
Satria telah menghabiskan makanannya dan beranjak pergi meninggalkan meja makan.
"Saya permisi, mau keluar dulu." pamit Satria pada semua yang masih berada dimeja makan.
Dia melangkahkan kakinya berjalan keluar dari rumah mewah itu, dia duduk disebuah bangku dibawah sebuah pohon yang rindang yang terletak dipekarangan rumah itu. Satria mengeluarkan sebatang rokok lalu membakar dan mulai menyesapnya.
Sementara didalam rumah kedua pria paruh baya itu pun juga sudah menyelesaikan makannya dan kembali melanjutkan obrolannya. Dan Lastri membersihkan bekas makan yang dibantu oleh Renita anaknya.
"Mah, apa lelaki tadi anak dari temannya papah?" tanya Renita sembari mencuci piring sisa makan tadi.
"Bukan. Itu Satria, keponakannya pakde Suseno." jawab Lastri.
"Oh ... jadi namanya Satria." gumam Renita yang masih terdengar oleh mamahnya. Lastri pun memperhatikan tingkah aneh anaknya semenjak dimeja makan melihat Satria tadi.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Jangan bilang kamu suka sama dia." tebak Lastri pada anaknya.
"Hehehe ..." Renita hanya tertawa kikuk setelah mamahnya menebak apa yang ada dipikirannya.
"Jangan berharap, dia sudah menikah." ucap Lastri memberitahu anaknya.
"Hah? Betulkah? Beruntung sekali wanita yang dinikahi pangeran setampan itu." gerutu Renita yang merasa pupus, karena mengetahui jika Satria sudah menikah.
"Makanya kamu jangan terlalu memilih, kalau terlalu berharap sesuai dengan kriteriamu, lama-lama jadi perawan tua kamu." ucap Lastri.
"Ah, Mamah ... masa anaknya di doain seperti itu." gerutu Renita yang semakin cemberut mendengar ucapan mamahnya.
Sebenarnya banyak lelaki yang mendekati Renita, tapi semua ia tolak karena belum ada yang cocok dihatinya. Renita terdiam sejenak menghentikan aktifitasnya, dia tengah mencerna ucapan sang ibu.
"Apa iya, karena aku terlalu pemilih jadi aku susah mendapatkan jodoh? Apa aku harus mencoba membuka hati?" batin Renita.
Renita terus hanyut dengan pikirannya. Sementara diluar, Pakde Suseno sudah memesan tiket melalui sistem online untuk kepulangannya bersama Satria.
"Apa tidak terlalu cepat kalian pulang, kenapa tidak menginap dulu sehari saja disini." bujuk Lastri.
"Maaf, bukannya kami tidak ingin. Tapi, banyak pekerjaan yang aku tinggalkan disana. Dan lagi pula, mamahnya Satria sedang sakit dan istrinya juga sedang hamil besar. Jadi tidak bisa ditinggal lama." ungkap Pakde Suseno.
__ADS_1
"Tante turut prihatin ya, Nak. Atas masalah yang menimpa mu. Semoga mamahmu lekas sembuh. Tante titip salam untuknya." ucap Lastri sembari mengelus lembut bahu Satria.
"Terimakasih, Tante. Saya akan sampaikan salam tante pada mamah." balas Satria.
"Apa kalian tidak ingin belanja oleh-oleh dulu untuk orang rumah? Ini pertama kalinya kalian kesini, kalian harus membawa buah tangan khas dari kota ini." bujuk Pak Sigit.
"Ehm, masih ada waktu lima jam lagi. Sepertinya masih cukup untuk mencari oleh-oleh. Bagaimana Satria? Apa kamu juga berminat mencari oleh-oleh?" tanya Pakde Suseno pada Satria.
"Satria ikut apa kata Pakde saja." jawab Satria.
"Baiklah, kalau begitu. Saya akan kembali menjadi supir kalian." ucap Pak Sigit diikuti tawa oleh semuanya.
"Bisa tidak, jika saya saja yang menyetir mobilnya, Om? Kasihan Om. Om tinggal tunjukkan jalannya saja." ucap Satria.
"Tentu sangat bisa Satria. Om sangat berterimakasih kalau kamu mau membantu menyetirkan mobilnya." balas Pak Sigit sembari memberi kunci mobilnya pada Satria.
"Tunggu, aku ikut!" teriak Renita dari dalam rumah sembari berlari kecil.
Semua memandang kedatangan Renita.
"Iya, aku bisa menunjukkan tempat-tempat yang recommended yang menjajakan banyak oleh-oleh disana." jawab Renita yakin.
"Papah juga bisa menunjukkan nya, tanpa harus kamu temani." sahut Pak Sigit tak mau kalah dengan anaknya.
Ya, Renita merupakan anak satu-satunya jadi begitu sangat dimanjakan dan begitu sangat akrab dengan papah nya.
"Ih, papah itu tahunya cuma dipusat antasari aja. Itu tempat jadul, Pah. Sudah banyak kios-kios lain yang lebih kekinian dan lebih banyak cendramata yang menarik ditempat yang akan Renita tunjukkan." balas Renita sembari melangkah dan mulai masuk kedalam mobil.
Lastri hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.
"Apa kamu masih mau berdebat dengan anakmu? Ayo lah, masuk ke dalam mobil dan kita mulai jalan." ajak Pakde Suseno.
Dan akhirnya mereka menuju tempat pilihan Renita. Sampai lah mereka disuatu pusat perbelanjaan yang khusus menjual beraneka ragam oleh-oleh khas pulau itu. Baik dari makanan, baju maupun barang-barang lainnya.
Pakde Suseno memilih membeli beraneka macam makanan khas dari daerah itu. Sementara Satria masih berkeliling mencari sesuatu yang cocok untuk Raina.
__ADS_1
Satria berhenti disalah satu kios yang menjual berbagai macam pernak-pernik. Pilihannya jatuh pada sebuah kalung yang berbandulkan liontin.
"Saya mau yang ini." kata Satria pada penjualnya sembari menyodorkan barang yang ingin ia beli.
"Ini bisa dibuka dan diukir nama didalamnya." ucap Penjual itu sembari membuka liontin tersebut.
"Oh, ya. Saya ingin dituliskan inisial nama nya saja R dan S." balas Satria.
Penjual itu pun menganggukan kepalanya dn mulai mengukir pesanan Satria. Renita mendekati Satria yang tengah menunggu pesanannya.
"Apa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau?" tanya Renita.
"Ehm, sudah." jawab Satria datar.
"Ini Mas, kalungnya." ucap Penjual itu sembari menyerahkan kalung pesanan Satria yang sudah terbungkus rapi didalam kotak kecil transparan.
Satria pun mengambil kotak yang berisikan kalung itu dan kemudian membayar nya. Renita hanya terdiam melihat benda yang dipegang Satria.
"Apa itu kalung untuk istrimu?" tanya Renita yang tersadar dari lamunannya sembari mensejajarkan langkahnya dengan Satria yang lebih dulu beranjak meninggalkan kios tersebut.
Satria hanya menganggukan kepalanya tanpa sedikit pun menjawab atau sekedar melihat Renita. Renita benar-benar dibuat kesal olehnya.
"Seperti apa wanita yang telah berhasil mencairkan bongkahan es kutub ini? Sumpah ya, nih, cowok benar-benar ngeselin banget. Jangan sampai deh, aku punya suami macam dia. Pait ... pait ... pait ..." gerutu Renita dalam hati.
Tak hanya untuk Raina, Satria juga membelikan beberapa setel kaos yang berlambangkan logo kota itu beserta makanan khas yang akan ia bagikan untuk keluarganya dan juga untuk keluarga Raina.
Setelah semua sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, Pak Sigit mengantarkan Pakde Suseno dan Satria langsung menuju bandara.
"Terimakasih untuk jamuan dirumahmu serta sudah sangat rela menemani kami berkeliling kota ini." ucap Pakde Suseno.
"Iya sama-sama. Aku harap kalian bisa berkunjung kesini lagi." balas Pak Sigit sembari memeluk hangat Pakde Suseno sebagai pelukan perpisahan.
Begitu pun dengan Satria yang ikut berterimakasih pada Pak Sigit dan Renita yang telah ikut mengantarnya ke bandara. Meski dengan sikap yang masih sok coolnya itu, tapi tetap dengan mengedepankan sopan santun. Renita tersenyum kikuk saat Satria berterimakasih padanya.
Mohon like, komen, vote, serta rate nya ya π
__ADS_1
Plis,, dukungan kalian sangat berarti untuk author ππ