Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Terimakasih, Awan.


__ADS_3

Satria beranjak dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan mamahnya.


"Satria! Kamu harus pertimbangkan omongan mamah!" teriak Ibu Santi.


Satria tak menghiraukan ucapan mamahnya, dia lebih memilih untuk tetap menjauh dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Kebiasaan banget itu anak ... gak pernah mau dengerin omongan mamahnya sampai selesai. Pasti selalu ditinggal pergi. Aku akan terus berusaha bagaimana pun caranya Satria harus tetap berpisah dengan Raina dan bersama Erlina lagi." gumam Ibu Santi sembari tersenyum licik.


Sementara itu di dalam kamarnya, Satria merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia memandang langit-langit kamarnya dan kembali mengingat ucapan mamahnya mengenai Erlina yang sudah datang ke rumahnya siang tadi.


"Darimana dia tahu alamat rumah ini? Aku gak pernah mengajaknya kesini atau pun memberitahukan alamat rumah ini padanya." gumam Satria yang masih bingung dengan kedatangan Erlina yang tiba-tiba tanpa ia ketahui.


Satria berfikir keras, selama dia berpacaran dengan Erlina, hanya Ridho yang tahu hubungan mereka dan Ridho juga sempat bertemu serta berkenalan dengan Erlina. Dan Satria juga pernah membawa perempuan itu ke resto milik bundanya. Satria memikirkan kedua hal tersebut.


"Apa jangan-jangan dia mencari informasi diresto? Tapi kan, karyawan resto bunda juga gak ada yang tahu tentang aku. Apa mungkin dia bertemu dengan bunda?" Atau ... apa mungkin dia menemui Ridho?" Satria masih saja berkutat dengan pikirannya yang terus berkelana dengan dua kemungkinan yang ada diotak nya.


********


Dikediaman Raina.


Aldo baru saja sampai dirumahnya, setelah sebelumnya dia mengantarkan Satria terlebih dahulu dan mampir ke sebuah kedai martabak telur untuk membelikan kesukaan orang-orang rumah dan sebenarnya dia menuruti kemauan adik bungsunya yang sudah meneleponnya meminta agar dirinya membelikan martabak telur itu.


Cukup lama Aldo mengantri untuk mendapatkan apa yang dia mau, karena memang kedai yang sudah lama berdiri tersebut sangat laris dan banyak pembelinya. Tak ayal, Aldo harus menunggu antrian demi antrian untuk mendapatkan makanan favoritnya sekeluarga.


Aldo berjalan menuju rumah dengan menenteng kresek yang berisi tiga kotak martabak itu. Aldo pun mengetuk pintu dan memberi salam. Tak lama kemudian, Raka yang membukakan pintu untuknya, langsung menodongnya dengan meminta titipannya.


"Mana request an Raka? Kakak membelinya, kan?" tanya Raka sembari menengadahkan kedua tangannya seperti anak kecil yang meminta permen.


Padahal dia sudah tahu bahwa kakaknya itu pasti membelikannya dan juga sudah melihat kresek yang dibawa Aldo, tapi dirinya berpura-pura dan sengaja berbuat seperti anak kecil yang lagi merengek.


"Kamu ini, bukannya menyambut kakaknya dengan baik. Ini malah duluan makanannya yang ditanyain."ketus Aldo sembari menjitak kepala Raka dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Aw ... sakit ... Kak Aldo!" pekik Raka.


"Biarin. Weekk." Aldo semakin menjahili adiknya yang meringis kesakitan.

__ADS_1


Aldo langsung melangkah ke ruang makan dan meletakkan bawaannya diatas meja makan. Kemudian dirinya beranjak pergi untuk masuk ke dalam kamarnya yang sudah berpindah tempat dilantai dua. Baru saja dirinya menaiki beberapa anak tangga, suara ibunya menghentikan langkahnya.


"Do, kamu sudah pulang? Bagaimana perjalananmu?" tanya Ibunya.


"Iya, Bu. Nanti deh, Aldo ceritain. Aldo mau mandi dulu, ini sudah gerah banget." ujar Aldo.


"Ok, deh. Ibu tunggu kamu dibawah." jawab Ibu Riska.


"Oh ya, itu Aldo bawain martabak telur kesukaan ibu. Aldo taruh dimeja makan." ucap Aldo dan kemudian langsung berlari menaiki satu per satu anak tangga.


Ibu Riska memperhatikan Aldo yang terus berlari menaiki anak tangga sembari menggelengkan kepalanya. Anak sulungnya itu, selalu menyempatkan diri untuk membeli sesuatu untuk di bawa pulang jika sedang bepergian.


Ibu Riska pun, beranjak dari tempatnya berdiri untuk menuju dapur, namun sebelumnya dirinya mengintip cucunya terlebih dahulu dikamar Raina yang pintu kamarnya sedikit terbuka.


Dia membuka kamar anak perempuannya itu, lalu memasukkan setengah badannya. Raina yang sedang mengeloni anaknya tidur itu tersadar, jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


"Ibu ...." ucap Raina yang membalikkan badannya menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka.


"Al sudah tidur, Rai?" tanya Ibu Riska yang kini mendekatkan dirinya ke arah ranjang Raina.


"Sudah, Bu." jawab Raina yang sudah membenarkan posisi duduknya.


"Belum, Bu. Kenapa?" jawab Raina sekaligus bertanya pada ibunya.


"Kakakmu sudah pulang dan membawakan martabak telur kesukaan kita. Ayo, kita keluar." ajak Ibu Riska.


Raina pun beranjak dari kasurnya, mengikuti ajakan ibunya dengan antusias. Setibanya diruang makan, sudah ada Raka yang lebih dulu membuka satu kotak yang berisi martabak telur itu dan memakannya sendirian.


"Raka? Kebiasaan deh, ini anak main makan-makan aja. Gak nunggu kakak-kakaknya dulu?" ujar Ibu Riska sembari menjewer telinga Raka.


"Aduh ... sakit, Bu. Tadi, Raka susah kena jitakan sama kak Aldo, sekarang ibu nambah jewer telinga Raka lagi. Ya, maaf ... Raka sudah gak kuat cium aromanya yang memanggil-manggil Raka, Bu." ucap Raka sembari mengerucutkan bibirnya.


Raina yang sedang menyiapkan potongan-potongan martabak itu ke dalam piring hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Raka yang dijewer oleh ibunya.


Dan kini mereka bertiga sudah berkumpul diruang keluarga menikmati enaknya martabak telur favorit mereka, sembari menikmati siaran televisi dan juga menunggu kehadiran Aldo.

__ADS_1


"Kak Aldo mana, sih? Mandinya lama banget, kayak perempuan aja." ketus Raka.


"Eh, enak aja. Aku disama-samain kayak perempuan." ucap Aldo yang tiba-tiba datang dan langsung bergabung dengan ibu dan kedua adiknya.


"Habisnya, kakak lama betul sih. Ya, pantas lah disamain kayak anak perempuan kan, kalau mandi juga suka lama." gerutu Raka.


"Sorry, ya ... kakak gak tuh, meskipun kakak perempuan tapi kakak mandinya cepat." bantah Raina.


"Ye ... Kak Raina mah, sekarang aja cepat mandinya karena takut Al nangis kalau kakak tinggal lama-lama. Kalau dulu sempat lumutan deh, yang nunggu." ejek Raka.


"Ah, sudah-sudah. Kalian ini ribut mulu dari tadi. Nanti Al bangun, lho. Kamu gak kasian apa sama kakak kamu kalau dia harus bergadang terus nemenin ponakanmu bergadang?" Ibu Riska menjadi penengah untuk anak-anaknya.


Semua kembali menikmati tontonan mereka dengan khidmat tanpa ada keributan-keributan lagi.


"Do, bagaimana tadi? Ceritain donk, ke kita. Tuh, adik kamu dari siang tadi sudah gak sabar nunggu kabarnya." tanya Ibu Riska sembari melirik ke arah Raina.


"Apa sih, Bu? Raina biasa aja, kok." ucap Raina sembari memasukkan potongan martabak ke dalam mulutnya.


Aldo mengutak-atik handphonenya mencari rekaman percakapan antara Awan dan Satria siang tadi dirumah tahanan.


"Aldo ditanya bukannya jawab, malah main handphone." ucap Ibu Riska yang kesal karena merasa diacuhkan oleh anak sulungnya.


Aldo mengangkat kepalanya, menatap ibu beserta adiknya dan kemudian menyodorkan handphone yang berisi rekaman percakapan itu kepada ibunya. Aldo merasa malas jika harus mengulang obrolan mereka siang tadi, lebih baik dirinya menyerahkan rekaman itu yang lebih valid tanpa ada pengurangan maupun penambahan kata dari si pembicaranya.


Ibu Riska menerima handphone Aldo dan mengklik tanda play di rekaman yang diberikan Aldo. Ibu Riska dan Raina mendengar kalimat demi kalimat yang ada didalam percakapan antara Satria dan Awan itu. Raina merasa tersentuh mendengar ucapan Awan yang telah ikhlas lahir dan batin merelakan dirinya bersama Satria. Dan juga mendengar perkataan Awan, jika Awan akan merasa bahagia jika melihat kakaknya, Raina dan juga Al bahagia.


Tak terasa setetes bulir bening berhasil menerobos sudut matanya. Dia sudah merasa yakin, jika Satria memang bersungguh-sungguh memperjuangkan dirinya dan juga Al.


"Terimakasih, Mas Awan. Kamu benar-benar menjalani hukumanmu dengan sungguh-sungguh. Semoga selama kamu disana, kamu akan berubah menjadi pribadi yang baru dan lebih baik lagi. Dan kelak kamu akan menemukan kebahagiaanmu juga." Seuntai doa dipanjatkan Raina untuk orang yang telah menyakitinya itu dan dalam lubuk hatinya yang terdalam, dirinya sudah sangat memaafkan lelaki itu.


Cara Mendukung Author :


#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.


#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.

__ADS_1


#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.


#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author 😜


__ADS_2