
Satria sengaja pulang kerja larut malam untuk menghindar dari mamahnya. Dirinya belum ingin membahas masalah yang telah dibuat mamahnya itu sekarang, karena dirinya pun masih dipenuhi dengan emosi. Dia takut, jika dirinya nanti bisa melakukan hal yang diluar batas jika berdebat dengan emosi yang masih membara.
Satria membaringkan tubuhnya dikasur, setelah dia membersihkan badannya terlebih dahulu. Dirinya ingin beristirahat dengan tenang malam itu, karena besok pagi dia akan kembali melakukan perjalanan untuk mengunjungi Awan kembali.
********
Gemericik air hujan membangunkan Satria pagi itu, udara dingin yang menyeruak tak lantas membuatnya kembali untuk tertidur. Dirinya ingat, bahwa ada misi yang harus ia kerjakan. Selimut yang membalut tubuhnya segera ia tanggalkan.
Berjalan dengan gontai ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini, dia sudah izin pada atasannya untuk tidak masuk bekerja.
Begitu pula dengan Aldo, yang akan ikut bersama Satria. Dirumah yang berbeda, Aldo sudah bersiap dan hanya tinggal menunggu kedatangan Satria saja.
Setelah bersiap-siap, Satria bergegas menyambar kunci sepeda motornya dan langsung melangkahkan kakinya keluar rumah.
Namun langkahnya terhenti, kala suara mamahnya memanggil dirinya.
"Satria, kamu mau kemana sepagi ini? Apa kamu tidak bekerja?" tanya Ibu Santi yang memperhatikan penampilan Satria yang tidak mengenakan seragam kerjanya.
"Ada urusan penting yang harus Satria selesaikan." jawabnya tanpa menoleh kebelakang dan kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Satria! Mamah juga punya hal penting yang harus kamu dengar!" ucap Ibu Santi setengah berteriak.
"Setelah Satria selesaikan urusan Satria, baru kita bicara." balas Satria datar.
Satria mulai mengenakan mantel hujannya dan sudah naik ke sepeda motornya. Satria menyalakan mesin sepeda motornya dan menatap lurus kedepan. Sepeda motor itu sudah berjalan keluar meninggalkan rumah dan mamahnya yang masih berdiri diteras rumah.
"Kenapa dua hari ini kamu mengacuhkan, mamah? Apa kamu ingin membalas mamah?" gumamnya menatap nanar kepergian anaknya yang mulai menjauh.
*******
Satria terus melajukan sepeda motornya, menerobos air hujan yang turun semakin deras. Tiga puluh menit, akhirnya dia sampai dirumah Raina. Terlihat Aldo yang sudah menunggunya duduk diruang tamu sembari menggendong si kecil Al.
"Assalamualaikum ...." ucap Satria saat masuk ke dalam rumah Raina.
"Walaikumsalam ... kamu kesini pakai sepeda motor, hujan-hujanan?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Iya ... sini Al sama ayah." jawab Satria sembari mengambil alih Al dari gendongan Aldo.
Terlihat jiwa seorang ayah terpancar jelas diwajah Satria, sorotan penuh kasih sayang yang tulus sungguh nampak begitu jelas. Raina melambatkan langkahnya kala melihat Satria yang sudah berada diruang tamu bersama dengan Al dalam gendongan lelaki itu.
Raina tersenyum, dirinya merasa bahagia. Karena anaknya mendapatkan kasih sayang yang begitu berlimpah dari orang-orang yang dia sayangi, terutama Satria.
"Apa tidak sebaiknya kita berangkat ke bandara sekarang?" tanya Aldo.
"Oh, iya. Itu lebih baik." jawab Satria.
"Sebaiknya kalian menggunakan mobil ibu saja. Hujannya semakin deras, kalau kalian menggunakan sepeda motor, bisa-bisa kalian basah kuyup sampai sana." ujar Ibu Riska sembari menyerahkan kunci mobilnya pada Aldo.
Aldo pun menerima kunci mobil tersebut, lalu kedua lelaki itu berpamitan kepada ibu Riska, Raina dan juga Al.
Aldo yang mengendarai mobil, kini mereka sudah berada dijalan kota.
"Cuacanya seperti ini, mungkin penerbangannya akan tertunda." ujar Satria sembari memandangi air hujan yang terus saja mengalir..
"Semoga saja, hujan ini cepat berhenti dan cuacanya kembali cerah." ucap Aldo.
Empat puluh lima menit waktu tempuh perjalanan dari rumah Raina hingga tiba dibandara kota itu. Aldo sudah memarkirkan mobilnya, kemudian keduanya memasuki terminal keberangkatan. Benar saja setelah mereka melakukan proses check in, pihak maskapai memberitahukan jika penerbangan menuju ke pulau D akan ditunda selama satu jam.
Akhirnya, kedua lelaki tersebut memutuskan untuk menunggu disebuah kafe yang terletak tidak jauh dari terminal keberangkatan yang masih dalam satu kawasan bandara tersebut.
"Aku benar-benar bingung dengan kemauan mamah ku. Dari dulu beliau selalu memaksakan kehendaknya sendiri dan kami anak-anaknya selalu harus mengikutinya. Tapi, untuk kali ini aku tidak bisa mengikuti kemauannya itu. Ini menyangkut kehidupan ku kedepannya, karena aku sendiri yang akan menjalani kehidupan rumah tanggaku nantinya." ucap Satria sembari menyandarkan kepalanya pada kepala sofa dikafe itu.
Aldo mendengarkan cerita Satria yang lebih tepatnya curhatan laki-laki itu. Dia tidak menyangka, jika Satria hidup penuh kekangan dari mamahnya. Dia kembali teringat dengan adik perempuannya selama tinggal bersama dengan mertua adiknya itu.
"Apa Raina juga merasa tertekan saat tinggal bersama mereka?" batin Aldo.
Satria menghela nafasnya dengan kasar, kemudian menyeruput kopi panas yang sudah tersaji didepannya.
"Apa ibumu juga melakukan hal yang sama dengan Raina, selama adikku itu tinggal dirumah mu?" Akhirnya, pertanyaan itu pun keluar dari mulut Aldo.
"Ehm ... tidak. Mamah sangat menyayangi Raina dan kami semua memperlakukan Raina dengan baik. Tapi, aku tidak tahu kenapa mamah tiba-tiba berubah seperti ini." jawab Satria yang sebelumnya tersenyum mengingat betapa perhatiannya mamahnya itu pada Raina, tapi seketika itu juga wajah Satria kembali murung mengingat apa yang telah mamahnya katakan pada keluarga Raina. Perkataan yang membuat Raina merasa tersakiti.
__ADS_1
"Semoga kehidupan kalian nanti selalu diberi kebahagiaan. Aku percaya, jika kamu akan bisa mengayomi adikku dengan baik. Ayo, kita kembali kesana." ucap Aldo sembari menepuk pundak Satria pelan dan mengajak lelaki yang akan kembali menjadi adik iparnya itu untuk kembali ke terminal keberangkatan.
*********
Sementara itu dikediaman Satria, wanita yang sama dengan yang kemarin kembali datang kerumah Satria. Dengan membawa buah-buahan yang sudah tersusun rapi didalam sebuah keranjang parcel.
Wanita itu kembali disambut oleh Pak Darman.
"Eh, Mbak yang kemarin ... mau bertemu dengan mas Satria?" tanya Pak Darman saat setelah membukakan pagar untuk wanita itu.
"Panggil saya Lin, Pak. Tidak, saya ingin bertemu dengan mamahnya Satria, karena saya tahu pasti jam segini Satria sudah berangkat bekerja." jawab wanita itu yang tak lain adalah Erlina.
"Oh, mari masuk, Mbak. Ibu ada didalam." ucap Pak Darman sembari mempersilahkan wanita cantik itu untuk masuk menemui majikannya.
Erlina mengikuti langkah pak Darman memasuki rumah Satria, rumah yang tak pernah ia pijak meskipun saat itu dirinya masih berstatus menjadi kekasih Satria. Tapi, lelaki itu sama sekali tidak pernah membawanya kerumah itu. Saat ini, dirinya sudah tidak menjalin hubungan apa pun dengan Satria. Tapi, dirinya sedang berusaha untuk kembali mendapatkan hati lelaki yang pernah mengisi hatinya selama dua tahun yang lalu.
"Maaf, apa saya pernah kenal anda sebelumnya?" tanya Ibu Santi yang baru saja keluar kamarnya menemui Erlina diruang tamu setelah pak Darman memberitahukannya.
"Belum, Bu. Tapi, sekarang ibu akan mengenal saya. Nama saya Erlina, saya teman lama Satria." jawab Erlina sembari tersenyum manis dan mengulurkan tangannya pada ibu Santi.
"Saya, Santi. Mamahnya Satria. Mari, silahkan duduk." ucap Ibu Santi sembari mempersilahkan wanita cantik yang berada dihadapannya.
Ibu Santi memperhatikan penampilan Erlina dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita yang ada didepannya sekarang.
"Sepertinya, perempuan ini merupakan perempuan yang berpendidikan dan bukan seorang perempuan biasa. Kenapa Satria tidak pernah membawanya kesini?" batin Santi.
Memang Erlina tidak secantik Raina, tapi kharismanya sebagai seorang dokter yang berpendidikan tinggi dan dari kalangan keluarga yang terpandang, sudah cukup menggambarkan kualitas dirinya.
Cara Mendukung Author :
#Kumpulkan poin kalian dipusat misi, dan berikan vote kalian pada karya author dengan poin yang kalian miliki.
#Berikan like dan komen yang memberikan semangat untuk author.
#Klik gambar bintang dinovel author untuk memberikan rate pada karya author.
__ADS_1
#Dan jika kalian seorang dermawan, tinggalkan tip untuk author π