Secercah Cahaya Untuk Raina

Secercah Cahaya Untuk Raina
Senyuman Maut


__ADS_3

Adrian tersenyum ketika Sandra memanggilnya dengan sebutan kakak. Dan senyuman itu, sukses kembali membuat hati Sandra meleleh.


Tak terasa, lima belas menit yang mereka habiskan didalam mobil selama dalam perjalanan hanya dengan saling diam melempar pandangan, kini tibalah mereka disebuah restoran yang memang letaknya tidak begitu jauh dengan rumah sakit.


Sandra masih terdiam ditempatnya, gugup itu yang sekarang mendera dirinya, sementara Adrian sudah melepas safety belt miliknya.


Adrian menoleh ke arah Sandra yang masih tidak bergeming.


"Ayo, turun. Apa kamu masih mau berdiam disini?" ajak Adrian dan langsung keluar dari mobil terlebih dahulu.


"Ekh, ehm, i - iya." jawab Sandra terbata-bata.


Dan tangannya pun mulai melepas safety belt yang masih melekat ditubuhnya.


Sandra yang berniat untuk membuka pintu mobil semakin terkesima dengan perlakuan Adrian. Lelaki itu sudah membukakan pintu mobil untuk Sandra dan juga masih berdiri dihadapan perempuan muda itu. Tangan Adrian sudah terjulur dihadapan Sandra, meminta perempuan itu untuk menyambut tangan kosong tersebut.


Dengan perasaan antara percaya dan tidak percaya, Sandra akhirnya menyentuh tangan lelaki itu. Wajahnya semakin memerah kala Adrian menggenggam tangannya dengan erat.


"Terimakasih." ucap Sandra ketika dirinya sudah keluar dari mobil dan pintu mobil itu pun sudah ditutup kembali oleh sang pemiliknya.


Adrian hanya memberikan senyumannya sebagai jawaban untuk ucapan terimakasih Sandra padanya.


"Plis ... senyummu itu buat aku mati kutu. Baru beberapa menit yang lalu berkenalan, tapi dia sudah memperlakukan diriku seperti ini. Oh, God ... perempuan mana yang gak klepek-klepek kalau begini caranya?" umpat Sandra dalam hati.


POV Adrian


Saat itu, aku yang baru saja keluar dari ruang operasi, selesai menangani seorang pasien akibat kecelakaan lalu lintas untuk menemui keluarga dari anak muda itu. Aku mendapati dua orang perempuan muda yang mungkin usianya belum genap dua puluh tahun sedang duduk dikursi tunggu.


Mereka adalah keluarga dari korban kecelakaan itu, keduanya langsung berdiri dan bertanya tentang kondisi pasien yang sudah melakukan operasi itu padaku yang juga sudah berdiri dihadapan mereka.


Aku tersenyum, pamit undur diri setelah memberikan kabar baik untuk keluarga pasien tersebut. Tapi, entah kenapa mataku tak berhenti memandang kearah salah satu gadis muda itu. Gadis berambut lurus panjang, dengan mata bulat besar seperti mata boneka barbie serta hidung kecil mancung itu menggetarkan hatiku. Sepertinya dia gadis yang ceria, terlihat bagaimana dirinya berbicara dengan saudaranya itu. Aku tahu, dirinya sedari tadi juga memperhatikan diriku. Namun, segera aku memalingkan wajahku agar tidak begitu nampak bahwa aku mengaguminya.


Dan dengan cepat ku langkah kan kaki ku meninggalkan mereka berdua setelah berpamitan, sebelum jantungku benar-benar lompat dari tempatnya karena terus berdebar sedari tadi. Entah kenapa, debarannya sebegini hebatnya. Mungkin kah, ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?


Aku tersenyum sendiri dengan kaki yang terus melangkah menuju ruang kerja ku.


Namaku Adrian, usiaku sudah dua puluh enam tahun. Bisa dibilang aku adalah dokter termuda yang bertugas dirumah sakit ini. Diusia ku yang beberapa tahun lagi akan memasuki kepala tiga ini, aku sama sekali belum berniat membuka hatiku pada seorang gadis pun. Pekerjaan yang membuatku menjadi tidak terlalu memikirkan perempuan. Meski kedua orangtua sudah sering kali mengingatkan diriku untuk tidak terlalu cuek.


Sampai-sampai orangtuaku memilihkan begitu banyak calon pendamping untukku, namun belum ada yang ku rasa cocok dihatiku. Hingga akhirnya, mereka menyerah sendiri dan tidak lagi mencoba untuk menjodoh-jodohkan diriku. Tapi kali ini, hatiku langsung seperti tersetrum saat melihat gadis itu.


Gila, memang sungguh gila perasaan ini.


Esokkan harinya, siang itu aku terburu-buru ada pasien urgent yang sudah menunggu untuk cepat ditangani. Dengan langkah tergesa-gesa, tak sengaja aku menabrak seorang perempuan hingga perempuan itu terpental dan jatuh.


Saat aku melihat siapa yang telah ku tabrak, ternyata gadis bermata besar itu. Bingung, antara ingin menolongnya atau lanjut pergi untuk menemui pasienku. Ah, aku lebih memilih meminta maaf padanya sambil kaki ku terus menjauh dari gadis itu.


Terlihat dia sepertinya kesakitan dan mengumpat diriku. Ah, biarlah. Nanti saja aku menemui dirinya diruang rawat saudaranya itu.


Sesuai dengan janjiku, setelah selesai menangani pasien urgent ku itu, aku langsung memutuskan untuk pergi ke ruang rawat pasienku yang bernama Bara. Selain memang untuk mengecek bagaimana kondisi anak itu, aku juga ingin bertemu dengan saudaranya. Gadis yang telah aku tabrak tadi untuk meminta maaf dengan cara yang baik.


Sesampainya di depan pintu ruangan itu, terdengar suara dua orang yang sepertinya membicarakan diriku. Ha, aku tersenyum simpul sebelum akhirnya diriku menghentikan obrolan kedua perempuan yang sedang duduk disofa itu.


Aku langsung melangkah ke arah kasur pasien, hanya melirik dirinya sekilas yang tampak bengong dengan kehadiran diriku diruangan itu.


Ah, lagi-lagi perasaan itu, perasaan yang sebelumnya aku rasakan pertama kali saat melihat dirinya. Aku bergegas menyelesaikan tugasku, setelah ku pastikan keadaan pasienku, aku pun berniat untuk undur diri dari ruangan itu.


Sengaja aku pura-pura baru menyadari adanya gadis itu, aku pun meminta maaf padanya dan menawarkan dirinya untuk dapat aku obati. Namun, dirinya menolak. Aku berusaha mencari cara agar dia mau menerima tawaranku lagi. Dengan meyakinkan dirinya untuk mengajaknya makan bersama untuk membalas rasa bersalahku padanya, akhirnya dia pun menyetujui tawaranku.


Hatiku tergelitik sendiri, saat mendengar jawaban dari gadis itu. Ingin rasanya aku berlompat, tapi ku urungkan niatku untuk menjaga image ku didepan pasienku serta keluarganya ini. Segera aku berpamitan pada mereka semua, agar tidak terlihat pada mereka betapa kegirangannya hatiku saat itu.


Aku menepati janjiku, sesuai dengan jam yang telah kami tentukan, aku kembali mendatangi ruang rawat yang bernama Bara itu lagi untuk menemui gadis yang telah mencuri hatiku itu, yang entah siapa namanya.


Sepanjang perjalanan, hanya ada kebisuan diantara kita berdua. Terlihat jelas bahwa perempuan yang duduk disebelah ku ini sangat gugup. Entah kenapa dirinya, mungkinkah dia merasakan hal yang sama terhadapku?


Aku lebih dulu membuka suara, menanyakan namanya dan juga meminta dirinya agar tidak terlalu formal memanggilku saat sedang diluar rumah sakit seperti ini.


Ternyata namanya adalah Sandra, nama yang bagus dan sesuai dengan wajah cantiknya. Aku juga merasa senang, akhirnya dia mau memanggilku dengan sebutan kakak agar lebih akrab.

__ADS_1


Hingga kini, tibalah kita ditempat tujuan. Aku perlakukan dirinya seistimewa mungkin. Terlihat rona merah dikedua pipinya, aku tahu dia merasa malu. Tapi, tak bisa ku pungkiri dia semakin terlihat manis dimataku.


POV NORMAL


Disini, dikursi restoran Sandra dan Adrian sudah duduk berhadapan. Restoran yang menyajikan berbagai menu makanan jepang itu lah yang menjadi pilihan Adrian.


Tak ia sangka, ternyata Sandra juga menyukai makanan jepang. Sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka berdua pun saling bercerita. Perlahan-lahan, Sandra sudah tidak terlihat gugup atau canggung lagi untuk berbicara pada Adrian.


Tentu hal tersebut membuat Adrian semakin merasa nyaman dengan Sandra..


Tak lama kemudian, disela-sela keasyikan mereka berbincang-bincang, tibalah seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa makanan yang telah mereka pesan.


"Terimakasih, Mbak." ucap Sandra ramah pada pelayan yang menyajikan makanan tersebut dimeja mereka.


Sang pelayan pun membalas ucapan Sandra dengan menganggukan kepala dan tersenyum.


"Silahkan dinikmati hidangannya, Kak." ucap pelayan tersebut mempersilahkan tamunya untuk makan.


Keduanya pun membalas dengan senyuman.


"Ayo, silahkan dimakan." ucap Adrian.


"Iya, Kak." balas Sandra.


Sandra mulai menikmati semangkuk nasi dengan ayam teriyakinya, sementara Adrian lebih memilih untuk memakan tendon yaitu nasi dengan daging, telur dan sayuran yang berada didalam satu mangkuk.


Sandra menikmati makanannya dengan khidmat, hingga menyisakan saus teriyaki diujung bibirnya. Adrian yang melihat itu pun langsung mengambil tisu untuk mengelap ujung bibir perempuan itu.


"Pelan-pelan saja makannya, biar gak belepotan seperti ini." ucap Adrian yang telah menghapus noda saus diujung bibir Sandra.


Sandra tertegun saat mendapat perlakuan tiba-tiba dari Adrian.


"Ekh - ehm, terimakasih." ucap Sandra sambil tersenyum kikuk.


"Santai aja, gak usah canggung seperti itu. Ayo, dilanjut lagi makannya." ujar Adrian sembari melemparkan senyumannya.


"Gimana aku gak gugup atau canggung? Kalau kamu aja suka sekali buat aku jadi salting seperti ini." gerutu Sandra dalam hati.


******


Sementara itu dirumah sakit, Raina kembali menemani ibu mertuanya.


"Mah, ini sudah sore. Apa mamah mau bersih-bersih badan? Biar Raina yang akan membantu Mamah untuk menggantikan bajunya." tawar Raina.


"Mamah bisa sendiri, sayang. Mamah hanya minta tolong untuk menyiapkan pakaian ganti Mamah aja." balas Ibu Santi.


"Iya, Mah." Dengan cekatan Raina menyiapkan apa yang diminta oleh ibu mertuanya.


Meski mertuanya sudah menolak untuk dibantu, namun Raina tetap membantu membersihkan tubuh wanita paruh baya itu. Dengan telaten Raina mengelap badan mertuanya dengan kain yang telah dibasahi oleh air. Tak hanya itu, Raina juga tetap membantu mertuanya untuk mengenakan pakaiannya.


"Terimakasih, sayang. Mamah benar-benar beruntung memiliki menantu seperti dirimu." ucap Ibu Santi yang memuji Raina.


"Jangan terlalu memuji Raina seperti itu, Mah. Nanti Raina bisa jadi besar kepala, lho." canda Raina sambil tertawa.


"Kamu bisa aja. Oh ya, bagaimana keadaan Bara sekarang, Rai?" tanya Ibu Santi.


"Alhamdulilah, Bara sekarang sudah lebih membaik. Hanya saja Bara masih harus melakukan terapi agar otot-otot kakinya bisa lebih kuat lagi setelah pemulihan pasca operasi nanti, Mah." jawab Raina.


"Alhamdulilah ... lalu, bagaimana dengan nasib orang yang telah menabrak Bara itu? Apa kamu tahu?" tanya Ibu Santi lagi.


"Dengar - dengar sih, beliau diturunkan pangkatnya dan dimutasi." jawab Raina.


Ibu Santi hanya menganggukan kepalanya mendengar jawaban dari menantunya itu.


Tok, tok, tok,


Suara pintu ruangan diketik dari luar.

__ADS_1


"Assalamualaikum ...." ucap seseorang yang tak lain adalah Sandra.


"Walaikumsalam ...." jawab Ibu Santi dan Raina bersamaan dan menoleh ke arah Sandra.


"Cie, yang habis makan bareng pujaan hati? Gimana acara ngedate nya?" goda Raina.


"Bude, gimana keadaan Bude?" tanya Sandra pada Ibu Santi, mengalihkan pertanyaan sahabatnya itu.


"Alhamdulilah, Buda sudah baikan. Apa benar yang dikatakan Raina, kamu habis kencan sama pacar kamu?" Ibu Santi menjawab pertanyaan keponakannya itu sekaligus melempar pertanyaan juga pada Sandra.


"Apa sih, Bude? Belum pacar, masih calon." jawab Sandra setengah berbisik pada budenya.


"Ehm, ehm, aku gak dianggap, nih?" tanya Raina yang merasa dicuekin oleh Sandra.


"Hehehe, kamu sih ... aku baru datang sudah ditanya ini itu. Jadi ketahuankan sama Bude kalau aku habis jalan sama laki-laki." gerutu Sandra.


Raina hanya acuh tak acuh dengan gerutuan sahabatnya itu.


"Lah, kenapa memangnya kalau Bude tahu? Kalau laki-laki itu adalah orang yang baik untuk keponakan Bude, yo ora popo Nduk?" ujar Ibu Santi.


"Hehehe, tapi Bude jangan kasih tahu Bunda dulu, ya? Soalnya ini belum fix jadi pacar." Sandra memohon layaknya anak kecil pada ibu Santi selaku budenya.


Sementara Raina hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.


"Iya, iya, ayo ceritakan sama Bude siapa laki-laki itu dan bagaimana acara kencan kalian tadi?" Ibu Santi kembali bertanya pada Sandra dengan antusias.


"Dia itu dokter yang menangani Bara, Bude. Sandra baru saja kenal dirinya lebih dekat tadi, meski memang belum semuanya Sandra tahu tentang dirinya. Acara makan bareng ini juga karena ada suatu kejadian tak terduga yang akhirnya bisa membuat Sandra dekat sama dokter Adrian." jawab Sandra dengan wajah yang berbinar-binar.


"Ehm, ehm, jadi ceritanya adik Mas ini lagi berbunga-bunga?" tanya Satria yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam ruang rawat mamahnya.


"Ah, Mas Satria ...! Kenapa masuknya gak pake salam dulu, sih?" Sandra menutupi wajahnya yang sudah merona menahan malu.


Semua orang pun tertawa melihat tingkah Sandra yang malu-malu dengan wajah yang sudah semerah tomat.


"Baru kali ini Mas lihat kamu sebucin ini. Semoga kalian berjodoh, lah." ucap Satria.


Sandra hanya menyengir kuda menampilkan sederet gigi putihnya.


Memang, dirinya sangat dekat pada Satria maupun Awan. Karena dirinya adalah anak tunggal, membuat Sandra sangat begitu dekat pada kedua kakak sepupunya itu dalam berbagi cerita. Bisa dibilang kedua kakak sepupunya itu adalah tempat pengaduan dirinya. Sehingga Satria sangat paham dengan watak adik sepupunya itu.


"Assalamualaikum, dua bidadari hatiku." ucap Satria pada mamah dan juga istrinya.


"Walaikumsalam ...." balas Ibu Santi dan Raina sambil tersenyum.


Satria mencium punggung tangan mamahnya dengan takzim, begitu pula dengan Raina yang mencium punggung tangan suaminya.


"Sok manis banget, sih? Aku gak dianggap jadi bidadari juga, nih? Kan, aku juga perempuan disini." sindir Sandra.


"Hahaha, jadi kamu mau Mas panggil bidadari juga? Kamu itu tetap boneka cantiknya, Mas." ucap Satria sembari merangkul dan mencubit pipi adik sepupunya itu.


Sementara Sandra hanya mengerucutkan bibirnya.


"Ayah, dari tempat kerja langsung kesini?" tanya Raina.


"Iya, Bun." jawab Satria.


"Pantesan, Mas masih bau asem. Pasti Mas belum mandi. Huueekk!" ujar Sandra sembari menepis tangan kakak sepupunya itu agar tidak merangkulnya lagi.


"Harum gini, dibilang bau asem." balas Satria yang mulai mendekat dengan istrinya.


"Kenapa Ayah gak langsung pulang aja sih, tadi? Kan, bisa mandi dulu baru kesini." gerutu Raina.


"Ayah sengaja kesini mau jemput Bunda dulu, nanti malam baru kita kesini lagi. Ayah kangen sama Al." jawab Satria.


Raina mengernyitkan dahinya, memperhatikan suaminya seperti ada sesuatu yang sedang direncanakan suaminya itu.


"Bukannya tadi siang sudah ketemu Al disini, pasti ayah cuma alasan aja, nih?" tebak Raina dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2