan Raina bersamaan.
Keduanya pun berpamitan untuk pulang. Raina dan Ibu Riska berjalan dengan santai. Namun, dijalan mereka berdua bertemu dengan ibu Ratna si biang gosip.
"Eh ... Ibu Riska dan Raina habis darimana?" tanya Ibu Ratna.
"Habis dari bidan Emil." jawab Ibu Riska.
"Memangnya, Raina sudah mau melahirkan?" tanyanya lagi.
"InsyaAllah ... permisi, Bu. Kami duluan pulang." jawab Ibu Riska sembari tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya begitu pun dengan Raina yang mengikuti langkah ibunya.
"Hemm, perasaan nikahnya baru beberapa bulan, tahu-tahu sudah mau brojol aja. Jangan-jangan sudah dunk duluan itu." Bagaikan angin segar, Si biang gosip mendapatkan bahan gosip terhangat untuk dia sebarkan.
Sesampainya dirumah, Raina langsung masuk ke kamarnya. Sementara, ibu Riska kembali ke toko kue.
"Sebaiknya kamu kabarin Satria. Kamu istirahat aja dulu dikamar, kalau ada apa-apa cepat panggil Ibu. Ibu ke toko dulu." ucap Ibu Riska yang dijawab dengan anggukan oleh Raina.
**********
Bagaikan kilat, setelah mendapat kabar jika Raina akan melahirkan, Satria langsung bergegas menuju rumah Raina. Sepanjang perjalanan, Satria merasa tegang dan juga bahagia karena dirinya tidak lama lagi akan berstatus sebagai ayah, meski itu adalah anak dari adiknya.
Setibanya dirumah Raina, Satria disambut oleh mertuanya yang baru saja keluar dari rumah.
"Eh, Nak Satria. Masuk, Raina lagi tidur. Semalam dia susah tidur dan itu sepertinya dia baru saja terlelap." ujar Ibu Riska.
"Baik, Bu. Satria tunggu diruang keluarga aja." jawab Satria dan kemudian masuk ke dalam rumah.
Pukul dua sore, Raina terbangun dan menahan sakit yang teramat sakit. Karena kontraksinya sudah semakin sering terjadi.
Raina berteriak memanggil ibunya, namun yang masuk ke kamarnya bukanlah ibunya melainkan Satria yang sangat dekat dengan kamar Raina sehingga dengan sangat jelas mendengar lengkingan suara Raina.
"Mas, perutku ... perutku rasanya sakit sekali." rintih Raina.
"Tunggu disini sebentar, Mas panggilkan ibu dulu." ucap Satria.
Raina hanya menganggukan kepalanya pelan. Sementara itu, Satria sudah menemui mertuanya ditoko dan mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
"Apa sakitnya sudah terasa sering datang?" tanya Ibu Riska.
"Iya, Bu. Raina gak kuat, Bu. Ini sakit sekali." jawab Raina dengan wajah yang sudah bercucuran keringat.
"Ayo, kita bawa Raina kerumah sakit." titah Ibu Riska pada Satria.
__ADS_1
Satria menganggukan kepalanya, lalu mulai mengangkat tubuh Raina dari kasur. Sedangkan Ibu Riska membawa tas perlengkapan bayi yang sudah dipersiapkan oleh Raina.
"Gak usah kerumah sakit, Bu. Kita ke bidan Emil aja, Raina sudah gak tahan, Bu." ucap Raina.
"Ayo, cepat bawa Raina masuk ke mobil, Satria." titah Ibu Riska lagi.
Satria hanya menuruti apa yang dikatakan oleh mertuanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Tiba lah mereka dirumah bidan Emil yang merangkap sebagai tempat prakteknya sendiri, selain bekerja dipuskesmas kelurahan.
Raina langsung dibaringkan dikasur dan bidan Emil kembali mengecek pembukaan dijalan lahir Raina.
"Masih pembukaan enam, Mbak Raina jangan mengejan dulu, ya. Karena pembukaannya belum lengkap." ucap Bidan Emil.
"Tapi, ini sakit sekali, Bu." sahut Raina.
"Yang sabar, sayang. Kamu harus banyak-banyak istighfar." ucap Ibu Riska yang mendampingi Raina.
Sementara Satria berdiri mematung diujung kasur yang ditempati Raina, Satria tidak tega melihat kesakitan yang dirasakan oleh Raina.
"Bu ... maafin Raina, kalau Raina selama ini banyak salah sama ibu. Doa'in Raina biar persalinan ini lancar." ucap Raina yang meminta maaf pada ibunya.
"Iya, sayang. Ibu sudah maafin kamu dan selalu doa'in kamu. Kamu harus kuat, ya." jawab Ibu Riska.
"Mas ... maafin Raina, ya. Kalau selama Raina jadi istri, Raina banyak melakukan salah baik yang disengaja maupun tidak." ucap Raina lagi pada Satria dengan suara seraknya.
"Iya, Dek. Mas sudah maafin kamu." jawab Satria.
Raina kembali merintih dan terus mengucapkan asma Allah.
"Nak, jangan menyusahkan bunda mu. Ayo, keluar jangan kelamaan buat bunda sakit." ucap Satria sembari mengelus perut Raina.
Beberapa menit kemudian terdengar seperti balon yang berisi air meletus.
"Bu ... itu suara apa, Bu?" tanya Raina yang mulai panik.
"Itu air ketubannya sudah pecah, kamu jangan panik. Ayo, diatur pernafasannya." jawab Bidan Emil sembari menuntun Raina untuk fokus pada persalinannya dan dibantu oleh satu orang asistennya.
Sementara Satria dan Ibu Riska juga turut memberikan semangat pada Raina yang masing-masing berdiri disamping atas kanan dan kiri Raina.
"Ayo, Bu. Kepalanya sudah kelihatan. Hitungan ketiga langsung dorong ya, Bu." titah asisten Bidan Emil.
"1 ... 2 ... 3 ... push!" Bidan Emil dan juga asistennya menuntun Raina untuk mengejan.
Raina mengerahkan seluruh tenaganya dengan sekuat mungkin. Dan tak lama, terdengar tangisan seorang bayi yang menggema diruangan 3 x 3 itu.
Bidan Emil mengangkat tubuh mungil yang telah dibersihkan itu dan meletakkannya diatas tubuh Raina, sang bayi menggeliat mencari-cari sumber makanannya, luluh air mata Raina saat melihat anaknya telah lahir ke dunia. Si kecil itu langsung menyesap dengan lahap sumber makanannya setelah ia menemukannya. Asi pertama yang langsung Raina berikan kepada anaknya. Terasa terbayarkan semua rasa sakit, saat melihat bayi kecil yang tampan itu. Satria pun langsung sujud syukur setelah mendengar tangisan si kecil.
"Selamat ya, sayang. Kamu sudah jadi ibu." ucap Ibu Riska penuh haru.
Raina tersenyum bahagia mendengar ucapan dari ibunya.
Setelah puas meminum ASI, si kecil diberikan pada Satria untuk diadzani. Bergetar tubuh Satria saat menerima tubuh kecil itu dalam gendongannya. Satria mengadzani putra kecilnya dengan suara yang bergetar menahan tangis bahagianya.
"Jadilah anak yang soleh, yang takut akan Allah, yang akan membanggakan bunda dan ayah kelak. Ayah akan selalu menjaga dan melindungimu."
Satria mengecup pipi bayi mungil itu dan air mata bahagianya tak dapat terbendung lagi. Dirinya merasa sudah seutuhnya menjadi seorang ayah untuk anak Raina.
__ADS_1
TAMAT