
Tak lama kemudian, Raina yang telah selesai mandi dan juga sudah rapi dengan baju kebangsaan ibu-ibu yang tak lain adalah daster, kini turut bergabung dengan Satria dan ibunya diruang keluarga. Raina duduk dibawah bersama dengan Al yang sudah aktif bermain sedari tadi.
"Raina ...." panggil Ibu Riska pelan.
"Iya, Bu." sahut Raina.
"Apa kamu sudah berbicara dengan Satria mengenai hal yang disampaikan oleh dokter tadi?" tanya Ibu Riska hati-hati, meski dia tahu bahwa anak perempuannya itu belum menceritakan apa pun pada menantunya, tapi dirinya tetap berpura-pura seolah tidak mengetahuinya.
Raina menggelengkan kepalanya dan menatap Satria.
"Apa sekarang kamu sudah siap untuk berbicara dengan suamimu?" tanya Ibu Riska lagi.
Raina tertunduk, bibirnya serasa kelu untuk mengatakan pada Satria apa yang sudah terjadi dengannya. Ketakutannya akan Satria yang tidak akan menerima masih saja menghantuinya.
"Dek, katakanlah. Ceritakan pada Mas, ada apa sebenarnya." ujar Satria.
"Raina sudah gagal jadi seorang ibu dan istri yang baik untuk kalian." Raina mengatakan hal yang membuat Satria semakin bingung, bahkan Raina pun menangis saat mengatakan hal tersebut.
"Hei, gak ada yang menganggap dirimu seperti itu. Kamu adalah seorang ibu yang hebat untuk Al." ucap Satria.
Satria menatap mertuanya untuk memberikan penjelasan.
"Rai, tenangkan dirimu. Kalau kamu belum bisa menyampaikan nya pada Satria, ibu yang akan berbicara padanya. Kamu harus tenangkan hatimu." ujar Ibu Riska.
Raina hanya menganggukan kepalanya, mencoba mensinkronkan hati dan juga otaknya agar dapat menyatu.
"Begini, Nak Satria ...."
Ibu Riska mulai menceritakan awal permasalahan dari pertama kalinya melihat Raina yang marah meledak-ledak dan melampiaskan kemarahannya pada anaknya dan juga kejadian saat pagi tadi, Raina yang berteriak historis ketakutan dan menghindar dari Al yang terus menangis.
Satria mendengarkan secara seksama penjelasan dari ibu mertuanya tanpa membantah satu kata pun.
"Ibu merasa ada yang salah dengan Raina, sehingga ibu membawa Raina untuk periksa ke psikiater sekaligus membawa Al berobat tadi pagi." ucap Ibu Riska.
Satria menatap Raina sekilas yang tertunduk dan kembali menatap ibu mertuanya.
"Lalu, bagaimana dengan hasil pemeriksaannya?" tanya Satria.
"Dokter menyimpulkan jika Raina mengalami postpartum depression." jawab Ibu Riska.
"Kenapa, bisa? Apa penyebabnya hingga Raina menjadi depresi?" tanya Satria yang tak menduga apa yang sudah dialami Raina.
"Penyebabnya adalah persoalan hati." ujar Ibu Riska.
Lalu, wanita paruh baya itu kembali mengulang rentetan cerita yang telah Raina ceritakan pada dokter psikiater yang menangani putrinya tersebut tanpa satu kata yang kurang sedikit pun.
__ADS_1
Satria tampak terkejut mendengar penjelasan dari ibu mertuanya. Satria pun merasa prihatin dan bersalah, karena semua adalah kesalahan mamahnya dan juga dirinya yang kurang memahami Raina sebagai istrinya.
"Raina memendamnya sendiri, meski diluar dirinya terlihat begitu tegar. Ternyata, dia sangat rapuh didalamnya, hingga mengalami hal seperti ini." Ibu Riska kembali melanjutkan ucapannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafin Mas, Dek. Dan maafin mamahnya Mas juga yang sudah buat dirimu sampai seperti ini." Satria menggenggam erat kedua tangan Raina sembari meminta maaf pada perempuannya itu.
"Tolong, Nak Satria jaga perasaan Raina agar dia tidak kepikiran terus dengan masalah yang telah lalu." ucap Ibu Riska mengingatkan.
"Iya, Bu." balas Satria.
Satria kembali menatap Raina yang masih terisak.
"Jangan menangis lagi, Mas gak sanggup melihat dirimu bersedih. Mas janji, Mas akan selalu ada untukmu dan juga Al. Kita hadapi ini semua sama-sama. Mulai dari sekarang, apa pun hal yang ingin kamu bicarakan, hal yang mengganjal dihatimu, jangan ragu untuk berbagi dengan Mas. Mas akan selalu setia menjadi pendengarmu." ucap Satria dengan penuh ketegasan disetiap kalimat yang ia ucapkan.
Ibu Riska merasa terharu mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Satria.
"Ibu yakin, cepat atau lambat kamu akan mencintai Raina sepenuh hatimu. Cinta yang benar-benar tulus untuk seorang istri." batin Ibu Riska.
"Apa Mas mau menemani Raina untuk kembali berkunjung ke psikiater?" tanya Raina yang sedikit ragu.
"Tentu, Dek. Mas akan menemani dirimu, apa pun itu asalkan demi kabaikanmu. Mas akan mendukung dan selalu memberimu semangat agar kamu bisa kembali menjalani hari-harimu sebagai seorang ibu tanpa rasa takut lagi. Dan jangan pernah memikirkan hal buruk lagi, kamu harus yakinkan hatimu bahwa kamu adalah satu-satunya istri Mas." Entah kenapa Satria seyakin itu berbicara dengan Raina, sedangkan dirinya sendiri belum pasti dengan perasaannya sendiri.
Raina tersenyum mendengar kata-kata manis yang keluar dari bibir Satria. Hati perempuan mana yang tidak merasa terhanyut, saat mendengar kalimat demi kalimat yang meyakinkan hati dari seorang lelaki yang di cintai.
********
"Apa aku harus meminta maaf pada mereka? Hmmm, tapi kalau aku menampakkan diriku dihadapan Raina, tentu itu akan kembali memperburuk suasana hatinya. Walaupun kedatanganku berniat baik." gumam Erlina yang dilanda kegalauan.
*******
Kembali ke rumah Raina.
"Ehm ... ehm ... kenapa nih, Kak Raina senyum-senyum gitu? Ada apaan sih, bagi-bagi dong, kalau lagi senang?" tanya Raka yang baru saja datang dari bermain futsal.
"Gak usah kepo anak kecil. Sana mandi dulu gih, sana. Bau asem kamu." ujar Ibu Riska sembari mengusap wajah anak bungsunya itu.
"Ah, ibu." gerutu Raka dengan mengerucutkan bibirnya.
Satria dan Raina pun tertawa melihat tingkah Raka.
"Oh ya, kata ibu tadi habis belanja? Mana, Mas mau lihat apa aja yang sudah kamu beli?" Satria mengalihkan suasana agar Raina tidak kembali memikirkan ucapannya.
"Iya, Mas. Belanjaannya masih dibagasi mobil ibu." jawab Raina.
"Ayo, temani Mas mengambil belanjaannya." ajak Satria.
__ADS_1
Raina pun menurut dan mengikuti langkah Satria menuju mobil ibunya yang terparkir dihalaman rumah.
Satria dan Raina masing-masing membawa tentengan belanjaan ditangan mereka untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Barang-barang mereka sudah diletakkan disudut ruang keluarga.
"Ini struk pembelanjaannya, Mas." ucap Raina sembari menyerahkan struk pembelanjaan tadi.
Satria pun menerimanya dan memperhatikan deretan daftar barang apa saja yang telah dibeli Raina beserta dengan harganya yang tertera di struk tersebut.
"Jadi, uangnya masih sisa. Kenapa tidak kamu belanjakan yang lain lagi, Dek?" tanya Satria setelah melihat total belanjaan Raina.
"Iya, Mas. Rencananya sisa uang itu akan Raina gunakan untuk membeli sembako untuk mengisi dapur kita dan juga belanja untuk syukuran kecil-kecilan." jawab Raina.
"Syukuran? Mas sampai tidak kepikiran ke situ." ucap Satria.
"Iya, Mas. Lebih baik rumah yang akan kita tempati itu dibacakan doa agar nanti kita betah didalam rumah tersebut dan semoga rumah yang akan kita tinggal nanti membawa berkah untuk kita." ujar Raina.
"Ya sudah, Mas percayakan semuanya sama kamu." ucap Satria.
"Terimakasih, Mas." balas Raina.
Setelah berdiskusi masalah kepindahan rumahnya nanti, Satria dan Raina pun makan malam berdua karena Raina yang harus menidurkan Al terlebih dahulu, jadi waktu makan malam mereka harus mundur. Satria yang ingin makan malam bersama Raina pun harus menunggu Raina hingga Al benar-benar tertidur.
Dimeja makan hanya ada mereka berdua, Raina melayani Satria seperti biasanya. Makan malam mereka terasa lebih intim, meski hanya saling melempar pandang dan senyuman, namun bagi Raina dan Satria ada yang berbeda dengan suasana makan malam itu dari sebelum--sebelumnya yang lebih terasa hangat.
"Apa masakan ini kamu yang buat?" tanya Satria memecah keheningan.
"Bukan. Ibu yang memasaknya. Kenapa? Apa ada yang salah dengan masakannya?" tanya Raina.
"Tidak, ini enak. Tapi, besok Mas mau kamu yang memasak untuk Mas." pinta Satria.
"Baik. Bahkan, kalau kita sudah pindah rumah nanti, Raina akan terus masakin makanan untuk Mas." ucap Raina.
"Terimakasih, Dek." ucap Satria sembari mengelus lembut punggung tangan Raina.
Raina hanya memberikan senyumannya pada Satria.
"Ya Rabb, biarkan senyum itu selalu mengembang dibibirnya. Jangan berikan rasa sakit yang mendalam padanya dan yakinkan pada hamba bahwa cinta ini memang hanya untuk dirinya seorang." batin Satria.
"Ya Rabb, hamba hanya ingin sembuh dan menjalani hari-hari hamba seperti sedia kala. Jadikanlah hamba seorang ibu dan istri yang baik untuk kedua pengeran hatiku tanpa ada rasa ketakutan dan kecemasan bila berada bersama dengan mereka." batin Raina.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
__ADS_1
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π