Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Dua Kebahagiaan


__ADS_3

Waktu yang sudah di nantikan lama oleh Raina akhirnya pun tiba, kini dirinya dan Satria sudah berada dihadapan sang penghulu untuk kembali mengucap ikrar suci pernikahan.


Raina terlihat begitu cantik dan anggun dalam balutan gamis dan hijab putihnya, begitu juga dengan Satria yang mengenakan baju koko dengan warna senada yang dikenakan Raina.


Karena ini hanya acara pengulangan saja, jadi mereka memilih untuk mengenakan gamis dan baju koko saja. Tidak seperti awal pernikahan mereka yang harus berganti beberapa kali pakaian.


Yang hadir hanya keluarga inti yang mengetahui permasalahan mereka dari awal. Tak lupa, Satria juga meminta adik bungsunya Bara untuk menghadiri acara akad nikah ulangnya dengan Raina.


Meski mamahnya tidak ikut menghadiri acara tersebut, setidaknya Bara menjadi saksi atas pengulangan akad nikah mereka.


Entah kenapa Satria begitu grogi, sedangkan diakad nikah yang pertama dirinya bisa dengan hanya sekali tarikan nafas saja mengucapkan ijab kabulnya.


"Kita ulang sekali lagi ya, tarik nafas dulu Mas biar tidak grogi dan biar tidak salah lagi ngucapin ijabnya." ucap Pak Penghulu.


Satria pun mengikuti saran yang diberikan oleh pak penghulu itu.


"Bagaimana, sudah siap untuk mengulang lagi?" tanya Pak Penghulu..


"Siap." jawab Satria dengan mantap.


Aldo kembali menjadi wali nikah untuk Raina, adiknya. Aldo sudah kembali menjabat tangan Satria dan mulai mengucapkan shigat taukil dan langsung disambut oleh Satria dengan suara yang lantang membalas serta mengucapkan ijab qobulnya dengan lancar.


Para saksi langsung mengucapkan kata sah setelah Satria selesai mengucapkan ijab qobulnya. Raina langsung mencium punggung tangan Satria penuh takzim, begitu pula dengan Satria yang membalas dengan mencium kening Raina.


Setelah acara akad nikah selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa syukur atas kelancaran acara. Tak hanya itu, Raina dikejutkan oleh Sandra dan saudara-saudaranya yang tiba-tiba datang dengan membawa kue tart dan juga sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk Raina.


Memang hari pengulangan akad nikah itu bertepatan dengan hari kelahiran Raina. Saat Sandra mendengar keputusan hasil musyawarah antara Satria beserta pakde dan juga bundanya, Sandra langsung merencanakan untuk memberikan kejutan pada sahabatnya itu. Tapi Sandra, sengaja merahasiakan rencananya pada Satria dan juga Raina.


Sementara Raina yang lupa dengan hari kelahirannya, hanya bisa meneteskan air mata haru menyaksikan kejutan yang ia dapatkan dari sahabatnya itu. Dua kebahagiaan yang ia dapatkan dihari yang sama. Pertama, dia sudah sah menjadi istri yang halal untuk Satria dan kedua, di hari ulangtahun nya semua keluarga lengkap yang menyayanginya berada disana dan mengucapkan doa untuknya.


"Hari ini kamu ulangtahun?" tanya Satria setengah berisik ditelingaku Raina.


"Sepertinya begitu." jawab Raina yang masih dalam keadaan tak percaya.


Satria hanya mengernyitkan dahinya saat mendengar jawaban yang membuatnya bingung.


"Bagaimana aku tidak tahu kalau hari ini juga bertepatan dengan hari ulangtahunnya?" batin Satria.


"Rai, jangan bengong gitu, dong? Ayo, make a wish terus tiup lilinnya." ucap Sandra yang kini sudah berada dihadapan sahabatnya dengan memegang nampan yang berisi kue tart diatasnya.


Raina tersenyum pada Sandra dan setelah itu melakukan apa yang sahabatnya pinta itu. Semua bertepuk tangan, menyalami serta memeluk Raina satu per satu.


"Selamat ya, sayang. Selamat sudah menjadi istri yang sah dan sudah halal untuk suamimu, serta selamat untuk ulangtahun mu. Semoga kalian bahagia selalu, pernikahan kalian selalu diberkahi oleh Allah swt hingga ke janah-Nya, amin." ucap Ibu Riska selaku ibu kandung Raina.


Semua yang mendengar doa-doa yang diberikan ibu Riska pada anaknya pun ikut mengamininya.


"Dipotong dong, kuenya?" pinta Raka sembari menyikut lengan Raina.


"Hahaha, iya. Sabar ...." balas Raina sembari mengacak rambut Raka.

__ADS_1


Raina pun memotong-motong kue tersebut dalam beberapa bagian.


"Suapan pertama untuk siapa, nih?" tanya Sandra dengan nada menggoda sambil melirik Raina.


Raina pun tersenyum, pada kedua orang yang berada disamping kanan dan kirinya. Raina pun memberikan suapan kue pertamanya kepada ibunya.


"Ini untuk cinta pertamaku." ucap Raina sembari menyuapi ibunya.


"Terimakasih, sayang." balas Ibu Riska sembari mencium kedua pipi Raina.


"Ehm ... dan ini, untuk Mas Satria yang sudah menjadi suamiku." ucap Raina sembari menyuapkan suapan kedua pada Satria.


"Kalau Mas cinta keberapa untukmu?" tanya Satria sembari memegang tangan Raina yang menyuapi potongan kue ke mulutnya dan juga menatap Raina dengan tatapan penuh cinta.


Raina memalingkan wajahnya sejenak karena tidak ingin terlalu lama menatap mata Satria yang akan membuat jantungnya berdebar kencang dan juga membuat dirinya salah tingkah.


"Ehm ... kalau Mas, ada diurutan ke lima." jawab Raina dengan kepala tertunduk.


"Kenapa diurutan ke lima?" tanya Satria dengan ekspresi bingung sembari meraih dagu Raina, agar perempuannya itu mendongakkan kepalanya.


"Karena diurutan kedua itu ada bapak, yang cintanya tidak akan bisa digantikan oleh siapapun. Ketiga, ada malaikat kecilku Al, yang sudah memberi semangat dan mewarnai hidupku. Keempat, ada kedua saudara lelakiku yang selalu bersama denganku dan menguatkan ku, hingga aku mampu berdiri tegar seperti ini dihadapanmu sekarang." jawab Raina dengan menatap tajam mata Satria.


Satria mendengarkan dengan jelas setiap kalimat demi kalimat yang diucapkan Raina. Begitu berharga dan berartinya keluarga dan juga saudara dihati Raina, hingga dirinya harus berada diposisi kelima dihati Raina.


"Tak masalah, jika aku harus berada diurutan ke berapa pun. Yang terpenting, cintaku masih memiliki ruang dihatimu." ucap Satria sembari mencium kening Raina.


"Ekhem, ekhem, kalau mau mesra-mesraan gak usah disini, deh. Bikin envy para jomblo aja." ketus Sandra.


Sandra yang merasa diejek oleh kakak sepupunya itu pun langsung mengerucutkan bibirnya dan semua orang pun tertawa melihat Sandra yang cemberut.


********


Hari mulai beranjak malam, Raina dan Satria kini sudah berada dirumah sewaan mereka.


Raina sudah membersihkan badannya dan juga mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah, begitu pula dengan Satria.


Satria berada diruang tamu menemani Al bermain, saat Raina datang membawakan teh hangat manis untuknya.


"Terimakasih, sayang." ucap Satria pada Raina.


Raina hanya memberikan senyumannya sebagai jawaban untuk Satria.


"Sini, duduk disebelah Mas." pinta Satria sembari menepuk sofa kosong disebelahnya.


Namun, belum sempat Raina mendaratkan tubuhnya disofa, Al sudah menangis. Raina pun mendekati Al yang sedang menangis dan mengangkat anaknya itu.


"Kenapa sayang? Cup, cup, jangan menangis lagi anak pintarnya bunda." Raina menimang-nimang Al agar lebih tenang.


Namun, usahanya untuk menenangkan Al ternyata gagal karena Al semakin menangis.

__ADS_1


"Mas ... Raina masuk ke kamar dulu, ya. Sepertinya Al rewel karena sudah mengantuk." ucap Raina pada Satria.


"Ehm, iya Dek." jawab Satria.


Raina pun langsung beranjak dari ruang tamu menuju kamar tidurnya. Raina menyusui Al terlebih dahulu hingga anak lelakinya itu tertidur dengan pulas dalam dekapannya.


Setelah Al sudah benar-benar pulas, Raina pun memindahkan Al ke dalam kasur box. Saat dia meletakkan Al ke dalam kasur box, saat itu juga Satria masuk ke dalam kamar. Satria duduk ditepi kasur menunggu Raina yang masih sibuk mengurus Al.


"Mau kemana?" tanya Satria yang melihat Raina akan melangkah keluar kamar.


"Ehm, mau ke dapur ngisi teko ini." jawab Raina yang membalikkan badannya dan menunjukkan teko yang ia pegang pada Satria.


"Oh, gitu." balas Satria.


"Iya." Raina menganggukan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju dapur.


Lima menit kemudian, Raina sudah kembali dari dapur dan meletakkan teko yang sudah berisi dengan air minum diatas nakas. Sementara Satria, masih setia menunggu Raina disisi kasur.


"Sudah, isi tekonya?" tanya Satria basa-basi.


"Ehm ... iya, Mas. Bukannya Mas bisa lihat sendiri Raina kembali membawa teko ini." jawab Raina.


Satria tersenyum kecut mendapat sindiran dari Raina.


"Dek, sini duduk disebelah Mas. Ada yang ingin Mas sampaikan." pinta Satria.


Raina pun menurut dan duduk disebelah Satria.


"Ada apa, Mas?" tanya Raina yang kini sudah berada disamping Satria.


"Mas mau memberikan ini untukmu." jawab Satria sembari menyerahkan kotak kecil perhiasan yang berwarna merah pada Raina.


"Apa ini, Mas?" tanya Raina sembari menunjuk kotak bludru merah itu.


"Ini hadiah untukmu, sayang. Hadiah karena sudah mau menerima Mas kembali untuk menjadi suamimu sekaligus sebagai kado untuk ulangtahunmu." jawab Satria sembari membuka kotak kecil tersebut.


Sebuah kalung liontin yang beberapa bulan lalu telah dibeli Satria dipulau B saat itu, kalung yang memang sengaja ia beli untuk Raina. Dan sudah lama ia simpan hingga waktu yang tepat itu pun tiba. Waktu yang telah ia tunggu untuk memberikan kalung itu pada Raina.


"Terimakasih, Mas." ucap Raina.


"Apa Mas boleh memakaikannya untukmu?" tanya Satria


Raina pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Satria pun dengan segera memakaikan kalung tersebut dileher Raina. Kesekian kalinya, mereka berdua menjadi sangat dekat dan saling mencium aroma tubuh keduanya.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Satria dengan melihat kalung yang sudah melingkar indah dileher Raina.


"Iya, Mas. Raina suka, sekali lagi terimakasih." jawab Raina.


Satria memandang Raina yang sedang memegangi liontin tersebut, mata mereka kembali bersitatap ketika Raina mendongakkan kepalanya. Wajah keduanya hanya berjarak beberapa inci. Hingga membuat jantung keduanya saling berdebar. Merasakan sesuatu yang berdesir lembut dihati Keduanya.

__ADS_1


"Mohon maaf, kemarin gak bisa UP karena author lagi bantu rewang diacara keluarga. Dan ini saya sempatkan untuk UP.


Terimakasih banget untuk semua yang selalu setia menanti cerita Raina ini 😘"


__ADS_2