
Tiga hari kemudian, hari yang ditunggu untuk Raina dan Satria untuk belajar memulai kehidupan baru mereka sendiri. Sebagian barang-barang yang besar seperti lemari pakaian, kasur, meja makan dan perabotan yang besar lainnya sudah dibawa menuju ke rumah sewaan mereka dengan menggunakan mobil bak.
Hanya tinggal beberapa bag seperti baju-baju yang diletakkan dibagasi mobil milik ibu Riska. Raina dan Al berada didalam mobil milik ibunya, sedangkan Satria mengendarai sepeda motornya sebagai penunjuk jalan. Aldo dan Raka ikut bersama didalam mobil bak yang membawa barang-barang, karena bertepatan dengan hari libur, kedua saudara laki-laki Raina pun turut ikut membantu kepindahan saudaranya.
Perjalanan yang ditempuh sekitar empat puluh lima menit hingga sampai ditempat tujuan, yaitu rumah sewaan Satria dan Raina. Gedung-gedung serta deretan ruko menghiasi pejalanan mereka.
"Al jadi anak kota, deh. Sudah gak tinggal dikampung lagi." ucap Ibu Riska pada sang cucu.
"Hahaha ya, gak juga lah, Bu. Wong tetap tinggalnya masuk ke pemukiman kampung juga, kok. Jalannya aja yang kita lewati jalan kota. Kecuali Raina tinggal diperumahan elite seperti di Palm Hils, Perumahan Amsterdam gitu, baru ibu bilang Al jadi anak kota." tutur Raina sembari terkekeh kecil.
Memang perumahan yang disebutkan oleh Raina adalah pemukiman untuk orang-orang elite, karena perumahan tersebut benar-benar berada ditengah kota dan mempunyai fasilitas yang lengkap didalam perumahan tersebut.
Mobil sudah memasuki sebuah gang yang cukup besar dimana jalan itu bisa dilewati mobil dan juga sepeda motor. Tibalah mereka disebuah rumah sederhana yang menjadi pilihan Satria.
Perlengkapan dapur dan sembako sudah terlebih dahulu masuk ke dalam dapur, barulah perkakas dan perabotan lainnya juga mulai dimasukkan ke dalam rumah. Semua bahu membahu saling membantu. Sementara para lelaki menata perabotan rumah, ibu Riska dan Raina menyusun makanan untuk syukuran kecil yang sudah disiapkan terlebih dahulu dari rumah ibu Riska.
Tak lama kemudian, Deki teman kerja Satria pun datang bersama dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan baju koko lengkap dengan sarung dan juga pecinya.
"Assalamualaikum ...." ucap mereka berdua.
"Walaikumsalam ...." balas semua orang yang berada didalam rumah itu.
"Deki, Pak Ustadz, silahkan masuk." ucap Satria mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk.
Satria sengaja meminta Deki untuk membawa seorang ustadz yang akan membacakan doa di syukuran pindahan rumahnya.
Semua menghentikan pekerjaannya dan berkumpul bersama diruang tamu untuk berdoa bersama. Syukuran kecil-kecilan itu berjalan dengan lancar dan khidmat. Setelah pembacaan doa, semua menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Tak lupa, Raina membuat beberapa nasi kotak yang akan dibagikan ditetangga sekitar rumahnya sebagai tanda perkenalan tetangga baru.
Raina menggendong Al dengan gendongan jarik, kemudian Raina mendatangi satu per satu rumah tetangga yang berada disamping kiri, kanan dan depan rumahnya untuk memberikan nasi kotak itu.
"Assalamualaikum, permisi ...." ucap Raina sembari mengetuk rumah tetangga yang ada disebelah kanan rumahnya.
"Walaikumsalam ...." jawab sang pemilik rumah.
"Permisi, Mbak ... saya mau memberikan ini. Saya tetangga baru disebelah rumah Mbak." ucap Raina.
"Oh iya, sudah pindahan, ya. Salam kenal, saya Mira." ucap perempuan muda yang usianya dikirakan lebih tua sedikit diatas Raina.
"Saya Raina, Mbak. Dan ini anak saya Al." balas Raina.
"Wah, montok banget badannya. Saya juga sudah punya satu anak, si kakaknya lagi bobo." ucap Mira sembari mencubiti badan montok Al yang menggemaskan.
"Oh, ya. Maaf Mbak, saya pamit pulang karena masih banyak yang harus dirapikan." pamit Raina mengakhiri sesi perkenalannya.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Silahkan." ucap Mira sembari tersenyum pada tetangga barunya.
Raina pun beranjak meninggalkan rumah tetangga barunya itu dan kembali kerumahnya. Semua sudah pulang, tinggallah dirinya, Satria dan juga Al.
"Dek, sebaiknya kamu makan dulu. Mas perhatikan dari tadi kamu belum ada makan." ucap Satria.
"Iya, Mas. Sebentar lagi Raina makan." balas Raina yang masih berkutat dengan kesibukannya menata perabotan dapurnya pada tempatnya.
Setelah semua sudah tersusun rapi, Raina pun segera mengambil makanan untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Al yang mengerti jika kedua orangtuanya sedang sibuk, sama sekali tidak rewel bahkan Al bermain sendiri dengan mainannya yang sudah beehamburan dilantai.
Raina yang makan dan duduk dilesehan dekat Al, sesekali melemparkan senyumannya pada anaknya itu. Setelah makan, Raina merapikan mainan-mainan Al yang terhambur dan memandikan anaknya itu karena hari semakin sore.
"Dek, sebaiknya kamu juga sekalian mandi biar Mas yang beresin ini semua." ucap Satria.
Raina hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Satria benar-benar merasakan bagaimana menjadi kepala rumah tangga dan berbagi tugas dengan istrinya, meski belum genap sehari mereka berada dirumah itu.
"Mas, makan malam mau makan apa?" tanya Raina yang sudah bersih dan wangi sehabis mandi begitu pula dengan Al.
"Ehm, kita makan diluar aja, ya. Kamu pasti sangat lelah karena pindahan ini." balas Satria.
"Iya, bucan." balas Satria.
"Bucan? Apa itu?" tanya Raina yang bingung dengan panggilan Satria untuknya.
"Bunda cantik." jawab Satria yang langsung pergi ke arah kamar mandi setelah menyambar handuk dengan secepat kilat.
Kedua pipi Raina kini benar-benar bersemu merah. Itu hal pertama Satria menggoda dirinya.
"Benar kata ibu, mas Satria memang butuh privasi lebih." gumam Raina sembari memegang kedua pipinya yang memanas.
Sembari menunggu Satria selesai mandi, Raina bersiap-siap mengganti bajunya karena mereka akan makan malam diluar. Raina juga sudah memakaikan Al dengan baju yang agak tebal, karena mereka akan keluar malam hari.
Ini kali pertamanya, mereka akan makan malam bertiga diluar rumah.
Sementara itu dikamar mandi, Satria bersenandung ria sembari menyabuni setiap inci anggota tubuhnya. Hatinya terasa begitu senang karena dapat menggoda Raina.
Setelah mandi, Satria langsung masuk ke kamar dengan hanya menutupi bagian bawahnya dengan balutan handuk. Biasanya selepas mandi, dia akan memakai bajunya diruang ganti. Karena dirumah itu dikamarnya tidak terdapat ruang ganti, maka Satria memakai bajunya dikamar tidurnya.
Raina yang melihat Satria bertelanjang dada, hanya dapat meneguk salivanya karena itu hal pertama kalinya Raina melihat dengan jelas bentuk tubuh proporsional milik Satria.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak mengenakan pakaiannya itu dikamar sebelah? Bukankah, kamar tidak hanya satu." gerutu Raina dalam hati.
Raina segera memalingkan pandangannya agar tidak terlalu lama hanyut dengan pandangan indah dihadapannya.
"Mas sudah siap. Apa kalian juga sudah siap?" tanya Satria.
"Sudah." jawab Raina cepat.
"Biar Al, Mas yang menggendongnya. Kamu tolong beritahu Mas bagaimana caranya menggunakan gendongan ini." ucap Satria yang memengang sebuah gendongan kangguru atau gendongan depan.
Raina mulai memakaikan gendongan itu ke tubuh Satria.
"Mas bisa angkat Al dan masukkan tubuhnya kedalam sini serta letakkan kakinya disela-sela lubang ini." ucap Raina sembari menunjukkan bagian-bagian pada gendongan itu pada Satria.
Satria pun melakukan apa yang dikatakan Raina dan tentunya Raina tetap membantu Satria untuk memasukkan Al dalam gendongan.
"Let's go, kita jalan-jalan, sayang." ucap Satria dan dibalas oleh Al dengan melonjak-lonjakan kakinya dengan senang.
Ini pertama kalinya bagi Raina menaiki sepeda motor besar Satria. Tentu membuatnya sedikit kepayahan, naik ke atas sepeda motor itu.
"Makanya, kalau pembagian kaki, kamu jangan telat." ejek Satria.
Raina mencubit pinggang Satria, sontak Satria pun terkejut mendapat respon dadakan dari Raina.
"Aw, sakit tahu." gerutu Satria.
"Makanya jangan mengejek. Tahu, tahu, situ punya kaki panjang kayak galah." gerutu Raina.
"Hahahaha, nanti kita beli motor bebek, ya." ucap Satria menyenangkan hati Raina.
Sepeda motor mulai melaju menyusuri jalan kota, sesekali Raina bersentuhan badan dengan Satria.
"Kalau mau peluk, ya peluk aja. Jangan malu-malu." goda Satria dan tersenyum-senyum melihat wajah Raina yang bersemu merah dibalik kaca spion sepeda motornya.
Jelas saja, wajah Raina benar-benar seperti kepiting rebus yang sudah sangat merah. Namun, hatinya berbunga-bunga mendengar Satria yang menggoda dirinya untuk kedua kalinya.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
__ADS_1
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π