
Setelah menjenguk ibu Santi, Ibu Riska dan Raka pun tak lupa juga untuk turut menjenguk Bara diruang rawat yang lain. Dengan ditemani Raina menuju ruangan itu. Setelah sudah melihat dan mengetahui kondisi Bara, Ibu Riska dan Raka pun berpamitan pulang.
"Raina minta tolong untuk menitip Al lagi ya, Bu? Mungkin besok Raina sudah pulang." ucap Raina.
"Iya, sayang. Al kan, cucu ibu, jadi ibu sama sekali gak merasa keberatan untuk menjaga cucu ibu sendiri. Al juga bukan tipe anak yang susah diatur, jadi ibu tidak terlalu kepayahan menjaganya. Karena dia anak yang pintar dan penurut." balas Ibu Riska pada anaknya.
Raina pun mencium punggung tangan ibunya penuh takzim, begitu pula dengan Bara dan Sandra melakukan hal yang sama pada ibu Riska.
Tak lupa, Raina juga memeluk dan mencium anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Adek yang pintar ya, gak boleh rewel dan gak boleh nakal." ucap Raina sembari mengusap lembut kepala anaknya.
Ketiga orang tersebut pun keluar dari ruang rawat Bara untuk pulang.
"San, aku ambil ini, ya. Untuk mas Satria, pasti dia belum makan siang." ijin Raina pada Sandra, sambil mengambil makanan yang memang sudah dibeli Sandra tadi.
"Iya, Rai. Gak usah pake ijin segala, kali? Aku kan, memang belikan itu untuk makan siang kalian." balas Sandra.
"Terimakasih, aku balik ke ruang mamah dulu. Bar, Mbak kesana dulu, ya?" pamit Raina pada Sandra dan juga Bara.
Sandra dan Bara hanya memberi anggukan kepala mereka sebagai jawaban.
**********
"Ayah, ini dimakan dulu. Pasti Ayah belum makan siang, kan?" tanya Raina sembari meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja kaca kecil didepan sofa.
"Hhe, terimakasih sayang ... kamu ngerti aja, Ayah kalau sudah mulai laper." balas Satria yang langsung mendekat dan mendaratkan tubuhnya diatas sofa.
"Ayah kan, kebiasaan. Kalau gak diingatin makannya, pasti suka lalai." sungut Raina.
"Hehehe ... iya, iya, sayang ... Ayah minta maaf, ya. Janji deh, gak lagi begini." ucap Satria sembari mengangkat kedua jarinya.
"Dah, tuh ... dimakan dulu." ucap Raina sambil membukakan bungkusan makanan itu dan memberinya pada suaminya.
Satria pun makan dengan lahapnya, ibu Santi sangat senang melihat keakraban anak serta menantunya. Raina betul-betul menjadi seorang istri yang melayani suaminya dengan begitu baik.
"Setelah makan ini, Ayah langsung balik kerja lagi, yah. Tadi cuma ijin sebentar aja untuk lihat mamah." ucap Satria ditengah-tengah makannya.
"Iya, Yah. Oh ya, sore ini Sandra diajak makan bareng sama dokter Adrian lho, Yah." ucap Raina memberitahukan pada sang suami perihal dokter Adrian yang mengajak Sandra untuk makan bersama.
Sontak omongan Raina itu membuat Satria tersedak, dengan cepat Raina memberikan air minum untuk suaminya itu. Setelah dirasa lega, Satria dengan ekspresi terkejutnya meminta penjelasan dari istrinya itu bagaimana dokter muda itu bisa mengajak adik sepupu perempuannya itu untuk makan bersama.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Satria.
"Dokter Adrian bilang sih, dia ingin menebus kesalahannya. Makanya dia ngajak Sandra untuk makan bareng. Si Sandra pake acara malu-malu kucing lagi." ungkap Raina sambil tersenyum-senyum membayangkan wajah merah merona milik sahabatnya itu.
"Maksudnya? Menebus kesalahan gimana?" tanya Satria yang ikut kepo.
"Jadi gini, Yah ... tadi, waktu Sandra jalan dilorong rumah sakit mau ke ruangannya Bara, dia ditabrak sama dokter Adrian karena itu dokter lagi buru-buru ada pasien yang urgent. Sandra sampe jatuh tapi ditinggal gitu aja sama dokter Adrian. Eh, gak tahu nya tadi mereka ketemu lagi di ruangannya Bara waktu dokter Adrian selesai mengecek kondisi Bara. Intinya seperti itu lah, Yah ... sampe akhirnya dokter Adrian minta maaf lagi sama Sandra dan ngajak dia buat makan bareng nanti sore." jelas Raina panjang lebar dan disertai anggukan oleh suaminya.
"Semoga awal yang baik untuk Sandra agar dia bisa lebih dekat dengan orang yang dia sukai." ucap Satria mendoakan adik sepupunya itu sambil tersenyum.
Raina pun mengangguk setuju mendengar ucapan suaminya.
***********
Detik demi detik berlalu, jam pun sudah berganti. Sandra dengan semangat dan hati yang berdebar-debar menyiapkan dirinya untuk kembali bertemu dengan lelaki idamannya. Ini pertama kali dirinya segrogi ini menanti seorang lelaki. Meskipun dirinya sudah pernah menjalin kasih dengan lelaki lain, tapi ini hal yang berbeda untuknya. Dan dirinya sendiri pun bingung dengan hatinya.
Berulang kali dirinya mematut wajahnya dicermin kecil yang selalu ia bawa didalam tasnya. Bara pun memperhatikan tingkah kakak sepupunya itu.
"Apa semua perempuan seperti itu jika ingin berkencan dengan seorang lelaki?" Bara membatin.
Dirinya membayangkan jika dirinya nanti memiliki kekasih, mungkin tingkahnya akan terlihat sama dengan kakak sepupunya itu. Tanpa ia sadari, dirinya yang tersenyum-senyum sendiri menarik perhatian Sandra yang tak lain adalah kakak sepupunya itu.
"Kesambet apa kamu sampe senam-senyum sendiri begitu?" tanya Sandra dengan suara yang meninggi hingga membuyarkan lamunan Bara.
"Gak Kesambet apa-apa. Mbak itu yang lucu, dari tadi bentar-bentar lihat cermin. Emangnya, kalau cewek lagi jatuh cinta terus mau ketemu sama orang yang dia sukai sampe segitunya ya?" tanya Bara.
"Hah! Segitunya gimana? Aku biasa-biasa aja, kok." elak Sandra.
"Mbak itu gak usah pura-pura **** gitu, deh. Itu muka sudah kayak kepiting rebus merah banget." goda Bara.
Sandra semakin deg.deg.an karena digoda Bara. Pintu ruang rawat Bara diketul seseorang dari luar. Tak lama, orang tersebut pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi ...." ucap orang tersebut yang tak lain adalah dokter Adrian.
Deg,
Sandra terdiam mematung, sementara jantungnya masih terus berpacu.
"Oh, shit ... kenapa jantungku berdebar-debar gini? Plis dong, jantung ... kita harus bekerja sama." batin Sandra.
"Ekhem," Deheman dokter Adrian membuyarkan lamunan Sandra.
__ADS_1
"Eh, ehm, iya, Dok. Apa mau pergi sekarang?" tanya Sandra dengan gugup.
"Boleh, kalau kamu sudah siap." jawab dokter Adrian.
Sandra menganggukan kepalanya dan berdiri dari duduknya.
"Bar, aku tinggal dulu, ya? Kamu gak apa-apa, kan?" pamit Sandra.
"Tenang aja, paling sebentar lagi kak Raina kesini nemenin aku." jawab Bara.
"Saya pinjam dulu ya, kakak kamu ini." ucap dokter Adrian.
"Dokter bisa aja deh, bercandanya. Memangnya saya ini barang, pake dipinjam segala." ucap Sandra.
"Hahaha ... maaf, maaf. Ayo, berangkat." ajak dokter Adrian.
Keduanya pun keluar bersama dari ruang rawat Bara. Sepanjang koridor rumah sakit, keduanya sama-sama diam. Sandra lebih memilih berjalan didepan mendahului dokter Adrian. Karena merasa tidak nyaman ketika mereka berdua berjalan sejajar, banyak mata para perawat yang melihat ke arah mereka.
Sandra juga merasa tidak enak hati ketika berpapasan dengan seorang perawat yang tadi siang ia lihat keluar dari mobil bersama dokter Adrian.
"Kalau dia kekasihnya, tentu aja dia bakal cemburu dan marah melihat kekasihnya jalan sama perempuan lain. Tapi, ini kok ... malah terlihat biasa-biasa aja, ya? Semoga apa yang dibilang Bara itu benar, perempuan itu bukan siapa-siapanya dokter Adrian." batin Sandra.
*******
Kini keduanya sudah berada didalam mobil milik dokter Adrian dan mobil itu pun sudah mulai berjalan keluar dari halaman parkiran rumah sakit.
"Santai aja, jangan gugup seperti itu." ucap dokter Adrian yang sedari tadi melirik Sandra yang terlihat grogi.
Sandra menyunggingkan senyumnya ke arah dokter Adrian dan kembali menatap ke arah jalan.
"Gimana aku gak gugup? Ini seperti mimpi, bisa sedekat ini sama orang yang aku sukai dua hari ini dan sudah sukses buat jantungku mau copot." batin Sandra.
"Oh ya, dari tadi kita belum kenalan. Saya Adrian, kamu?" tanya dokter Adrian sembari mengulurkan salah satu tangannya ke arah Sandra.
"Saya ... Sandra, Dok." balas Sandra.
"Kalau diluar dari rumah sakit, panggil saya gak usah terlalu formal. Panggil aja kak atau mas." ucap dokter Adrian.
"Iya, Dok. Eh, salah ... maksud saya, Kak Adrian." balas Sandra yang masih saja grogi.
Adrian tersenyum ketika Sandra memanggilnya dengan sebutan kakak. Dan senyuman itu, sukses kembali membuat hati Sandra meleleh.
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komen serta vote nya ya ππ